Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 78


__ADS_3

Setelah menunggu hampir satu Minggu, akhirnya tuntutan Abhimanyu pada Abbas di terima oleh pengadilan. Setelah banyak lika-liku yang di lalui, Abbas pada akhirnya mengakui semua kejahatannya dan menerima dakwaan padanya,ia juga menerima atas tuntutan Abhimanyu tentang konspirasi tujuh tahun lalu bersama dengan Arya. kini Abbas harus menerima hukumannya, yaitu mendekam di penjara seumur hidup.


Semuanya menerima keputusan itu, walaupun Sarah dan sang mama, awalnya syok tak menyangka dengan kelakuan Abbas selama ini, kedua wanita itu pada akhirnya menerima jika Abbas memang pantas di hukum.


Abhimanyu juga sudah mengetahui jika nyoya Sinta,ibu tirinya ternyata ikut terlibat dalam kasus terbunuhnya sang bunda. Awalnya semuanya juga syok, namun begitulah kenyataannya.


Dua puluh delapan tahun lalu, Abbas bersama adiknya, Sinta dengan sengaja melenyapkan nyawa Melisa, bunda Abhimanyu. Yang pada akhirnya sekarang telah terungkap,dan mereka telah mendapatkan hukumannya.


Namun Nyonya Sinta mendapat keringanan, terlepas dari kondisi kejiwaannya yang sekarang tidak stabil, keterlibatan Sinta pun tak terlalu besar, sehingga ia mendapat kompensasi.


"Kami akan pindah dari mansion ini Abhimanyu," ucap Sarah kala itu, bersama mamanya,hendak berpamitan.


"Kemana kalian akan pindah?" Tanya Abhimanyu.


"Ke Swiss, di sana ada sebuah villa mewah yang bisa kami tempati bertiga," ucap Sarah lagi.


"Bertiga?" Abhimanyu mengernyitkan dahi.


Sarah mengangguk. "Kami akan membawa bibi Sinta."


"Tapi ibuku tidak dalam keadaan jiwa yang stabil."


"Itu sebabnya." Sarah menyela. " Bibi Sinta bisa menyembuhkan kejiwaannya yang terganggu dengan hidup di tempat uang tenang. Kau tidak usah khawatir Abhimanyu,di sana juga sudah ada psikiater khusus untuk bibi."


Mata segelap malam milik Abhimanyu tertubruk pada seorang wanita yang kini berpenampilan seadanya,wajah wanita itu menghadap ke langit-langit dengan gerakan tangan yang tak beraturan, kadang wanita itu bisa tertawa namun kadang juga menangis di satu waktu.


Melangkahkan kakinya, Abhimanyu menatap lebih intens wajah ibu tirinya itu, Sarah dan mamanya memperhatikan mereka.


"Siapa kamu?" Sinta yang terkejut dengan kehadiran Abhimanyu, menatapnya tajam. lalu tiba-tiba wanita itu tertawa kencang.


"Hahahaha, kamu pasti anakkku, iyakan,anakku ... anakku." Sinta melompat girang dengan bertepuk tangan selayaknya anak kecil.


"Ayo anakku kita akan menemui ayahmu." Sinta menarik lengan Abhimanyu,namun seperkian detik ia melepaskannya dan wajah itu berubah redup.


"Di mana suamiku? Di mana?" Sinta tiba-tiba meraung dengan mengacak rambutnya.


Abhimanyu menatapnya dengan sorot mata penuh luka, terasa ada yang menyakiti hatinya kini, perlahan pria itu mendekati Sinta dan memeluknya.


Sinta mengamuk,tak ingin di peluk, memukul-mukul dada bidang Abhimanyu yang kini berusaha untuk mendekapnya.


"Tenanglah, aku adalah putramu." Suara Abhimanyu terdengar melembut.


"Tidak, tidak suamiku sudah mati, putraku juga." Sinta tetap ingin menarik diri, namun Abhimanyu mengusap pucuk kepala wanita itu lembut.


"Aku Juga adalah putramu Bu ... "


Sinta tersentak, melebarkan matanya, tetes-tetes kristal bening itu telah mengambang di pelupuk mata.


"Putraku .... Abhimanyu," suara Sinta terdengar lirih dan serak.


Abhimanyu mengangguk masih dalam posisi yang sama. Tangan Sinta perlahan terulur untuk memeluk bahu tegap Abhimanyu.


"Maafkan aku ... " Lirih Sinta hampir tidak terdengar.


Abhimanyu mengangguk sekali lagi. "Aku sudah memaafkan mu."


Semua orang yang menyaksikan itu menatap Sendu, bahkan pak Herul tak jauh dari mereka berkali-kali terlihat menyeka ujung matanya yang berair dengan ujung bajunya. Semuanya menatap haru ke arah mereka berdua.


Lalu pelukan itu terlepas, Abhimanyu lalu menoleh menatap Sarah.


"Aku mengijinkan kalian, besok pakailah pesawat pribadi milik keluarga, agar keselamatan kalian terjamin," ucap Abhimanyu.


Sarah dan mamanya mengangguk. " Baiklah terimakasih."


