Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 29


__ADS_3

Abhimanyu berjalan keluar menuju pintu utama, untuk segera menyambut kepulangan sang ayah. Dia tidak mengerti kenapa bisa tiba-tiba sang ayah sudah ada di tanah air saja, padahal info yang dia dapat dari Leo tentang perkembangan ayahnya, pria tua itu sangat menikmati liburan keliling dunianya, sekaligus untuk masa pengobatan penyakitnya.


"Tuan,ada apa?" felysia berjalan tertatih ke arah Abhimanyu.


Abhimanyu menghentikan langkahnya Begitu melihat felysia berjalan ke arahnya.


"Kenapa kau ke luar kamar? Istirahat." Perintah Abhimanyu,dingin.


"Aku hanya memeriksa keadaan. karna tadi aku melihat para maid berjalan tergesa-gesa ke arah luar,aku pikir ada hal buruk yang terjadi." Papar felysia.


"Sebenarnya ada apa,tuan?


Di luar dugaan bukannya menjawab pertanyaan felysia, Abhimanyu malah mengangkat tubuh gadis itu dengan satu gerakan hingga felysia terpekik kaget, Abhimanyu menggendong felysia ala bridal style, Membuat gadis itu mengayun-ngayunkan kakinya minta di lepaskan.


"Tuan apa yang kau lakukan? turunkan aku?" Felysia memberontak.


"Kakimu cidera Begitu,masih ingin tetap berjalan," kata Abhimanyu geram menunjuk kaki felysia dengan arah matanya.


Felysia terdiam. Mereka saling menatap satu sama lain, namun hanya sebentar, setelahnya Abhimanyu berjalan ke arah sebuah sofa di ruang tengah itu. Dengan felysia yang masih tetap berontak minta dilepaskan.


Leo yang hendak menyusul tuan mudanya itu, kaget melihat Abhimanyu yang menggendong felysia seperti itu,hanya sesaat sebelum akhirnya Leo tersenyum sambil geleng-geleng kepala lalu menyusul keduanya.


Abhimanyu lalu menurunkan tubuh mungil felysia untuk duduk di salah satu sofa empuk itu.


"Kau tetap di sini jangan berjalan lagi," kata Abhimanyu menatap wajah felysia.


Felysia yang mendapatkan tatapan seperti itu, menundukkan wajahnya,malu. Karna kini posisi mereka terbilang sangat dekat, dengan wajah mereka yang hanya berjarak beberapa centi, Membuat jantung felysia berdebar kencang.


Leo menghampiri mereka berdua dengan sedikit terengah-engah.


"Leo jaga nyonya muda, jangan sampai dia berjalan lagi." Titah Abhimanyu.


Leo menunduk, "baik tuan."


Leo kemudian berdiri tepat di samping sofa tempat felysia duduk, sambil melipat telapak tangannya. Bersidekap dada.


Lalu setelahnya Abhimanyu berjalan kembali ke arah pintu utama, guna menyambut kedatangan sang ayah yang mungkin sudah menunggunya di depan.


"Leo sebenarnya ada apa?" tanya felysia masih penasaran.


"Tuan besar tiba-tiba sudah balik ke Indonesia nya,dan sekarang sedang ada didepan," ujar Leo.


Felysia yang mendengarnya membulatkan matanya, tentu saja terkejut. Karna yang dia tahu Mr.manaf memang sedang berada di luar negeri dan sedang liburan, felysia tidak sempat untuk bertemu dengan beliau karena memang kesehatan beliau yang tidak terlalu baik. Bahkan Saat akad pernikahannya dengan Abhimanyu, Mr. Manaf hanya datang sebentar tanpa bisa ia temui. mereka hanya pernah mengobrol beberapa kata di telepon.


"Apa beliau datang bersama istrinya?" Kata felysia.


Leo mengangguk, "bukan hanya bersama istrinya, tapi juga bersama putra keduanya,tuan muda Arya." Ucapnya setengah berbisik.


Felysia yang mendengar itu, tentu tidak bisa menutupi ekspresi keterkejutannya. Arya berada di sini? tidak bisa di percaya. Apakah Bella, adik sepupunya itu juga ikut bersamanya. Felysia jadi semakin penasaran.


Sementara Abhimanyu di depan, berjalan ke depan teras, Membuat beberapa maid di situ menyingkir mundur guna memberikan jalan untuk tuan muda mereka. Ada pak Herul di juga di samping pria itu.


"Ayah, tidak di sangka kau datang tanpa memberitahu ku dulu," ucap Abhimanyu.


