Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 62


__ADS_3

"Untuk apa kau datang kesini?!"


Mendengar nada terlebih ketus dari orang di depannya ini, Abhimanyu hanya mendesah pelan. Terhalang sekat kaca tebal yang hanya menyisakan sebuah lubang kecil, Abhimanyu bisa melihat wajah kusut dan frustasi itu.


"Jika bukan karna permintaan ayah, aku tidak akan pernah mau datang kesini," ujarnya, terkadung mendapatkan respon yang tak baik Abhimanyu berkata ketus kembali.


Arya dengan borgol yang membelenggu tangan berdecih mendengar hal itu.


"Untuk apa orang tua itu menyuruhmu datang kesini, apa dia mengirim mu seolah ingin mengejekku karna keadaan ku sekarang?"


Hening, Abhimanyu hanya menatap tanpa mau membalas, di ruang hampa pesakitan ini, di mana semua rasa sakit dan penyesalan datang dari mereka yang berbuat dosa, hanya tersisa deru nafas Arya yang terdengar karna emosi yang meluap-luap.


"Kenapa kau sangat membenci Ayah?" Akhirnya satu kata itu keluar, memilih menunggu Jawaban yang tak kunjung dapat, Abhimanyu menumpu kakinya, tatapan mengintimidasi itu mulai menyeruak.


"Tidak perlu aku menjelaskan alasannya kan? kalau bukan karna orang tua penyakitan itu tidak mungkin aku bisa ada di penjara ini."


Abhimanyu mengepal tangan erat bersiap memberikan Bogeman mentah jika saja tidak terhalang kaca bening di depannya ini.


"Kalau bukan karna kelakuan bejatmu kau tidak akan mungkin berada di penjara ini. Aku mengoreksi kata-katamu."


Ucapan dingin yang terlontar itu berhasil menyentak harga diri Arya. pria di depannya ini begitu kuat auranya, Membuat pasokan oksigen di sekitarnya seakan habis hanya karna menatap netra hitam itu.


Tak ingin berbasa-basi menunggu respon pria itu, Abhimanyu mengambil secarik kertas menyeretnya hingga memasuki lubang, tempat akses para tahanan dengan orang yang mengunjunginya.


Arya mengernyit heran, memandang sebuah amplop putih yang di sodorkan Abhimanyu padanya, tak ingin berekpetasi lebih, pria itu tak langsung mengambilnya.


"Surat dari ayah untukmu."


Ucapan itu berhasil menarik Arya dari lamunannya, di ambilnya surat itu, karna kedua tangan di borgol Membuat Arya cukup kesusahan membukanya.


Mata Arya menatap seksama, membaca kata demi kata yang di tulis di surat itu. menengguk saliva Dengan kasar, Arya menggeram tertahan.


"Brengs*k, apa-apaan ini!" Arya melotot ke arah Abhimanyu yang hanya bergeming.


"Lelaki tua itu mencabut seluruh akses ku sebagai ahli waris, bahkan memindah alihkan semua sahamku atas namamu, Omong kosong macam apa ini!"


"Ingat, semua saham ku masih aman, karna belum ada persetujuan dariku,tua bangka itu tidak bisa menyentuhnya." kilatan amarah di mata Arya semakin kentara.


Abhimanyu menarik nafas pelan, "Berkas yang kau tanda tangani kemarin, kau sudah mendatangani surat peralihan saham itu."


"Apa?!" Arya melotot marah.


Abhimanyu berdiri, waktunya untuk mengunjungi hampir habis, pria itu manaruh kepalan tangannya di saku celana. melihat Arya yang seperti ini, ia tak ingin terjadi keributan yang tak Berarti.


Brakk!


Karna amarah yang tak bisa di tahan, Arya menggebrak dinding kaca itu, tangannya terkepal kuat dengan urat-urat lehernya yang terlihat jelas.


"Aku pastikan aku akan membunuhmu Abhimanyu, aku akan membalas semuanya!"


"Sampai kapan?" Abhimanyu menatap datar, "Mau sampai kapan rencana balas dendam ini tak berkesudahan?"


"Bagaimana pun kau adalah adikku." satu kata itu terlontar lirih, Abhimanyu mengatakannya pelan dengan ragu-ragu.


Arya masih bisa mendengarnya, kemudian dia berdecih, "Tak ada yang sudi menjadi adik dari mantan pembunuh sepertimu!"


