Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 46


__ADS_3

Baik Abhimanyu maupun Felysia sama-sama diam mematung, hening tak ada yang bicara, mereka di serang kegugupan.


"Ekhem, ini sudah malam. Sebaiknya kau segera istirahat." Abhimanyu berkata dengan suara serak. Pria itu berdiri.


"Aku ke kamar duluan,kau lekaslah tidur." Abhimanyu memegang tengkuknya, menyembunyikan wajahnya yang kini terasa panas.


Felysia mengangguk pelan, gadis itu sama gugupnya dengan Abhimanyu. pipi wanita sudah sangat memerah bak tomat matang.


Abhimanyu lalu berjalan ke arah tangga, tapi tiba-tiba dia terhantuk undakan tangga Membuat felysia terpekik.


"Kau tidak apa-apa?" Felysia mencoba menghampiri, namun Abhimanyu merentangkan tangannya, Membuat gerakannya terhenti.


"Tidak,aku tidak apa-apa." Pria itu salah tingkah.


Lalu lelaki itu dengan gerakan cepat menaiki tangga menuju lantai atas di mana kamarnya berada. jalannya terlihat gontai dan limbung.


Aish,padahal di club malam itu dia hanya meminum jus,kenapa kini dia merasa sangat mabuk. Dia menggeleng gusar.


***


Pagi sekali Abhimanyu dan Leo datang ke tempat tinggal Maria. Sekali lagi dengan kesusahan mereka melewati perkampungan yang padat penduduk dan gang yang berkelok, mereka harus berjalan kaki beberapa Meter karna mobil tidak bisa menembus gang.


"Rumahnya masih sepi," ujar Leo menatap rumah bercat hijau itu.


"Apa dia pindah?" Ucap Leo lagi.


Abhimanyu mencoba membuka pagar besi setinggi pinggang orang dewasa itu, namun ternyata pagarnya pun tergembok.


"Nyari siapa pak?" Seorang wanita paruh baya menegur mereka. Curiga dengan gerak-gerik kedua pria itu.


"Ibu tau di mana wanita yang tinggal di sini? Kenapa rumahnya kosong?" Leo yang bertanya.


"Oh si Mala, kalo jam segini belum pulang pak. Masih kerja dia." Si ibu menerangkan.


"Kira- kira jam berapa dia pulang?" tanya Abhimanyu.


"Gak tentu sih pak, tapi biasanya sih magrib kalo gak subuh dia baru pulang."


Kedua pria itu manggut-manggut mengerti. Leo menghela nafas,apa kini mereka harus kembali dengan tangan kosong lagi.


"Emang ada apa nyari si Mala pak?" Ibu-ibu itu kepo.


"Kami ada beberapa urusan dengannya." Jawab Leo.


"Oh, jangan-jangan mas-mas ini dua pria yang sering kesini ya? Yang sering banget ngerusuh di rumah si Mala?" Si ibu menyipitkan matanya.

__ADS_1


"Ngerusuh gimana Bu?" giliran Leo yang kepo.


"Dua tahun lalu pernah ada beberapa orang datang kesini nyariin si Mala juga. Mereka bikin resah warga, ngancem, ngehancurin rumah si Mala sampe ada yang main tangan pak. Bukan cuma waktu itu sih,kadang mereka juga bisa datang kapan aja. Ntah apa urusan mereka sama si Mala." Tutur ibu itu.


Abhimanyu dan Leo saling melempar pandang. Apa mereka itu anak buah Abbas yang sering mengancam Maria untuk tutup mulut.


"Eh mas, itu dia si Mala." Si ibu-ibu itu menunjuk seorang wanita berpakaian minim yang sedang berjalan ke arah rumahnya.


Ibu-ibu itu langsung berjalan tergesa di susul Abhimanyu dan Leo.


"Mal,Mala kaheula. Ada yang nyariin kamu ini."


Maria terhenti, mendengar teriakkan Bu Ita, tetangganya.


"Siapa ya? Maria menatap curiga ke arah dua pria itu.


"Kami datang dengan maksud baik,ingin bicara denganmu sebentar," ujar Abhimanyu.


"Eh, kayanya mau ngomong serius nih,kalo gitu saya permisi deh." Pamit ibu itu.


"Baik Bu, terimakasih untuk bantuannya." Leo tersenyum manis, Membuat si ibu itu mengangguk malu.


"Kalo mau ngomong penting sebaiknya jangan di sini," kata Maria Membuat kedua pria itu mengangguk mengikuti langkahnya.


***


Kini mereka sedang berada di sofa ruang tamu rumahnya. Maria juga sudah berganti pakaian menjadi lebih sopan.


Leo menggeleng, "Tidak apa-apa lebih dari cukup."


