
Satu bulan kemudian Abbas di tangkap, bersembunyi di tempat yang berbeda selama kurang dari dua bulan, Abbas tahu jika dia sudah menjadi buronan saat Abhimanyu Membuat laporan tentang kejahatannya ke kantor polisi. Di bekuk di salah satu hotel mewah,kini Abbas tidak bisa berkutik lagi.
Abhimanyu juga sudah mencari bukti-bukti tentang apa saja yang menjadi kejahatan Abbas selama ini. Satu Minggu sebelum penangkapan Abbas, Abhimanyu sudah memeriksa alat penyadap yang di berikan Leo padanya.
Bugh!
Bugh!
"Jadi kau yang telah membunuh ibuku?!"
Di kantor polisi, Abhimanyu yang sudah kepalang marah mengetahui fakta itu, langsung memberi bogem mentah kepada Abbas.
"Pak mohon bersabar,ini kantor polisi." satu dari polisi itu menengahi Abhimanyu,jika tidak Abbas mungkin akan meregang nyawa di sini.
Abhimanyu mengatur nafas yang tak beraturan, amarah pria itu tercetak jelas di matanya yang memerah. Rasanya dia ingin membunuh seseorang kali ini saja, dan orang itu adalah Abbas.
"Hah,apa? Apa maksudmu,kau melaporkan ku ke kantor polisi hanya karna rekaman suara yang belum tentu jelas?" Raut wajah Abbas jelas di buat-buat.
Itulah Abbas dia pandai mencari muka, juga sangat manipulatif. Di depan para oknum hukum itu ia berlagak seperti korban.
Abhimanyu tersenyum miring. "Kau pikir aku melaporkan mu hanya karna satu kasus itu? Kau tidak tahu aku memegang kartu As mu selama ini?"
Abbas berusaha tetap tenang. "Apa maksudmu?"
Abhimanyu tanpa Aba-aba lagi melempar sebuah map hingga mengenai muka Abbas.
"Penggelapan dana perusahaan yang selama ini kau lakukan,kau pikir aku tidak tahu?"
Abbas pucat pasih di tempat. "Sial, bagaimana dia menyelidikinya secepat itu?" Batinnya.
"Semua buktinya ada di situ, kau tidak akan bisa mengelak lagi."
Raut Abbas berubah keruh dengan kerutan di dahi yang semakin kentara. "Sial kau Abhimanyu!"
Abhimanyu malah tersenyum miring. "Membusuklah di penjara Abbas, karna sekarang adalah giliranmu."
"Sialan kau Abhimanyu! Aku pasti akan membunuhmu, Abhimanyu!" Abbas menjerit dengan amarah,namun di tubuhnya di tahan oleh para polisi.
***
Di rumah Abhimanyu berjalan dengan langkah tegap, kemarahan, kesedihan tentang fakta Kematian bundanya, semuanya menjadi satu di kepala dan seperti bom yang akan meledak membuatnya tidak bisa terkendali.
"Mas,kamu kenapa?" Felysia menyambut di ambang pintu kamar mereka. Di tangannya terdapat botol susu bayi yang akan di isi ulang untuk baby Al.
Abhimanyu hanya memandangnya sekilas, lalu tetap berjalan ke arah ruangan kerjanya. dalam keadaan emosi yang sudah memuncak, dia tidak bisa mendekati Felysia jika tidak ingin sang istri terluka.
"Mas, kau mendengar ku kan,kau kenapa?" Felysia yang merasa khawatir mengejar langkah Abhimanyu.
"Jangan mengikutiku!"
Felysia terkejut saat pria itu membalikkan badan dengan raut wajah yang menakutkan.
"Mas, kau kenapa?" tangan felysia terjulur untuk mengusap pipi sang suami.
Menghela nafas, Abhimanyu menghentikan gerakan tangan felysia. "Maaf Stela,tapi aku butuh waktu sendiri."
