
"Apa! paman Manaf berada di rumah?" wanita itu mengeratkan genggaman tangannya di gagang telepon. dia menggigit kukunya kuat menandakan ketakutan yang mendalam.
Saat ini dia sedang menelpon salah satu pelayan di mansion yang telah menjadi mata-matanya di sana.
"Baiklah, tetap diam di situ dan awasi keadaan di sana untukku." angel menutup sambungan telponnya dengan kesal.
Brakk!
Wanita itu melempar benda pipih yang di genggamannya tepat mengenai tembok. membuat pecahannya berhamburan kemana-mana.
"Sial*n! kenapa lelaki tua itu bisa berada di sini?! si*l, si*l !" angel menggeram kesal. nafasnya memburu menahan amarah.
Mr.Manaf yang saat kecil sering di panggilnya 'paman'. angel dulu mengormati orang tua itu,tapi ntah kenapa semenjak dia beranjak remaja pak Manaf jadi membencinya, ayah Abhimanyu itu tak pernah lagi menyukainya. orang tua itu beralasan jika angel adalah anak pembangkang, suka berpakaian seksi dan pergaulannya terlalu bebas,dia tidak mau angel membawa pengaruh buruk untuk Abhimanyu.
Mengingat hal itu angel mendengus, "Cih, tua Bangka Sok suci!" desisnya.
Kini karna ada kehadiran orang tua itu di mansion, membuatnya tidak bisa kembali ke sana. padahal dia sudah susah payah merayu Abhimanyu untuk memperbolehkannya tinggal di mansion.
Dengan alasan dia takut tinggal sendiri di apartemen, sampai rela berbohong kepada ayahnya,bahkan sampai harus berakting nangis dan menurunkan harga dirinya di depan pria itu. angel akhirnya bisa berduaan dengan Abhimanyu di satu atap bersama. tapi kini semuanya rencananya sia-sia karena Abhimanyu tidak juga luluh padanya, meskipun dia sudah sering menggoda laki-laki itu dengan keseksiannya.
"Arrgh! kenapa wanita sund*l itu tidak mati saja sih." teriaknya penuh amarah.
Sekelebat ingatan muncul di kepalanya, benar juga saat dia mendorong tubuh felysia dari tangga jaraknya tidak terlalu tinggi. Argh, dia mulai merutuki kelalaiannya itu. harusnya tadi wanita itu sudah mati jika dia mendorongnya dari jarak jauh.
Kini dia pun hanya bisa berdiam diri di apartemennya sejak penyerangnya kepada felysia, Angel memutuskan untuk kembali ke apartemen karna takut Abhimanyu akan memberinya pelajaran karna sudah menyakiti gadis itu.
"Felysia dan tua bangka itu adalah penghalang terbesarku." desisnya.
"Arrgggh! bikin kesal saja. dasar bangs*t kalian berdua!" angel berteriak kesal dengan mata melotot.
Merasa pikirannya makin kusut, angel berdiri dari tempat duduknya, dia membenarkan rambutnya yang tadi sempat berantakan. wanita itu mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"kedua orang itu sungguh membuatku kesal. hari ini aku akan bersenang-senang dahulu. persetan dengan mengejar Abhimanyu. aku akan menaklukkan pria dingin itu nanti." serunya lalu tersenyum girang.
Sudah sedari awal tujuannya adalah untuk menghibur diri ke club malam ini bersama dengan teman-temannya. jika bukan karna laporan dari mata-matanya tadi yang membuat moodnya langsung turun drastis.
Wanita itu membenarkan dress seksinya yang menonjolkan belahan dadanya, dress sepaha itu sangat nge-press di tubuhnya, Membuat lekuk tubuh bak gitar spanyol kebanggaannya terpampang jelas.
"Sekarang saatnya aku bersenang-senang. Ah, sudah lama tidak berjoget ria bersama pria tampan di club malam."
Angel lalu mengambil kaca kecil dan menorehkan lipstik merah terang di bibirnya tebal.
Dia memandang bayangan wajahnya di kaca, "Sempurna." ucapnya tersenyum.
"Aku akan bersenang-senang di club sampai pagi datang, Hahaha." angel tertawa.
"Ah, surga dunia.aku datang." ucapnya lalu berjalan ke luar pintu.
