
"Pak,ada yang ingin bertemu dengan anda."
Abhimanyu yang sedang sibuk mengecek email di layar monitor itu seketika mengadah, "Siapa?"
"Tidak diketahui namanya,dia seorang wanita,sekarang menunggu di ruang tunggu," ucap asisten yang kini tengah menghadap.
Abhimanyu melirik sekilas arjoli di pergelangan tangannya, sepuluh menit lagi meeting di adakan, tidak waktu untuk bertemu dengan tamu yang tidak di kenal sekarang.
"Bilang padanya saya sibuk." Ujar pria itu akhirnya.
Sang asisten yang sedari menunduk pun mengadah, jika sudah begini maka tidak bisa di bantah lagi, meskipun si tamu wanita itu sedang melakukan kerusuhan di luar sana karna ingin bertemu dengan Abhimanyu.
"Baik," sang asisten lalu membungkuk dan keluar.
Tak sampai 30 detik sang asisten kembali ke ruangannya kali ini dengan keluhan yang sama, wanita itu mendesak ingin bertemu dengannya, Abhimanyu memberi alasan lagi jika dia akan melakukan meeting dengan klien penting, namun laporan lagi-lagi si asisten membuatnya meradang.
"Memangnya siapa wanita itu berani menganggu waktu kerjaku!" Abhimanyu menggebrak meja dengan keras.
"M-maaf pak, saya sudah bilang berkali-kali anda sangat sibuk sekarang, tapi dia malah membuat keributan," sang asisten berbicara terbata,aura Abhimanyu sungguh sangat mencekam,celaka lah wanita itu yang sudah membuat tuan besar mereka marah.
"Bilang padanya saya akan datang." Ucap Abhimanyu dingin.
***
"Maria, jadi kau yang membuat keributan ini?" Ujar Abhimanyu sedikit terkejut, duduk di sofa yang sama dengan wanita di depannya.
"M-maaf, hanya saja aku tidak sabaran, sulit sekali untuk bertemu denganmu," cicit Maria.
Abhimanyu tampak menghela nafas, "Ada apa kau ingin bertemu denganku?" Tanyanya tanpa basa-basi lagi.
"Kemarin saat aku mengundangmu untuk makan malam bersama,kau sama sekali tak menjawabnya dan langsung pergi,aku takut kau marah."
Abhimanyu tampak menautkan alis, merasa aneh melihat Maria yang berlemah lembut di depannya ini, berbeda dengan yang ia kenal di persidangan, wanita tegas dan garang,Maria di sini ber makeup tebal dan berpakaian yang bisa di bilang seksi.
"Maaf,tapi aku tidak bisa menerima undangan itu, tapi jika kau ingin mengundang istriku juga,maka akan ku pertimbangkan," ucap Abhimanyu.
Maria yang semula menunduk malu-malu mulai mengadah dengan mulut menganga, "I-istri?" beonya.
Abhimanyu mengangguk, "aku tidak bisa menghadiri undangan makan itu jika hanya berdua denganmu seperti yang kau katakan kemarin,maka kau harus mengundang istriku juga."
Maria hampir kehilangan tumpuan kakinya, wanita itu sangat kaget hingga hanya bisa bergeming, Abhimanyu sudah mempunyai istri? Kenapa dia tidak tahu, sekian lama mencari berita tentang pria itu kenapa dia tidak tahu Abhimanyu sudah memiliki wanita di hidupnya.
Rasa yang awalnya karena kekaguman dan kelembutan yang di rasakannya kemarin itu sudah sangat salah.
Abhimanyu kembali melirik arjoli, "Maaf aku harus meninggalkan mu, ada meeting penting yang harus ku hadiri."
__ADS_1
Lalu lelaki itu berlalu pergi meninggalkan Maria yang masih dengan kebisuan yang panjang.
***
Setelah meeting selesai, Abhimanyu kembali lagi ke ruangannya, di kursi singgasananya , pria itu menatap kosong ke depan, dengan pikiran yang berkecabang, benaknya di penuhi dengan perasaan yang ia sendiri pun tak mengerti apa, seperti ada kekosongan yang terus menggerogoti relung jiwanya saat ini. Lalu tak sengaja netra gelap bak obsidian itu menatap sebuah bingkai foto yang berdiri tak jauh dari meja kerjanya.
Abhimanyu mengambil bingkai foto itu, di sana tercetak wajah seorang wanita dengan kulitnya yang seputih susu, mata bulat dengan rambut panjang terurai, bundanya di foto ini sangat mirip dengan Felysia, istrinya, cantik dan mempesona.
Lamat-lamat pria itu menatap foto sang bunda tercinta, membayangkan kasih sayang seorang ibu yang tak sampai padanya.
Lalu tanpa sadar, pria itu menaruh lagi bingkai foto tersebut tapi kali ini dengan posisi yang berbeda, dia menaruhnya di ujung dekat foto keluarga, seolah ingin menunjukkan pada dunia betapa lembut wajah wanita yang telah berjuang melahirkannya.
***
wangi harum menguar semerbak di ruangan luas dengan meja panjang itu, Suara dentingan oven lagi-lagi terdengar sering dengan tangan mungil seorang wanita yang mengeluarkan satu persatu loyang yang menampilkan jejeran kue sus varian cokelat yang berhasil dia buat.
"Eum, kuenya enak Fel, rasanya pas kaya biasa," Ujar Dian hiperbola menyuap satu gigitan kue ke dalam mulutnya.
