
Di dalam perjalanan menuju ke rumah lama mereka, baik Abhimanyu ataupun felysia sama-sama berdiam diri,tidak bersuara. Keheningan tampak terasa, di depan kursi kemudi, sang supir bisa melihat raut berbeda dari wajah keduanya.
Felysia menundukkan kepalanya, menatap kosong ke bawah, bagai ditusuk sembilu hatinya terasa sakit karna penghinaan Arya terhadapnya,lebih dari itu kini ibu mertuanya yang sangat baik kepadanya juga ikut membencinya.
Apa? Memangnya apa kesalahannya? Dia tidak pernah merugikan orang lain kenapa semua orang membencinya termasuk juga orang yang dia sayangi, seolah Dirinya adalah sebuah kutukan, orang-orang membenci dan juga memusuhinya.
Memikirkan itu membuatnya tak tahan untuk tidak menangis. Hatinya berdenyut sakit, semua penghinaan Arya di depan semua orang tadi seolah membayang, menghantuinya. Beban yang ada di punggungnya seakan sudah tak sanggup lagi dia pikul.
Kebencian orang-orang terhadapnya seakan memukul hatinya dari yang terdalam.
Felysia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis, melepaskan segala lara yang ada. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk menahan isakannya agar tidak terdengar oleh telinga pria yang berada disampingnya.
Namun bagaimanapun insting Abhimanyu selalu tepat, pria itu menoleh menatap istrinya yang menunduk menutup wajahnya, bahu gadis itu bergetar hebat dengan air mata yang luruh menelusup di sela jarinya. gadis itu menangis tanpa suara, Membuat dada Abhimanyu seakan teriris.
"Ini!" Tanpa aba-aba pria itu menaruh sebuah kotak tisu ke pangkuan felysia.
"Usap air matamu dengan itu." Katanya tanpa menoleh lagi.
Felysia yang tersadar, membuka matanya yang sudah sangat sembab.
"Terimakasih." Ucap Felysia, terdengar gadis itu sedang menahan isakannya.
"Sudah kubilang kan untuk jangan menangis." Kata Abhimanyu dingin.
"Hatiku bisa sakit." Ucapnya pelan.
Seperkian detik, felysia tersadar lalu menoleh ke arah Abhimanyu. Bukan, bukan karna perkataan terakhir pria itu, bagaimanapun Abhimanyu mengatakannya dengan suara kecil hampir tak terdengar. Tapi Felysia teringat sesuatu.
"Tuan,apa anda tidak masuk ke kantor?"
Abhimanyu memalingkan wajahnya, melihat mata indah itu yang menyimpan banyak kesedihan, membuat dadanya berdesir, merasakan sakit.
"Tidak. Sudah ada Leo dan sekretaris mawar yang menghandel tugasku," tukasnya.
Jujur, sebenarnya ingin sekali dia membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya, memeluk dan mengatakan 'semuanya akan baik-baik saja' untuk menenangkannya. Tapi pria itu terlalu sungkan atau tepatnya gengsi,karna bukan hanya ada mereka berdua di mobil ini.
Sementara itu felysia hanya manggut-manggut, mengerti. Di saat seperti ini justru yang di ingatnya adalah Dian, sungguh dia merindukan sahabatnya itu dan ingin mencurahkan segala isi hatinya kepada sahabat satu-satunya itu.
"Maaf tuan, karna aku--"
"Sudah berapa kali kau meminta maaf?" Ucapan felysia terpotong.
"Jangan pernah salahkan dirimu lagi." Abhimanyu kini menatap wajah itu.
Felysia menunduk,semakin merasa bersalah. Abhimanyu melihat itu, dengan segera dia menggamit tangan kecil felysia dan menggenggamnya.
"Kita akan segera sampai." Kata pria itu.
Mobil mendarat setelah masuk ke dalam pekarangan rumah berlantai dua itu. Suasana rumah masih sama dengan pintu dan jendelanya yang tertutup rapat,ada beberapa pot bunga yang masih segar dan mekar yang berderet di sekitar teras rumah.hasil kerajinan dari tangan felysia yang memang sangat menyukai bunga.
Abhimanyu terlebih dahulu turun,lalu di susul felysia yang berada di sampingnya. Setelah berada di depan teras, Abhimanyu menyuruh sang supir untuk melenggang pergi,karna memang sudah tidak ada lagi yang di perlukan.
"Tuan,apa anda membawa kuncinya?" Felysia bertanya sambil menaruh telapak tangannya di kening, guna menghalau sinar matahari yang kian menyorot.
"Tidak." Abhimanyu menggeleng polos.
Felysia membelangakkan mata,tidak percaya. Bagaimana mereka bisa masuk kedalam, jika Abhimanyu saja tidak membawa kuncinya.