***
Malam hari jam menunjukkan pukul tujuh, saat keadaan pikirannya sudah sedikit membaik, Abhimanyu keluar dari ruangan kerjanya. pria dengan kemeja hitam yang lengannya di gelung sesiku itu menuruni satu persatu anak tangga dan mendapati Felysia sedang duduk di sofa ruang tamu bersama Baby Al yang terlentang di pangkuannya.
__ADS_1
"Jagoan kecil mama, Sekarang sudah semakin gembul ya." Felysia memainkan tangan mungil baby Al sambil tersenyum ceria. sementara baby Al sendiri tampak anteng di pangkuan mamanya.
Abhimanyu yang melihat itu tanpa sadar mengulum senyum. lalu berjalan menghampiri mereka.
"Kenapa tidak kembali ke kamar?"
Felysia menoleh, di dapatinya sang suami duduk disampingnya. berbalik lagi, Felysia malah memunggungi Abhimanyu.
"Baby Al belum mau tidur," ucap Felysia tetap membelakangi Abhimanyu.
Alis Abhimanyu mengkerut heran, ada apa dengan istrinya ini? nada bicara felysia terdengar ketus.
"Setidaknya masuklah ke kamar, ini sudah malam."
Tak dapat merespon apapun, Abhimanyu merasa semakin heran, sang istri malah tetap fokus bermain dengan baby Al yang kini mengerjap polos menatap mereka bergantian.
Abhimanyu lalu mengambil alih Baby Al dan mendekapnya dalam gendongan. Felysia terkejut lalu ikut berdiri.
"Mas kau--"
"Alister bisa masuk angin jika di sini terus." sergah Abhimanyu memotong ucapan Felysia.
Lalu Abhimanyu bersama baby Al di dekapannya berlalu ke kamar mereka tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Huh, dasar gak peka." Felysia sedikit kesal, menghentakkan kakinya,lalu menyusul sang suami.
Di dalam kamar mereka, Felysia tetap bungkam seribu bahasa, dengan raut datar yang selama ini tak pernah Abhimanyu lihat,karna biasanya di wajah cantik itu hanya di hiasi dengan senyuman yang membuat hatinya tenang.
Abhimanyu tersiksa di diamkan seperti ini, sebenarnya ada apa dengan wanita yang paling berharga di hidupnya ini?
Baby Al tertidur di baby box setelah menyusu, tersenyum Felysia mengecup singkat kening bayi berusia empat bulan itu.
"Kau sebenarnya kenapa?"
"Kamu mengagetkanku."
"Itu karna kau."
Kembali beraut datar, Felysia berjalan hendak berlalu, namun baru beberapa langkah Abhimanyu menahan lengannya.
"Katakan ada apa?" tanya pria itu.
"Semuanya karna kamu tidak mau jujur padaku." Mendongak felysia menatap mata pria itu langsung.
"Dari awal kita sudah sepakat kan, jangan ada lagi rahasia di antara kita. tapi kau malah menyembunyikan rahasia di belakang ku."
Menghela nafas setelah mendengar itu, Abhimanyu melepaskan cekalannya. "Jadi ini semua karna tadi siang?"
"Iyah, saat kamu tidak mau menceritakan tentang masalah mu."
"Dengar." Abhimanyu menggamit tangan Felysia. "Saat itu aku hanya ingin sendiri dulu, bukannya menyembunyikan rahasia darimu."
"Tapi sekarang sudah berbeda kan, tapi kamu tidak mau menceritakannya juga." Felysia menatap nanar. Abhimanyu merasa heran kenapa istrinya ini terkadang sangat sensitif.
"Baiklah ayo." Abhimanyu menuntun Felysia untuk duduk di ranjang mereka.
"Aku dengar dari Leo, katanya kamu pergi seharian itu karna ada urusan di kantor polisi? kenapa? ada apa?"
"Abbas tertangkap, dan aku harus menjadi saksi atas kejahatannya di sana."
__ADS_1
Felysia melebarkan matanya. "Abbas? pak Abbas ayahnya Sarah?"
Abhimanyu mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa beliau di tangkap polisi?" tanya Felysia.
"Aku yang melaporkannya," ucap Abhimanyu.