Abhimanyu lagi-lagi menatap lamat, menyadari kebencian yang sungguh besar dari adiknya ini, pada akhirnya ego mengalahkan semuanya, Abhimanyu berbalik.

__ADS_1


"Jika nyalimu memang besar, aku tunggu pembalasan dendam mu itu."


Kata terakhir Abhimanyu sebelum akhirnya melangkah pergi. menaruh setitik kepercayaan pada adiknya, berharap Arya bisa berubah karna nasihat dari sang ayah, akhirnya hanya menjadi omong kosong belaka. pada akhirnya antara dirinya dan Arya hanya ada permusuhan yang terjalin.


*****


Di kantor Abhimanyu tampak memijit pelipisnya, tumpukkan kertas-kertas yang berada di mejanya tampak berantakan, laporan demi laporan yang terus datang membuatnya sedikit stres.


Lalu pria dengan tinggi semampai itu akhirnya berdiri, merasa otaknya semakin semrawut dia mungkin harus merilekskan tubuh dan pikirannya sejenak, dia tak ingin di hari keberangkatannya tubuhnya jadi tidak fit.


Pria itu lalu keluar setelah menghubungi Leo yang ada di ruangan divisi untuk mengantarnya, ia tak mungkin membawa mobil sendiri dalam keadannya ini.


Abhimanyu berjalan di sepanjang koridor, berlalu lalang orang membungkuk hormat padanya, sampai tiba ia melewati kantin kantor yang terlihat ramai, kebetulan ini jam kedua istirahat bagi karyawan yang mendapat jatah lembur.


Abhimanyu menangkap hal yang ganjal, terlihat orang-orang bergerumul melingkar seperti sedang menonton pertunjukan. Merasa ada yang tak beres dia menghampiri kerumunan itu.


"Ada apa ini?" Suara berat pria itu mengagetkan semua karyawan.


Mereka segera saja menengok, menyadari dia adalah Presdir, segera saja mereka menepi membungkuk hormat.


"Pak Presdir woy! pak Presdir datang!"


Seruan-seruan itu tiba-tiba meluap ke udara, Membuat semua orang panik. kelimpungan menepi memberi jalan bagi pimpinan mereka.


Hingga netra hitam pria itu menangkap sebuah pemandangan di depannya. terlihat seorang wanita yang menangis terduduk mengenaskan dengan seorang pria yang siap melayangkan tamparan padanya.


Melihat itu Abhimanyu tak tinggal diam, berjalan cepat menahan tangan pria itu.


"Anj*Ng! siapa yang nahan tangan gua!" umpat pria itu yang belum menyadari jika di belakangnya ada Abhimanyu, lalu karyawan itu menengok, melebarkan matanya.


"Di kantorku tidak ada yang boleh melayangkan tangannya pada wanita." suara bariton itu terdengar tajam.


"Apa yang kau lakukan!" Abhimanyu lalu menghempaskan tangan pria itu dengan kasar hingga membuat tubuhnya mundur beberapa langkah.


Lalu Abhimanyu menatap karyawan wanita yang kini sudah di bantu temannya untuk berdiri. keadaan wanita itu tampak mengenaskan dengan pipinya yang memerah dan bajunya yang basah seperti tersiram kuah panas, sesekali dia meringis kesakitan.


"Di mana manajer han?!" Abhimanyu berteriak keras membuat semua orang mematung.


Lalu di antara kerumunan itu muncul lah satu pria dengan kacamata tebalnya, "M-maaf kan saya pak, saya tidak mengetahui jika ada kejadian ini," ucap manajer han tampak takut-takut.


"Aku tak butuh alasan mu! Enyahkan pria itu dari hadapanku, aku tak ingin sampah seperti dirinya berkeliaran di perusahaan ku."


"Dan ingat ini, hanya seorang pecundang yang berani menyakiti wanita. jika ada kejadian seperti ini lagi di kantor ku, kalian tahu konsekuensi apa yang harus di tanggung!"


***


Hari ini jadwal keberangkatan Abhimanyu untuk perjalanan bisnis, Felysia tampak sibuk mengepak dan mengurusi perlengkapan pria itu.


Jika sebelumnya Felysia bahkan tidak tahu jika Abhimanyu pergi selama berhari-hari untuk perjalanan bisnis ini, sekarang dia yang paling sibuk mengemasi barang-barang yang di butuhkan pria itu selama seminggu berada di Swiss.


