Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 28


__ADS_3

"Tidak bisa seperti itu nona,kau tidak bisa seenaknya membawa nyonya muda dari sini," kata pak Herul yang sedari tadi diam memperhatikan perseturuan itu.


Dian tetap bergeming, dia menatap lekat Abhimanyu menunggu pria itu bersuara.


"Nona dian,saya mohon kembalilah, jangan membuat keributan seperti ini," ujar Leo yang sudah sangat geram ingin menarik Dian dari sini.


Karna bagaimana pun yang Dian hadapi adalah Abhimanyu. Apakah dia tidak tahu bagaimana terkenalnya sifat Abhimanyu jika sudah membuatnya marah, bahkan Leo pun tidak bisa menghentikan jika sesuatu terjadi pada gadis itu.


Meskipun Abhimanyu tidak pernah melayangkan tangannya kepada wanita,tapi jika sudah ada yang mengusiknya dia tidak akan memandang gender lagi. Jika marah sudah menguasai dirinya Dia akan membalas orang itu bukan langsung darinya tapi melalui perantara para suruhannya seperti yang pernah dialami Zeline.


"Kau tidak mau menjawab ya, Baiklah kau pikir aku main-main hah!"


Dian berjalan mundur dan berbalik hendak melangkah ke arah kamar felysia.


"Aku akan benar-benar membawa felysia dari sini! Kata Dian sambil terus melangkah.


"Nona Dian, hentikan langkahmu Sekarang juga!"


Abhimanyu berteriak keras membuat semua orang menoleh kaget, termasuk Dian yang tiba-tiba berhenti di tempatnya.


Gawat Abhimanyu sudah benar-benar marah.


Abhimanyu kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah Dian. Hawa di sekitarnya mendadak menjadi mencekam saat langkah Abhimanyu terdengar jelas di keheningan.


"Tuan muda, saya mohon jangan marah kepada nona Dian,dia hanya .... "


Ucapan Leo yang hendak menghentikan Abhimanyu terhenti karena Abhimanyu kini menatap Leo dengan kilatan marah. Gawat jika sudah seperti ini Leo pun sudah tidak bisa untuk menghentikannya.


Abhimanyu kini berhadapan dengan Dian,yang hanya berjarak beberapa Meter.


"Awalnya aku masih menghormati mu karna kau adalah teman baik istriku, dan aku memaklumi tindakanmu tadi,karna bagaimanapun aku yang bersalah untuk masalah ini.tapi sikapmu yang terlalu ikut campur di sini tidak bisa untuk di tolerir lagi."


Abhimanyu menghela nafas pelan, berusaha untuk meredam emosinya.


"Aku mengerti tentang kemarahan mu, tapi untuk masalah ini biarkan aku dan felysia yang menangani sebagai keluarga,kau hanya orang luar nona, jadi mohon Jaga batasanmu," ujar Abhimanyu mencoba masih bersikap tenang.


Dian mengeratkan genggaman tangannya,dia ingin sekali menampar Abhimanyu untuk yang kedua kali. tapi apa yang dikatakan pria itu tidak sepenuhnya salah, dan itu membuatnya merasa kalah kali ini. Pria ini sungguh sangat kuat aura kejam dan mengintimidasinya, meskipun Hanya Lewat kata-kata tapi seakan sudah mampu membuat sang lawan bicara menjadi down.


Dian menghela nafas panjang. Memilih mengalah kali ini, sebenarnya dia pun merasa reaksinya berlebihan.


"Baiklah, maafkan aku. Aku terlalu terbawa emosi."


"Tapi jika lain kali aku melihat felysia berada dalam bahaya karna kau yang tidak bisa menjaganya,aku akan benar-benar akan ikut campur di sini," kata Dian mulai tenang.


"Baiklah, aku akan benar-benar menjaganya. Kau bisa memegang kata-kataku," ucap Abhimanyu.


Dian mengangguk, " sekarang aku ingin melihat kondisi sahabatku."


***


Dian yang melihat felysia terduduk di ranjangnya, berlari tergopoh-gopoh, lalu memeluk sahabatnya itu. Dian dengan hati-hati memeluk felysia agar lukanya tidak tertekan.


"Bagaimana keadaanmu,kau tahu aku sangat takut saat bi ati menceritakan kau terjatuh dari tangga," kata Dian dengan suara yang tidak jelas karna wanita itu hampir menangis di dekapan.


"Aku sudah tidak apa-apa, sekarang aku sudah merasa lebih baik," kata felysia dengan tersenyum tapi raut kegelisahan Sangat tampak di wajahnya.


Karna jujur dia pun masih traumatik saat mengingat kejadian di mana saat angel yang mengamuk padanya dan di saat dia hampir kehilangan nyawa.


"Sudah kau jangan menangis,kau jadi jelek. nanti tidak ada yang mau denganmu," ujar Felysia saat melerai pelukan mereka.


