
"Bangs*t, siapa yang mencoba bermain-main denganku, sial, sial." Arya terus saja mengumpat kesal, lelaki itu pergi sampai ke belakang gedung, tempat cleaning servis menaruh peralatan.
Arya mengambil ponselnya yang berdering, "Ya,halo paman."
"Kau kemana bodoh, semua orang mencarimu," ucap Abbas di seberang telepon.
"Aku malu paman, semua aibku telah tersebar,aku merasa harga diriku sangat tercoreng," ucap Arya terlihat sangat prustasi.
"Kembali kesini, istrimu pingsan dan si tua bangka itu penyakitnya tiba-tiba kumat karna dirimu," ujar Abbas.
"Aku tidak mau," kekeuh Arya.
"Ke hotel sekarang, semua orang ada di sini, menunggumu. Jika kau tidak kembali mereka akan semakin curiga." Final Abbas lalu menutup teleponnya.
"Arrrghh!" Arya mengerang kesal, ponsel yang ada di genggamannya sudah melayang karna ia lempar.
"Kenapa bisa sampai seperti ini, Brengs*k." Arya semakin prustasi,meninju tembok yang ada di depannya.
Para karyawan hotel yang berlalu lalang memandangnya aneh,tak salah lagi pasti berita tentang foto-foto itu telah tersebar luas, orang akan terus mencemooh dan mencaci makinya. Reputasinya telah hancur, harga dirinya telah rusak. Mau di taruh di mana mukanya sekarang,Arya sangat malu.
"Brengs*k, akan kubuat perhitungan kau yang telah mempermalukanku," Arya berseru keras.lalu pria itu pergi dengan kemarahan.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Abhimanyu menatap Arya dengan senyuman miring, pria itu merasa senang melihat Arya yang kini terlihat prustasi. Semua balas dendamnya kepada Arya akhirnya terwujud, pria itu sudah merasakan apa yang istrinya rasakan dulu, rasa sakitnya di permalukan. Tapi ini masih awalan, ada kejutan baru untuk adik tirinya itu.
***
Felysia berjalan ke sana-kemari,gadis itu terlihat sangat cemas,ponsel yang dipegangnya ia genggam erat seiring dengan kekhawatirannya yang semakin terasa.
"Mas!" Felysia menghampiri Abhimanyu yang mendekat ke arahnya.
"Mas,Ayah?" Lirih felysia, ia hampir menangis karna melihat pak Manaf yang kumat penyakitnya karna saking terkejutnya dengan apa yang terjadi. Ia tak sempat menyusul rombongan yang membawa ayah mertuanya, karna menunggu Abhimanyu.
"Kita akan menyusul kesana," ucap Abhimanyu datar, memandang ke arah depan.
Ada aura tak mengenakkan saat felysia memegang tangannya, rasanya Abhimanyu yang ada di depannya ini sangat berbeda, beraut datar dan sangat mengintimidasi.
Tak lama Leo berlari kecil menghampiri mereka, Leo habis mengantar Dian pulang, karna wanita itu tak seharusnya ikut campur dalam masalah ini, jadi Leo segera saja mengantarnya kembali.
"Kita akan ke hotel candrakarya. Ayahku tak di rawat dirumah sakit tapi di sana, " ucap Abhimanyu pada Leo.
Leo mengangguk, mengerti. Sementara felysia masih mengamati perubahan Abhimanyu sekarang,pria itu seperti mempunyai dua kepribadian.
"Kau mau ikut? ayo." Abhimanyu menyadarkan lamunan Felysia.
"E-eh, iya." Felysia tersadar lalu mengikuti langkah kedua pria itu.
__ADS_1
***
Di hotel, semua keluarga besar Maheswara sudah berkumpul. Ada beberapa yang memilih pulang, para kerabat juga Begitu. Sementara pak Manaf, kondisinya tak terlalu buruk tapi tetap belum stabil.
Kejadian memalukan itu telah mengguncang hatinya hingga kesehatannya pun menjadi taruhan. Pria tua itu sangat malu atas kelakuan putranya, reputasi perusahaan dan nama baik keluarganya juga pasti akan dipertanyakan setelah ini.