Kemarin, bahkan Abhimanyu bertanya sekali lagi apakah dia ingin ikut bersamanya, tapi lagi-lagi Felysia menggeleng, tak ingin merepotkan lelaki itu di sana nanti. lagipula ada beberapa urusan dia di sini yang belum beres, dan Felysia ingin sekali mengunjungi sang paman, karna ia dapat telfon dari bibinya, melaporkan jika paman yang sudah merawatnya dari kecil itu kini terbaring lemah, kondisinya tidak terlalu baik hingga mungkin harus di bawah ke rumah sakit, dan tentu saja felysia sangat khawatir.


Grep!


Felysia mematung, dirasakannya ada yang memeluknya dari belakang, lalu kepala wanita itu sedikit menengok, siapa orang yang tiba-tiba mengagetkannya ini.


"Kau sibuk sekali mengurusi keberangkatanku." Suara bariton itu terdengar berbisik di telinga felysia.

__ADS_1


Felysia hanya tersenyum, "Bisakah kau melepaskan pelukan mu? kau tidak lihat aku sedang mengepak barang-barangmu?"


Abhimanyu menarik senyum tipis,lalu melepaskan pelukannya. Setelah beres menyelesaikan mengepak barang yang tersisa, felysia lalu menoleh melihat Abhimanyu yang kini sudah terlihat rapih.



Felysia memperhatikan penampilan pria itu dengan seksama, Style jas Abhimanyu tetap sama serba hitam cocok Dengan kepribadiannya yang memang misterius, namun netranya tampak salah fokus pada aksesoris mawar hitam yang tersemat di dada lelaki itu, tanpa sadar Felysia terus memperhatikannya.


"Kenapa? kau terpesona?"


Seruan itu mengangetkan Felysia, tampak Abhimanyu yang kini menatap tak biasa ke arahnya. Wanita itu menampilkan wajah cemberut.


"Siapa yang terpesona? biasa saja."


"Mengaku saja, dari caramu menatap,sudah terlihat jelas."


Felysia terlihat berdecak, " Percaya diri sekali,tuan muda ini."


Abhimanyu menarik Felysia dalam rengkuhannya lagi, Membuat Felysia membulatkan mata, lalu menepuk dada pria itu karna terkejut.


"Lalu apa? percaya diri itu penting untuk keseimbangan hidup."


Ucapan pria itu terdengar aneh, namun felysia tersenyum, tangannya tergerak untuk merapikan anak rambut Abhimanyu ke atas dahi.


"Tuan muda mobilnya-- Ekhem." ucapan Leo terhenti,kini menunduk malu. sepertinya dia salah masuk kamar.


Felysia yang terkejut, langsung saja menjauh menyingkir dari Abhimanyu.


"Maaf tuan muda, mobilnya sudah siap."


Abhimanyu menoleh menatap istrinya, "Kau mau ikut? mengantarku sampai bandara?"


Wanita itu tersenyum, menganggukkan, "Boleh."


****


"Ingat kau tidak boleh kemana-mana, tidak boleh keluar komplek, jika perlu ke luar rumah selama aku tidak ada."


"Tapi aku ingin menjenguk pamanku, katanya beliau sedang sakit, bolehkah?" harap Felysia.


Abhimanyu tampak menghela nafas, "Boleh, asal ada pengawalku yang menjaga."


Felysia mengangguk senang. kini mereka berada di aula bandara yang luas.


Abhimanyu lalu menarik tubuh istrinya ke dalam rengkuhan, memeluknya barang sekali saja. Felysia membalas pelukannya,menepuk punggung suaminya ini dengan pelan.


"Jaga dirimu baik-baik,oke." bisik pria itu di telinganya.


Felysia mengangguk di dekapan hangat sang suami, Lalu pelukan terlepas, Abhimanyu mengecup singkat kening istrinya.


"Angkat telepon dariku segera jika aku menelpon." Abhimanyu mengelus pipi putih itu dengan sayang. tatapannya sama sekali tak beralih dari netra cokelat terang milik sang istri.


Felysia lagi-lagi mengangguk, "Kau tidak perlu khawatir." mengusap tangan kokoh pria itu.


"Baiklah aku pergi." Abhimanyu lalu memakai kacamata hitamnya.


Lalu pria itu melambaikan tangan sebagai dalam perpisahan terakhir kali, hingga akhirnya berbalik berjalan di ikuti para ajudannya di belakang.

__ADS_1


__ADS_2