"Kau ini dasar gadis bodoh,sudah terluka seperti ini masih bercanda,kata Dian terkekeh.


"Eum, mungkin karna sifat gesrek mu sudah mulai menular padaku."


"Bagus dong, sekarang gadis kecil ini sudah tidak pemalu seperti dulu," ujar Dian.


"Kau tahu keadaan mu yang sekarang, seperti mengingatkanmu lagi dengan kejadian tahun lalu,di mana kau juga pernah terjatuh karna ulah Bella, bahkan saat itu bibimu malah menyalahkan mu. Eugh,kalau diingat-ingat lagi ingin rasanya aku menampar moncongnya itu."

__ADS_1


Felysia tertawa pelan, "sudahlah jangan mengungkit masa lalu lagi," katanya.


"Hehehe,maaf deh," kata Dian cengengesan.


"Ekhem!" Terdengar suara deheman dari arah pintu Membuat felysia dan Dian reflek menoleh bersama.


"Maaf, jika menganggu waktu kalian," kata Leo menghampiri mereka.


Dian yang melihat Leo mencebik dengan wajah yang mengejek, ntahlah setiap melihat wajah Leo mengingatkan Dian kepada salah satu mantannya yang membuatnya nangis tujuh hari tujuh malam karna ke brengsekannya. mungkin, karna muka mereka berdua yang terlihat mirip.


"Ada apa nona Dian, kenapa kau tidak suka sekali aku berada di sini," ujar Leo.


Padahal kedatangannya kesini hendak menanyakan keadaan felysia, tapi kenapa wanita ini terlihat tidak senang.


"Tuh tau. Ntah kenapa setiap liat mukamu bikin ngenekkin. Apa lagi saat kamu ngehadang-hadang aku tadi udah kaya ngusir anjing rabies aja," kata Dian dengan dongkol.


"Oalah karna itu toh,kan itu juga demi kebaikan nona, Karna nona sedang dikuasai amarah saat itu," tutur Leo.


"Nyeyenyenye,ndasmu deh," kata Dian merenggut dengan wajah yang mengejek.


"Dian,gak boleh gitu." Felysia memukul pelan lengan Dian.


"Emang tadi ada apa, kenapa kamu ngusir Dian?" tanya felysia kepada Leo.


Leo hendak membuka mulutnya menceritakan apa yang terjadi, tapi buru-buru Dian berdiri dari duduknya dan membungkam mulut Leo dengan tangannya.


"G-gak ada apa-apa kok,gak ada kan singa. Cuma kesalahan pahaman aja," ujar Dian dengan mata melotot ke arah Leo yang dipanggilnya singa itu.


"Hmmppp." Leo ingin berontak.


"Hehehe,gak ada apa-apa kan!" Dian yang gemas mencubit lengan Leo keras, tetap melotot ke arah pria itu.


"Jangan beri tahu tentang aku yang ribut dengan Abhimanyu, bodoh. felysia baru saja siuman,nanti sahabatku itu bisa syok." bisik Dian ke telinga Leo.


Leo mengangguk keras, lalu menunjuk-nunjuk tangan Dian yang membekapnya isyarat minta di lepaskan. Dian yang sadar segera menarik tangannya.


Leo mengambil nafas dalam, dan menghembuskan nya secara kasar.


Felysia yang memperhatikan interaksi keduanya, hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


"Kalian bahkan baru beberapa kali bertemu,tapi setiap kali bertemu kalian bakal seperti ini, kaya anjing dan kucing yang gak pernah akur."


"Mungkin jika kalian menjadi sepasang kekasih akan sangat serasi," ujar Felysia.


Keduanya yang mendengar itu berjengit jijik, menatap satu sama lain.


"Idiih ogahh!" ujar keduanya berbarengan.


"Aku punya otak ya Fel, mending aku sama oppa Jong Ki aja,duda Korea yang banyak duitnya dan yang terpenting setia. gak kaya dia pria playboy yang sering tepe-tepe ke banyak wanita."


"Aduh saya juga masih waras non,mana mau saya ngencanin wanita barbar kaya dia.bisa-bisa makan ati tiap hari," kata Leo tak mau kalah.


"Apa kamu bilang! coba bilang sekali lagi!" Dian menantang merentangkan tangannya hendak memukul.


"Apa! emang bener kan wanita barbar!"


"Sialan kau singa. sini kau!" Dian berlari mengejar pria itu yang hendak kabur. mereka memutari kamar felysia saling kejar-kejaran.


"Aduh duh, jangan mukul dong,tanganmu bau sikil," ujar Leo refleks.


Leo bergeming. sial dia keceplosan.


Leo menatap takut-takut ke arah Dian yang sudah mengeluarkan tanduknya karena marah.


"Kau bilang apa? tanganku bau sikil. kau tahu berapa biaya perawatan kulitku hah?!" Dian yang berang memukul-mukul pundak Leo.