***
Pagi kembali menyapa,di kediaman keluarga Maheswara, keheningan di meja makan itu nampak sangat mendominasi. Mr.manaf selaku yang tertua di sini, duduk di kursi rodanya yang berada di ujung meja. Aura kekuasaan yang di pancarkan nya terlalu kuat membuat siapa saja yang memandang mata tua itu akan langsung ciut.
Di samping kanan tampak felysia duduk dengan tidak nyamannya,dia belum terbiasa dengan kehidupan keluarga kolongmerat seperti ini, bahkan aura yang sedari tadi terpancar sungguh membuatnya sesak. apalagi ada Arya di seberang meja sedari tadi menatap ke arahnya dengan tatapan aneh Membuatnya semakin tidak nyaman.
Sementara di samping kiri nampak ibu mertuanya, Sinta dengan pakaian modisnya, wanita setengah baya itu tampak masih segar dan cantik dengan rambut yang di sanggul rapi.
Di samping Sinta, Arya putranya duduk dengan keangkuhannya, pria Flamboyan dengan sejuta pesona yang kuat, jas yang di biarkan terbuka dengan aksesoris gelang dan anting yang menghiasi. Membuat kesan Arya memang tampak jauh berbeda.itulah Ciri khas seorang pengembara cinta seperti dirinya.
Mereka bertiga berkumpul di pagi ini bukan untuk sarapan. mungkin nanti, tapi setelah mr.manaf menjelaskan tujuan kenapa dia meminta semua orang berkumpul dahulu. Ketiga orang itu menunggu kedatangan Abhimanyu, agar rapat kekeluargaan yang mendadak ini segera terlaksana.
Sementara tak jauh dari meja makan ada pak Herul dan bi ati yang berdiri sambil melipat tangan ke depan. Kedua orang ini juga memang di libatkan karna mereka yang bertanggung jawab atas urusan mansion dan keamanannya.
"Kenapa Abhimanyu lama sekali? Kemana anak itu?" Ucap Mr.manaf melirik sekilas jam di pergelangan tangannya.
"Biasa lah yah, mungkin pagi ini dia masih linglung dan berfikir dia masih berada di dalam penjara, makanya bisa seenaknya memakan waktu orang untuk menunggu seperti ini. Tampaknya kerasnya jeruji besi telah menumpulkan otaknya juga hahaha," ujar Arya dengan tawa kencangnya di akhir.
Mr.manaf yang mendengarnya tampak geleng-geleng kepala, kapan kedua putranya ini bisa akur?
"Cara bicaramu sungguh mencerminkan kepribadian mu Arya. Pria manja yang masih berlindung di balik punggung ibunya,mana mungkin bisa menghargai orang lain."
Abhimanyu menuruni tangga dengan Stelan jas rapi, pria itu tersenyum jumawa dengan kedua telapak tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
Arya yang mendengar nada ejekan itu, mengerutkan keningnya,kesal. Lalu pria itu tertawa.
"Ya ya. Tidak apa-apa, setidaknya aku bukan pria kriminal seperti dirimu,ya kan?" Arya menaikkan satu alisnya.
Di balik saku celananya itu Abhimanyu mengeratkan kepalan tangannya,ingin sekali memberikan bogem mentahnya kepada wajah pria itu. Namun seperkian detik kemudian netra hitamnya bersibobrok dengan manik coklat terang felysia. Gadis itu menatapnya penuh khawatir.
Melihat wajah istrinya, raut muka penuh amarah Abhimanyu kembali mengendur, felysia bagaikan air yang selalu bisa meredakan api amarahnya. Pria itu kemudian menghampiri felysia dan duduk disampingnya.
"Maaf jika Membuat mu takut," ucap Abhimanyu tiba-tiba, sambil tangannya mengelus lembut telapak tangan mungil felysia.
Felysia menggeleng, " sama sekali tidak tuan."
Seperkian detik mereka terhanyut dalam tatapan. Tanpa memperdulikan bahwa ada manusia lagi di sini yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Ekhem!" Mr.manaf berdehem keras, Membuat kedua pasangan itu memutuskan kontak mata mereka.
Sementara Arya yang melihat kedekatan mereka, semakin kesal dibuatnya. pria itu menggertakan giginya, tak suka.
