
Abhimanyu duduk dengan tenang meja makan panjang, pria yang kini menggunakan kemeja putih yang mencetak jelas otot-otot kekarnya, tampak hikmat memakan brownies buatan Felysia.
Sengaja jauh-jauh Abhimanyu pulang lebih dulu dari kantor,karna ingin menikmati brownies lembut buatan istrinya lagi. tampaknya brownies keju buatan Felysia ini akan menjadi makanan favorit untuknya.
Dian dan felysia tampak mengamati lelaki itu dari jauh, mulut Dian masih saja tak mau berhenti mengunyah,kali ini dia sedang menyemili kacang panggang yang tersedia di meja tamu.
"Fel, suamimu kok lagi makan aja ganteng ya. " Dian menatap lamat-lamat hasil karya terindah tuhan di depannya ini.
Felysia menoleh, "kuanggap itu sebagai pujian biasa ya."
Dian tampak melempar pandang, merasakan tatapan horor felysia yang kini di layangkan untuknya.
"Idih gak usah serem-serem juga tuh muka. Tenang,di hatiku cuma ada Leo kok." Wanita itu tampak menyengir lebar.
Felysia memutar mata malas, "Kayanya udah bucin banget kamu sama Leo."
Merasa topik itu seru, Dian mendekatkan tubuhnya lebih rapat, "Malahan aku udah kenal sama adiknya loh."
Felysia hampir lupa,Leo memang mempunyai adik perempuan, orang kepercayaan Abhimanyu itu memang tak pernah menceritakan secara gamblang tentang keluarganya terlebih adiknya,jika Dian saja sudah sampai kenal, berarti hubungan mereka sudah sangat dekat.
"Oh ya,siapa sih nama adiknya? Leo gak pernah cerita," ucap Felysia.
"Ratih, masih gadis SMP, cakeplah kaya abangnya." Dian nyengir.
"Kebetulan aku satu hobi sama dia, agak susah sih coba akrab sama dia, soalnya dia posesif banget sama abangnya,dikira dia aku cuma mau main-main doang sama Leo," Dian mendengus.
Felysia tampak terbahak, "Dia gak salah sih, tampang-tampang muka kamu emang kaya gitu."
Dian menatap , merasa terhina, "Apa? Maksud kamu tampang muka ku kaya cewek-cewek **** girl gitu, yang suka mainin cowok?"
Felysia tampak tertawa lagi melihat wajah nyolot Dian, "Itu kamu tahu."
"Yeuy." Dian tampak menimpuk felysia dengan bantal sofa, "Malahan aku yang terus di mainin sama cowok-cowok brengsek Fel."
***
Setelah kepulangan Dian, Felysia sedang membereskan alat masak bekas ia memasak tadi, Sementara Abhimanyu seperti biasa, tampak hening membaca buku di sofa tunggal yang memang di khususkan untuknya. mungkin beginilah rutinitas mereka setiap hari.
Sesekali Felysia mencuri-curi pandang, benar yang dikatakan Dian, Abhimanyu memang sangat tampan, apalagi ketika dia memakai kacamata seperti sekarang, yang felysia tahu Abhimanyu memang mempunyai masalah dalam penglihatannya.
"Tuan,Eh- maksudku mas, kau makan apa buat nanti?" Felysia bertanya setelah sekian lama diam.
"Apa saja," hanya itu.Felysia menghembuskan nafas pelan.
"Baiklah,aku masak kan makanan kesukaan mu saja ya." lalu wanita itu tersenyum hendak menuju dapur kembali.
"Tunggu!" Felysia otomatis menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Ada yang ingin ku bicarakan sebentar denganmu."
"Apa yang mau mas bicarakan?" Tanya Felysia menjatuhkan bobotnya di sofa panjang yang kini di tempati suaminya.
Tanpa menjawab, Abhimanyu malah mengambil tangan felysia, mengelusnya erat, memainkan cincin perak bersinar yang tersemat di jari manis sang istri, bukti tanda cintanya.
"Begini, Minggu depan aku akan melakukan perjalanan bisnis, apa kau mau ikut?"
Felysia mengerjap beberapa kali demi mencerna apa yang di ucapkan Abhimanyu, felysia terkejut karna pasalnya Abhimanyu tak pernah berbicara hal seperti ini padanya, hampir setahun pernikahan mereka, dia menyaksikan Abhimanyu yang terkadang tak pulang karna harus berpergian untuk bisnis, biasanya pria itu tak perduli padanya.
