Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 71


__ADS_3

Di mall luas di pusat perbelanjaan besar dan terkenal di kota ini, tampak tiga wanita yang kini semakin akrab berjalan sambil merangkul pundak, sesekali mereka terhenti di setiap stand pakaian dan aksesoris, lalu akan memilah, sambil sesekali tertawa.


Felysia, Dian, dan Bella sudah seperti sahabat karib yang terpisah lama, mereka bercanda tawa, sambil membawa banyak jinjingan kantung belanjaan di tangan. Mereka benar-benar menghabiskan waktu hanya bertiga tanpa ada gangguan.


"Eh, apa lagi ini yang akan kamu beli Bell? Ada yang kurang gak?" Tanya Dian saat mereka berhenti untuk memilih di stand berikutnya.


Felysia tanpa sadar mengulum senyum melihat Dian yang begitu teliti dan sangat memperhatikan apa yang di beli oleh Bella, Bahkan sejak tadi Dian lah yang selalu berada di samping Bella,saat wanita itu sedang bingung ingin membeli item yang mana. Dian seperti ibu yang sedang mengarahkan putrinya.


Seperti yang mereka katakan, melupakan kebencian adalah hal yang tepat, lebih memilih untuk melangkah maju untuk kehidupan yang lebih baik dengan damai tanpa adanya iri hati.


"Kayaknya udah semua deh, Perlengkapan buat baby Al udh lengkap semua."


"Baby Al?" Tanya Felysia dan Dian kompak.


Bella mengangguk semangat. " Itu nama sementara untuk bayiku, aku sedang memikirkan nama yang tepat untuknya nanti." Ucapnya sambil mengelus kandungannya yang sudah membesar.


Felysia dan Dian manggut-manggut, mengerti. "Hei baby Al." Seru Dian,lalu tanpa sadar tangannya ikut mengelus perut Bella.


"Eh,dia bergerak!" Dian membelalakkan matanya.


Bella tertawa. "sepertinya baby Al menyukaimu."


Dian menoleh, menatap Felysia. " Bayinya nendang-nendang Fel."


Felysia geleng-geleng kepala melihat tingkah Dian. " Kayanya kode nih, supaya kamu segera nyusul punya baby sama Leo," ucap Felysia berbisik di akhir.


Dian berubah masam,mencebik. " Apa sih kok jadi kesitu-situ."


Bella tertawa. " Kamu sedang dekat dengan Leo kah?"


Kebetulan memang Bella sudah mengetahui tentang Leo, karna pria Itu sesekali berkunjung ke mansion saat pak Manaf masih ada dulu.


"Eh, kamu mendengar." Dian berseru panik.


"Gak apa-apa lagi, Leo ganteng kok cocok sama kamu yang cantik," ujar Bella.


Dian yang mendengarnya jadi tersipu malu, wanita itu menunduk, menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.


"Cieee ... Dian salting." Felysia semakin menggoda Dian.


"Ishh, apaan sih Fel." Dian menepis tangan felysia.


"Kok jadinya kaya aku sih yang jadi cewek pemalu disini." Dian tampak tak terima.


"Padahal aku kan yang paling bar-bar!" Ucapnya menunjuk diri sendiri.


"Iyah, dan dia antara kita bertiga cuma kamu yang masih lajang," ucap Felysia.


"Yeuy, Sombong nih ye, mentang-mentang udah punya laki."


Lalu ketiganya tertawa bersama. Mereka tak menyangka bisa akrab secepat ini dan semoga kedepannya bahagia selalu menghampiri mereka.


"Eh, pada laper gak? Makan dulu yuk." Cetus Dian.

__ADS_1


Mereka bertiga menatap ke sekeliling. " kayanya makan dulu sebelum pulang boleh juga," ucap Felysia.


Lalu mereka bertiga berjalan beriringan menuju stand makanan yang ada di mall ini, Bella menoleh saat Dian dengan sengaja mengambil alih kantong belanjaan yang ada di tangannya.


"Bumil gak boleh capek," ujar Dian tersenyum.


Bella ikut tersenyum, "Terimakasih."


Felysia menarik sudut bibir melihat interaksi keduanya, lalu berjalan satu langkah lebih cepat. karena tak melihat teliti, tubuh Felysia hampir terhuyung karna menubruk seseorang.


"Ah, maafkan aku,maaf,maaf," ucap Felysia berulang sambil menunduk. karna wanita itu hampir jatuh.


"Oh,ya tidak apa-apa,aku yang salah." ucap sang wanita yang di tabraknya.


"Astaga, Sarah!" pekik Bella menghampiri mereka.


"Kamu kenal?" tanya Felysia.


"Iyah dia Sarah, sepupunya Arya, keponakannya bunda Sinta," ujar Bella hiperbola.


Sarah yang tak kalah terkejut mendapati Bella ada di sini pun tampak membelalak, lalu segera saja memeluk adik iparnya itu. karna Arya jauh lebih mudah 5 tahun di banding dirinya.


Dian dan Felysia hanya memperhatikan karna canggung, lalu mata wanita yang di panggil 'Sarah' itu menuju pada wanita yang memakai dress kembang bewarna hijau kalem itu.


"Dan kau pasti yang bernama Felysia?" tanyanya menunjuk.


Felysia mengerjap beberapa kali. "Eh, Y-ya. Felysia, salam kenal."


Sarah tampak mengulas senyum. "Felysia Auristela, Artinya 'bintang emas' namamu sangat indah."


