Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 51


__ADS_3

"O-orang tuaku?" Felysia terpekur.pikirannya tiba-tiba kosong.


Pak Manaf mengangguk, lalu menepuk kedua tangannya guna memanggil salah satu bodyguardnya. Pria dengan kacamata hitam menghampirinya, mengulurkan sebuah kotak peti kecil berwarna coklat kayu yang mengkilap.


Pak Manaf lalu mengambilnya kemudian menyuruh bodyguardnya kembali. Dengan mata tuanya yang menatap sendu ke arah kotak persegi itu, lalu dia menyerahkan kotak itu ke hadapan Felysia.


"Semua kenanganku dengan almarhum ayahmu,Fajar ada di kotak ini nak." Pak Manaf menjelaskan, felysia mengambil kotak itu dengan tangan yang bergetar. dada gadis itu berdegup kencang.


"Kau masih mengingat wajahnya?"


Felysia tertegun, lalu menggeleng atas pertanyaan itu. Bagaimana mengingat wajah orang tuanya, bahkan yang dia tahu hanya nama mereka.


"Bahkan mereka di kubur di mana aku tak tahu, bagaimana aku bisa mengingat wajah mereka." Suara felysia serak,gadis itu tampak tercekat.


Pak Manaf tak paham, "Kau sama sekali tak punya kenangan tentang mereka?"


Felysia menggeleng lemah, "Sejak dahulu,yang kutahu hanya nama mereka dari bibiku. bahkan para tetangga pun tak pernah tahu saat kutanya,karna paman pindah rumah saat aku di angkat menjadi keluarga mereka.yang ku tahu sampai sekarang hanya 'aku yang sudah di rawat keluarga paman sejak aku berusia dua tahun'. Paman dan bibi sangat melarang diriku mengetahui identitas ku sendiri, bahkan sekedar foto mereka pun aku tak punya." Felysia mencengkeram ujung bajunya. Rasa sakit itu kembali datang.


"Keterlaluan sekali," lirih pak Manaf, "Paman dan bibimu sudah sangat salah nak. Mereka bahkan tak pernah menceritakan apa-apa tentang ayahmu?"


Felysia lagi-lagi menggeleng, topik seperti ini sungguh sangat sensitif untuknya.dia yang terbiasa tak pernah mengulik lagi tentang kedua orang tuanya,kini kembali merasakan sakit di hati akibat tak pernah tahu tentang orang tuanya sendiri.


Pak Manaf menghela nafas berat,pria paruh baya itu merasa iba, Selama hidupnya felysia berjalan tak tentu arah,tentang orang tuanya pun gadis itu tak pernah tahu, harusnya tak begini, harusnya sejak awal dia tahu bahwa sahabatnya, fajar, memiliki seorang putri, mungkin dengan Begitu felysia tak perlu menderita seperti ini.


"Ayahmu, adalah pria yang sangat baik nak. Bahkan karena kebaikannya itulah dia selalu mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri." Pak Manaf membetulkan posisi duduknya.


"Dan aku adalah salah satu bukti orang yang menerima kebaikan ayahmu ini." Lanjutnya.


"Biar orang tua ini menceritakan tentang kebaikan ayahmu dulu." Pak Manaf menatap sendu pada gadis di depannya.


Lalu satu jam itu pak manaf ceritakan tentang pertemuannya dengan Fajar radjasa, pria yang dahulu satu kampus dengannya. Pria dengan kepribadian yang menyenangkan dan supel di sukai semua orang dan di kagumi para kaum hawa. Pertemanan pak Manaf dengan alm.pak Fajar di kampus terbilang singkat sebelum akhirnya mereka bertemu lagi di dunia kerja.


"Dahulu, aku berada di posisi Sangat terpuruk,usaha yang ku rintis tak kunjung membuahkan hasil. Hingga akhirnya aku berada di ujung kehancuran,ayahmu datang memberikan harapan baru. Bagaikan malaikat yang di utus tuhan,dia membantuku melewati masa terpurukku. Hingga membantu perusahaan ku sampai ke tahap yang seperti sekarang ini."


Pak Manaf membuang nafas kasar,tak sadar saat menceritakan semua ini dia ikut terhanyut hingga menitikkan air mata. Pak Manaf lalu menatap gadis di depannya.