Felysia semakin terkejut,menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa begitu? ada masalah lagi kah?"
Seperkian detik tatapan Abhimanyu mengarah ke Felysia, namun pria itu mengalihkannya ke arah lain. sebenarnya ia tak ingin menceritakan masalah ini, namun mau tak mau ia harus menceritakannya kepada sang istri.
Lalu Abhimanyu bercerita panjang tentang kejahatan yang di lakukan Abbas, penggelapan dana, transaksi narkoba yang pernah di lakukannnya bersama keponakannya, Arya. dan yang terakhir tentang fakta baru yang Abhimanyu dapat, yaitu Abbas yang ternyata membunuh ibunya.
Felysia sungguh sangat terkejut dengan ucapan terakhir Abhimanyu. padahal selama ia mengenal Abbas, ayah Sarah itu terkenal baik di depan publik dan keluarga besar.
"J-jadi pak Abbas yang membunuh bunda saat kamu baru lahir?"
Abhimanyu mengangguk. " polisi baru menyelediki setengah. saat di interogasi, Abbas mengatakan kronologisnya, pada saat itu, dia menyuntikkan racun ke tubuh bunda,saat bunda di rumah sakit setelah berjuang melahirkanku."
Tanpa sadar Felysia menetaskan air mata. Tak bisa ia bayangkan perasaan suaminya kini, mengetahui fakta jika ia tidak bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu karna sang ibu terbunuh oleh salah satu anggota keluarganya sendiri.
"Aku sungguh sangat terkejut." menjangkau tangan Abhimanyu dan mengenggamnya. "bagaimana perasaan mu sekarang?"
"Kejadiannya sudah berpuluh-puluh tahun lalu, meskipun aku mengetahui faktanya sekarang, itu tidak akan bisa mengembalikan nyawa bunda. tapi setidaknya pelaku atas kejahatan ini harus mendapat ganjaran yang setimpal."
"Tapi kamu tidak akan berencana untuk membalaskan dendam lagi kan?" tanya Felysia, takut Abhimanyu terlibat lagi dalam kasus balas dendam yang akan membahayakan suaminya itu.
Abhimanyu menggeleng. "sejak awal aku sudah mengatakan padamu jika aku sudah melupakan balas dendam itu."
Abhimanyu mengeratkan genggaman mereka. "Karna sekarang aku hanya ingin hidup bersama mu dan Alister sebagai keluarga kecil yang bahagia."
Tersenyum, Felysia membawa Abhimanyu dalam pelukannya, mendekap erat bahu Lelaki yang sangat di cintainya ini.
"Sekarang kamu tidak perlu merasa sendiri lagi. ada aku dan Alister yang akan selalu di sampingmu," ucap Felysia.
Abhimanyu mendengar itu mengulum senyum, menggangguk dalam dekapan hangat sang istri.
"Hoek ... " Felysia menutup mulutnya.
Abhimanyu terkejut,sang istri bereaksi tidak biasa. " kau kenapa?"
Felysia melepaskan pelukan mereka, dia merasakan mual yang luar biasa tengah mengaduk-ngaduk perutnya.
"Hoek ... Hoek."
"Hei, kau kenapa?" Abhimanyu mengurut pelan punggung sang istri.
Tidak mengindahkan pertanyaan Abhimanyu, Felysia buru-buru saja berlari ke arah wastafel berada. Abhimanyu segera saja menyusulnya.
Felysia menyandarkan tubuhnya, ketika dengan susah payah mengeluarkan isi perut yang meronta ingin keluar.
Abhimanyu berdiri di hadapannya. "Kau baik-baik saja?"
Felysia mengangguk beberapa kali, wajah wanita itu terlihat pias.
"Aku tidak tahu, tapi dari tadi pagi aku merasakan mual terus," ujarnya lemah.
Abhimanyu membantu menahan tubuh sang istri, mengusap peluh di pelipisnya.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan aku hamil," monolog felysia membulatkan mata.
Dan itu sukses membuat Abhimanyu juga tak kalah terkejut.