
Di dalam mobil Felysia dan Abhimanyu Sama-sama bergeming. Abhimanyu sibuk menatap jalan, menyetir dengan fokus, sementara felysia tampak kikuk di tempat duduknya. Kebetulan memang Abhimanyu membawa mobil sendiri tanpa di temani Leo,karna dia ingin menghabiskan waktu bersama Felysia hanya berdua.
Setelah pernyataan cinta yang di lontarkan oleh Abhimanyu, keduanya sama-sama terjebak canggung. Felysia pun belum menanggapi apa-apa perihal pernyataan cinta Abhimanyu.gadis itu terlalu malu.
"Ekhem," Abhimanyu berdehem, mengalihkan perhatian, "Tidak ada barang yang tertinggal kan?" tanyanya.
Felysia menggeleng heran, "T-tidak, tidak ada."
"Ouh, baiklah." Abhimanyu manggut-manggut. pria itu tampak kikuk.
Keduanya lalu diam kembali,sibuk dengan pemikiran masing-masing. Terlebih lagi felysia, gadis itu tak menyangka Abhimanyu,pria yang terkesan kaku dan cuek bisa mengungkapkan perasaannya seperti tadi.
***
Mobil yang dikendarai Abhimanyu berhenti di pagar rumah bertingkat minimalis itu. Keduanya lalu turun bersama, Abhimanyu sudah melepas jasnya karna basa, tertinggal kemeja hitam saja yang melekat di badan atletis pria itu. Keduanya lalu heran melihat sebuah mobil mewah yang terparkir di sana, Abhimanyu sangat tahu mobil siapa itu.
"Sepertinya ayah ada di rumah." Abhimanyu menengok ke arah felysia.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya pria itu.
Felysia tersenyum, melempar pandangan, "Aku tahu bagaimana mobil ayah mertua."
Lalu keduanya masuk bersama ke dalam rumah. Benar saja di sana sudah ada dua pengawal pribadi pak Manaf yang berjaga, membungkuk memberi hormat kepada Abhimanyu dan felysia.
"Tuan sudah menunggu di dalam." Salah satunya bercelatuk.
Abhimanyu dan felysia saling melempar pandang,lalu masuk ke ruang tamu. Di sana sudah ada pak Manaf yang setia di kursi rodanya dan seorang asistennya. Pak Manaf tersenyum ke arah keduanya.
"Ayah, kenapa tak bilang dulu jika ingin datang." Felysia menyalami ayah mertuanya.
"Aku sengaja," pak Manaf tersenyum, "kalian dari mana saja?" Bingung melihat keduanya.
"Kami habis dari jalan-jalan." Abhimanyu yang menjawab. Pria itu sudah menyalami ayahnya sebelumnya.
Pak Manaf tersenyum, "Begitu rupanya."
"Kalian pasti bersenang-senang." Lanjutnya.
Lenggang sejenak, Abhimanyu dan pak Manaf kini bersitatap. Ada rasa rindu yang tak dapat di artikan dari keduanya,rindu Antara seorang ayah dan putranya begitupun sebaliknya.
"Ehem, biarkan aku menyiapkan minum. Kalian mengobrol lah dulu." Felysia memilih undur diri, agar ayah dan anak itu bisa mengobrol leluasa.
Pak Manaf mengangguk, begitupun Abhimanyu. Lalu setelah kepergian Felysia, Abhimanyu mulai melangkah kan kakinya menuju sang ayah, mengambil tempat di samping orang tua itu.
"Bagaimana kabar ayah?" Abhimanyu mulai berbasa-basi.
"Kabar orang tua ini sangat baik. Terlebih melihatmu yang tampaknya kini sudah mulai berubah." Pak Manaf tersenyum.
"Berubah bagaimana?" Abhimanyu mengerutkan kening.
Pak Manaf terkekeh sejenak, "Kau tampak lebih berekspresi, dan mempunyai aura." Lalu beliau tertawa lagi.
"Tampaknya kau sudah bahagia sekarang," lirih orang tua itu menatap ke arah depan.
__ADS_1
Abhimanyu tersenyum simpul, mungkin yang di katakan ayahnya benar. Hidupnya jauh lebih baik sekarang.
"Apa semuanya karna gadis itu?" Pak Manaf menaikan satu alisnya.
Abhimanyu tahu siapa yang dimaksud. Lelaki itu hanya diam tanpa mau menjawab.
Pak Manaf tersenyum, "nampaknya memang felysia punya andil besar dalam perubahanmu."
Abhimanyu menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya. Pria itu seperti di mabuk cinta.
"Ayah senang." Abhimanyu mengangkat wajah mendengarnya,lalu menatap pria yang kini sudah memutih rambutnya itu.
"Kedatangan ayah kesini untuk pertama kali, saat melihat rumah ini yang sudah sangat jauh berbeda,ayah senang. Nampaknya Felysia merawatmu dengan baik." Pak Manaf menghela nafas sejenak.
"Ayah sudah tak ingin membicarakan tentang masalahmu yang terdahulu. Orang tua ini sudah terlalu tua untuk memikirkan masalah berat,jadi ayah tak akan mengungkitnya lagi," ujarnya di akhiri senyum.
"Ayah bahagia, melihat kau yang kini sudah bahagia." Pak Manaf menepuk pelan pundak putranya itu.
"Ayah tampak jauh lebih sehat," ujar Abhimanyu, "Aku juga senang ayah terlihat bahagia."
Lalu kedua pria itu tersenyum, ada rasa hangat yang menjalar, rasa rindu itu telah tersalurkan. Kerinduan antara ayah dan putranya. Mereka lalu tertawa pelan bersama.