"Nak?" Pak Manaf mencoba memanggil felysia yang hanya menunduk. Lalu terdengar Isak tangis yang menyayat hati.

__ADS_1


"Nak,kau menangis?" Pak manaf memegang pundak Felysia yang bergetar.


"Aku--aku hanya tak menyangka bisa mendengar semua ini. Rasanya seperti mustahil aku bisa mendengar tentang orang tuaku sendiri." Isak tangis felysia semakin pecah. Di tangan gadis itu terdapat sebuah foto yang sempat ia ambil dari dalam kotak. Sebuah foto yang menunjukkan seorang pria dengan kacamata dan senyuman hangatnya. pria Itu adalah ayahnya, Fajar radjasa.


"Aku mengerti nak, menangislah,tak apa. Ini pasti berat untukmu.bertahun-tahun hidup tanpa mengetahui identitas orang tua sendiri,itu sangatlah menyakitkan."


Felysia mencoba mengatur nafas, gadis itu menyeka air matanya, "Lalu apakah ayah tahu tentang ibuku?"


pak Manaf menggeleng atas pertanyaan itu.


"Sayangnya aku hanya mempunyai foto bersama ayahmu. tapi ibumu, Ningsih adalah wanita yang lembut sama seperti dirimu, wanita itu sangat hangat dan penyayang. dan kecantikannya pun sama seperti dirimu,aku melihatnya sendiri." pak Manaf tersenyum tulus.


"Lalu apa yang menyebabkan mereka meninggal? aku tak pernah tahu penyebabnya? Dan dimana? di mana mereka di kuburkan?"


Pak Manaf menatap lamat-lamat ke arah depan, dalam hatinya ia merasa sakit. Felysia bahkan tak tahu di mana orang tuanya di kuburkan. sungguh sangat kejam yang menyembunyikan hal ini dari gadis malang seperti dirinya. dalam hati pak Manaf mengutuk orang-orang yang sengaja menyembunyikan semua fakta ini dari Felysia.


"Kedua orang tuamu meninggal karna sebuah kecelakaan. saat itu aku putus kontak dengan ayahmu karna kesibukan, hingga akhirnya aku mendapat berita ini dari alumni kampus, tempatku mengenalnya pertama kali dulu."


Felysia menutup wajahnya, bagai tertusuk sembilu gadis itu menangis sejadi-jadinya. akhirnya, akhirnya selama bertahun-tahun ia hidup dengan rasa penasaran tentang orang tuanya sendiri,hari ini ia mendengar semua tentang kebenarannya.bagaikan himpitan batu yang selama ini menindihnya bergeser dan menghilang,gadis itu merasa lega dan sedih secara bersamaan.


Tanpa pak Manaf dan felysia tahu, tak jauh dari keduanya, ada seseorang yang mendengar semua yang mereka perbincangkan. Abhimanyu mengeratkan kepalan tangannya, kuat. pria itu berdiri tak jauh dari mereka, mendengar semua dari awal hingga akhir. dalam hati pria itu seperti merasakan hal sama dengan yang Felysia rasakan sekarang.


Pak Manaf mengangguk, mata tua itu meredup merasakan sakit yang sama seperti Felysia. satu titik air mata itu akhirnya jatuh.


***


Keesokan harinya satu hari sebelum resepsi pernikahan Arya diadakan.pak Manaf menepati janjinya untuk mempertemukan felysia dengan kuburan orang tuanya.


Felysia turun dari mobil, kaki gadis itu langsung menginjak tanah yang sedikit lembab. mobil tiba di tujuan,di sebuah pemakaman keluarga, yang di beri pembatas pagar tembok. tempat peristirahatan terakhir orang tuanya.


"Kedua orang tuamu di makamkan di pemakaman keluarga ayahmu. karna ibumu anak yatim-piatu jadilah dia dikuburkan bersama di sini," ujar pak Manaf setelah duduk di kursi rodanya di bantu oleh bodyguardnya.


"Ibuku seorang yatim-piatu?" Felysia terkejut mengetahui fakta baru.


Pak Manaf mengangguk, "Aku tahu saat pernikahan mereka dulu. ayahmu sangat mencintai ibumu yang saat itu adalah anak panti yang mendapat beasiswa di kampus kami dahulu."