Abhimanyu melihat 10 mobil di depan sana,ada sekitar 30 pengawal sang ayah yang berpencar disekitarnya, melindungi tuan besar mereka dari segala penjuru. Abhimanyu senang karna pengawalan untuk ayahnya terlihat sangat ketat.


Ayahnya sendiri duduk di kursi roda dengan raut muka yang tidak bisa di tebak. Apakah sang ayah marah atau kesal, atau mungkin keduanya. Kali ini mungkin sang ayah akan kecewa padanya bila dia tahu felysia, gadis yang di titipkannya untuk dia jaga, terluka.


Sementara mata Abhimanyu berpindah memandang wanita di belakang kursi roda sang ayah,yang di panggil namanya dengan sebutan 'Ibu' Cih, ibu. Dia tidak tahu apa sebutan itu pantas untuk wanita yang saat dia kecil sering mengadu kepada ayahnya karena dia sering berbuat nakal, padahal itu hanya alibi untuk melindungi putranya, Arya. Berakhirlah dengan Abhimanyu yang sering di hukum atas kesalahan yang tidak di perbuatnya melainkan di lakukan oleh Arya.


Pintu mobil terbuka lagi, menampilkan seorang pria dengan jas cokelat tua, dan kacamata hitam yang menutupi setengah wajahnya. Abhimanyu tersentak kaget, itu adalah Arya. Untuk apa pria itu juga ada di sini.


"Kau!" Abhimanyu berteriak kaget,lalu menuruni undakan tangga teras demi memastikan lagi siapa pria itu.


"Halo kakak ku tercinta. Bagaimana kabarmu?" Arya tersenyum jumawa, lalu membuka kacamata hitamnya.


"Ayah, untuk apa si brengsek ini ada di sini juga?" Protesnya.


"Abhimanyu jaga ucapanmu, Dia adalah saudaramu! Dimana sopan santun mu?!"


Abhimanyu berbalik, itu adalah suara Sinta. ibu tirinya itu kini memandangnya tidak suka.


Abhimanyu berdecih. Persetan dengan sopan santun, tidak pantas untuknya bersopan santun kepada seorang pria yang bahkan tidak bisa menghargai wanita.


Mr. Manaf menghela nafasnya.


"Hentikan perdebatan kalian, sekarang aku lelah ingin masuk dan beristirahat sejenak, baru membicarakan hal ini," kata Mr.manaf akhirnya membuka suara.


Mereka saling tatap sebentar, sebelum akhirnya Abhimanyu mengangguk.


"Pak Herul, bantu ayahku Masuk ke dalam." Perintah Abhimanyu.


Pak Herul mengangguk, "baik tuan muda."


Abhimanyu tersenyum samar,lalu pandangannya tidak sengaja besibobrok langsung dengan pandangan Arya. Arya yang menyadari pandangan permusuhan dari Abhimanyu, tersenyum penuh arti.


"Apa kau tahu aku kesini ingin merebut apa yang kau punya, yaitu istrimu.lihat saja Abhimanyu, aku pasti akan merebut felysia kembali." batin Arya dengan semriknya.


Seakan bisa mengetahui apa yang di ucapkan Arya di pikirannya, Abhimanyu tersenyum seperti mengejek.


"Tidak akan ku biarkan rencanamu itu berhasil. She is mine and you have nothing to do with her anymore," ujar Abhimanyu, pelan hampir tidak terdengar oleh yang lain. Tapi sangat terdengar jelas oleh Arya.

__ADS_1


Dan itu sukses membuat Arya kesal, pria itu lalu meninju pintu mobil dengan keras setelah Abhimanyu pergi meninggalkannya.


****


Mr. Manaf masuk ke dalam ruang tengah bersama Nyonya.sinta yang mendorong kursi rodanya. Mr. Manaf menatap ke sekitar, rindu juga dengan mansion yang sudah di tinggalkannya selama hampir setengah tahun ini.


Lalu pandangan Mr. Manaf tidak sengaja melihat seorang wanita yang duduk di sofa tak jauh dari tempatnya berpijak. Mr. Manaf kemudian memerintahkan sang istri untuk menuju wanita itu.


Felysia yang melihat Mr. Manaf hendak menuju ke arahnya, tiba-tiba gugup sendiri tubuhnya menegang seakan ada sengatan listrik yang menimpanya. Ini kali pertamanya dia melihat ayah mertuanya itu secara langsung. Dan jujur,aura yang dikeluarkan Mr.manaf sama persis dengan aura yang dia rasakan ketika bersama Abhimanyu. Kuat, tajam, mengintimidasi dan juga bossy.