Felysia tak jauh dari mereka melihat itu tersenyum, gadis yang sedang membawa nampan di tangannya itu tampak ikut bahagia melihat keharmonisan di antara orang tua dan putra itu. Mereka jauh lebih akrab dan terlihat sangat senang.
Felysia lalu berjalan menghampiri mereka dan menaruh minuman yang ada di nampan di atas meja. Felysia lalu tersenyum dan duduk di samping Abhimanyu.
"Silahkan di minum yah."
"Ngomong-ngomong,selain berkunjung ayah pasti ada keperluan lain ke sini," ujar Abhimanyu.
"Oh ya,aku hampir lupa." Pak Manaf menepuk pelan keningnya, Lalu beliau memanggil salah satu bodyguardnya, mengambil sebuah undangan yang di berikan.
"Ini." Pak Manaf mengulurkan kartu undangan mewah itu di atas meja dekat Abhimanyu.
"Datanglah ke pernikahan adikmu,"ucap beliau mulai serius.
Hening sejenak, Abhimanyu menegakkan badannya, menengok ke arah Felysia.
"Resepsinya akan di adakan di hotel. Kau datanglah." Pak Manaf berkata lagi menjawab kebingungan mereka.
"Aku memang akan datang," ujar Abhimanyu Membuat semua orang memandangnya.
"Sebelumnya juga sudah ada utusan yang memberikan undangan ini,jadi ayah tak perlu memberikannya lagi," ujar Abhimanyu menatap sang ayah.
"Kau benar akan datang?" Lirih felysia menatapnya.
Abhimanyu mengangguk, "Kita akan datang bersama kan." Lalu tersenyum.
"T-tapi kau bilang?" Felysia tampak ragu.
"Aku tidak akan datang ke mansion, bukan berarti tidak akan datang ke resepsi pernikahan adikku." Abhimanyu berkata lagi.
"Ah, Y-ya kau benar."Felysia menarik senyum.
__ADS_1
"Jadi benar kau akan datang?" Pak Manaf memastikan.
"Iyah,ayah tak perlu khawatir.aku akan datang." Abhimanyu tersenyum miring. Ada rencana besar yang tercetus di otaknya.
Pak Manaf menyipitkan matanya, senyum Abhimanyu seperti memiliki banyak arti. Namun ia tepis itu, Abhimanyu setuju untuk datang saja dia sudah sangat senang.
"Baiklah, lusa datanglah bersama Felysia. Ayah sangat menunggu kehadiran kalian." Pak Manaf menyenderkan punggungnya di kursi rodanya.
"Apakah ayah akan makan malam di sini, kebetulan aku sudah memasak banyak," ucap Felysia.
Pak Manaf menenggakkan badannya, "Tentu. Ayah sangat ingin makan bersama kalian."
Felysia tersenyum senang, "baiklah aku akan menyiapkan. Para bodyguard ayah juga boleh ikut bergabung."
***
Pak Manaf, Abhimanyu dan felysia duduk di meja makan dengan canda tawa, Felysia tak henti menceritakan tentang bagaimana dia dan Abhimanyu yang bermain bersama di tepi pantai sejam yang lalu. Pak Manaf memerhatikan dengan seksama, kebersamaan seperti ini sangat jarang terjadi di antara mereka.
"Oh ya, bagaimana dengan temanmu yang bernama Dian itu? Kalian masih sering bersama?" Pak Manaf mulai memakan makanannya.
Felysia dan Abhimanyu saling melempar pandang sejenak, "Tentu sering yah. Dian sempat menitipkan salam untukmu."
Pak Manaf tertawa, " sampaikan salam balik untuknya. Nanti utusan ayah akan mengirimkan undangan khusus untuknya juga. Bilang padanya untuk datang besok."
Felysia tersenyum, "tentu yah."
Sementara tak jauh dari mereka, di dapur kedua bodyguard dan supir pak Manaf juga di Sudah di siapkan makanan juga oleh Felysia, bersama dengan mang Ujang dan mang Jajang mereka juga tampak menikmati makanan felysia yang terkenal lezat.
***
"Nak,ada yang ingin ayah sampaikan padamu," pak Manaf berucap di sofa panjang di ruang keluarga. Setelah makan mereka menyempatkan untuk bercakap-cakap.
Felysia menatap ayah mertuanya, "Apa yah?"
"Tapi sebelum itu ayah ingin bicara hanya empat mata padamu." Pak Manaf melirik ke arah Abhimanyu. Pria dengan kemeja hitam yang di gulung sampai se sikut itu tampak terkejut sejenak.
"Baiklah aku akan ke atas dahulu." Abhimanyu paham lalu berdiri.
Pria itu lalu menatap sekilas ke arah felysia yang tampak menatapnya,lalu dengan gerakan pelan dia mengusap wajah istrinya pelan, Kemudian melangkah pergi.
"Jadi apa yang ingin ayah bicarakan?" Felysia membetulkan posisi duduknya.
Pak Manaf menenggakkan badannya, kini menatap serius.
"Ini tentang orang tuamu Felysia," ujar pak Manaf membuat gadis itu melebarkan matanya.
*****
Hola kakak-kakak pembaca setia PLTM. maaf karna author baru bisa up lg author Bru sembuh dari sakit mudah2an kalian memaklumi yah.
Dan untuk PLTM sendiri othor buat novel ini gk sampe 100 bab alias beberapa bab lg PLTM akan menuju ending,jadi terimakasih banyak buat yang selalu setia dan mendukung PLTM❤️
Salam hangat dari author 💐
__ADS_1