Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 40


__ADS_3

Bugh!


Bugh!


Trak!


Abhimanyu menghabisi satu persatu orang-orang suruhan si penculik itu, 1-10 Abhimanyu bereskan hanya dalam waktu tak kurang dari 30 menit.


Krek! Bunyi patahan tulang yang renyah.


"Arghhh!" Teriakan melolong dari orang terakhir yang di habisinya.


Abhimanyu mendorong tubuh pria yang sedang kesakitan itu di antara para tubuh yang terkapar lainnya.


Ternyata kawanan mereka hanya punya modal badan kekar saja tapi tak ada teknik berkelahi, jadilah Abhimanyu bisa gampang membereskan mereka. Ketekunan dan kepiawaiannya belajar bela diri dan silat saat di penjara dahulu kini membuahkan hasil, dengan nafas tersengal Abhimanyu melihat senang para musuhnya itu terkapar mengenaskan.


Abhimanyu lalu berlari ke arah timur, pria itu Mengambil ponselnya yang berdering.


"Wah, ternyata kau sangat hebat,bisa menghabisi 10 orang-orangku hanya dengan tangan kosong."


"Jangan banyak basa-basi. Dimana kau? Dimana kau menyembunyikan istriku!"


"Baiklah, baiklah. Karna kau telah melewati rintangannya,aku akan memberitahumu."


Jeda sejenak. Abhimanyu menunggu dengan nafas memburu.


"Berjalanlah beberapa langkah lagi, tepat di belakang gudang. Istrimu sudah menunggumu di sana. Ingat jangan sampai terlambat ... "


Tutt! Abhimanyu mematikan sambungan sepihak sebelum si penculik itu menyelesaikan ucapannya. Dengan langkah lebar lelaki itu berlari dengan tergesa menuju tempat yang dibilang.


Dia sudah sampai berada di belakang gudang. Bau anyir bensin langsung menyergap hidung pria itu. Abhimanyu kemudian melangkah mendekat lalu mencoba membuka pintu gudang yang terkunci. Nihil, pintu itu terkunci dari dalam.


Brakk!


Dengan tidak sabaran pria itu mendobrak paksa pintu dengan kakinya. Suara serpihan dari material pintu membuat kabut debu yang beterbangan, Membuat penglihatannya sedikit mengabur.


Abhimanyu lalu masuk menyeruakan nama istrinya, "Felysia di mana kau? Di mana?!"


"Hmpp-Hmppp."


Abhimanyu mendekatkan telinganya samar-samar dia mendengar suara berontakkan tak jauh dari tumpukan jerami di gudang itu. Lalu dengan tergesa dia berjalan kecil menuju tempat di balik tumpukan jerami. Nihil,tak ada siapapun di sana.


"Kau mencari siapa Abhimanyu?"


Suara yang di sertai kekehan itu, Abhimanyu mengenalnya,itu suara si penelpon. Pria itu berbalik demi melihat siapa dalang dari semua ini.


Deg!


Netra hitam itu membulat sempurna. Abhimanyu bisa melihat Felysia yang kini sedang menangis dengan tangannya yang diikat dan mulutnya yang diperban. dan yang lebih mengejutkannya lagi Wanita di samping istrinya.


"Zeline!" pekik Abhimanyu.


"Yah ini aku.lama tidak berjumpa yah." tatapan wanita itu berubah.tersirat kebencian yang mendalam untuk Abhimanyu.


"Jadi kau orang dibalik semua ini." Abhimanyu mengepalkan tangannya, menatap tajam.


"Benar." Zeline tertawa keras.


"Hmpp-Hmppp." Felysia yang di samping Zeline memberontak.air mata gadis itu bahkan sudah sampai membasahi bajunya.


Abhimanyu yang melihat itu semakin meradang, "Apa yang kau mau dariku.lepaskan istriku!"


"Heuh, melepaskan istrimu? tidak semudah itu!" Zeline mencengkeram lengan felysia semakin kuat, Membuat gadis itu meringis.


