Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 65


__ADS_3

Bugh!


Bugh!


Abhimanyu terus memukuli Arya tanpa ampun, seperti memang tubuh Arya di ciptakan untuk menjadi samsaknya. Arya tak melawan namun pria itu menyeringai lebar.


"Mas, kumohon sudah,ini kantor polisi, kumohon .... " Felysia mencoba menenangkan sang suami dengan memegang lengannya,namun naas yang terjadi malah dia yang jatuh tersungkur karna Abhimanyu menyibak tangannya dengan kasar.


"Ada apa ini? Kenapa ada keributan?" Dua oknum polisi datang menghampiri mereka.


Abhimanyu menenggakkan badannya setelah di paksa untuk menyingkir dari Arya. Dengan nafas memburu, amarah itu masih menyelimuti dirinya bahkan kini lebih besar.


"Ini kantor polisi, jika ingin membuat keributan sebaiknya anda keluar!" Sang polisi berkata tegas.


Leo datang dengan tergopoh-gopoh, seperti biasa dialah orang yang akan membereskan masalah yang di buat sang tuan muda.


"Maaf pak jika insiden tak mengenakkan ini menganggu kalian,bisakah kita bicarakan baik-baik?"


Kedua oknum polisi itu saling melempar pandang lalu mengangguk.


Mata Leo lalu beralih menatap sang tuannya, kondisi Abhimanyu jauh sangat berbeda saat seperti tadi, tidak pernah Leo melihat Abhimanyu yang seperti ini. Sangat menyeramkan. Lalu matanya tertuju pada Arya yang kini sudah babak belur.


"Leo, kau bereskan ini!" Leo mengangguk mendengar titah itu.


"Dan kau." Abhimanyu menatap tajam ke arah felysia. "Ikut denganku."


Lalu pria itu menarik lengan Felysia dengan kasar Membuat wanita itu meringis mengikuti langkahnya, melewati Bella di ambang pintu yang menatap heran ke arah mereka.


"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini." Gumam Leo menatap kedua insani itu.


***


Brakk!


Abhimanyu membuka pintu apartemennya dengan kasar. Sengaja dia membawa felysia sampai kesini karna tempat ini yang paling dekat.


"Mas,bisa lepaskan tanganku ini terasa sakit, kumohon."


Abhimanyu tidak mendengarkan keluhan yang terus di lontarkan Felysia. Pria itu tetap menariknya dengan paksa masuk dalam.


"Mas kumohon tenanglah, ini sakit." Felysia terus berusaha melepaskan cekalan tangan Abhimanyu.


Abhimanyu terhenti, pria itu berbalik menatap nyalang ke arah wanitanya sekarang ini.


Bruk!


Abhimanyu mendorong tubuh Felysia hingga badan wanita itu membentur ke dinding. Kemarahan membuatnya melakukan itu tanpa sadar.


"Lebih sakit mana di bandingkan aku yang melihatmu bermesraan dengan pria itu!"


Felysia menggeleng lemah. "Tidak kau salah paham, tolong dengarkan penjelasanku."


"Penjelasan apalagi! Sudah jelas-jelas aku melihatnya, selama ini kau selingkuh di belakang ku, benar kan!" Ucap Abhimanyu dengan nada tinggi membuat felysia menjadi takut.


"Apa yang kau tuduhkan itu tidak benar, aku tidak seperti itu." Felysia terisak, Abhimanyu di depannya ini sungguh berbeda dengan Abhimanyu yang selama ini ia kenal. Dia seperti tidak mengenali suaminya sendiri.


Abhimanyu mendekatkan tubuhnya, dengan tatapan yang masih sama, Lelaki itu mengukung tubuh Felysia, dengan satu tangannya menempel di tembok.

__ADS_1


"Apakah karna pria brengs*k itu alasanmu menolak saat aku mengajakmu ikut ke Swiss? karna ingin bermesraan dengan dia Iyah?!"


"Jawab Stela!" Suara Abhimanyu terdengar membentak.


Felysia bergeming dengan air mata yang terus meluncur deras.merasa takut dengan Abhimanyu yang sekarang.


"Sekarang jawab pertanyaan ku dengan jujur, apakah kau masih mencintai Arya?"


Felysia tak langsung menjawab, bibirnya seakan keluh, karna melihat kemarahan Abhimanyu kali ini.


"Jawab pertanyaan ku Stela!" Abhimanyu kian meninggikan suara.