"Lalu bagaimana caranya kita bisa masuk kedalam rumah,tuan." Felysia menyipitkan mata bulatnya.
"Harusnya kamu tidak langsung membawaku ke sini." Kini felysia mengerucutkan bibirnya.
Abhimanyu yang melihat itu terkekeh geli. Diam sejenak menikmati pemandangan yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
"Harusnya tuh kamu tidak langsung menyuruh supirnya pergi,meminta dia mengambil kunci dan barang-barang kita terlebih dahulu." Felysia memberengut,sebal.
"Dasar tuan muda menyebalkan!" Makinya terang-terangan, masa bodoh dengan tanggapan Abhimanyu,kini rasanya dia sudah tidak takut lagi pada pria itu.
Abhimanyu menghalau mulutnya dengan tangan, berusaha untuk tidak tersenyum. Lalu seperkian detik berikutnya Abhimanyu sudah berdiri di depan pintu yang mana terhalang oleh badan felysia.
Felysia menahan nafasnya, posisi mereka kini berhadapan dengan tubuhnya yang membelakangi pintu. Sementara Abhimanyu mendekapnya dengan kedua tangan pria itu yang menggenggam kenop pintu.
__ADS_1
Atmosfer di sekitar mereka berubah sejuk, Abhimanyu kini menatap felysia lekat Seolah di matanya hanya ada gadis itu seorang.
Sementara felysia, jangan ditanya bagaimana keadaannya sekarang. Meskipun bukan pertama kali mereka berdekatan seperti ini,tetap saja membuat gadis itu jantungan. Tatapan Abhimanyu sungguh sangat mengintimidasinya.
"T-tuan kenapa anda dekat sekali." Gugup,tentu saja felysia Sangat gugup.
Abhimanyu menarik sudut bibirnya,lalu pria itu sedikit merunduk Membuat wajah keduanya sangat dekat. Kini tidak ada lagi jarak diantara keduanya.
"Barusan kau memanggilku dengan sebutan 'kamu' lalu 'tuan' dan sekarang'anda' kau suka sekali ya memberi banyak panggilan." Ucap Abhimanyu sangat dekat.
Felysia tampak gamang, pemikirannya kosong seiring dengan detak jantungnya yang semakin menggila, ingin memalingkan wajahnya tapi jarak mereka terlalu dekat.
"Bagaimana jika kau merubah panggilan padaku, misalnya dengan kata 'mas' seperti saat itu atau 'honey' agar terdengar romantis?" Abhimanyu kini menggodanya.
Melihat Rona merah di pipi putih itu membuat seulas senyum terbit di bibirnya. Bahkan kini mereka sudah mulai melupakan tentang penghinaan yang mereka dapatkan hari ini. Dan itu memanglah tujuan Abhimanyu, Membuat felysia melupakan segala kesedihan yang tertinggal di mansion salah satunya dengan cara menggodanya.
"Aku sesak tuan,bisa kau menyingkir?" Felysia mengelak memalingkan wajah.
Abhimanyu tersenyum,lalu terdengar bunyi cetrikan dari suara kunci yang di putar. Kenop pintu itu lalu terbuka Membuat felysia memundurkan sedikit tubuhnya.
Kini pintu rumah terbuka lebar, felysia syok dengan mata membulat. Jadi selama ini si tuan muda itu membawa kuncinya, kenapa tidak dari tadi saja, Pikirnya.
Lalu tanpa memperdulikan keadaan felysia yang kini dongkol padanya, Abhimanyu malah dengan santainya melangkahkan kakinya ke dalam rumah meninggalkan felysia dengan kekesalannya.
"Harusnya dari tadi kek,gak usah nunggu aku marah-marah dulu. Dasar tuan muda aneh!" Felysia menggerutu menatap Abhimanyu yang sudah melangkah masuk.
Alunan rambut hitam panjangnya bergoyang seirama dengan hentakan kakinya karna kesal. Lalu setelahnya gadis itu melangkah masuk kedalam juga.
Rumah yang selama kurang satu bulan mereka tinggalkan ini masih tetap sama,tata letak barang dan fornitur lain masih sangat rapi, debu pun sepertinya sama sekali tidak hinggap di bangunan dengan empat kamar dan dua kamar mandi ini.
Felysia tentu sangat merindukan rumah ini dan juga para tukang sayur langganan setiap paginya,atau kucing tetangga yang yang selalu datang setiap sore demi mendapatkan makanan darinya,apapun yang berkaitan dengan rumah ini Felysia merindukannya. Rumah yang bahkan sangat kecil jika dibandingkan dengan mansion megah maheswara,tapi tentu saja sangat nyaman ditinggali karna tak ada rasa iri hati dan kedengkian yang menyelimuti.
"Maaf karna aku, kita harus kembali tinggal dirumah ini daripada tinggal di mansion mewah itu."