"Baiklah,apa sekarang aku sudah bisa bicara?"
"Tentu," kata Abhimanyu dan felysia secara bersamaan, mereka mengangguk salah tingkah.
Nyonya Sinta yang sedari memperhatikan kedua sejoli itu terkikik geli, geleng-geleng kepala seperti berkaca pada masa mudanya dahulu.
Mr.manaf berdehem sebentar, pertanda bahwa kondisi sudah mulai serius dan apa yang akan di sampaikannya harus di simak baik-baik.
"Seperti yang kalian tahu,aku dan istriku baru tiba dari Indonesia kemarin malam, jadi aku baru bisa menyampaikan apa yang ingin kukatakan dan kutanyakan hari ini. Terutama tentang apa saja yang terjadi di mansion ini selama aku tidak ada."
Mr.manaf melayangkan tatapan penuh selidiknya kepada Abhimanyu. Abhimanyu yang mengetahui tatapan itu balas menatap sang ayah tak gentar. Karna memang ayahnya membutuhkan penjelasan darinya.
"Dan untuk pak Herul dan bi ati yang sudah bertanggung jawab untuk mengurusi mansion selama aku tidak ada, aku mengucapkan terima kasih." ucapnya dengan nada rendah memandang kedua orang yang berdiri tak jauh darinya.
Pak Herul dan bi ati mengangguk tersenyum samar saat tatapan Mr.manaf mengarah ke arah mereka.
"Dedikasi dan totalitas kalian dalam pekerjaan ini akan mendapatkan penghargaan berupa Bonus gaji dariku." Lanjutnya.
Pak Herul dan bi ati mengangguk bersamaan, "Terimakasih tuan besar." Seru mereka berbarengan.
Mr.manaf mengangguk, tersenyum samar.
"Baiklah hanya itu yang ingin ku sampaikan kepada kalian berdua. Kalian bisa pergi melanjutkan pekerjaan."
Pak Herul dan bi ati membungkuk hormat bersamaan setelah itu mereka berjalan pergi meninggalkan area meja makan.
Mr. Manaf menatap kepergian mereka berdua sekilas setelah itu dia hendak membuka suara kembali tapi terhenti saat Abhimanyu mengangkat lengannya.
"Maaf, sebelum kau melanjutkan. Bolehkah aku bertanya dahulu?" Tanya Abhimanyu menyela.
Mr.manaf mengangguk, " silahkan. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Kenapa bisa ada pria brengs*k itu juga di sini? Bukankah dia sudah hidup bahagia bersama pacarnya yang sedang hamil di Sydney?" Kata Abhimanyu memandang sengit ke arah Arya.
__ADS_1
"Kelihatannya kau sangat membenciku ya kak? Memangnya apa sih salahku padamu?" Ucap Arya menyeringai dengan menggosok cincin batu akik yang berada di jari telunjuknya.
"Kau yang lebih tahu kenapa aku sangat membencimu," ujar Abhimanyu menatap tajam.
Mr.manaf menghela nafasnya pelan.
"Aku yang menyuruhnya untuk pulang kesini. Aku mendesakknya untuk segera pulang ke tanah air dan meresmikan pernikahannya dengan Bella, wanita yang sedang mengandung anaknya itu."
Felysia yang mendengar nama adik sepupunya di sebutkan, tampak gelisah di tempat. Dia memilin bahan gaunnya guna menutupi kegelisahannya.
"Seperti yang kau tahu, usia kandungan wanita itu sudah semakin besar dan apalagi kali ini Arya ingin mempertahankan bayinya. Aku cukup senang ketika mengetahui hal itu, makanya aku ingin keduanya meresmikan hubungan mereka, agar cucuku kelak memiliki keluarga utuh."
"Apakah penjelasan ku sudah cukup membuat mu puas?"
Abhimanyu mengangguk, "baiklah, aku mengerti."
Sebenarnya Mr. Manaf sangat terpuruk di awal ketika mendengar laporan bahwa Arya telah menghamili seorang gadis muda dan yang membuatnya cukup terkejut gadis itu adalah sepupu dari menantunya felysia. Sungguh dunia terasa sempit karena satu kebetulan ini. Pada akhirnya dia mau tak mau harus menerima janin itu sebagai anggota keluarga Maheswara kelak dengan syarat Arya harus meresmikan hubungan nya dengan Bella sebagai sepasang suami-istri.