"Apakah kau masih mencintai pria brengs*k itu?"


Felysia tak kunjung menjawab karna ketakutannya, pria di depannya ini terlihat seperti monster sekarang.


Abhimanyu mengangguk-angguk pelan dengan tatapannya yang kini mulai meredup, seperti menerima bogem mentah, pria itu dihadapkan dengan kenyataan yang sama sekali tak ingin dia tahu.


"Kau terus diam seperti ini berarti dugaanku benar, kau masih mencintai Pria itu."


Felysia menggeleng dengan air mata yang sudah menganak sungai. Apa yang di ucapkan Abhimanyu itu sungguh tidak benar. Selama ini cintanya hanya untuk pria itu, bagaimana bisa Abhimanyu berfikir kalau dirinya mencintai pria lain, sementara yang selalu di hati dan pikirannya hanya ada pria itu seorang.


"Selama ini akulah yang bodoh, karna menganggap kau juga mencintaiku." Tak bisa lagi menahan kesedihannya, Abhimanyu justru malah tertawa. Namun tawa itu justru terdengar sangat pedih.


"Kenapa Stela? Kenapa?!"


Brakk!


Abhimanyu melempar sebuah kursi yang dia ambil asal ke arah tembok, hingga membuat kursi itu terpental mengenaskan.


"Kenapa cintamu bukan untukku! Kenapa kau mencintai pria lain!"


Abhimanyu kini mulai menatap sang istri dengan lamat-lamat.


Lelaki itu mendengus, "Lagipula mana mungkin kau mencintai pria kriminal seperti diriku,ya kan?" Suara Abhimanyu terdengar lemah.


Lalu lelaki itu berbalik, setelah mendepak patahan kursi yang ada di depannya dengan amarah yang meluap dan berjalan menuju kamarnya berada.


Setelah kepergian Abhimanyu, Felysia berdiri dengan susah payah, wanita itu sempat terjatuh karna patahan kursi yang di tendang Abhimanyu mengenai kakinya. pergelangan tangannya juga terasa sangat sakit sekarang, karna Abhimanyu benar-benar mencengkeramnya dengan kuat.


Langit malam terlihat ketika felysia memandang ke arah jendela, tempat ini terasa asing untuknya,meski dia sudah tahu jika ini adalah apartemen lama Abhimanyu, tempat pria itu tinggal sebelum menikah.


Wanita itu kembali terisak, ini semua adalah salahnya. Salahnya karna tidak memberitahu Abhimanyu tentang rencananya, salahnya tidak meminta ijin terlebih dahulu sebelum membuat keputusan. Hingga akibatnya semua ini telah menjadi kesalahan pahaman yang menghancurkan mereka berdua.


Felysia berjalan pelan menyusul Abhimanyu, dia harus menjelaskan semuanya dan meluruskan kesalahpahaman ini segera.


Sementara Abhimanyu di kamarnya tampak sangat berantakan, Jas biru navy yang melekat di badannya kini ia lepas dan melemparnya ke sembarang arah. Dasinya yang mulai terasa mencekik juga ia tarik dengan kasar.


Bayangan bagaimana Arya yang memeluk dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya, membuat dia kembali naik pitam. Pria itu lalu terduduk di lantai, punggungnya ia sandarkan di tepi ranjang dengan menekuk satu lutut,tampak wajahnya yang kini terlihat sangat frustasi.


"T-tuan."


Abhimanyu menoleh, melihat Felysia yang muncul di ambang pintu, wajah wanita itu tampak sangat sembab dengan air mata yang terus mengalir.


Sementara Felysia berdiri dengan takut-takut, karna kesungkanan Membuat wanita itu kembali memanggil Abhimanyu dengan panggilan 'Tuan'.


"Maafkan aku." Felysia kembali terisak, "Maaf .... " lirihnya.

__ADS_1


Hening sejenak, Lalu Abhimanyu berdiri, Menghela nafas panjang, dia sadar jika dirinya juga sudah keterlaluan. kemudian pria itu berjalan menuntun Felysia untuk duduk di tepi kasur. lalu pria itu sendiri berjongkok sambil menggenggam satu tangan sang istri.


"Jika kau tidak ingin melihatku yang seperti ini lagi, jangan membuatku marah."