"Halo nak, senang bisa bertemu dengan mu langsung," ujar Mr. Manaf tersenyum setelah mereka kini berhadapan.


Felysia tersenyum, gugup setengah mati. Dia hendak membalas sapaan ayah mertuanya itu, tapi terhenti ketika tiba-tiba nyonya.sinta sudah berjongkok dan memeluk dirinya erat.


Felysia terhenyak, hanya sejenak setelahnya ia membalas pelukan itu.


"Bagaimana kabarmu nak? Aku senang bisa melihatmu lagi," ujar ibu mertuanya itu.


"Kabarku sangat baik Bu," kata felysia setelah nyonya.sinta melepaskan pelukan mereka.


Nyonya Sinta tersenyum merapikan rambut felysia seperti seorang ibu yang merindukan putrinya.


"Aku percaya, Abhimanyu pasti menjagamu dengan baik," ujar nyonya Sinta.


Felysia tersenyum, lalu felysia hendak berdiri untuk memberi salam kepada ayah mertuanya. Namun dengan cepat mr.manaf menghadang dengan memajukan tangannya ke depan.


"Tidak usah berdiri,aku tahu kau sedang terluka," ujar mr.manaf.


Felysia sedikit terkejut, karna bagaimana bisa Mr Manaf sampai tahu dirinya terluka. Tapi setelahnya felysia menurut dan duduk kembali di tempatnya.


"Baiklah, felysia. Aku tidak bisa lama-lama berbasa-basi denganmu,aku baru saja kembali dengan perjalanan jauh.jadi aku ingin beristirahat baru besok membicarakan masalahmu dengan Abhimanyu."


Felysia yang mendengarnya tersenyum samar, bahkan nada bicara dan perkataan Mr.manaf sangat mirip dengan abhimanyu.kini dia tahu dari mana Abhimanyu mempunyai sifat cuek,dingin dan terkesan angkuh. Karna ternyata ayahnya pun seperti itu.


Felysia mengangguk, "baik ayah,aku mengerti.tubuh mu letih pastinya kau membutuhkan istirahat yang lebih."


Pak manaf terdiam sebentar, seperkian detik terhanyut karna felysia yang memanggilnya dengan sebutan 'Ayah' Membuat dirinya seperti merasa mempunyai seorang putri. Dan juga ia jadi teringat almarhum fajar, sahabatnya sekaligus ayah Felysia.


"Fajar,bisa kau lihat kan, putrimu tumbuh dengan baik." Gumam pak Manaf dalam hati. Sambil melihat ke langit-langit. Raut wajahnya berubah sendu.


"Sayang." Sinta berujar lembut menepuk pundak suaminya pelan.


Pak manaf menggenggam tangan istrinya yang berada di pundaknya itu dan mengelusnya pelan.


"Antarkan aku ke kamar."


Sinta mengangguk, "baiklah."


Lalu setelah bayangan mereka menghilang, Abhimanyu datang dan menghampiri mereka berdua. Abhimanyu dengan tiba-tiba menggamit lengan felysia, hingga mau tidak mau felysia berdiri dari duduknya.


"Kau tetap di samping ku, jangan bicara sepatah kata pun." Abhimanyu berbisik kepada felysia.


Felysia yang tersentak kaget mendongak, menatap ke arah Abhimanyu yang berdiri kaku di sampingnya.


Ada apa? Kenapa? Pikirnya. Lalu pandangan felysia beralih melihat ke depan, mengikuti arah pandang Abhimanyu. Felysia terdiam, kaget. Di depannya sudah berdiri Arya, dengan ke angkuhannya.


"Hai, mantan pacarku. Kau terlihat semakin cantik," ucap Arya seraya memindai tubuh felysia dari atas sampai bawah.


"Sial,dia benar-benar terlihat semakin cantik dan seksi." Batin Arya.


Abhimanyu yang mengerti pandangan Arya kepada felysia pun, segera memajukan dirinya, melindungi tubuh wanita itu. Kini posisi felysia berada di belakang tubuh Abhimanyu dengan Abhimanyu yang masih menggenggam erat tangannya.


"Jaga pandangan kotormu itu kepada istriku," ucap Abhimanyu tegas dengan mata menatap tajam.


"Heuh!" Arya mendengus mendengar nada bicara Abhimanyu yang terdengar seperti peringatan itu, pria itu tertawa seperti mengejek.