Abhimanyu dan felysia datang, mereka berdua bersama Leo, namun Leo segera saja menepi, menjauh mengingat ini adalah masalah keluarga inti.
"Dimana? Di mana anak sialan itu? Aku akan memberi perhitungan padanya?!" Pak Manaf berteriak marah, semua orang diam,tak ada yang berani menjawab.
"Sayang, sudahlah.kesehatanmu masih belum pulih." Nyonya Sinta menghampiri pak manaf dengan deraian air mata, dia pun tak menyangka atas apa yang dilakukan putranya.
Suara langkah kaki terdengar, semua orang menoleh, atensi mereka terpaku melihat seseorang yang menggunakan hoddie yang menutup kepalanya dan masker yang menutup wajahnya.
Pria itu menghampiri ranjang yang di tempati pak Manaf,lalu membuka maskernya. Dia adalah Arya, dengan rambut berantakan,dan mata memerah kondisi Arya seperti orang yang tak punya tujuan arah.
"Arya,dari mana saja kamu nak?" Nyonya Sinta langsung menghampiri Arya dan memeluk putranya.
"Bun .... "Lirih Arya,pria itu seperti habis menangis. Sangat prustasi.
Melihat Arya,ntah kekuatan dari mana pak Manaf segera berdiri dari ranjangnya menggunakan tongkat yang menopang tubuhnya. Pak Manaf menghampiri Arya dengan tertatih-tatih.semua orang memperhatikannya.
"Minggir," satu seruan itu mengangetkan nyonya Sinta.
Plakk!
Pak Manaf menampar Arya. Semua orang membelakakan mata, menahan nafas melihatnya.tak main-main tamparan itu begitu telak,bahkan lebih mirip sebuah pukulan hebat. Suara tamparan itu begitu nyaring, Membuat siapapun yang mendengarnya merinding.
"Dasar anak tak tahu diuntung, beraninya kau mempermalukan nama baik keluarga Maheswara!" Bentak pak Manaf.
Arya terpaku, menunduk dengan tangan terkepal erat, rasanya sakit di rahang dan pipinya sangat terasa, Meski Begitu rasa sakit karna di permalukan ini benar-benar menghantamnya.
"Tak kusangka,anak yang kubesarkan dan ku didik selama ini ternyata bisa melakukan hal sangat memalukan seperti itu. Apa kau tidak malu atas perbuatanmu hah!" Pak Manaf menunjuk dada Arya dengan kasar.
"Sayang, sudah." Nyonya Sinta menghampiri suaminya,air matanya kian deras mengalir.
"Apa!" Pak Manaf tak segan membentak.
"Lihatlah akibat kau yang terlalu memanjakannya, lihat, sekarang dia malah jadi lelaki bejat yang tak tahu moral, menjijikkan," ujar pak Manaf dikuasai emosi.
"Kau-" Arya memejamkan mata,pak Manaf kembali melayangkan tangannya, namun terhenti.
"Akhhhh!" Pak Manaf mencengkeram kuat dadanya yang kini terasa sakit,semua orang terlihat panik.
"Ayah." Abhimanyu menghampiri sang ayah, menggiringnya menuju tempat tidur.
__ADS_1
"Sudah, sudah aku tidak apa-apa," ucap pak Manaf, Membuat semua orang yang menggerumuninya mundur selangkah.
"Hah, rasanya aku bisa mati lebih cepat dari yang seharusnya." Pak tampak lirih,ada gurat kesedihan di wajah yang sudah mengeriput itu.
"Sayang, jangan bicara seperti itu." nyonya Sinta tampak sedih.
"Apa lagi yang harus ku lakukan, yang dilakukan putra mu itu sangat fatal dan tercela," ujar pak Manaf.
"Harusnya dia sudah dipenjara dan dihukum mati sekarang juga,cuih." Pak manaf mengerling menatap Arya.
"Lalu apa!" Arya berteriak Membuat semua orang menoleh.