"Kau dengar itu Abhimanyu,aku yang akan memberikan cucu pertama untuk keluarga ini. Anak ku kelak yang akan mewarisi perusahaan dan semua kekayaan mu," ucap Arya dengan nada mengejek.
"Heuh." Abhimanyu mendengus, "aku tak cukup yakin untuk itu."
"Kenapa? Kau iri?" Arya menyeringai.pongah.
Abhimanyu tertawa sekilas mendengar pertanyaan bodoh itu.
"Asal kau tahu. Aku bisa saja sepertimu. Tapi sayangnya aku bukan pria bajing*n seperti dirimu yang bisa tidur seenaknya dengan wanita malam dan menabur benih di mana-mana,aku tidak sebej*t itu."
"Kau!" Arya mengeram kesal mendengarnya. Dia sudah berdiri dengan urat-urat lehernya yang terpampang nyata.
Sementara Abhimanyu menyikapi kemarahan Arya itu dengan santai.
"Arya, jaga sikapmu. Duduk!" Mr. Manaf berkata tajam.
Arya yang sudah kepalang marah berusaha mengatur nafasnya dan duduk kembali dengan membetulkan kerah jasnya.
"Di sini kau jangan memojokkan Arya saja, sayang. Salahkan juga sikap putramu yang sengaja menyulut emosi putraku." Nyonya Sinta bersuara sejak sedari tadi diam saja memperhatikan.
Abhimanyu berdecih, Lagi-lagi pembelaan yang tak mendasar dari ibu tirinya untuk putra kesayangannya itu. membuatnya muak, kini Sinta telah menunjukkan sifat aslinya.
"Aku tidak akan berkata seperti itu,jika putramu tidak memulainya dahulu." ketus Abhimanyu.
"Kau! bagaimanapun aku ini adalah ibumu, jaga nada bicaramu padaku!" Ucap Sinta meradang.
"Sinta, sudahlah." Mr.manaf berkata pelan namun tegas menyuruh istrinya untuk duduk kembali.
"Sudahlah Bun,mafia seperti dirinya mana bisa menghargai kita yang selalu dianggap nya orang luar. Bahkan dari dulu dia tidak pernah menganggapku sebagai adiknya," ucap Arya seolah sedang playing victim. Dia memandang ke arah ayahnya guna mendapat simpatinya.
"Benar apa yang di katakan Arya. Abhimanyu lain kali kau harus merubah sifat jelekmu itu. Ingat,kau adalah seorang pemimpin." Mr. Manaf berkata tajam.
Abhimanyu sudah bisa menebak itu, pada akhirnya disini dialah yang selalu di sudutkan. Sementara Arya yang berada di dekat ibunya menyeringai puas melihat air muka Abhimanyu.
Felysia yang memperhatikan itu memandang sendu ke arah Abhimanyu. Pantas saja pria itu tidak terlalu menyukai nyonya Sinta dan arya, inilah alasannya. Bisa dia bayangkan bagaimana keadaan Abhimanyu yang selalu sendiri dengan orang-orang di sekitarnya yang tidak memperdulikannya dan selalu memojokkannya.
"Baiklah, sekarang pertanyaan untuk mu Abhimanyu." Ucapan Mr.manaf mulai terdengar serius.
"Menurut laporan dari pak Herul, felysia sempat terluka dan bahkan terjatuh dari tangga. Dan itu semua adalah ulah dari angel yang di rumorkan media adalah selingkuhan mu? Apa itu benar?"
"Dan juga ada laporan jika kau akan menjalani pertunangan dengannya? Apa-apaan ini sebuah lelucon kah?!" Pak manaf meninggikan suaranya.
"Dan lebih dari itu kenapa bisa wanita itu tinggal di sini, di mansion ku, Tanpa persetujuan ku.aku menyerahkan mansion ini agar bisa di tinggali oleh kau dan istrimu. Bukan berarti kau bisa seenaknya membawa orang asing kesini dan memperbolehkannya untuk tinggal!"
Nafas Mr.manaf naik turun tidak beraturan saat dia selesai menyeruakan pertanyaannya kepada Abhimanyu. Hal itu membuat Sinta buru-buru berdiri dan menghampiri suaminya.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Sinta mengusap bahu sang suami.