Jika saja tak diberi tahu Leo dia tak akan tahu Abhimanyu menghilang, karna sedang berpergian ntah ke luar kota atau ke luar negeri untuk memajukan perusahaan, tapi hari ini pria itu bahkan mengajaknya ikut serta.
"Ada acara tender yang harus ku hadiri, jika aku menang keuntungan besar akan di dapat perusahaan," ucap pria itu lagi karna tak kunjung mendapat respon Felysia.
"Tapi kenapa kau malah mengajakku?" Tanya Felysia.
"Karna kau istriku."
Satu kata itu ntah kenapa terasa berbeda di telinga felysia, membuat hatinya seperti di sirami ribuan bunga.
"Kita akan ke Swiss dua hari lagi, itupun jika kau ingin menemaniku ikut?"
Felysia tampak berfikir keras, jika itu berhubungan dengan bisnis dia takut menganggu, terlebih lagi di negara orang, felysia tak tahu apa-apa dan terkesan kampungan, status mereka bahkan sejak dahulu tak akan pernah sama, dia takut hanya membuat malu Abhimanyu saja.
Maka Felysia menggeleng, tersenyum hangat ke arah suaminya ini, "Lebih baik aku di rumah saja, perjalanan bisnis ini penting untukmu, aku hanya menghambatmu jika aku ikut."
"Baiklah, tapi kau yakin akan di sini sendiri?"
Felysia mengangguk, "Mungkin Dian menginap di sini untuk menemaniku dan ada bi ati juga kan."
Abhimanyu manggut-manggut, syukurlah dia tak khawatir tentang keamanan felysia jika begitu, dia juga akan menaruh beberapa bodyguard untuk menjaga di luar rumah.
"Oh ya, berapa hari kau akan pergi?" tanya Felysia.
"Satu Minggu, selama itu mungkin aku akan merindukanmu," tatapan pria itu terlihat teduh, Membuat felysia seperti terbuai.
"Ah, B-baiklah kalau gitu aku akan menyiapkan makan malam dulu."
Lalu Felysia berlalu dengan jalan setengah limbung, berusaha menetralkan detak jantung, sementara Abhimanyu sendiri terkekeh geli melihat tingkah yang menurutnya imut dari sang istri.
****
Setelah makan malam dan memeriksa dokumen-dokumen untuk keberangkatannya nanti, Abhimanyu kembali ke lantai bawah dengan kacamata dan buku yang di bawanya. memang selain menghadiri tender Abhimanyu juga akan bertemu dengan klien besar di sana nanti.
Sudah hampir seminggu Abhimanyu menyukai kegiatannya membaca buku, padahal awalnya ia tak terlalu sering karna kesibukannya mengurus perusahaan, ini semua tak elak karna Felysia, berawal dari mencari tahu diam-diam hobi istrinya yang suka membaca, Abhimanyu mencoba beberapa judul buku yang sering di baca felysia, kebanyakan adalah antalogi, sejarah, dan juga buku tentang ideologi terbuka yang di tulis oleh penulis terkenal.
Abhimanyu tahu, bahwa istrinya adalah seseorang yang mempunyai wawasan luas, terbukti dari buku-buku yang dia baca, lelaki itu lalu mengulas senyum tipis, ia tak salah mempertahankan felysia, selain terkenal dengan masakannya yang lezat wanitanya itu juga sangat pintar secara akademis.
__ADS_1
Dalam lima belas menit ketenangan mengalun seiring dengan terpaan lembut semilir angin yang membuai rambut sehitam malam milik Abhimanyu. lelaki itu mempunyai fokus yang tinggi.
Saat Felysia duduk di dekatnya, Abhimanyu menoleh sebentar, dilihatnya sang istri juga membawa sebuah buku dan note kecil dan pulpen, sesekali ia melirik apa yang sedang di kerjakan felysia. istrinya itu menulis sesuatu di note itu dan menempelkannya di buku, sebelum akhirnya membacanya. urung bertanya meski penasaran, Abhimanyu lalu kembali fokus kepada bukunya.
Tak sengaja saat hendak menyenderkan punggung ke sofa, Surai hitam kecoklatan felysia mengenai Abhimanyu, Felysia tak menyadari itu, sedangkan Abhimanyu seperti mencium sebuah aroma wangi.