"Aku tahu kau pasti bingung, karna baru pertama kali bertemu dengannya. tapi Sarah ini tahu semua tentang mu loh," ujar Bella.


Sarah tertawa, "Tidak seperti itu," ucapnya. "Aku hanya tahu kau Istrinya Abhimanyu. sebelumnya kita sempat beberapa kali bertemu,tapi aku tak sempat untuk menyapa mu."


"Begitukah? maaf kalau begitu," ucap Felysia.


"Halo, Dian. salam kenal." Dian ikut mengulurkan tangannya kepada Sarah.


Sarah menerima uluran tangan itu. "Sarah."


"Mumpung ngumpul begini sekalian saja ajak Sarah buat makan bareng." Bella memberi usul. Dian dan Felysia mengangguk setuju.


"Hmm, sorry guys, tapi kayanya aku gak bisa,karna aku lagi bareng sama mas pacar. mungkin lain waktu," ucap Sarah tersenyum kikuk.


"Oke gak apa-apa, mungkin lain waktu," ucap mereka serempak.


"Oke,have fun yah,bay." Sarah melambaikan tangannya lalu berlalu.


"Sepupunya si Arya cantik yah," celetuk Dian.


"Iyah, berpendidikan juga, lulusan luar negeri." tambah Bella.


Sementara Felysia merenung di tempat, pikirannya sedang mengolah, mengingat kembali di mana ia pernah mendengar nama 'Sarah' karna menurutnya tak asing.

__ADS_1


"Ah,benar. Mas Abhi pernah menyebut nama wanita itu sebelumnya." batin Felysia.


***


Diksi penuh aksara memenuhi relung hati felysia saat ini, dengan sebuah pena bewarna biru,warna favoritnya, wanita yang kini terduduk penuh konsentrasi di kursi meja belajarnya, mencoret-coret setiap kata guna mewakili rasa hatinya di kertas putih itu.


Malam semakin terasa, cahaya rembulan masuk menebus jendela yang tak terkunci.Seakan ada seruan yang terus memanggilnya, Felysia berdiri, berjalan ke arah langit menghitam yang kini diterangi cahaya bulan.


"Melihat rembulan lagi?"


Suara bariton itu terdengar, merasa ada pergerakan dibelakangnya, Felysia membalikkan badan.


Pria yang selama ini selalu ada di pikirannya itu tersenyum, membentangkan kedua tangannya, Felysia tahu apa artinya itu.


Maju selangkah, Felysia memeluk tubuh kekar pria itu, mencari kehangatan yang selalu ia rindukan, menenggelamkan wajah di dada bidang lelakinya.


"Kau sedang ada masalah?"


Felysia menggeleng, memejamkan mata masih ingin menghirup wangi tubuh Abhimanyu. Ntah kenapa, setiap di pelukan pria ini Felysia selalu merasa aman, seberapa banyak pun dunia menyakitinya,asal ada Abhimanyu di sisinya, menurutnya akan baik-baik saja.


"Lalu kenapa? tak biasanya kau seperti ini?" Abhimanyu bertanya lagi.


Dagu pria itu di letakkannya di kepala Felysia, dengan perbedaan tinggi yang lumayan jauh, Membuat felysia terlihat sangat kecil. sesekali Abhimanyu akan memainkan rambutnya yang panjang, atau mencium pucuk kepalanya.


"Aku ingin bertanya denganmu,apa boleh?"


Ada kekehan yang terdengar. "Tanyalah, kenapa harus meminta ijin segala?"


Felysia tersenyum, masih dengan posisi berpelukan. "Aku takut kau marah."


"Memangnya kenapa?" tanya Abhimanyu kini.


"Karna ini sesuatu hal yang sensitif."


"Katakan saja,apa?"


Mendongak, menatap wajah suaminya kini. "Siapa Sarah?"


Mengerutkan dahi, Abhimanyu sedikit terkejut dengan pertanyaan sang istri. "Yang kutahu dia sepupunya Arya."


"Iyah, aku juga tahu itu." menjeda ucapan. "Tapi aku pernah tak sengaja mendengar namanya di sebut olehmu,saat kau berbincang dengan Leo dulu."


"Kau mendengar pembicaraan itu." Abhimanyu semakin terkejut, ia tak bisa mengelak lagi jika Felysia bertanya lebih jauh.


"Iyah maaf,aku tak sengaja." Kini Felysia melepaskan pelukan.


Mengambil salah satu tangan Abhimanyu, Felysia mendekapnya erat. "Aku ingin kau jujur kali ini."


Hening. Abhimanyu menatap lekat, Jika pertanyaan felysia ini menjurus ke sana, Abhimanyu harus segera menjelaskannya, menebak isi kepala sendiri, Abhimanyu menunggu apa yang akan dikatakan sang istri.


Menghela nafas panjang, Felysia memejamkan matanya, sejenak.


"Balas dendam apa yang selalu kau bicarakan padaku? Aku ingin tahu. Aku ingin tahu semuanya tentang dirimu."

__ADS_1


Damn it! yang dikhawatirkan Abhimanyu akhirnya terjadi, Istrinya ini butuh penjelasan darinya.


Sama-sama menatap dalam, kedua insani itu terdiam dengan kebisuan panjang. Terlebih lagi Abhimanyu, yang dari awal tak ingin felysia tahu tentang sisi hidupnya yang kelam.


__ADS_2