"Jika seperti ini aku yang paling disalahkan, lalu bagaimana dengan Abhimanyu hah!" Arya berseru emosi.
"Apa maksudmu, jangan membandingkan dirimu dengannya. Dia jauh lebih baik darimu," ucap pak Manaf mencebik.
"Selalu begitu,sejak kecil kau selalu membedakanku dengan Abhimanyu," ujar Arya tercekat, mata pria itu sudah memerah.
"Kau selalu memperhatikannya, mengapresiasi dan memuji setiap hal yang dia lakukan, sementara diriku--" suara Arya terhenti di tenggorokan.
"Bahkan saat aku berusaha mati-matian belajar dan mendapat nilai tertinggi di kelas saat itu,kau bahkan tidak memilirik bahkan sekedar memuji, tapi dengan Abhimanyu kau bahkan mengajarinya selalu mendengarkan apa yang dia inginkan," ujar Arya dengan penuh amarah, pria itu seperti sedang meluapkan apa yang ia rasakan selama ini. Tersendat-sendat Arya mengatur nafas yang terasa berat.
Semua orang menatap Arya,tak menyangka dia bisa mengatakan semua itu,emosi dan kesedihan Arya bahkan bisa mereka rasakan. Ternyata Arya hanya menginginkan kasih sayang sang ayah yang menurutnya tak pernah ia dapatkan selama ini.
"Kau selalu memujinya, memanjakannya, sementara aku--" Arya tak sanggup lagi berkata, ia menghalau air mata yang tiba-tiba merengsek ingin keluar.
"Kau selalu pilih kasih,kau mencurahkan banyak perhatianmu padanya, dibandingkan aku yang juga putramu." Setelah mengatakan itu Arya lebih memilih berlalu pergi meninggalkan kesedihan yang tertinggal.
Pak manaf mematung, beradu antara isi kepala dan hatinya. Apakah selama ini ia pilih kasih? Apakah selama ini Arya kurang perhatian darinya?
Sementara nyonya Sinta lebih memilih pergi menyusul sang putra yang mungkin kini sedang dilanda kesedihan mendalam.
***
Arya berjalan cepat menuju area parkir, tak mendengarkan panggilan sang bunda yang terus meneriaki namanya. Ia mencoba menghalau air mata yang tiba-tiba terus ingin keluar.
Sejak kecil, Arya selalu membuat onar ntah di sekolah ataupun di tempat lingkungannya bermain, semua bukan tanpa alasan, ia melakukannya semata-mata ingin mendapatkan perhatian sang ayah,tapi meski begitu semuanya terasa sia-sia. Oleh sebab itu karna awalnya ia ingin mendapat perhatian dia malah terus-menerus mencari masalah dan membuat onar karna kekesalannya terhadap ketidakadilan yang ia dapat. Kasih sayang ayah yang tak pernah dia dapat membuatnya tumbuh menjadi pria yang penuh kebencian,dan suram. Arya mabuk-mabukkan,minum pergi ke bar bahkan saat usianya masih tak cukup umur, dan sampai berani bermain wanita semata-mata untuk menumpahkan kekesalannya karena kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dan juga kebenciannya terhadap Abhimanyu. hingga semua itu malah menjadi candu untuknya, dan menjerumuskannya kedalam sarang dosa.
Dosa? Ia bahkan tak pernah berfikir tentang akhirat. Yang Arya tahu hanya kesenangan semata.
Arya selalu iri dengan Abhimanyu. Abhimanyu selalu mendapatkan pujian dan hadiah dari sang ayah sejak kecil, oleh sebabnya Arya sangat membenci pria itu, iri dengki menguasai hatinya hingga hasutan dari sang paman berhasil membuatnya sangat membenci Abhimanyu bahkan sampai menjebaknya.
"Bangs*t kenapa air mata ini gak berhenti keluar." Arya terlihat kesal, mengusap pipinya dengan kasar.
Arya lalu menuju ke parkiran, menutup wajahnya dengan masker.lalu pria itu melajukan mobil sport nya dengan kecepatan tinggi.tujuanya hanya satu, yaitu club.
__ADS_1