Abhimanyu yang melihat itu menunduk, mengeratkan genggaman tangannya. Ayahnya sampai emosi itu karna dirinya hal itu wajar. Dia telah membiarkan kekacauan ini terlalu lama. Semuanya memang salah dirinya.
Arya yang menyadari ketegangan di antara dua orang ini menyeringai memikirkan sebuah ide bagus di otaknya.
"Wah wah aku tidak menyangka ini kak,kau adalah seorang pria beristri lalu kau membawa seorang wanita untuk tinggal satu atap bersama. Sekarang lihatlah, siapa yang lebih bej*t di sini?" Arya tertawa sambil bertepuk tangan seolah ini adalah hal yang lucu.
Arya menatap Abhimanyu yang hanya bergeming,dia tidak puas dengan reaksi Abhimanyu yang diam saja seperti ini.
"Tunggu apalagi Abhimanyu,kau jawablah pertanyaan ayah. Kuharap kau tidak mengalami kebisuan mendadak karena hanya diam saja seperti itu."
Felysia yang sedari tadi menyimak saja menjadi tak tenang, raut wajahnya menunjukkan kegelisahan untuk Abhimanyu. Pria itu hanya diam saja justru semakin membuatnya takut.
"Tuan ... " Felysia mengelus telapak tangan itu membuat si empunya menoleh.
"Tidak apa-apa." ucapnya, Abhimanyu mengeratkan genggaman mereka.
Abhimanyu mendongak, membusungkan dadanya.menanatap langsung ke arah ayahnya.
"Untuk semua masalah ini aku minta maaf ayah jika menganggu pikiranmu. tapi di sini sepenuhnya adalah salahku. jalan libatkan siapapun, apalagi angel."
"Kenapa seperti itu? kenapa terkesan kau ingin sekali melindungi wanita itu?" tanya pak manaf.
"Karna semuanya berawal dari ku. andai aku menghentikannya saat itu, ini semua tidak akan terjadi."
"Lalu bagaimana dengan felysia? apa kau tidak pernah berfikir tentang bagaimana perasaannya? ingat Abhimanyu, di sini felysia yang sangat tersakiti. kau jangan sampai menutup mata dan hanya memperdulikan angel saja, wanita yang bahkan tidak ada hubungan apa-apa dengan mu."
Abhimanyu menghembuskan nafasnya pelan, tatapan matanya kini terjatuh pada felysia yang berada disampingnya, gadis yang kini memandangnya dengan raut cemas.
"Untuk itu aku sudah meminta maaf kepadanya." Abhimanyu berkata lirih.
"Benarkan Stela?" Abhimanyu memandang felysia penuh harap. sejujurnya dia sama sekali tidak ingin memperpanjang masalah ini.
Felysia balik memandang Abhimanyu. dengan semua yang terjadi, apakah dia harus memaafkan Abhimanyu dengan mudah seperti ini? tapi sejujurnya dia pun sama seperti Abhimanyu, tidak ingin memperpanjang masalah.
Kini semua mata tertuju padanya, menunggu Jawaban yang akan dia berikan. Felysia gugup sendiri, lalu kemudian dia menghela nafas panjang.
"Benar,aku telah memaafkan mas Abhimanyu untuk semua masalah ini." felysia mengangguk tersenyum.
Felysia memandang ke arah Abhimanyu. dia bertanya dengan raut wajah " Apakah aktingku tadi bagus" seperti itulah kira-kira.
Memang sebelum ini Abhimanyu telah berpesan padanya agar nanti di depan keluarga mereka harus berakting seperti sepasang suami-istri yang bahagia,jadi dia harus mengubah panggilannya ke Abhimanyu jika bicara di depan keluarga.
Abhimanyu yang mengerti tatapan itu, mengangguk pelan dalam diam. sebenarnya dia berusaha menahan bibirnya yang berkedut ingin tersenyum,karna felysia yang memanggilnya dengan sebutan 'Mas' sungguh membuat dadanya menjadi berdesir,ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.
Pak manaf berdehem sekilas, " kenapa kau dengan mudahnya memaafkannya,kau tahu Abhimanyu sudah sangat menyakitimu,membawa seorang wanita untuk tinggal bersama, apa itu tidak mengusikmu?"