"Jadi apa yang ingin kalian bicarakan." Maria memulai percakapan lebih serius.


Abhimanyu cukup aneh, wanita itu apakah tidak merasa curiga kepada mereka? Mudah sekali dia menerima tamu yang terbilang asing.


"Kau tidak mencurigai kami?" Mata Abhimanyu menyipit.


Maria tersenyum kecut, "Kau pikir aku tidak tahu siapa kau?"


"Abhimanyu maheswara, Presdir muda yang namanya sudah melambung di berita internet. Aku mengenalmu."


"Jadi kau juga sudah tau apa tujuanku datang kesini?"


"Mencari tahu tentang hubunganku dengan si bangs*t Arya,benar?" Maria menebak, wanita itu berpangku tangan.


"Kau sepertinya sangat membencinya ya nona." Leo tiba-tiba bercelatuk.

__ADS_1


"Sangat. Hanya Tuhan dan diriku sendiri yang tahu betapa aku sangat membencinya." Mata wanita itu berkilat tajam.


Leo manggut-manggut mengerti, sebagai seorang yang sudah sangat tahu ceritanya,dia sangat mengerti dan memaklumi.


"Secara logis kau pasti tahu bahwa aku adalah kakaknya. Aku kesini ingin meminta kesaksian mu."


"Kesaksian apa?"


"Atas kebejat*n Arya." Abhimanyu menatap serius.


"Jadi seperti ini,aku ingin membongkar semua kejahatan Arya dan melaporkannya ke polisi.arya telah melakukan banyak kejahatan kepada banyak wanita selama ini, jadi sekarang saatnya lah dia menerima balasan, di hukum atas semua kejahatannya sebelum semakin banyak wanita-wanita lain yang menjadi korbannya."


"Kau serius?" Maria mulai tertarik, "Tapi dia adikmu."


"Menjadi adikku bukan berarti aku memaklumi sifat buruknya itu. Selama ini aku sudah cukup memaklumi semua tindakannya, tapi sekarang tidak lagi, dia harus menerima hukumannya."


"Aku mau!" Maria berseru cepat.


"Selama dua tahun ini, itulah yang ingin sekali kulakukan, melihatnya di penjara." Mata wanita itu menjelaskan semuanya, betapa dendam kepada Arya sangat berkobar.


"Aku tahu kenapa kau sangat membencinya, hidupmu pasti sangat kesusahan selama ini." Leo merasa iba.


Maria mengangguk, "Kau benar, seperti wahana loler coster hidupku jungkir balik setelah mengenalnya, berita tentangku dua tahun lalu sangat terkenal ketika aku mencoba meminta pertanggung jawaban pria itu. Tapi setelah semua penolakan, cacian dan hinaan yang kuterima dari pria itu, lingkungan di sekitar juga menghakimiku." Maria berusaha untuk tidak terisak mengingat rasa sakitnya.


"Mereka hanya ingin membela kaum atas tanpa memperdulikan kami yang menjadi korban,namaku menjadi buruk di mata warga, mencemooh dan mengataiku,mereka menghakimiku tanpa tahu ceritanya secara jelas." Maria terisak.


"Hidupku sangat menderita dua tahun belakangan ini, terseok-seok aku berusaha lari dari jeratan orang-orang suruhannya yang mengangguku. Sampai akhirnya aku berada di titik ini." Lanjut wanita itu.


Hening sejenak. Ruang tamu itu tampak lengang.


Maria mengibaskan matanya, "Ah,maaf aku terlalu sensitif."


"Tidak apa-apa,aku memaklumi," ujar Abhimanyu.


"Aku kupastikan ini akan menjadi terakhir kalinya kau mengingat rasa sakit itu," ujar Abhimanyu lagi.


"Kau benar, hidupku akan tenang,jika Si bangs*t itu masuk penjara dan menebus dosa-dosanya."


Abhimanyu menghembuskan nafas sejenak.


"Sebelum dirimu,kami sudah menginterogasi beberapa wanita yang menjadi korbannya dan mereka juga sudah memberikan bukti yang cukup untuk dipersidangan nanti. Tidak hanya itu mereka juga bersedia membantu kami untuk mempermalukan Arya." Leo menjelaskan.


"Mempermalukan Arya?" Leo mengangguk sebagai jawaban.


"Memasukkannya ke penjara begitu saja tidaklah cukup,kita harus memberikan beberapa atraksi untuknya agar dia benar- benar sadar jika wanita bukanlah mahluk lemah yang bisa di tindas begitu saja."

__ADS_1


"Jadi Nona Maria,apa kau juga mau ikut dalam operasi ini?" Kata Leo lagi.


"Tentu saja." Maria mengangguk mantap. Kehancuran Arya akan tiba di depan matanya sebentar lagi.


__ADS_2