
"Kenapa kau sampai seperti ini?"
Abbas memandang lekat Arya yang kini tampak mengenaskan dengan perban luka di sekujur tubuh. Dia memang sudah tahu tentang keributan yang telah terjadi antara Abhimanyu dengan keponakannya itu.
"Ada apa paman kesini?" Suara Arya terlihat parau. "Ingin melihat bagaimana kehancuran ku sekarang?"
Abbas menggeleng, "Tidak,dasar bodoh. Aku kesini ingin memberitahumu jika besok di sidang terakhir mu,tidak akan ada lagi pengacara yang akan mendampingi mu."
Di luar dugaan Arya malah menyungging senyum. "Aku sudah tahu, bunda sudah kesini terlebih dahulu untuk memberitahukan itu."
Menghela nafas berat, Abbas membetulkan posisi duduknya. "Sekarang pun sepertinya aku tidak bisa lagi membantumu."
Mendongak, Arya menatap wajah sang paman yang kini seperti mengisyaratkan sesuatu.
"Giliran kehancuranku akan tiba, Abhimanyu pasti tidak akan tinggal diam. Jadi, aku akan memilih opsi terakhir untuk melindungi diriku sendiri," ujar Abbas.
Arya menautkan alis tak mengerti. "Apa maksud paman?"
"Kau tidak mengerti pun tidak apa-apa,ada saatnya kau akan mengerti nanti," suara sang paman terdengar tajam.
"Kini kau harus berusaha untuk dirimu sendiri, karna setelah ini aku tidak bisa mengunjungimu lagi."
Arya kini mengerti,sang paman kesini hanya ingin mengucapkan salam perpisahan,karna Sekarang Abbas tidak ingin lagi terlibat dalam urusannya.
"Jadi sejak dulu kau tidak pernah menganggap ku keponakanmu,kau hanya memanfaatkan ku." Arya mengepalkan tangannya erat.
"Sejak dulu kau hanya menjadikanku pointmu, setelah aku tidak berguna kau kini mencampakkanku." Arya kini menatap tajam.
"Apa maksudmu, jangan bicara sembarangan. Sudah ku bilang kan, Ayahmu sendiri yang mengancamku untuk tidak lagi membantumu. Memangnya aku tua Bangka itu yang punya segalanya." Kini Abbas pun terlihat kesal.
"Tapi kan dengan otak cerdas mu itu, kau bisa saja kan dengan mudah membebaskan aku dari sini."
"Jika ayahmu tidak mengancam dengan sesuatu ancaman yang akan membahayakan kita,aku pasti sudah melakukan itu."
"Kau tahu, tua Bangka yang sudah bau tanah itu tahu tentang konspirasi kita terhadap Abhimanyu tujuh tahun lalu."
Arya Membulatkan mata, "Bagaimana bisa?"
"Faktanya memang begitu, dia menunjukkan bukti-bukti nya padaku,dan kau tahu akibat fatal apa yang akan terjadi jika dia memberitahukannya ke khalayak umum."
"Jadi apa rencana paman?" Akhirnya kata itu terlontar. Sejak dulu memang Arya tidak akan pernah bisa tanpa Abbas,dia akan terus bergantung.
"Inilah yang ku khawatirkan, tapi kau tenang saja, aku akan membereskan satu persatu masalah ini. Di mulai dari ayahmu."
***
Matahari sudah akan terbenam, dengan awan di garis cakrawala yang terlihat sedikit menghitam, namun itu tak menyurutkan semangat seorang wanita yang kini memegang sebuah ice cream cup di tangannya.
Hari ini, setelah puas berjalan-jalan ke kebun binatang, Felysia dan Abhimanyu hendak ke tempat wisata lain, yaitu melihat pertunjukan di taman kota yang kini tengah ramai.
Ada banyak macam pertunjukan dan wahana saat kedua insani itu tiba di taman kota, dengan saling bertautan tangan, mereka menikmati liburan singkat ini dengan sukacita.