"Tapi bagaimana dengan mansion ini?" Tanya mamanya Sarah.

__ADS_1


"Untuk itu tak usah khawatir." Abhimanyu menatap ke sekeliling Mansion yang sempurna terasa kehampaannya,dia tidak mungkin kembali untuk tinggal di sini, Karna susah ada keluarga kecilnya yang menunggunya di rumah.


"Mansion ini akan dijadikan sebagai panti asuhan!" Suara bariton Abhimanyu sedikit meninggi mengumumkan hal itu. Semua orang tampak tercengang.


"Pak Herul!"


Pak Herul yang mendengar seruan itu segera maju beberapa langkah.


"Yah, tuan muda." Pak Herul membungkuk hormat.


"Saya menyerahkan tanggung jawab ini pada anda. Buatlah mansion tak berpenghuni ini sebagai rumah untuk anak-anak terlantar di luar sana. Buatlah atas nama ayahku," ujar Abhimanyu.


Semua orang mendengarnya Para maid, para pekerja di mansion,psk Herul, Sarah Dan mamahnya yang ada di sana mengangguk-ngangguk setuju, saling melempar senyum.


"Itu ide yang bagus Abhimanyu." Sarah tersenyum padanya. "Aku yakin almarhum paman di sana pasti sangat setuju dengan keputusan mu."


***


Satu Minggu terlewati setelah keberangkatan Sarah, mamahnya dan juga Sinta dengan diiringi acara perpisahan yang mengharu biru.


Kini semuanya sudah kembali tenang, semua kejahatan telah terungkap. seperti kata pepatah, semua orang datang dan pergi, Abhimanyu dan Felysia sudah mengikhlaskan kepergian Pak Manaf dan juga Bella, dan kini mereka sudah bahagia dengan kedatangan satu anggota baru, yaitu janin yang ada di kandungan Felysia.


Abhimanyu tentu sangat bahagia dengan kabar itu,dan kini kandungan Felysia sudah menginjak usia lima bulan, dan juga ada kebahagiaan yang tak ternilai harganya, yaitu baby Alister, yang kini sudah semakin aktif.


Hubungan Dian dan Leo juga semakin serius, terkadang kedua sejoli yang tengah di mabuk asmara itu bertandang kerumah mereka, untuk sekedar melihat perkembangan baby Al atau Dian yang ingin menemani Felysia, dan bermain dengan bayi lucu itu.


Semuanya sudah membaik, semua orang sudah mendapatkan akhir dari segala cerita ini, karma, kebahagiaan, kekosongan yang sekarang sudah terisi dengan kehadiran orang terkasih, semuanya sudah mendapatkan porsinya masing-masing. kini tinggal mencurahkan rasa syukur dengan apa yang dimiliki dan menerima konsekuensi yang di hadapi atas buah dari perbuatan di masa lalu.


***


Pukul satu dini hari Felysia terbangun, dengan masih kantuk yang berat, Felysia menajamkan indera pendengarannya, mendengar suara tangis baby Al, Dirinya buru-buru terbangun, berjalan pelan dengan perut yang sudah semakin membesar.


Menghampiri ke box baby berada, Felysia mengangkat tubuh mungil baby Al dan membawanya ke dalam gendongan. tangisan bayi berusia delapan bulan itu tak kunjung berhenti, Felysia menepuk-nepuk punggung baby Al pelan,guna memenangkannya.


Felysia membalikkan badan, di dapatinya sang suami yang kini berdiri di belakanganya dengan sebuah buku di tangan dan kacamata yang masih bertengger di hidung bengirnya.


"Iyah, kayanya baby Al haus." Felysia tersenyum. "maaf ya, jadi membangunkanmu."


Menggeleng pelan Abhimanyu menghampiri, mengambil alih Baby Al dan mendekapnya di bahu kiri.


"Aku memang tidak tidur." Abhimanyu menunjukkan kertas-kertas proposal di tangannya, menandakan bahwa pria itu baru keluar dari ruang kerjanya.


"Jangan terus begadang, tidak baik untuk tubuhmu," ujar Felysia,lalu wanita itu mengambil botol susu yang sudah di siapkan sebelumnya.


Abhimanyu tersenyum,tak lepas memperhatikannya, melihat bagaimana istrinya Begitu lihai dan cekatan membuatnya merasa bangga, karna sang istri sudah sangat baik dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang ibu.


"Kemarikan." Felysia mengambil alih Baby Al dan mulai menyusuinya.


"Akhir-akhir ini kau selalu bersama Alister, kini aku merasa iri dengannya." Terkekeh, Abhimanyu mengulurkan tangannya memeluk pinggang Felysia dari belakang.


Felysia tertawa pelan. "Jangan mengada-ada, bagaimana bisa kamu iri dengan putramu sendiri."


Abhimanyu tersenyum, menempatkan wajahnya di ceruk leher sang istri, sesekali tangannya yang jahil mencubit pipi baby Al yang semakin gembul.


"Hah ... aku merindukanmu." Abhimanyu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Felysia.


"Juga dia, yang di dalam sini." Abhimanyu mengelus pelan perut Felysia, yang di dalamnya terdapat buah hati mereka.


