
"Alhamdulillah,kenyang."
Dian menyenderkan punggungnya di kursi kayu, beberapa kali wanita itu menepuk perutnya yang kini membuncit karna porsi makannya yang habis empat piring.
Hari ini, sesuai permintaan Abhimanyu, Felysia meminta Dian untuk menemaninya di rumah, tentu sahabatnya itu tak akan menolak. Bersama bi ati, ia rasa cukup untuk menemaninya tidur selama Abhimanyu tidak ada.
"Ke dapur dulu ah,cuci tangan," ujarnya dengan tulang ayam yang masih dia koreti kulit-kulitnya. Kalo soal makan Dian tak pernah jaim.
"Yan, jangan lupa piring kotornya di cuci!" Teriakkan melengking felysia menggema dari ruang tamu, wanita itu sedang menonton drama Korea di televisi, rekomendasi dari Dian.
"Ahsyiap bos ku." Dian berseru tak kalah kencang.
Dian lalu berjalan ke wastafel, sambil membawa piring dan gelas kotornya.
"Yah kok, ini gak nyala." Dian memutar-memutar keran dengan tenaganya.
"Ih, Fel kok ini keran airnya gak nyala, jangan-jangan suamimu lupa bayar tagihan air yah!"
"Sembarangan kamu, coba di puter lagi, kali mampet!" Felysia berteriak lagi, merasa nonton nya tak fokus karena kehebohan Dian.
"Tetep gak bisa Fel, bener-bener nih, Abhimanyu lupa bayar kali." Lalu Dian menarik nafas.
"Tapi gak mungkin juga,dia kan orkay." Gerutu wanita itu.
"Kalo tetep gak bisa coba kamu ke belakang, puter keran selang yang warna biru."
Membuang nafas berat, akhirnya Dian berjalan ke belakang rumah sesuai instruksi Felysia.
"Duh kok auranya horor gini yah." Dian mengusap punggungnya yang meremang.
"Ini lagi yang mana kerannya,buset dah mana gelap." Lagi-lagi wanita menggerutu kesal.
"Lagi nyari apa neng?"
Demi kak Ros yang belum kawin-kawin, demi mail yang masih jual satu-dua ringgit, demi cintanya kepada Leo yang sampai ke bulan, Dian amat sangat kaget mendengar seruan dari belakangnya itu.
Menengok sebentar, bisa ia lihat baju putih yang hampir menyentuh tanah dan rambut sepinggang. Kaki orang di belakangnya ini pasti tidak napak, Dian yakin itu.
"Neng,kok gak di jawab?"
Lah, iyalah mana mau dia menjawab jika dibelakangnya adalah dedemit. Sumpah demi apapun jantung Dian hampir loncat dari tempatnya,suara itu begitu serak seperti kuntilanak yang ada di film horor yang sering ia tonton.
__ADS_1
"Huwaa, Dedy tolong ded, ada Mak Kunti!" Lalu wanita itu segera saja berlari ngacir, tak perduli jika sendal swalow yang sedang ia pakai putus sebelah.
****
"Fel,tolong Fel, ada dedemit Fel di belakang." Dian berucap dengan nafas ngos-ngosan, wanita menunjuk-nunjuk ke arah belakang rumah.
"Aduh,kamu kenapa sih yan bikin heboh Mulu."
"Ya ampun ini tuh amat sangat genting Fel, ayok kita kabur jangan tidur di sini," wanita itu lalu bergidik dengan suara memelan, "Aku takut Fel, rumah mu kayanya angker deh."
"Dian, sahabatku yang paling cantik,di mana ada hantu? Di mana? Kamu tuh lagi halu ya."
"Ih,bener Fel, di halaman belakang rumahmu, di sono aku liat sekilas badannya sih Buntet kaya ikan buntel, tapi rambutnya panjang,pake daster putih,Persis kaya mbak Kunti Fel," ujar Dian sangat heboh.
Blam! Listrik tiba-tiba padam,hal itu semakin membuat Dian ketakutan, Dian segera saja memeluk tubuh sahabatnya.
"Tuh kan kubilang apa, rumahmu ini berhantu Fel, nanti Abhimanyu pulang minta pindah gih ke mansion gede gitu," Dian terus saja meracau Membuat felysia menggeplak lengannya.
"Ngadi-ngadi. Ini pasti cuma mati lampu sebentar,biasa ini," ucap Felysia menenangkan, meski dalam hatinya juga sedikit tak tenang.
Lalu ntah semilir angin dingin tiba-tiba Lewat menerpa kulit mereka, Dian di tempat sudah semakin erat memeluk dengan raut ketakutan, sementara Felysia sendiri kini mulai bergidik.
