Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 38


__ADS_3

"Apakah sekarang kau senang?"


Felysia mengangguk semangat sebagai jawabannya.kini mereka tengah berada di dalam mobil yang sedang melaju.


"Terimakasih ya," kata felysia yang duduk di samping Abhimanyu.


Setelah mereka memberi hadiah pada anak-anak jalanan itu,mereka berpamitan lalu saat itu juga Abhimanyu mengatakan padanya jika dia akan membawa anak-anak itu kerumah singgah bagi anak-anak terlantar, Felysia yang mengetahuinya tentu sangat gembira, anak-anak itu pasti akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik di sana dan dia tidak akan khawatir lagi.


"Ini." Abhimanyu menoleh.


"Jepitan?" Abhimanyu mengernyit, sebuah jepitan bewarna merah muda bergambar berbie, felysia taruh di telapak tangannya.


"Eumm." Felysia mengangguk, "itu untukmu."


"Tadi sebelum kita pergi Rara tiba-tiba memberikan jepitan ini, dia bilang itu untukmu, katanya sebagai ucapan terimakasih karna kau sudah memberikannya sebuah Teddy bear."


"Cih, Dasar anak-anak,untuk apa dia memberikan ini padaku." Abhimanyu berkilah,dia menodongkan kembali benda kecil itu.


Felysia malah terkekeh di buatnya, jelas-jelas itu hanya alibi. Sebenarnya Abhimanyu senang mendapatkan hadiah itu terbukti jelas dari raut wajahnya yang tak bisa bohong.gengsinya masih aja di gedein.


"Oh ayolah, bukankah kau menyukai Rara, bukankah dia sangat menggemaskan iyakan." Felysia tergelak menggodanya.


"Jadi simpanlah jepitan ini,kalau tidak dia akan sedih karna kau tidak mau menerima pemberiannya."


Abhimanyu hanya mendengus, menyenderkan punggungnya di jok mobil dan melipat tangan di depan dada. Sebenarnya dia sedang menahan senyum, melihat felysia yang sedang merayunya menurutnya sangat lucu.


"Oh ayolah, terimalah jepitan ini." Felysia mengguncang-guncangkan lengan Abhimanyu.


"Tidak. Kau saja yang pakai," kata Abhimanyu.


Tidak kehabisan akal, tiba-tiba satu ide tercetus di otaknya yang encer.


"Kemarikan Rambutmu." Felysia menggapai kepala Abhimanyu. Pria itu tidak melawan.


"Apa yang kau lakukan?" Abhimanyu sedikit membungkuk, hanya pasrah saat sang istri sedang membenarkan beberapa anak rambutnya ke atas.


Ctaak! Felysia memasangkan jepitan itu di rambut depan Abhimanyu.


"Nah begini sudah bagus." Felysia terkekeh, "Kau tampak sangat menggemaskan." gadis itu bertepuk tangan dengan senyum lebarnya.


"Apa yang kau lakukan." Abhimanyu protes dengan menatap horor ke arah sang istri.


"Yah kok di lepas." Felysia menurunkan bahunya.


Abhimanyu hanya diam melepaskan benda yang menurutnya aneh itu di rambutnya.


"Padahal kan lucu,iyakan pak Jajang." Felysia bersungut.


Mang Jajang hanya diam,tidak berani membantah juga tidak berani mengiyakan, ingin tertawa tapi tatapan horor Abhimanyu lagi-lagi mengarah padanya membuatnya merinding. jangan sampai deh Membuat tuan mudanya marah.


Abhimanyu menoleh, melihat raut wajah tak semangat felysia,dia berdehem, "Saya akan menyimpannya untuk kenang-kenangan."


Mendengar itu wajah lesu Felysia kembali sumringah, melihatnya Abhimanyu terkekeh sendiri. setiap hari ada saja tingkah laku felysia yang membuat terkejut sekaligus kagum. dia tau rasa ini semakin subur tumbuh di hatinya,dia tidak bisa mengelak lagi.


"Eh ini bukan jalan menuju kerumah?kemana kita akan pergi?" Felysia sedikit mengintip di kaca mobil.


Abhimanyu mengulum senyum tipis, "Kita akan ke alun-alun."


"Eh,ke alun-alun kota?" Felysia menatap ke arahnya.


"Ya." Abhimanyu mengangguk.


"Waah asik, apakah kita akan jalan-jalan sore di sana?"


"Tentu." Abhimanyu Lagi-lagi mengulum senyum tipis. melihat senyum di raut gembira itu membuat hatinya menghangat. rasanya apapun akan dia lakukan untuk selalu melihat senyum sang istri.


***


"Mas, ayo kita kesana, aku ingin membeli eksrim itu!" Felysia terus menerus menarik lengan kemeja Abhimanyu, Membuat pria itu dengan enggan mengikuti langkahnya.