"jangan mendekat!" Zeline berteriak melihat Abhimanyu yang berusaha mendekati.


"Sekali lagi kau melangkah,maka timah panas ini akan langsung melubangi kepala istrimu." Zeline semakin mendekatkan pistolnya ke arah kepala felysia.


Sh*it! Abhimanyu memaki dalam hati. dia hampir melupakan bahwa wanita itu sedang membawa senjata api di tangannya. dan dia di sini hanya bermodalkan tangan kosong, tidak membawa apa-apa.


Lalu tiba-tiba ntah datang dari mana, dua orang berseragam hitam datang menghampiri mereka dan berdiri di samping Zeline, Pria itu juga membawa senjata di genggamannya. Abhimanyu mengeratkan kepalan tangannya, Bedeb*h mereka menyerbuku, batin pria itu.


"Hmpp-Hmppp." Felysia kembali memberontak, gadis itu ingin mengatakan sesuatu. Abhimanyu mengarahkan pandangan ke arahnya.


"Heuh, sepertinya istrimu ingin mengucapkan kata-kata terakhirnya." Zeline menyeringai.


Lalu dengan tawanya, wanita itu melepaskan perban yang menutup mulut felysia dengan kasar.

__ADS_1


"M-mas, kumohon pergi dari sini, jangan berada di sini." Felysia menggeleng lemah dengan isakan tangis yang semakin pecah. "Dia hanya menginginkan dirimu,aku mendengar semua rencana mereka."


Abhimanyu yang belum mencerna situasi mencoba menatap istrinya lekat. ada apa ini? jadi bukan hanya Zeline dalangnya? siapa lagi? batin Abhimanyu bergejolak.


"Dengar, aku tak tahu apa masalahmu,tapi jika itu berhubungan denganku libatkan aku saja, lepaskan istriku." Abhimanyu berusaha bernegosiasi. di situasi seperti ini dia harus tetap rasional,tidak boleh gegabah jika tidak ingin Felysia celaka.


"Heuh, kata-kata yang sangat klise. kau ingin tahu apa yang aku inginkan darimu?"


Nafas Abhimanyu tercekat, "Apa? apa yang kau inginkan dariku?"


"Tentu saja kehancuranmu! HAHAHA." wanita itu lagi-lagi tertawa kencang.


"Sama seperti yang kau lakukan padaku, aku juga ingin kau mengalami hal sama, tersiksa dengan cara yang paling tragis, sampai kau menginginkan kematianmu datang lebih cepat. aku ingin kau tersiksa seperti itu!" Zeline dengan kemarahannya kembali menarik felysia dan menodongkan pistolnya Membuat gadis itu menjerit ketakutan.


Abhimanyu mengeratkan kepalan tangannya, dia mulai menyadari situasi ini, wanita itu ingin membalas dendam dengan apa yang dia lakukan padanya dahulu, terlihat dari kilatan amarah saat wanita itu menatapnya.


"Awalnya aku masih berusaha bersabar karna kau seorang wanita. tapi kini tidak lagi."


Dengan langkah gesit Abhimanyu melangkah ke samping lalu mendepak salah satu dari bodyguard Zeline Membuat pria itu jatuh tersungkur.


Bugh!


Abhimanyu menginjak dada pria itu lalu mengambil pistol yang digenggamnya. semua itu dia lakukan dengan gerakan cepat membuat semua yang berada di sans kelimpungan.


Abhimanyu menodongkan senjatanya ke arah Zeline, Membuat wanita itu melebarkan matanya.


"Si*lan! kau ingin aku membunuh istrimu hah!" nafas Zeline memburu, kini pistol yang di arahkan Abhimanyu tepat mengenai keningnya.


"jika kau berani melakukan itu,aku akan langsung membunuhmu disini."