"Baiklah, baiklah. Memang sekarang dia adalah istrimu. Tapi jangan lupakan bahwa dia juga adalah mantan pacarku. Kau tahu, bagaimana kebersamaan kami dahulu,ah rasanya seperti mengenang masa lalu yang indah," ujar Arya seolah sedang memanasi Abhimanyu.


Rahang Abhimanyu mengeras menahan amarah, dia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada felysia.Felysia yang menyadari itu, segera saja menenangkan sang suami.


Felysia mengelus pelan lengan kokoh Abhimanyu. Abhimanyu menoleh, felysia tersenyum sekilas. Seperkian detik mereka hanyut dalam tatapan dalam satu sama lain. Lalu felysia berjalan maju dan menghadap ke arah Arya.


"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Tapi kuperingatkan,aku sekarang adalah kakak iparmu. Dan semua kenangan di masa lalu bersama mu sudah ku kubur dalam-dalam.jadi berhenti melihat ke belakang dan jalani saja kehidupan mu bersama adik sepupuku." Felysia berbicara lugas.


Arya yang mendengarnya merasa tidak senang, felysia seakan sudah melupakan kenangan satu tahun kedekatan mereka.


"Dan ingat ini. Bahkan saat kedekatan kita tak ada status yang jelas saat itu, jadi berhenti menganggapku sebagai mantan pacarmu," ujar Felysia.


"Ayo tuan-- maksudku,sayang. Kita kembali ke kamar."


Felysia yang terkadung malu dan gelagapan sendiri karna mengucapkan hal itu segera saja menarik lengan Abhimanyu dengan telapak tangan mereka masih dalam genggaman.


Abhimanyu yang speechless dengan tindakan tiba-tiba-tiba felysia ini hanya menurut seraya menarik senyum simpul. Hanya sebentar saja lalu dengan segera dia mengubah raut wajahnya kembali datar.


Abhimanyu dan felysia lalu berjalan sambil bergandengan tangan, Membuat Arya yang melihatnya menjadi kesal,mengeram tertahan.


Arya menendang sofa di depannya dengan keras saking kesalnya, matanya bersitatap langsung dengan Leo yang masih berdiri di situ. dia memandang tajam ke arah Leo lalu akhirnya pergi.


Leo yang mendapat perlakuan itu hanya mengggidikan bahunya acuh, "Sinting." kata Leo lalu diapun berlalu.


***

__ADS_1


"M-maaf tuan,tadi aku lancang langsung menarikmu. aku tidak berniat seperti itu."


Felysia sedikit menunduk, ntahlah,kini perasaannya berkecamuk, Arya datang dengan tiba-tiba kesini dan sialnya mereka harus berada di satu atap jika Arya benar-benar akan tinggal di sini. felysia terlalu muak melihat wajah bajing*an itu.lalu sekarang dia pun mempertanyakan keadaan adik sepupunya? bagaimanakah keadaan Bella? apa dia baik-baik saja selama bersama Arya?


"Felysia,hei!" Abhimanyu mengguncangkan bahu felysia pelan.


"Eh,I-iya?" felysia yang tersadar dari lamunannya pun menoleh.


"Saya dari tadi bicara padamu? kenapa kau melamun?"


"Maaf tuan, hanya sedikit kurang fokus," kata felysia tersenyum gamang.


"Tidak usah memikirkan apa-apa,jika yang kau takutkan adalah Arya. jika dia memang akan tinggal di sini, kita bisa kembali ke rumah lama," Tutur Abhimanyu.


Felysia kini menatap lekat ke arah Abhimanyu yang sedang memandang ke arah depan.laki-laki ini,ntah kenapa selalu mengerti keadaan hatinya, walaupun terkadang kurang peka dan irit bicara, Tapi felysia suka sifat Abhimanyu yang satu ini.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" Abhimanyu menoleh menatap felysia.


Felysia yang merasa tertangkap basah mengamati pria itu, segera saja menggeleng.


"Tidak apa-apa, tuan." senyumnya.


"Lalu kenapa kau membawaku ke kamarmu? apa ini kode darimu agar kita tidur bersama?" tanya Abhimanyu. dia benar-benar bertanya bukan merayu atau apapun.


"Tidak tuan, bukan seperti itu." felysia buru-buru menyela dengan pipi yang sudah bersemu merah.


Abhimanyu menatap datar ke arahnya, "tapi di sini ada keluargaku, bagaimana reaksi mereka jika tahu kita tidur di kamar yang terpisah?"


Felysia yang mendengarnya terdiam kaku, benar juga apa yang di katakan tuan muda ini.


"Lalu bagaimana, tuan?"