Banyak orang yang berlalu lalang melihat mereka berdua, kedua insani ini sejak tadi menarik perhatian para pengunjung di sini, mereka merasa lucu dengan tingkah keduanya,sang pria yang terbilang cuek dan bermuka tembok hanya menurut berjalan mengikuti wanitanya yang sangat ekspresif dan periang, kedua perbedaan yang sangat kontras menurut mereka itu, membuat keduanya malah terlihat sangat romantis.


"Habiskan dulu permen kapas yang ada di mulutmu." Abhimanyu heran, padahal gadis itu sedang mengunyah, tapi ada saja hal yang selalu menarik atensinya. seperti saat ini Felysia seperti anak kecil yang sedang merengek minta dibelikan eskrim. Ada-ada saja, pikirnya.


"Makasih ya mas, kau memang yang terbaik." Cengir felysia setelah mendapatkan satu cup eskrim di tangannya.


Abhimanyu tersenyum simpul meengacak pelan rambut gadis itu. Sore ini alun-alun kota tampak semakin ramai dengan senja yang menghiasi, banyak wisatawan dan turis yang terus berdatangan menikmati pemandangan menakjubkan ini. apalagi jika sudah ada pasar malam,maka akan semakin ramai, banyak wahana permainan, dan juga pedagang kaki lima yang sudah setia nangkring di sekitar alun-alun.


Kini Abhimanyu dan felysia sedang duduk di bangku taman, Abhimanyu sedari tadi hanya menatap felysia yang sedang memakan eskrimnya, gadis itu seperti anak kecil, sangat lucu, kedua tangannya penuh dengan makanan dan satu boneka Doraemon yang dia apit dilengan kirinya, hadiah hasil dari game lempar bola yang dilakukannya.


"Sudah puas bermain?" Felysia menoleh lalu mengangguk.


"Sekarang kita pulang." Abhimanyu menggamit salah satu lengan gadis itu.

__ADS_1


"Eh sekarang?"


"Yah. Hari sudah semakin gelap,kita harus pulang sebelum malam." Abhimanyu melirik ke sekitar. penjagaan disekitar mereka terbilang minim, Abhimanyu tidak ingin tiba-tiba ada bahaya dan istrinya kenapa-kenapa.


Felysia mengangguk,yang dikatakan suaminya benar,tapi meskipun begitu sebenarnya dia ingin mengajak Abhimanyu menaiki salah satu wahana disini, yaitu bianglala,salah satu wahana yang sejak dahului ingin ia naiki.


"Baiklah." Felysia berdiri menepuk-nepuk bajunya sebentar.


"Tunggu." Abhimanyu mendekatkan dirinya pada felysia.


"K-kenapa?" Felysia gugup, Abhimanyu menatapnya Sangat intens.


Abhimanyu memajukan tangannya, mengusap jejak sisa eskrim di pinggir bibir felysia. Felysia seketika mematung, Abhimanyu lalu menyesap sisa eksrim itu, Membuat felysia tercekat seketika.


"Ayok!" satu kata itu menyadarkan lamunan Felysia.


Baru beberapa mereka berjalan menuju mobil yang terparkir, Abhimanyu dan Felysia di kejutkan dengan kehadiran Leo dan Dian yang kini berada di depan mereka.


"Leo! Dian!" Felysia tertegun.membulatkan matanya.


Keempat orang itu sama-sama mematung sejenak.


"Tuan muda dan nyonya muda juga ada di sini." Leo memajukan langkahnya.


Sebenarnya Abhimanyu tak terlalu terkejut.karna ini akan terjadi, pria itu sudah diberi tahu oleh Leo jika Dian ada bersamanya di alun-alun,oleh sebab itu Abhimanyu mengajak felysia kesini juga, dia ingin kedua sahabat ini segera berbaikan agar felysia tak sedih lagi.


"Kenapa kalian juga bisa ada di sini?" Felysia memalingkan wajahnya tidak ingin melihat Dian.


"Kami memang dari siang sudah berada di sini,Leo yang mengajakku berjalan-jalan." Dian memberi penjelasan.


Felysia tak mendengarkan hatinya terlalu sakit atas perkataan Dian, melihat itu Dian menatapnya penuh penyesalan.


"Tunggu,kau tidak ingin berbaikan?" Abhimanyu menahan lengan felysia menghentikan langkahnya.


Felysia menoleh, menatapnya lalu berbalik menatap Dian."


"Berbicaralah dengannya,aku dan Leo akan menunggu di dekat sana." Felysia mengikuti arah telunjuk Abhimanyu.


"Selesaikan dengan kepala dingin." pesan pria itu sebelum akhirnya benar-benar meninggalkannya dengan Dian hanya berdua.