Felysia hanya tersenyum, setelah dirasakannya baby Al yang sudah tertidur pulas, Felysia dengan hati-hati menaruhnya kembali ke box bayi. semua itu tak luput dari pandangan Abhimanyu.


Felysia lalu mendekati sang suami yang menatap dirinya teduh dan lembut, tatapan yang hanya untuknya seorang. melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami, lalu berjinjit untuk menciumnya sekilas.


Tersentak sejenak, Abhimanyu langsung menarik pinggang sang istri dan mempertemukan kembali bibir mereka, menciptakan rasa manis yang beberapa belakangan ini ia rindukan.


"Aku mencintaimu," ucap Felysia tersenyum.

__ADS_1


Abhimanyu menarik sudut bibirnya, lalu menarik tangan kecil felysia untuk mengikuti langkahnya.


Mereka tiba di jendela kamar, Abhimanyu membukanya kacanya, membuat langit malam yang di hiasi rembulan dan bertabur bintang kini terpampang indah di luar sana.


"Indahnya." Mata Felysia berbinar terang, seterang rembulan malam ini.


Abhimanyu mengulum senyum melihat sang istri yang kini tersenyum senang. ia tahu sejak kecil Felysia selalu menyukai rembulan dan bercerita sendiri di bawah sinar bulan.


"Ada rembulan yang bersinar terang terpantul di matamu di saat kau tersenyum, dan itu sangat cantik." bisik Abhimanyu di belakang telinganya, Membuat Felysia seketika merona merah.


Abhimanyu maju selangkah, memeluk Felysia dari belakang, berhati-hati agar anak mereka yang ada di kandungan Felysia tidak terhantuk pembatas jendela. mereka sama-sama menikmati pemandangan di luar sana.


"Stela, kemarin aku sempat bermimpi." Mengawali percakapan setelah beberapa saat saling diam, Abhimanyu menghela nafas sejenak.


"Ayah datang ke mimpi itu, tersenyum ke arahku dengan sangat tulus, kira-kira apa artinya itu?"


Tersenyum, felysia membalikkan badannya, mengusap dengan sayang wajah sang suami.


"Itu artinya ayah sudah bahagia di sana, melihatmu yang sekarang,tentu ayah senang." Felysia lalu mengambil sebelah tangan Abhimanyu dan meletakkannya di perutnya.


"Dan juga karna hadirnya dia."


Abhimanyu terpanah menatap sang istri yang tersenyum sangat manis. lalu tangannya tergerak untuk mengelus perut Istrinya yang sudah mulai terlihat.


"Kau benar." lalu Abhimanyu membawa felysia ke pelukannya, menciptakan rasa hangat yang menjalar sampai ke hati mereka.


Abhimanyu melepas pelukan mereka. "Stela, menurutmu anak kita laki-laki atau perempuan?"


Felysia tersenyum. "kalau menurutmu?"


"Perempuan." Abhimanyu tak henti mengelus perut sang istri. "Aku ingin Alister mempunyai adik perempuan."


Felysia mengangguk setuju.kini dengan posisi Abhimanyu yang memeluknya dari belakang, Felysia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, tangan Abhimanyu memeluk pinggangnya dengan erat.


"Terimakasih."


"Untuk?" Felysia memejamkan mata, menikmati semilir angin malam ini.


"Karna telah hadir dalam hidupku. memberiku warna baru di hidup yang hampir tenggelam dalam kesuraman ini. dan sekarang memberiku dua buah hati yang melengkapi keluarga kecil kita."


Felysia malah terkekeh. "Sejak kapan suamiku yang terkenal garang, jadi puitis seperti ini?"


"Aku serius," Abhimanyu sedikit menunduk, memicingkan mata.


Felysia malah tertawa lagi. "Baiklah, baiklah tuan muda,aku juga serius." lalu keduanya sama-sama melempar senyum.


"Aku juga ingin berterima kasih. terimakasih karna sudah menjadi suamiku." Felysia mendongak sejenak menatap wajah sang suami, mereka saling melempar senyum.


"Aku akan terus berada di sampingmu dan menjadi tempat mu kembali, terlepas dari apapun masa lalumu,aku akan terus mencintaimu."


Abhimanyu kian melebarka senyumnya mendengar kata-kata indah itu. Lalu keduanya kembali terhanyut menatap rembulan yang bersinar cantik di langit sana.


-HAPPY ENDING-


**********


Terimakasih untuk semua yang sudah setia mengikuti PLTM hingga sejauh ini, tanpa reader semua novel ini bukanlah apa-apa, untuk itu author banyak mengucapkan syukur dan terimakasih untuk semua reader tercinta.


Dan maaf jika ending tidak sesuai dengan yang kalian harapkan,atau ada kecacatan, karna di luar itu semua, othor hanyalah manusia biasa, mohon reader semua memaklumi.


Setelah ini othor akan memberikan beberapa bonchap jadi harap di tunggu ya.


Sampai jumpa lagi di karya othor selanjutnya 🤗❤️


Salam hangat dari Felysia dan Abhimanyu ❤️

__ADS_1


__ADS_2