"Ternyata dari sini harum itu," ujar Abhimanyu yang saat ini mengambil seuntai rambut felysia dan menciumnya.
"E-eh," Felysia terkejut, di lihatnya pria itu sedang mencium ujung rambutnya.
"Sejak tadi hidungku terganggu dengan wangi Citrus yang lembut, ternyata itu berasal dari rambutmu," ucap Abhimanyu yang kini sedang memainkan ujung rambut felysia yang sangat halus.
Felysia mematung di tempat, hanya dengan sentuhan seperti ini saja, mampu membuat dadanya berdentum keras, tatapan Abhimanyu sangat dalam membuatnya di serang gugup.
"Kau mempunyai aroma yang manis, aku menyukainya." lalu dengan satu gerakan Abhimanyu mendekati Felysia,buku yang ia baca pun sudah tergeletak di atas meja.
Wanita dengan dress tunik bermotif bunga itu tampak kikuk, kulitnya yang seputih salju tampak memerah merona, karna wajah Abhimanyu sangat dekat dengannya sekarang.
Sedangkan Abhimanyu meneliti setiap inci wajah sang istri, lalu tangannya tergerak mengusap lembut bulu mata lentik Felysia,membuat wanita itu memejamkan matanya.
Lalu mata itu kembali terbuka, atensi Abhimanyu tak pernah terlepas dari manik cokelat terang felysia, warnanya yang serupa senja sangat membuat nyaman mata Abhimanyu untuk menyelaminya.
Dengan satu tangan menahan ujung sofa, Abhimanyu membelai pipi yang sedikit berisi milik istrinya, mengelusnya dengan lembut, mencari kehangatan di sana.
"Bolehkah?" tanya Abhimanyu dengan suara serak.
Felysia mengerjap, tak mengerti untuk apa Abhimanyu mengatakan itu, tapi lagi-lagi tubuh dan otaknya tak sejalan jika berada dekat dengan pria ini, membuatnya mengangguk pelan.
Felysia memejamkan matanya, merasakan nafas pria itu semakin dekat menerpa wajah.
Abhimanyu mengulum senyum melihat tingkah lucu istrinya, lalu kembali mendekatkan wajahnya, dia tak ingin felysia takut padanya jika memaksa, oleh karna itu Abhimanyu harus mendapatkan persetujuannya dulu.
Felysia menahan nafas tak kala ada sensasi baru yang menerpanya, dia membuka mata lalu memejamkan kembali saat tahu bibir mereka bertemu.
Sementara Abhimanyu berusaha untuk tidak menyakiti Felysia, meraup dengan lembut bibir ranum bak kelopak mawar yang baru mekar itu.
Lalu Abhimanyu melepaskan diri tak kalah melihat wanitanya yang kini berusaha meraih oksigen banyak-banyak, akibat ulahnya.
Abhimanyu tersenyum, lalu mengusap lembut bibir merah muda alami yang sedikit basah itu.
"Sepertinya kau harus banyak belajar setelah ini," ucap Abhimanyu di dekat telinga Felysia.
Wanita yang sekarang sangat memerah wajahnya itu tampak membeku, ada gelenyar aneh yang timbul saat Abhimanyu yang kini menyusuri lehernya, sesuatu yang baru pertama ia rasakan dengan seorang pria. bahkan bersama Arya saja ia tak pernah merasakan ini, karna memang dia selalu menjaga jarak dari hal-hal yang seperti itu sebelum adanya ikatan suci.
Abhimanyu masih setia menjelajahi setiap lekukan leher jenjang sang istri, mengendus dan mencium dengan dalam wangi mint yang menguar.Lalu dengan gerakan pelan pria itu menciumi setiap inci leher istrinya, Membuat felysia terkadang meringis, merasa geli.
"Stempel dariku untukmu, tanda bahwa kau hanya milikku seorang." tatapannya tak terlepas dari leher putih sang istri yang kini terdapat banyak bercak merah, akibat perbuatannya.
__ADS_1
Suara bariton Abhimanyu tampak serak seperti menahan sesuatu di sana, tapi ia harus menahannya lebih lama. ia tak ingin menyentuh felysia lebih jauh sebelum ada kata cinta yang terlontar dari wanita itu.