Abhimanyu yang mendapat pertanyaan itu, menghembuskan nafasnya pelan.


"Begini saja,untuk satu malam ini kita tidur di satu kamar, lebih tepatnya di kamarku. besok ketika ayahku sudah menjelaskan semuanya,kita akan langsung pindah ke rumah lama." usulnya.


Felysia menimang-nimang, memikirkan lagi usul dari pria itu. tidur di satu kamar yang sama? felysia belum siap. tapi ini adalah satu-satunya cara agar Arya pun tidak mengganggunya.


"Kau tidak perlu khawatir.walaupun tidur di satu kamar yang sama,saya akan tidur di sofa panjang,dan kau bisa tidur di kasurnya nanti," ujar Abhimanyu pelan.


Felysia melotot seperkian detik,merasa kalau tuan muda ini benar-benar mempunyai indera keenam,karna bisa menebak isi pikirannya. namun dia buru-buru menggeleng.


"Baiklah tuan,aku setuju," katanya kemudian.


Abhimanyu menatap manik mata coklat terang felysia, "Baiklah." katanya, tidak ada senyum sama sekali di wajah itu.


***


"Aaaa lepaskan aku! lepaskan!"


Teriakkan itu menggema keras di keheningan malam,di rumah yang jauh dari jangkauan luar itu, Zeline terus mengamuk, membuat beberapa suster kepayahan karena tingkahnya.


" Apa benar-benar dia sudah jadi gila Sekarang?"


Abbas menghela nafasnya, gusar. Zeline yang seperti ini lama-lama membuatnya kesal juga, tapi dia tidak bisa melepaskan wanita itu begitu saja,akan bahaya jika wanita itu ia bebaskan.


"Sudah beberapa bulan kondisinya seperti ini. tidak terlalu bagus,tapi terkadang dia bisa tenang dan bicara seperti orang normal," ujar seorang pria dengan stetoskop yang menggantung di lehernya.


Abbas yang mendengarnya manggut-manggut. setelah kejadian yang menimpa Zeline akibat Abhimanyu, aktris muda itu sempat mengalami trauma, Abbas tidak mengerti sekejam itukah Abhimanyu menyiksa wanita ini? hingga sekarang kondisinya sangat memprihatinkan.


Sampai sekarang Abbas menahan wanita itu di rumah yang jauh dari pemukiman penduduk, dengan kondisinya yang sekarang sangat rentan jika dia berkeliaran,apa lagi dia seorang publik figur.


Abbas pun tidak secara cuma-cuma melepaskan Zeline dari cengkeraman Abhimanyu saat itu, walaupun wanita itu dekat dengan Arya, jika tidak ada ikatan dengan nya, Abbas tidak mau repot-repot melepaskannya. tapi masalahnya Zeline, wanita itu banyak mengetahui rahasianya, itu makanya akan sangat berbahaya jika wanita itu di bebaskan, karna wanita itu bisa saja menjadi ancamannya.


Seorang suster wanita keluar dari ruangan tempat Zeline di sekap, dengan raut khawatir dan takut suster tersebut menghadap ke Abbas dan dokter disampingnya.


"Ada apa?" tanya dokter disamping Abbas, karna wanita itu tak kunjung bicara.


"I-itu dok, wanita itu .... wanita itu." sang suster terbata.


"Wanita itu kenapa? bicara yang jelas!" geram Abbas gregetan.


"Wanita itu mengalami pendarahan," ujar suster itu dengan cepat.


"D-dia keguguran." cicitnya.


"Apa!" sahut Abbas dan dokter disampingnya bersamaan.


"Wanita itu hamil? bagaimana bisa?" sang dokter yang syok bersuara.


"Dokter Rahmat,cepat periksa kondisinya, tunggu apalagi?!" geram Abbas.


Sang dokter mengangguk, "Baiklah, Ayo."


Dokter Rahmat dan suster pun masuk ke dalam ruangan bersama Abbas di belakangnya.


Di dalam ruangan, dokter Rahmat dan beberapa suster sedang memeriksa keadaan Zeline yang terus memberontak, sementara itu Abbas di dibelakangnya mengamati sambil berfikir Siapa ayah dari bayi yang dikandung wanita itu?


"Arya! jangan bilang ini adalah ulahmu." gumam Abbas dengan memicingkan matanya.


Dia tahu bahwa keponakannya itu adalah pria penggila selangkang*n. tapi semoga wanita itu tidak benar-benar mengandung anaknya. atau jika benar, mau tidak mau dia harus melenyapkan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2