Di kursi taman itu baik Felysia maupun Dian sama-sama diam membisu, Mereka tidak tahu harus berbicara berawal dari mana. suasana memang lengang tapi isi kepala mereka yang ramai. ingin mengutarakan maksud tapi terhenti di kerongkongan.


"Felysia maafkan aku." satu kata itu akhirnya terucap dari bibir Dian.


Felysia menggeleng, "Tidak, harusnya aku yang meminta maaf, terutama kepada Leo. aku merasa sangat bersalah padanya karna secara tidak langsung aku seperti menghinanya."


"Mungkin sekarang dia telah membenciku." Felysia menatap ke bawah. dia tahu bahwa Leo ada disana menguping pembicaraan mereka saat dia mengatakan perbedaan status itu.


Dian menggeleng cepat, "itu tidak benar. malahan Leo semakin mengagumimu. dia bilang kau hebat karna kau sudah lebih berani dan percaya diri dari sebelumnya."


"Kau tahu di sepanjang jalan aku bersamanya dia lebih sering menceritakan kisahmu dengan Abhimanyu dari pada cerita hidupnya sendiri. dia bilang masakanmu sangat enak dan akupun mengakuinya." Dian kini berani menatap ke arah felysia.


Felysia tertegun sejenak,rasa bersalahnya kepada Leo semakin menghimpit hatinya. dia telah mengatakan yang tidak-tidak tentang pria itu dan berusaha untuk menjauhkannya dari Dian, seolah-olah pria itu adalah ancaman.


"Eh,kau menangis." Dian terkesiap melihat air mata felysia yang tiba-tiba terjun bebas dan menganak sungai.


"Tidak,aku hanya senang kita akhirnya bisa berbaikan." Felysia buru-buru mengusap air matanya, gadis itu terkekeh kecil.


Dian yang melihatnya terharu,mata wanita itu menghangat, segera saja Dian memeluk sahabat yang paling di sayanginya itu.


"Maafkan aku fely, maafkan atas segala perkataanku," kata Dian dengan suara serak. ntah kenapa wanita itu juga tiba-tiba ingin menangis.


"Tidak apa-apa, aku tahu kau juga mengatakannya tidak sengaja, karna emosi." Felysia melerai pelukan mereka.


"Jadi mari kita lupakan saja semuanya dan berbaikan." felysia mengangkat jari kelingkingnya ke arah Dian.


Dian tersenyum, "baiklah kita lupakan semuanya seolah tidak terjadi apa-apa." Dian menerima jari kelingking felysia dan menautkannya dengan jari kelingkingnya.


"Jadi kita tetep best friend forever." keduanya bersorak, tertawa lalu menepuk kedua tangan berbarengan.


"Sepertinya mereka sudah berbaikan tuan." Leo tersenyum melihat kedua wanita itu bersorak.


"Sepertinya begitu." Abhimanyu melipat kedua tangannya, pria dengan kacamata itu masih nampak segar meskipun seharian ini berada di luar.


"Hehe tuan,mumpung mereka udah baikan, dan sekalian kita ada di deket tukang pecel. traktir saya dong lapar nih." Leo nyengir kuda,mengusap perutnya. lalu arah matanya menunjuk tenda warung pecel tak jauh dari mereka.


Abhimanyu mengerling malas, "kenapa kau gak beli sendiri saja."


Leo tergelak, "Dih,kan tuan ini sultan dan kebetulan uang saya tidak ada karna saya sedang menabung untuk masa depan yang cerah."


"Ya, ya apapun itu kau hanya ingin makan gratis."


Leo nyengir lagi, lama-lama giginya kering juga nyengir Mulu, "itu tuan muda tau."

__ADS_1


"Tunggu sebentar aku akan menelpon istriku dulu." Abhimanyu mengambil ponselnya di saku.


"Siap tuan muda, saya akan tunggu di sana." Leo hormat lalu melipir pergi ke tenda makan itu, menunggu Abhimanyu menelpon.


Abhimanyu hanya geleng-geleng kepala, lalu sambungan telepon terhubung.


"Halo mas, aku ijin ingin pergi sebentar dengan Dian,ketokoh souvernir dekat sini,boleh ya."


Abhimanyu menghela nafas, baru akan mengajak kedua wanita itu makan bareng.


"Halo mas,kau mendengarkanku."


"Tentu aku bisa melihatmu dari sini." Felysia yang mendengarnya mengedarkan pandangan. benar saja, tatapan mereka bertemu.


Felysia melambaikan tangannya,jarak mereka bisa terlihat mata, Abhimanyu melihat wajah gembira itu mengulum senyum.


"Baiklah,apa Dian akan ada bersamamu?"


"Tentu,Dian yang mengajakku. kau tidak usah khawatir, kita tidak akan lama." Felysia meyakinkan Abhimanyu.