Posisi mereka kini sama-sama tidak menguntungkan. mereka sama-sama menodongkan senjata. Zeline mencengkeram felysia dan menodongkan pistolnya di kepala gadis itu,dan Abhimanyu yang kini berada di depannya dan mengarahkan pistolnya ke arah dirinya.


"Kau pikir aku takut!" Zeline tersenyum miring.


Doorr!


Suara tembakan menggema di ruangan gelap itu.


***


Di depan mobil, di pinggir jalan tak jauh dari gudang kosong, Leo dengan beberapa bodyguard Abhimanyu sedang bersiap siaga, di situasi genting ini Abhimanyu belum memberikan kabar apa-apa, membuatnya berulang kali menelpon pria itu, Leo mondar-mondir dengan ponsel di tangannya,namun panggilan itu tak bergetar.


Leo menoleh, "Tidak. tuan muda menyuruh kita untuk tetap di sini,sampai dia sendiri yang memanggil."


"Tapi jika seperti ini akan berapa lama lagi, tuan muda pasti sedang dalam bahaya makanya tidak di hubungi." satu diantara mereka menyahut.


Leo menatap nampak menimang-nimang. dengan pertimbangan yang alot di kepalanya sendiri, Leo akhirnya mengangguk.


"baiklah, siapkan persenjataan dan tetap nyalakan earpiece kalian.kita akan menuju ke lokasi." titah Leo lalu diangguki mereka semua.


***


Brukk!


Pria dengan seragam hitam itu jatuh ke tanah dengan bersimbah darah.


Tembakan Zeline meleset, niatnya ingin menembak felysia namun naas Abhimanyu mengecohkannya dan meleset mengenai salah satu pengawalnya.


Zeline mematung,dia telah membunuh satu nyawa. seumur hidupnya yang dilakukanya hanya berakting dan bernyanyi berusaha membuat karirnya semakin melejit. tapi kini karna dendamnya dia telah mengorbankan nyawa seseorang.


brak! pistol yang di genggamannya jatuh ke tanah. tangan wanita itu bergetar hebat dengan tatapannya yang kosong.


"Aaaaaaaaa!"


Zeline berteriak, bayang-bayang itu kembali datang tentang penyiksaan yang dialaminya,tentang janinnya, adiknya dan semua kesakitannya. depresi wanita itu kembali kambuh.


Abhimanyu yang sempat terjatuh,kembali bangkit pria itu menatap heran ke arah Zeline. namun dia tak ada waktu untuk mencerna situasi, dengan kesempatan yang ada Abhimanyu buru-buru menghampiri felysia yang terduduk dengan ketakutan,pria itu lalu membuka ikatan di tangan felysia dan membuka perbannya.


"M-mas hiks." Felysia terisak, dia tak pernah berada di situasi yang seperti ini. dia sangat ketakutan.


Abhimanyu membantu Felysia berdiri dan memeluk gadis itu.


"Kau tidak apa-apa?"


Felysia mengangguk, "Aku tidak apa-apa."


Abhimanyu melepas pelukan mereka, pria itu mengambil pistol yang tergeletak, lalu menggamit lengan felysia.

__ADS_1


"Kita harus segera pergi dari sini!"


Keduanya lalu berlari ke arah luar, felysia sempat menoleh ke belakang, melihat ke arah Zeline yang kini sedang berteriak histeris.


"sial, kenapa wanita itu segala ngamuk sih!" Arya mengumpat menatap layar monitor persegi itu dengan jengah.


"Paman bagaimana selanjutnya?" Arya menatap sang paman yang masih duduk tenang di kursinya.


Memang di dalam gudang itu anak buah Abbas telah memasangkan cctv dan alat penyadap guna melihat dan mendengar apa saja yang terjadi di sana tanpa harus ikut campur. mereka pun ingin melihat kehancuran Abhimanyu.


"Kau tenang saja, Abhimanyu tidak akan lepas semudah itu." Abbas berpangku tangan.


"Padahal tinggal sedikit lagi si brengs*k itu lenyap." Arya memukul meja,marah.