Felysia tersenyum, kisah cinta kedua orang tuanya pasti sangat manis. mendengar ayahnya sangat mencintai ibunya Membuat hati gadis itu menghangat.

__ADS_1


Lalu Felysia dan pak Manaf masuk ke pemakaman,ada seorang penjaga di sana, pria berusia setengah abad yang memang menjaga makam keluarga ini. kebetulan dia sudah sangat hafal dengan pak Manaf karena beberapa kali sering berkunjung untuk ziarah. penjaga itupun terkejut saat mengetahui Felysia adalah anak dari alm.pak fajar dan mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya menuju ke makam.


"Pak fajar adalah pria yang sangat baik semasa hidupnya, begitupun istrinya. tak menyangka jika beliau mempunyai seorang anak perempuan. yang saya tahu beliau hanya hidup berdua dengan istrinya." penjaga makam itu bercerita. mereka lini telah sampai di dua makam yang bersisian. kedua makam itu sangat terawat.


Felysia hanya tersenyum, tak punya tenaga untuk berbicara sepatah kata pun. rasanya dunia tiba-tiba berhenti saat memandang kedua makam di depannya sekarang. mengerti situasi, penjaga makam itu akhirnya pamit, setelah berbincang sebentar dengan pak Manaf.


Pak Manaf lalu memandang Felysia yang mendorong kursi rodanya, "Ini adalah makam kedua orang tuamu, nak."


Felysia tak kuasa menahan tangis, gadis itu segera saja bersimpuh di makam sang ayah. mengusap pelan batu nisan, dengan Isakannya. seakan menyalurkan kerinduan yang mendalam selama bertahun-tahun.


Satu jam sudah Felysia mengusap makam kedua orang tuanya, sedari awal gadis itu tak mengatakan apapun, bibirnya seakan keluh,yang dilakukannya hanya mengusap makam sesekali menciumnya.


"Nak,apa kau tak mau pulang.hari akan semakin gelap."


Felysia menoleh ke arah ayah mertuanya yang masih setia menunggunya.


"Sekarang kau telah mengetahui makam mereka,kau bisa kapan saja berkunjung untuk ziarah,*ujar pak Manaf menatap sendu.


***


Felysia dan pak Manaf akhirnya pulang kerumah, setelah pak Manaf berusaha untuk menyakinkan felysia. mereka harus segera pulang sebelum hari benar-benar gelap. Felysia pulang dengan hati yang lapang, berkat ayah mertuanya lah akhirnya dia mengetahui tentang kedua orang tuanya.


"Kau harus segera istirahat. jaga diri baik-baik." Pesan pak Manaf saat mereka sudah di depan gerbang.


Felysia hanya mengangguk,mata gadis itu sudah sangat sembab,tapi dia senang kerinduan tentang kedua orang tuanya terbayar sudah.


Pak Manaf tersenyum menatap sekilas ke arah menantunya.sebelum akhirnya kaca mobil tertutup,dan melaju pelan ke jalan raya.


Felysia lalu mengambil nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. gadis itu lalu melangkahkan kakinya kedalam rumah.


Saat membuka pintu yang tidak terkunci, Felysia Membulatkan matanya saat pandangannya bersibobrok langsung ke arah Abhimanyu yang sedang duduk di sofa.


Abhimanyu yang menunduk dengan kedua tangan terkepal Langsung saja mendongak, menoleh menatap Felysia.pandangan mereka bertemu lalu terkunci satu sama lain. Felysia hanya berdiri tanpa mau melangkah lagi, sedangkan Abhimanyu lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menghampirinya.


Saat mereka semakin dekat, lelaki itu langsung memeluk Felysia, merengkuh tubuh yang lebih kecil darinya itu kedalam pelukannya. Felysia tertegun,tubuh Abhimanyu tampak sangat hangat. pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Felysia.


Felysia berdehem, dada gadis itu berdesir, "K-kau kenapa?"

__ADS_1


Lenggang sejenak. atmosfer di sekitar tampak semakin hangat.


"Mulai hari ini,aku berjanji akan selalu melindungimu. aku akan selalu melindungimu," Ujar Abhimanyu, menekankan kata-katanya di akhir dan semakin mengeratkan pelukan mereka.


__ADS_2