Felysia yang mendengar pertanyaan itu gugup sendiri,dia pun tidak tahu harus menjawab apa. apakah pak Manaf tidak tahu bahwa pernikahan mereka hanya sekedar kontrak, apakah Abhimanyu tidak memberitahukannya.
Bagaimana cara dia mengatakannya.
"Ayah sudahlah, jangan terus memojokkannya. lagi pula dia sudah memberikan alasannya kan," kata Abhimanyu.
Mr.manaf menatap tajam ke arahnya, "aku tidak berbicara padamu,tapi berbicara kepada istrimu."
Pandangannya lalu beralih kepada felysia, " Ayolah nak, jangan takut Jawab pertanyaanku, apakah angel sebelum ini juga pernah menyakiti mu?"
Abhimanyu yang sudah tidak tahan,lalu berdiri dari duduknya.lalu pria itu menggamit tangan felysia.
__ADS_1
"Sepertinya pembicaraan ini harus terhenti di sini. Ayo felysia." Abhimanyu berkata dingin menarik pelan tangan istrinya untuk mengikuti langkahnya.
Sementara felysia yang tak tahu apa-apa hanya bisa mengikuti langkah Sang suami Membuatnya terseret-seret.
"Tunggu!" lengkingan itu membuat langkah Abhimanyu dan felysia terhenti.
Bukan, itu bukan suara ayahnya, tapi itu suara Arya.
"Kau pengecut sekali Abhimanyu. hal sepele seperti ini saja kau tidak mau menjelaskan kepada kami." Arya menghampiri mereka berdua.
Abhimanyu berusaha menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan amarahnya kali ini. ntah kenapa setiap kali ia berhadapan dengan Arya amarahnya akan langsung tersulut.
"Aku bukannya lari dari masalah, tapi aku akan menjelaskannya hanya bertiga saja dengan ayah nanti." ucapnya.
"Kenapa tidak dijelaskan saja langsung di sini bersama kami?" Arya menyeringai.
"Apa kau takut. takut semua kebusukan mu akan terbongkar di sini." ucap Arya lagi memanas-manasi.
Pria itu bergeming, tidak memperdulikan pertanyaan yang dilontarkan Arya.
Abhimanyu kini memandang pak manaf lekat meminta persetujuan orang tua itu. pak manaf hanya bisa menghela nafas pelan.
"Baiklah,aku menunggu penjelasan kalian di ruangan kerjaku nanti." ujarnya.
Abhimanyu menyunggingkan senyum meremehkannya kepada Arya,lalu pria itu berbalik lagi dengan masih menggenggam tangan istrinya.
"Eits ... tunggu. mau kemana sih buru-buru sekali." Arya menghadang mereka dengan memegang pundak Felysia.
Abhimanyu yang melihat itu menatap tajam dan langsung saja menghentak kasar tangan Arya di punggung sang istri.
"Ouh, santai bung, aku hanya memegangnya pelan." kata Arya dengan mengangkat kedua tangannya.
"Lagipula sebelum ini aku juga sudah sangat sering menyentuhnya." ucap Arya berbisik mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu.
Arya menyeringai licik, "Kau tahu bagaimana merdunya suara Des*Hannya saat aku mencum--"
Bugghh!
Ucapan Arya terpotong karna tiba-tiba Abhimanyu yang sudah meninju wajahnya dengan keras. felysia tersentak kaget karna kejadian itu tepat di depan matanya.
"Si*l, Apa-apaan kau, kenapa tiba-tiba memukulku?!" Arya berkata tajam memegang rahangnya yang terasa kebas.
"Itu adalah pelajaran karna ucapan kotor yang keluar dari mulut busukmu itu." Abhimanyu berkata pelan namun menusuk.
"Kenapa? apakah yang ku ucapkan salah? aku yang lebih mengetahui tentang felysia dari pada kau, karna aku mantan pacarnya."
Arya berkata keras membuat semua orang yang ada di situ melongo dengan mata melebar,kaget.
Nafas Arya naik turun karna emosi, pria itu kepalang marah karna tindakan Abhimanyu yang mempermalukannya.
"Apa aku harus berteriak keras untuk menyatakan bahwa wanita di sampingmu adalah wanita rendahan, dan sok suci!" teriak Arya menunjuk ke arah felysia.