"Kalian ini kenapa seperti anak kecil!" seseorang berteriak membentak dari ambang itu dan itu adalah suara pak Herul yang segera saja menghampiri keduanya. sedari tadi pak Herul memang memperhatikannya tingkah absurd keduanya.

__ADS_1


"Tingkah laku kalian sama sekali tidak mencerminkan umur kalian,apa tidak malu?" kata pak Herul dengan nada tenang tapi raut wajah menyeramkan.


Dian dan Leo menunduk dalam. apalagi melihat langkah kaki Abhimanyu yang menghampiri mereka.


Sementara Dian meratapi kedua telapak tangannya, menatap dalam.


"Apa iya tangan gue bau sikil?" batinnya.


Karna sepertinya perkataan Leo telah mengusiknya kali ini. kalau benar-benar bau sikil, pulang dari sini rasa-rasanya dia harus segera merendam kedua tangannya dengan air kembang tujuh rupa.


"Sudahlah pak, mungkin masa kecil mereka memang kurang bahagia." ujar Abhimanyu tersenyum aneh memegang pundak pak Herul sekilas.


Sialan tuan muda itu, pikir keduanya. apakah dia sedang berusaha ngelawak? pria dingin seperti dia berkata lelucon saja sepertinya tidak pantas.


"Duh, maafkan saya tuan muda. saya akan membereskan mereka, silahkan anda berbicara dengan nyonya muda," kata pak Herul lalu mendorong pelan tubuh keduanya untuk meninggalkan ruangan.


"Maaf ya fel, aku besok akan kesini lagi.kau istirahatlah hingga pulih ya," kata Dian sambil dadah kepada felysia sebelum keluar.


"Baiklah,aku tahu kau juga sibuk. kau pulanglah dengan hati-hati ya," ujar Felysia balas dadah-dadah kepada Dian.


"Ayo ikut aku." pak Herul menuntun keduanya keluar, seperti seorang ayah yang sedang menghukum putra-putrinya karna nakal. bahkan Leo dan Dian diam saja menurut dan melipir keluar dengan tetap menunduk.


Abhimanyu yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.


"Bagaimana keadaanmu?" Abhimanyu menghampiri ranjang felysia.


"Sudah baikan tuan," kata felysia dengan nada yang ntah kenapa terdengar ketus di telinga Abhimanyu.


"Maafkan saya untuk semua yang terjadi," ujar Abhimanyu.


"Tidak apa-apa. aku mengerti nona angel semata-mata melakukan ini karna dia mencintai anda dan dia mengira aku ingin merebut mu darinya, padahal sebenarnya tidak sama sekali," ujar Felysia tanpa mau menatap ke arah Abhimanyu.


Felysia menghela nafas kasar. sadar jika nada bicaranya terlalu ketus kepada pria itu.


"Maafkan aku tuan,jika aku terkesan memojokkanmu."


Abhimanyu menggeleng, "tidak. kau pantas marah padaku, itu hal wajar."


Felysia mengangguk, "Baiklah tuan, apakah anda bisa pergi,aku ingin istirahat."


"Tentu."


Abhimanyu mengangguk pelan, salah tingkah sendiri.


"Aku akan pergi. kau istirahat lah yang cukup hingga benar-benar pulih."


"Apa perasaanku saja, wanita ini sepertinya sedang berusaha menghindari ku." Abhimanyu membatin di ambang pintu. lalu keluar dari kamar felysia dan menutup pintunya.


***


Malam hari kembali menyapa, Abhimanyu berjalan ke arah tangga setelah pria itu selesai memeriksa keadaan felysia.


Gadis itu makan dengan teratur, meskipun tak ada cidera serius tapi Abhimanyu tetap menyuruhnya untuk berbaring saja, beristirahat.


Walaupun saat tadi felysia tak banyak bicara dan terkesan menghindarinya, tapi Abhimanyu senang wanita itu bisa pulih dengan cepat.


"Tuan maaf menganggu."


Abhimanyu langkahnya di undakan tangga, karna mendengar suara Leo. Abhimanyu memutar setengah badannya menghadap Leo yang berada di bawah.


"Ada apa Leo?" tanya Abhimanyu.


"A-anu itu,ada mobil tuan besar di luar. sepertinya tuan besar telah pulang ke tanah air tanpa memberitahu dahulu." Lapor leo.


"Apa! ada ayahku?"


"Y-ya tuan muda, anda telah di tunggu kehadirannya di luar."

__ADS_1


Gawat, apakah ayahnya itu mengetahui keadaan felysia di sini. apa mungkin pak Herul melapor padanya.


Apa yang akan di katakan Abhimanyu nanti kepada ayahnya, bila mengetahui Felysia terluka. dan bagaimana reaksinya jika dia tahu angel juga tinggal bersamanya di sini tanpa memberitahukannya dulu.


__ADS_2