Sebenarnya dengan kekuasaannya yang besar Abhimanyu bisa saja membeli mansion yang lebih megah dari pada milik maheswara, dengan hanya jentikkan jari itu bisa dia lakukan. tapi Abhimanyu tetap memilih membawa felysia kembali kerumah ini karena menurutnya istrinya akan selalu aman jika berada di sini.
Felysia menolehkan wajahnya, netranya menatap sendu melihat wajah tampan yang kini tampak kuyu dengan mata elangnya yang dipenuhi rasa bersalah.
"Tidak seharusnya kamu menyalahkan dirimu sendiri, kau yang selalu bilang seperti itu padaku. Kini sekarang kita akan tinggal disini dan aku menyukainya. Kau tahu, tempat yang nyaman untuk ditinggali dilihat bukan dari seberapa besar ataupun mewah tempat itu, tapi dengan siapa kita tinggal dan menghabiskan waktu di tempat itu." Felysia tersenyum.
"Lagipula di sini jauh lebih baik daripada di mansion, tak terlalu banyak orang dan kita bisa berinteraksi dengan para tetangga dan yang paling penting sejuknya udara segar yang tak bisa kita dapatkan di mansion bisa kita rasakan di sini." Kata felysia lagi,senyum gadis itu semakin merekah.
Seperkian detik Abhimanyu diam terpesona dengan kata-kata yang di ucapkan felysia. Gadis itu,ntah mengapa di mata Abhimanyu terlihat sangat cantik sekarang, dengan senyumnya yang damai. wajah putih bersih itu tampak menyejukkan dengan pipi putihnya kini tampak kemerahan Membuat Abhimanyu seperti dimabuk kepayang.
"Kenapa? Kenapa kau masih bertahan denganku dari pada meninggalkanku saja. Padahal sudah sangat jelas aku selalu bersikap buruk padamu hingga kau berkali-kali tersakiti." Abhimanyu berkata tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ntah." Felysia mengggidikan bahunya, "mungkin karna aku yang memang ingin selalu berada di sampingmu, menjadi penopangmu dan tempatmu kembali apapun keadaannya."
Akhirnya. akhirnya felysia bisa menyerukan isi hatinya selama ini, meskipun memang belum dikatakan cinta,tapi melihat kehidupan Abhimanyu, felysia memang bertekad untuk selalu berada di samping pria itu dan menjadi penyemangatnya apapun keadaannya.sampai pria itu sendiri yang memintanya untuk pergi.
Tak sampai satu tarikan nafas Abhimanyu merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya, Membuat felysia melotot kaget.
"Terimakasih." Kata pria itu,kini dagunya ia letakkan di atas kepala felysia, bibir pria itu membentuk senyum simpul.
"Untuk?" Felysia mempertanyakan. Tubuhnya yang tak lebih tinggi membuat felysia bisa mendengar langsung suara detak jantung Abhimanyu di telinganya.
"Karna sudah menjadi istriku." Ucap Abhimanyu,dia mengecup pucuk kepala itu.
"Aku beruntung memilikimu." Ujarnya lagi.
Mendengar pernyataan itu membuat felysia tak bisa untuk tidak tersenyum. Ntah kenapa dia merasa senang,terasa seperti ada ribuan kupu-kupu diperutnya, pelukan mereka terasa semakin menghangat.
Sementara Abhimanyu sendiri bukan termasuk tipe pria yang romantis bahkan terkesan kaku, kata-kata itu dengan sendirinya meluncur dari mulutnya. Felysia adalah satu-satunya gadis yang berhasil membuatnya seperti ini.
Abhimanyu lalu melerai pelukan mereka, tapi tangan pria itu tetap melingkar di pinggang sang istri. bisa dia lihat wajah felysia yang menahan senyum, membuatnya gemas sendiri.
"Kau tahu,aku serius ketika mengatakan kita harus mengubah nama panggilan." Ujar Abhimanyu.
"Bagaimana jika kau memanggilku dengan sebutan 'Mas' mulai sekarang kau harus memanggilku itu." Kata Abhimanyu lagi.
***
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya?" Abbas berkata sesaat setelah seorang dokter menutup pintu bercat putih itu.
Sang dokter dengan name Tag tergantung di jas putihnya itu membuka masker. Berdiri di depan ruang operasi kedua pria itu nampak bergeming sejenak.
"Keadannya sudah mulai stabil." Sang dokter menghela nafas pelan.
"Jelaskan dengan detail." Kata Abbas mulai penasaran.
"Seperti yang kita tahu, wanita itu benar-benar hamil dan sekarang telah kehilangan janin yang dikandungnya." Sang dokter menatap tak biasa ke arah Abbas.