Walaupun terkadang Felysia harus sedikit memaksa Abhimanyu yang bermuka datar bak kanebo kering.seperti saat ini Felysia meminta dengan susah payah agar Abhimanyu bisa tersenyum saat mereka sedang mengambil foto di ruangan mesin pembuat foto otomatis.
__ADS_1
"Ayo mas, kau harus menarik sudut bibir mu sedikit saja, masa dari semua foto kamu hanya bertampang datar," ucap Felysia memeriksa foto-foto mereka yang baru saja keluar.
"Itu juga sudah bagus," ujar Abhimanyu sambil menenggelamkan kedua tangannya di saku celana. Penampilan pria itu cukup merakyat hari ini, dengan kaus hitam yang dibalut outer jaket dan celana jeans, dan semua yang ia pakai itu adalah pilihan dari sang istri sendiri.
"Tidak,tidak." Felysia menggeleng-geleng pelan. "Setidaknya kita coba sekali lagi yah dan kau harus tersenyum."
Memilih mengalah, Abhimanyu berjalan gontai saat tangan mungil itu menariknya kembali untuk mengulangi foto. Mengikuti kata sang istri Abhimanyu mengangkat sudut bibirnya dan berpose mengikuti gerakan Felysia.
Blitz mulai menyala dan suara jepretan kamera mulai terdengar, dengan berbagai pose mereka bersua foto. Lalu mereka keluar,dan Felysia tersenyum melihat hasil fotonya.
"Nah ini baru bagus." Mata bulat wanita itu berbinar sambil tangannya memindai-memindai hasil jepretan tadi.
Melihat itu Abhimanyu mendengus geli,lalu dengan gemas mengacak-ngacak pelan pucuk rambut istri kecilnya ini.
"Ada lagi yang ingin kau lakukan?" tanya pria itu.
Kening felysia tampak berkerut seolah sedang berfikir. "Eumm apa yah? kita sudah mengunjungi ke kebun binatang, melihat pertunjukan, kita juga sudah makan dan kini sudah mengambil foto,apa lagi yah."
Abhimanyu lagi-lagi mendengus geli melihat ekspresi serius Felysia saat berfikir begini menurutnya sangat menggemaskan. ntahlah, setiap di dekat wanita itu Abhimanyu tidak bisa untuk menahan senyumnya.
"Ouh ya, kita ke biang Lala." Felysia berseru girang.
"Kau ingin. pergi ke sana?"
Felysia mengangguk antusias. "Sejak dulu aku ingin sekali menaiki wahana itu.
"Baiklah jika begitu sesuai keinginan mu." Abhimanyu kembali menggamit tangan Felysia dan menyatukan jemari mereka.
Felysia memperhatikan gerakan pria itu dengan seksama, ntah kenapa setiap sentuhan kecil seperti ini membuat hatinya seperti di hinggapi ribuan kupu-kupu,senang, agak menggelikan juga sangat berbunga- bunga.
Melihat ke sekeliling tampak ramai orang kini dengan berbagai macam pedagang kaki lima.Saat menyusuri kesekitar mata elang Abhimanyu tak sengaja menemukan hal yang cukup menarik atensinya.
"Stela, kau tunggu sebentar di sini, aku akan secepatnya kembali."
"Eh, baiklah aku akan menunggumu," ucap Felysia.
Mengangguk Abhimanyu berlari pelan ke arah deretan tenda para Pedagang, Felysia menatap heran.
Tak berselang lama Abhimanyu kembali lagi, ditangan pria itu terdapat sebuah bando yang ntah dari mana ia dapat.
"Kau membeli ini?" Tanya Felysia, mengerjap bingung.
Abhimanyu mengangguk, "Aku tak sengaja melihatnya tadi, ini akan sangat bagus jika kau pakai."
Tersenyum, Felysia menerima uluran bando berbetuk telinga kelinci itu,lalu memakainya.
"Apakah kelihatan bagus?" Tanya Felysia dengan tersenyum merekah.
Abhimanyu meletakkan kepalan tangan di bibirnya, pura-pura batuk. " Tentu saja." Menghalau kegugupan karna sang istri sangat imut di matanya kini.