Abbas tergelak, "Kau tidak usah khawatir keponakanku. Abhimanyu akan mati cepat atau lambat."


"Apa maksud paman?" Arya mengernyit.


"Aku sudah memerintahkan seluruh anak buahku untuk menghadangnya di pintu jalan. tak seperti sebelumnya Abhimanyu bisa mengalahkan mereka dengan mudah, mereka di persenjatai lengkap, Abhimanyu tidak akan mampu untuk melawan mereka."


Arya tertawa, "Kalau begitu,kali ini Abhimanyu akan benar-benar hancur."


"Tentu saja." Abbas tersenyum miring.


***


Abhimanyu dan Felysia terus melangkahkan kaki mereka menembus rerimbunan pohon di tengah gelapnya malam itu. Abhimanyu hanya berharap semoga mereka menemukan pemukiman penduduk agar Felysia bisa selamat,tidak yang lebih penting dari keselamatan istrinya.


Felysia dengan susah payah mengikuti langkah Abhimanyu yang lebar, sesekali wanita itu terhantuk karna gelapnya keadaan.


"Aduh!" Felysia mendesis. gadis itu tersandung.


Abhimanyu berhenti, "Kenapa?"


"Kakiku hanya tersandung,tidak apa-apa."


"Tunggu, kakimu terluka." Abhimanyu menyingkap sedikit bahan celana gadis itu.


Abhimanyu memeriksa luka lebam itu lalu meniupnya, "Apakah sakit?"


Felysia menggeleng.


"Baiklah." Abhimanyu berdiri, " sepertinya situasi sudah aman, Kita harus tetap berjalan lagi sampai menemukan pemukiman, pasti tak jauh lagi."


Felysia mengikutinya, berdiri. "Baiklah,ayo."


"Tunggu!" Abhimanyu menutup mulut felysia dengan telapak tangannya.


"Sttt!" Abhimanyu meletakkan telunjuk di bibirnya.


"jangan bicara,aku mendengar sesuatu." pria itu berbisik.


"Jangan lengah,kita harus menemukan Abhimanyu dan istrinya itu, Hidup atau mati!"


Suara titahan itu menggema, Abhimanyu menyadari mereka masih diintai dan kini anak buah Zeline masih mengejarnya, atau mungkin bukan anak buah wanita itu. apapun itu mereka harus lari.


"Ada apa mas?" felysia menatap bingung.


"Sh*it!" Abhimanyu memaki, "Kita harus cepat pergi dari sini,ayo." Abhimanyu menggamit lengan Felysia.


"Itu mereka! kejar!" segerombol pria dengan senjata menunjuk kearahnya.


Felysia Membulatkan matanya terkejut, Abhimanyu segera saja menarik gadis itu berjalan sebentar dan kini mereka berada di balik pohon, bersembunyi dari mereka.


"M-mas aku takut." Cicit Felysia. gadis itu gemetar dengan peluh membasahi.


"Jangan takut kau akan aman." Abhimanyu mengusap air mata yang membasahi pipi sang istri.


"Cepat atau lambat mereka akan menemukan kita. ini kau ambilah." Abhimanyu memberi pistol yang sedari tadi ia bawa ke tangan felysia.


"Gunakan pistol ini sebagai pelindung,kau pergilah ke arah jalanan tak jauh dari sini, Ada Leo dan para pengawalku di sana yang sudah menunggu. kau akan aman." Abhimanyu berkata dengan nafas tersengal.


"T-tapi bagaimana denganmu." tangis gadis itu pecah.


"Tidak usah khawatir,aku akan menghalau mereka dan akan segera menyusulmu." Abhimanyu mengecup sekilas kening itu.


"Cari lagi mereka tak jauh dari sini!" suara orang-orang itu menggema semakin keras dan mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Pergilah, cepat!" Abhimanyu memberi titah.


Felysia dengan isakan tangis yang semakin kencang terpaksa harus melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan Abhimanyu yang mungkin kini diambang Kematian.


__ADS_2