Felysia mengangguk kecil, "Maaf,maaf karna tidak ijin dulu denganmu, dari awal aku hanya ingin membantu Bella untuk bisa bertemu dengan Arya karna ayah mertua tidak mengijinkannya. Lalu tidak kusangka Arya malah melakukan hal seenaknya padaku di sana." Terang Felysia menjelaskan semuanya.


"Sudah jangan menangis lagi." Abhimanyu mengusap air mata di pipi istrinya.


"Aku hanya kesal,aku marah karna kau yang tidak mematuhi ucapan ku, sudah ku katakan jangan pernah menemui pria itu lagi kan. tapi apa,kau malah menemuinya bahkan tanpa aku ketahui. ingat kau adalah wanita bersuami, Stela."


Felysia menangis, menyesali semuanya. "Maaf semuanya memang salahku. aku berjanji tidak akan menemuinya lagi."


Mendengar nada penyesalan yang tulus dari felysia, Segera saja Abhimanyu merengkuhnya dalam pelukan,bisa ia rasakan suhu tubuh sang istri yang mendingin.


"Kau adalah belahan jiwaku Stela, melihatmu selalu dalam bahaya Membuat duniaku seolah berhenti. jadi aku mohon, jangan pernah menempatkan dirimu dalam bahaya seperti ini lagi." bisik Abhimanyu dengan suaranya yang serak.


Felysia mengangguk dalam dekapan hangat Abhimanyu, lalu pria dengan kemeja hitam itu melepaskan pelukannya.


Abhimanyu menatap intens wajah cantik sang istri.


"Aku ingin memastikan satu hal padamu, Apakah kau masih mencintai--"


Menyadari apa yang akan di tanyakan Abhimanyu, Felysia buru-buru saja menggeleng, Membuat pria itu tidak menyelesaikan ucapannya.


"Sejak dulu aku tidak pernah mencintai Arya,kau salah paham. bahkan di saat aku dekat dengannya dulu, tidak pernah ada cinta di antara kami."


Abhimanyu terdiam, membiarkan sang istri menyelesaikan ucapannya.


"A-aku hanya mencintaimu, sejak pertama kita bertemu,sejak pertama perasaan itu tumbuh, cintaku hanya untukmu."


Abhimanyu yang mendengar kata-kata itu langsung saja menarik tengkuk milik wanitanya dan mencium bibir mungil yang sialnya kini sudah mulai menjadi candu baginya.


"Aku mencintaimu," ucap Abhimanyu, mengelus lembut pipi Felysia.


"Aku juga mencintaimu," ucap Felysia yang kini menitikkan air mata, terharu.


Hening kembali, kedua sama-sama menatap dalam dengan nafas tak beraturan, berusaha menyalurkan kerinduan selama beberapa hari tidak bertemu.


"Stela, boleh kah?"


Felysia sangat kaget saat tangan Abhimanyu tiba-tiba saja sudah menurunkan resleting dress-nya dari belakang. Sementara wajah pria itu tenggelam dalam ceruk lehernya.


Lalu Abhimanyu kembali memandang dirinya, melihat wajah Abhimanyu yang seperti memohon Membuat Felysia terkikik, pria itu terlihat sangat menggemaskan seperti seekor kucing imut.


Felysia mengangguk, "Tentu saja." sambil mengelus lembut pipi Pria itu.


Bruk!


Felysia Membulatkan mata kaget, Abhimanyu mendorong tubuhnya pelan hingga tertidur di kasur. Abhimanyu terlihat sangat berbeda sekarang,mata pria itu menatap teduh penuh cinta.


"Kau sudah mengijinkannya,jadi jangan menyesal."


Abhimanyu mulai merengkuh tubuh Felysia yang berada dibawahnya. satu tangan ia gunakan untuk menahan kedua tangan sang istri.


Sementara Felysia mulai merasakan hal aneh, karna ini pertama kali baginya. Wanita itu memejamkan mata saat sensasi dingin menerpa lehernya. Tubuhnya meremang saat usapan lembut dari tangan kokoh pria itu menyapa perut serta punggungnya.


Menelan Saliva kasar, Tangan Abhimanyu semakin intens mengusap seluruh permukaan kulitnya.menutup mulut, Felysia berusaha menahan suaranya yang menurutnya terdengar aneh.

__ADS_1


"Jangan di tahan." Abhimanyu melepaskan tangan wanita itu yang menutup bibir mungilnya.


"Berteriaklah jika terasa menyakitkan atau kau bisa mencengkeram bahuku, karna aku tidak akan bisa berhenti setelah ini."


__ADS_2