"Kemungkinan karna kondisi stres yang dialaminya dan imun sang ibu yang sangat buruk membuat janin yang berusia 12 Minggu itu tidak bisa bertahan."
"Sekarang wanita itu sedang tertidur dengan cairan infus ditangannya, dan kemungkinan akan bangun setelah beberapa jam karna pengaruh obat biusnya."
Abbas mengangguk perlahan mendengar pernyataan sang dokter. 12 Minggu usia kehamilan Zeline, jadi kecurigaannya terhadap Arya selama ini benar. Keponakannya itu kemungkinan adalah ayah biologis dari janin yang dikandung wanita itu. Dia harus memperkuat dugaannya.
"Baiklah, tetap awasi wanita itu 24 jam, hubungi aku ketika dia sudah siuman."
Sang dokter mengangguk, " suster dan para perawat disini akan terus mengawasinya."
Sang dokter kemudian berlalu pergi meninggalkan Abbas setelah sebelumnya berpamitan untuk mengecek kondisi pasien sekali lagi.
Abbas membuka gawainya dan memencet sebuah nomor disana. Panggilan berdering sejenak lalu tersambung.
"Ada yang ingin Paman bicarakan padamu." Ucapnya pada orang di seberang telepon.
***
Plakk!
Satu tamparan telak mendarat di pipi Arya. Pria itu terkejut bukan main.
"Apa-apaan ini paman, kenapa kau tiba-tiba menamparku!" Arya mengusap pipinya yang terasa kebas.
Ntah apa maksud sang paman,baru bertemu sudah menamparnya seperti ini. Padahal rasa sakit akibat berkelahi dengan Abhimanyu masih sangat membekas dan lukanya pun baru mengering setelah di obati sang bunda tadi pagi,kini pamannya malah menambah luka baru.
"Tanyakan itu pada otak dangkalmu yang berada di lutut itu!" Sarkas Abbas Membuat Arya tersulut.
"Apa sih maksud paman,kenapa tiba-tiba datang dan marah seperti ini padaku!" Arya berkata bingung.
"Ini! Jelaskan padaku apa maksudnya ini!" Abbas menunjukkan sebuah foto di layar handphone bening itu, yang mana terdapat dua orang berbeda jenis kelamin tersenyum Dengan setengah bugil di sebuah ruangan. Arya tentu mengetahui siapa orang di foto itu.
"D-dari mana paman mendapatkan foto itu." Kata Arya tercengang. Itu adalah foto dirinya dengan Zeline saat sesudah mereka memadu kasih di sebuah hotel. Bagaimana pamannya bisa mendapatkan foto itu.
"Tidak perlu tahu aku mendapatkannya dari mana. Yang ingin kutanyakan sekarang, apa benar Zeline mengandung anakmu hah!" Abbas membentak.
"A-apa Zeline hamil?" Arya semakin tercengang dengan info itu.
"Dasar anak bodoh, jadi benar janin yang dikandung wanita itu adalah milikmu!" Abbas menoyor kening Arya.
"Tidak, maksudku .... " Suara Arya terbata,dia tidak bisa mengelak.
Bodoh,dia merutuki kebodohannya sendiri. Tidak seharusnya tadi dia menjawab panggilan sang paman. Cepat lambat memang semuanya akan terungkap.
Abbas mengambil nafas dalam, berusaha untuk tidak mencekik leher keponakan bodohnya ini.
"Apa kau tahu berapa banyak wanita yang sudah kubereskan karna ulahmu hah! Banyak Arya banyak sekali!"
"Apa kau tidak bisa menahan hasrat lib*do mu hah! Kalau saja yang kau tunggangi itu para jal*Ng aku tidak masalah. Tapi ini masalahnya kau melakukannya pada para wanita yang bisa saja mengancam kita!" Abbas semakin murka.
"Aish, tinggal kau lenyapkan saja wanita itu seperti biasanya,apa susahnya!" Arya berteriak tidak terima terus-menerus di sudutkan.
"Kau!" Abbas kembali melayangkan tangannya ingin menampar Arya, tapi gerakannya terhenti Membuat Arya bingung sendiri.
Abbas lagi-lagi menghela nafasnya sambil menggeleng perlahan. Terlalu banyak marah juga tidak baik untuk kesehatannya.
"Tidak semudah itu bodoh, masalahnya dia adalah seorang artis, publik figur dan wanita itu juga menyimpan banyak rahasia kita terutama kau!"
"L-lalu bagaimana paman, aku tidak mau masalah ini membesar." Arya menjadi kalut. dia takut masalah ini menyeruak, apalagi sampai terdengar langsung ke telinga sang ayah, dia tidak mau itu.
"Tidak ada cara lain, paman punya satu ide." Abbas memandang keponakannya.
__ADS_1
Satu rencana busuk telah terukir di otak Abbas.