"Apakah aku kelihatan imut memakainya?" Baru saja di pikirkan, istrinya sudah menanyakan itu.
__ADS_1
"Tentu saja, siapapun orang yang memakai bando seperti itu akan kelihatan imut seperti katamu."
Mengerucutkan bibir,sorot mata Felysia terlihat tajam. "Jadi menurutmu aku imut atau tidak?
"Untuk apa menanyakan lagi,kau pasti sudah tahu jawabannya."
Tersenyum senang, Felysia tahu jika Abhimanyu tidak bisa memuji seseorang secara gamblang. Ntah gengsi pria itu yang terlalu tinggi atau memang dia tak pernah memuji seseorang.
***
"Wah indah sekali pemandangan di bawah sana."
Abhimanyu menggeleng kecil, itu sudah kata yang kesekian yang di ucapkan Felysia saat kini mereka menaiki wahana biang Lala ini.
"Lihat semua orang di bawah sana tampak sangat kecil." Felysia menoleh ke arah Abhimanyu sambil menunjuk ke arah bawah sana.
Felysia semakin antusias melihat ke sekelilingnya yang tampak begitu indah,tanpa sadar Abhimanyu terus memperhatikannya seolah pemandangan saat ini kalah indah dari pada saat ia memandang wanitanya kini.
Tatapan Felysia berubah sendu. "Jadi ingat,dulu saat kecil aku cuma bisa bayangin indahnya di atas bianglala dari foto yang Bella suka saat dia diajak ke pasar malam sama Paman dan bibi."
Felysia tersenyum getir. "Sekarang aku jadi tahu indahnya yang asli gimana dan itu berkat kamu, makasih ya."
Abhimanyu menatap Felysia tak biasa, sekarang ia mengerti kenapa Felysia sangat antusias ingin menaiki wahana ini.
"Kamu senang diajak tempat kaya gini?"
Felysia mengangguk semangat. "Kalau untuk orang biasa sepertiku Iyah, tapi buat kamu .... "
"Kenapa denganku?"
"Aku gak tahu apa orang besar kaya kamu akan cocok berada di sini?"
"Kenapa kamu berfikir aku gak cocok?"
Felysia mengerjap beberapa kali karna gugup dengan tatapan Abhimanyu. "Ini kan kaya bukan tempat yang sering kamu kunjungi kaya hotel,mall atau wahana untuk orang kaya gitu.
Menunduk Felysia menatap ke bawah. "Kadang aku minder, merasa dunia kita itu terlalu jauh, kamu yang anak kolongmerat kaya gini,kok bisa-bisanya yah dapet istri yang biasa-biasa aja kaya aku."
Abhimanyu bergeming, menatap Felysia menunggu wanita itu menyelesaikan apa yang selama ini dirasakannya.
"Aku merasa tidak pantas,padahal kamu bisa aja dapet wanita yang lebih-lebih dari aku, yang lebih cantik, yang kehidupannya setara sama kamu,kaya Angel, contohnya."
"Lalu bagaimana jika aku hanya mencintaimu."
Mendengar kata itu Felysia mendongak menatap Abhimanyu yang kini juga tengah menatapnya.
"Status atau gelar bukanlah tolak ukur untuk seseorang bisa bersama. kini, aku bisa bersama denganmu karna memang sudah di takdirkan."
"Dan karna aku mencintaimu, bukan karna kau adalah wanita cantik, apalagi kau sampai membandingkan dirimu dengan orang lain, Kau tetaplah dirimu, Felysia--Wanita yang kucintai."
Felysia terdiam dengan sudut mata yang hampir berair,tidak menyangka ada mencintai dirinya hingga seperti ini.
"Terimakasih, kupikir--"
__ADS_1
Ucapan Felysia terpotong, karna tiba-tiba Abhimanyu sudah membungkam mulutnya dengan ciuman lembut dari pria itu. menikmati sensasi yang tak asing lagi, Felysia memejamkan matanya.
"Jangan pernah merasa kau tidak pantas lagi, karna kau adalah istriku, dari dulu hingga di masa depan,tidak akan pernah berubah."