"Fel, aku takut." Dian sudah berkeringat dingin.
Krieet!
Suara decitan pintu begitu keras terdengar di keheningan, Felysia dan Dian sudah mundur beberapa langkah, bayangkan ini hampir lewat sepuluh malam, dan komplek perumahan ini sangat sepi jika malam hari, tiba-tiba pintu depan terbuka tanpa mereka tahu siapa yang ada di sana.
Lalu tatapan kedua wanita itu terpaku, pada sosok yang muncul di kegelapan malam, di terpa sinar cahaya bulan mereka melihat sosok itu sama persis dengan apa yang di jabarkan Dian, rambutnya tergerai panjang dan kain putih yang seperti melayang-layang.
"Aaaaaa,Demi rambut Upin Ipin yang gak tumbuh-tumbuh.beneran Ada kuntilanak!"
Gedubrak!
Tak sanggup melihat pemandangan di hadapannya, Dian Tiba-tiba saja ambruk, wanita itu pingsan seketika membuat Felysia menjadi panik.
"Nyonya muda,ini saya."
Felysia yang terduduk panik, menengok, melihat ternyata kuntilanak itu tak lain adalah bi ati. Seperti tak tahu jika sudah membuat anak orang pingsan,bi ati malah nyengir lebar.
Lalu listrik yang semula padam kembali menyala, jika sebelumnya remang felysia bisa melihat jelas jika itu bi ati.
__ADS_1
"Bi ati, ya ampun ngagetin banget Bi," seru Felysia lega bercampur kesal.
"Bibi ngapain coba rambut di gerai gitu, pake dasternya juga warnanya putih semua," ucap Felysia lagi.
"Ini saya habis ngambil jemuran Nya, terus soal baju kebetulan ini dapet percuma dari temen irt tetangga sebelah, soal rambut tadi bibi lupa kuncir rambut hehe." Bi ati tampak cengengesan.
Felysia menghela nafas, menggeleng pelan, "Ya udah bi, tolong bantu angkat Dian sampai sofa kalo gitu."
***
Di belahan dunia yang berbeda, tepatnya di ibukota negara Swiss, Abhimanyu tampak menatap jalanan besar yang padat di bawah kakinya,yang hanya terhalang kaca. pria itu sekarang berada di lantai lima sebuah hotel mewah. Dia akan menginap untuk beberapa hari di sini.
Abhimanyu meremat ponselnya, frustasi. beberapa kali rasanya ia ingin melempar benda pipih berlogo apel yang di makan setengah itu.
"Leo!" Satu teriakan melengking, seseorang langsung muncul dari balik pintu.
"Ya,tuan muda." Leo sudah berdiri tak jauh darinya.
Hebat memang, hanya satu panggilan pria itu sudah bisa berada di sini, entah Leo yang ajaib atau memang ikatan batin antara ajudan dan tuan muda itu sangat kuat.
"Kenapa Stela belum juga menelponku?!"
Leo berjengit kaget, lengkingan Abhimanyu sungguh sangat keras. Lalu pria itu menautkan alis, tampak bingung atas pertanyaan tuan mudanya.
"Saya juga tidak--"
"Jangan menjawab!"
Leo lagi-lagi berjengit kaget,merinding mendengar suara menggelegar itu. Padahal Abhimanyu bisa saja berkata datar seperti sifatnya, kenapa harus sekali berteriak, kupingnya ini bukan handphone nokia yang tahan banting.
"Tadi kan tuan--" Leo memilih diam mendengar suara tuan muda itu bersua lagi.
"Apa dia tidak tahu, jika aku di sini merindukannya," ucap Abhimanyu dengan suara yang lebih rendah.
"Waw! Its mezing" Leo berseru dalam hati. Sejak kapan tuan muda ini jadi terbuka tentang perasaannya? Apa lagi di sini masih ada dirinya.
Menghela nafas panjang, Abhimanyu memijit pelipisnya, pria itu terlihat uring-uringan karna tak kunjung mendengar suara Felysia, padahal belum sehari dia berada di sini.
"Kau kembali saja Leo, periksa lagi berkas yang akan di bawah besok."
Memilih patuh, Leo membungkuk hormat,dari pada dampratan yang ia dapat jika bertanya lebih jauh, dia lebih memilih untuk undur diri saja.
__ADS_1
"Mamam tuh rindu mampus, gengsi di gedein." Leo berkata sangat kecil lalu terkikik mengingat hal tadi menurutnya sangat lucu.
Memang ajudan lucknut.