Felysia tersenyum, "Iyalah enak,kan gratis." candanya.
Dian tertawa pelan, liburannya kali ini ia sangat suka bertandang kerumah Felysia, sahabatnya sekarang ini sering sekali Membuat macam-macam kue yang membuatnya betah berlama-lama.
"Kali ini kamu mau buat kue apalagi Fel?" tanya Dian yang masih terus mengunyah.
"Asyik,kalau mau belanja bulanan bareng aku yah," Dian yang heboh sendiri mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Gak usah non,kan udah ada bibi." Seruan itu membuat Dian menoleh, ntah dari mana bi ati tiba-tiba muncul sambil membawa banyak toples.
"Ah,bi ati mah gitu ih,kita kan udah jadi best friend, nanti aku ikut,kita bertiga kan nanti bisa happy-happy jalan ke mall."
Bi ati tampak tertawa mengangguk, inilah keseruan yang ia rindukan selama di mansion, tentang bagaimana kocak dan hebohnya Dian, sahabat nyonya mudanya tentang betapa humble nya mereka.
"Ini yah Nya pesanannya, saya permisi ke belakang lagi."
Felysia mengangguk,lalu mensejajarkan satu persatu toples dan kardus persegi di atas meja.
"Kamu mau ngapain sih Fel kayanya sibuk banget?" Dian memperhatikan dengan seksama.
"Oh,ini aku lagi nyiapin kue dan roti-roti yang udah kubuat buat acara arisan nanti."
Dian tampak manggut-manggut, "sejak kapan kamu ikut kegiatan kaya gitu?
Felysia tampak berfikir, "Eumm, belum lama ini sih, ibu-ibu di komplek sini yang mengajakku."
Dian menggangguk-ngangguk menanggapi,lalu ingatannya akan pertanyaan yang ia tanyakan pada Felysia terlintas.
__ADS_1
"Eh,aku dengar si Arya udah di bekuk polisi yah Fel?" celetuknya.
Hening, Felysia tak langsung menjawab, lalu wanita itu hanya mengangguk pelan.
"Aku gak pernah nyangka,selama kenal tuh cowok, ternyata dia sebajing*an itu," ujar Dian.
Felysia mengangguk, "Aku juga."
"Tau gak, sampai berita itu terdengar di telinga ayahku, dia malah nyangkal dan gak percaya loh, dia bilang Arya yang selama dikenal tuh sangat menghormati wanita dan juga punya reputasi baik."
"Itulah, kita tidak bisa menilai orang hanya dari sampulnya aja."
"Iya,kami bener banget Fel." Dian mengangguk sangat setuju.
"Terus itu gimana yah sama sepupumu? depresi gak tuh dia?"
Felysia menoleh, menatap sahabatnya, "Aku pun gak tahu, terakhir kali yang ku ingat dia hadir di persidangan, sayang Abhimanyu tidak boleh mengijinkan aku ikut."
Di luar pembicaraan,Dian malah tertawa, "Suamimu itu takut kamu bakal simpati sama Arya."
Felysia mencebik, perasaan tak ada hubungannya sama sekali, lalu wanita mengalihkan pembicaraan ke arah lain karena takut dia semakin menggodanya.
"Kayanya bakal jadi ide bagus, kalau aku buat usaha bikin tokoh roti dan aneka kue gitu,Iyah gak sih?"
Tak ada ekspetasi apapun, tapi tiba-tiba dia menepuk meja pelan, "Heh, kamu mau kerja gitu maksudnya Fel? jangan-jangan suamimu udah kaya tujuh turunan buat apa kerja!"
Felysia mengerling, Reaksi Dian sungguh sangat heboh dan berlebihan, "Emang apa salahnya?"
"Duh Fel, kamu tuh enak-enak di kasih suami ganteng, kaya raya, udah gitu bucin mampus sama kamu. udah kamu tinggal uncang kaki, leha-leha nikmatin hartanya," ucap Dian sangat mendramatisir.
"Gak ada hubungannya sama sekali Dian, emang wanita gak boleh gitu kerja kalau udah menikah, gak boleh gitu menekuni hobinya?" ujar Felysia yang sangat tidak setuju dengan pemikiran Dian.
"Y-ya gak gitu juga sih." Dian tampak mengerjap, menggaruk kepala yang tak gatal.
Felysia menggeleng pelan, "Lagipula Abhimanyu bukan pria yang secara terang-terangan menunjukkan apa yang dia punya, lelakiku yang aku kenal adalah pria yang sederhana dengan caranya menyenangkanku, bukan pria yang gembar-gembor menyombongkan kekayaannya."
Dian memandangnya tampak tersenyum penuh arti, Felysia tampak curiga dengan tampang Dian, dia mengernyit mengikuti arah pandang Dian yang tak biasa.
Lalu di belakangnya, terdengar seseorang berdehem, Felysia membulatkan mata terkejut lalu berbalik. lalu terdengarlah suara berat pria yang tadi ia bicarakan.
"Kau baru saja memujiku terang-terangan," ujar Abhimanyu, pria itu mengulas senyum.
Felysia mengerjap, sejak kapan pria itu ada di sini? apa pria itu mendengarkan semua yang di ucapkan?
"Aku senang kau memanggilku dengan sebutan 'Lelaki ku' " ujar Abhimanyu mengulang kembali apa yang dia ucapkan tadi. membuat jantungnya kini berpacu lebih cepat.
__ADS_1