Terdengar helaan nafas dari seberang sana, "Baiklah,jangan sampai larut malam. aku dan Leo akan menunggu,kita berada di tenda warung pecel.nanti kalau sudah selesai kita bertemu di sana."


Felysia tersenyum girang, "Baiklah,kau memang yang terbaik." lalu sambungan terputus.


"Bagaimana,Abi mengijinkanmu?" Dian berbinar.


Felysia mengangguk semangat, "tentu."


"Hore."Dian berjingkrak, "oke kini waktunya time to girls, kita akan berbelanja dan bersenang-senang."


"Ayo." Dian menggamit lengan sahabatnya itu, "Kau tahu banyak tas-tas dengan kualitas tak kalah bagus di sana dengan harga miring.kita akan melihat nanti."


Mereka kini berjalan ke arah pasar malam yang akan diadakan malam ini, dengan Dian yang bercerita banyak, sesekali mereka tertawa dan bergandengan tangan. mereka tidak tahu saja bahwa tak jauh beberapa meter dari tempat mereka berpijak ada seseorang dengan masker wajah di balik pohon yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka.


***


Suasana pasar malam ini tampak sangat ramai, banyak game dan pedagang di sekitar kiri kanan jalan. sesekali Dian dan felysia berhenti untuk sekedar membeli minuman atau makanan ringan untuk pengganjal perut.


Suara sirine dari permainan anak-anak tampak mengalun juga musik remix yang ntah di setel oleh siapa, Membuat suasana semakin meriah.


"Huh,untung gak langsung tergoda buat beli sepatu itu, ternyata kualitasnya jelek." Dian mendengus kembali menyesap es Thai te yang berisi boba, favoritnya.


Felysia tergelak, selalu selektif di bidang fashion, begitulah Dian. sejak dahulu cita-cita Dian adalah menjadi seorang desainer, tapi selalu ditentang keluarganya terutama sang ayah. mereka beranggapan jika lebih baik Dian melanjutkan usaha mereka saja daripada hanya merancang baju yang menurut mereka tidak jelas. padahal Dian sangat menyukai bidang fashion, sayang tuntunan keluarga membuat Dian mau tak mau harus mengubur mimpinya dalam-dalam.


"Eh Fel, kita coba kesana yuk, kayanya jam disana Bagus-bagus." Dian menunjuk sebuah tokoh jam tak jauh dari sini.


Lengang sejenak,tak sahutan dari sahabatnya.


"Fel?Fely?" Dian menengok kebelakang, felysia tak ada di tempat, gandengan tangan mereka terputus, Dian tidak menyadarinya.


"Fel! Felysia!" Dian yang parno seketika kaget melihat felysia tidak ada ditempatnya.


Dian berlari mencari ke segala penjuru arah, felysia benar-benar tidak ada di mana-mana. hampir 30 menit mencari langkah Dian terhenti dengan nafas memburu.


"Fely, kamu dimana?!" Dian yang panik, berteriak putus asa. hal itu membuat semua orang yang berlalu lalang menoleh ke arahnya.


"Mbak kenapa mbak?" salah satu dari mereka menepuk pundak Dian.


"Temen saya pak,temen saya tadi ada di sini? tiba-tiba gak ada?" Dian histeris, ketakutan melandanya.


"Mbak jangan khawatir,mungkin temen mbak kebelet pipis atau ada urusan."


Dian berusaha menelpon nomor felysia,nihil. tidak berdering, sepertinya ponsel felysia mati.


"Enggak pak, biasanya dia selalu bilang kalo emang kebelet, tapi ini tiba-tiba gak ada." suara Dian bergetar hampir menangis.


"Coba mbak tenang dulu,tenang tarik nafas. kita bakal cari sama-sama temen mbak." semua orang-orang itu mengerumuninya.


"Siapa nama temen mbak?" salah satu dari mereka bertanya.


"F-fely, felysia. tolong pak dia sama sekali gak kenal daerah ini, saya takut dia kenapa-napa."


Dian terisak di tempat,dia sudah berkali-kali menghubungi nomor felysia, tapi tetap nihil ponselnya hanya berdering tanpa ada jawaban.


"Tempat ini emang rawan penculikan sih." salah satu warga berbisik membuat Dian semakin takut. peluh sudah membasahi pelipisnya.


Padahal tempat ini ramai, tidak mungkin kan felysia diculik. membayangkannya saja dia sangat takut.


"Baik,mbak tenang disini dulu,kita bakal cari temen mbak sama-sama." lalu satu-atu dari para warga bubar mulai mencari felysia.


Dian akhirnya memutuskan untuk menelpon Leo, dia tak berani jika menelepon Abhimanyu.


"H-halo Leo." Dian terisak seketika, "Leo tolong,F-felysia menghilang."

__ADS_1


__ADS_2