"Dengar semuanya, wanita yang dinikahi kakak ku ini sebenarnya adalah mantanku. dia adalah gadis hina, rendahan, kampungan, bahkan derajatnya tidak lebih tinggi dari pada calon istriku,Bella!" Arya berucap dengan teganya.
Para maid, bi ati dan pak Herul yang melihat itu menatap iba ke arah felysia.
"Wanita sok suci dan tidak punya harga diri sepertinya, sebenarnya tidak pantas berada di keluarga kita!" Arya berkata lantang menatap tajam ke arah felysia.
Felysia yang mendengar hinaan untuknya itu, berusaha mati-matian menahan air matanya. Arya Dengan sifat aslinya yang seperti ini sungguh membuatnya terkejut,karna yang dia tahu Arya yang dahulu adalah pria yang hangat dan lembut kepada wanita.
Abhimanyu yang melihat itu menggertakan giginya, amarah sudah terlihat tercetak jelas di wajahnya.
Arya menarik sudut bibirnya melihat felysia yang sudah berkaca-kaca, "Heh! wanita sund*l." sarkasnya.
"Brengs*k!" Abhimanyu sudah benar-benar marah kali ini,dia tidak bisa menahan dirinya lagi.
Bughh!
Abhimanyu memberikan bogem mentahnya ke wajah Arya. Arya tersungkur jatuh ke lantai.
Tidak main-main, Bogeman terasa sangat keras hingga kini Arya mengerang kesakitan.
"Kau. ikut denganku!" Abhimanyu berteriak.
Abhimanyu lalu menarik kerah kemeja Arya menyeretnya menjauhi tempat. semua orang yang melihat terkesiap, bergeming.mereka terlalu kaget, bahkan pak manaf tidak bisa melakukan apa-apa di kursi rodanya, orang tua itu tidak berdaya.
"Akhh, lepaskan bangs*t!" Arya berontak karna Abhimanyu yang menyeretnya.
Duakhh!
Abhimanyu menghempaskan tubuh Arya ke lantai dekat tangga dengan kasar membuat pria itu meringis.
Bughh!
Bughh!
Abhimanyu kini memukuli Arya tanpa ampun. lelaki itu sudah terkadung marah. wajahnya memerah meredam api amarah yang besar.
"Sial,kau memukuli ku hanya karna wanita rendahan itu!" Arya berteriak balas menyerang Abhimanyu.
Abhimanyu yang mendengarnya seketika naik pitam, dia yang semula hanya meninju Arya pelan,kini mulai mengerahkan seluruh tenaganya menendang dada pria itu.membuat Arya terjungkal. pria ini benar-benar harus di habisi karna ucapannya.
"Brengs*k! beraninya kau berkata seperti itu mengenai istriku."
"Kau bahkan yang lebih rendahan. lebih rendah daripada seekor binatang!" Abhimanyu menendang dan memukuli pria itu kalap, tanpa ampunan.
Bughh!
Bughh!
Abhimanyu memukuli pria itu dengan brutal. tapi Arya juga tak mau kalah,dia berdiri dengan susah payah dan balas memukul Abhimanyu saat lelaki itu lengah.
Bughh! Abhimanyu merasakan rahangnya yang berdenyut.
"Bedeb*h,hanya karna wanita jal*Ng itu,kau sampai memukuliku!" Arya mengatur nafasnya yang memburu.
Duakhh!
Abhimanyu kembali menendang dada Arya setelah mendengar perkataan itu.
"Arrgggh!"
Arya mengerang kesakitan saat punggungnya mengenai ujung tangga yang tajam.
"Berapa kali!" Abhimanyu berteriak murka.
"Sudah berapa kali aku memukulimu karna kau yang selalu memandang rendah dan menghina wanita!" Abhimanyu menunjuk wajah Arya yang sedang kesakitan.
Bughh!
Bugghh!
Abhimanyu memukuli pria itu lagi, kali ini Arya tak bisa melawan karna kekuatan pria itu yang sangat besar.
__ADS_1
Kondisi Arya sudah sangat babak belur. darah segar mengucur dari pangkal hidungnya.
"Abhimanyu berhenti!" seseorang berteriak menghampiri mereka.