
Suara derap langkah kaki Abhimanyu terdengar jelas dari bawah sana.dengan setelan kemeja hitam yang dibalut dengan tuxedo abu-abu tua, Abhimanyu tampak terlihat gagah dan berwibawa.
Pagi ini dia turun hendak sarapan,di lantai bawah sana, dia sudah bisa melihat Felysia dan bi ati yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
"Selamat pagi,tuan." felysia menyapa Abhimanyu yang sudah menarik kursi dan duduk.
Abhimanyu menggangguk, "Pagi."
Felysia tersenyum karna Abhimanyu membalas sapaannya, biasanya pria itu akan mengabaikannya atau hanya mengangguk sekenanya. karna hal itu, Felysia jadi melupakan hal menyakitkan semalam.
"Den Abi,mau teh kaya biasa?" Bi ati bertanya saat menaruh mangkuk di atas meja.
"Enggak bi, saya mau sarapan aja.kebetulan ada waktu buat ini," kata Abhimanyu menggeleng.
Bi ati tersenyum, "Baik den.Oh yah,pagi ini yang memasak sarapan adalah nyonya muda."
"Katanya kan Aden suka sekali masakan nyonya," ujar Bi ati, menggoda.
Abhimanyu hanya tersenyum samar, sementara felysia yang malu menyenggol pelan lengan Bi ati.
"Good morning my honey," ucap Angel muncul dari arah tangga menghampiri meja makan.
Wanita dengan pakaian yang mengekspos dadanya itu memberi kecupan singkat di pipi Abhimanyu dan duduk disampingnya, Abhimanyu yang risih melayangkan tatapan tajam padanya, tapi angel tidak perduli dan malah tersenyum lebar.
Felysia yang sedari tadi memperhatikan mereka buru-buru memutuskan pandangannya, berbalik dan berjalan kembali ke arah dapur. ntahlah,ada perasaan sakit dan sesak di dalam sana, saat menyaksikan adegan itu.
"Jadi kan hari ini temenin aku shopping di mall?" kata Angel dengan senyum yang tak pernah luntur.
"Tidak bisa angel, aku sibuk. minta antar Leo atau mang Jajang saja," jawab Abhimanyu.
"Ih kok gitu, aku kan maunya sama kamu bukan sama mereka." Angel mengerucutkan bibirnya, cemberut.
"Tetap tidak bisa, hari ini ada rapat penting dengan para pemegang saham." kata Abhimanyu lagi.
"Ya udah, abis pulang kantor aja kan bisa," kata Angel,keras kepala.
Abhimanyu menggeleng pelan, dia lebih memilih untuk memakan sarapannya.jika terus meladeni sifat keras kepala angel yang seperti ini,dia hanya akan terlambat untuk tiba di kantor.
"Lihat deh Nya, kesel banget bibi sama si Non angel, genit banget ke tuan, bikin risih den Abi aja," kata Bi ati, berbisik menatap dari jauh dua orang itu.
"Husst, gak boleh gibah bi," ujar Felysia sambil mengelap Pinggir meja dapur bekas memasak tadi.
"Nyonya mah terlalu baik ih, nyonya sebagai istri sah harusnya nyamperin pelakor itu kalo perlu tampar sekalian Nya," ujar Bi ati menggebu-gebu, gemas sendiri dengan sifat nyonya mudanya ini.
Felysia lantas tertawa, " Udah bi,gak apa-apa," ucapnya,namun berbanding terbalik dengan hatinya.
***
"Tuan tunggu!"
Dengan jalan tergesa-gesa felysia menghimpiri Abhimanyu yang berada di luar teras mansion.
Abhimanyu menghentikan langkahnya.mereka kini bersejajar.
"Ini,tuan kelupaan dasinya," kata felysia menjulurkan dasi ke arahnya.
Abhimanyu mengambil dasi itu, "terimakasih," ucapnya.
Felysia menggangguk, kemudian berbalik hendak kembali masuk.
"Tunggu .... " Abhimanyu berseru.
Felysia berbalik kembali, kini mereka berhadapan.
"Bisakah kau memakaikannya untukku?" pinta Abhimanyu dengan suara pelan, pria itu mengusap lehernya, salah tingkah.
Felysia tampak bergeming sejenak, namun akhirnya tersenyum mengangguk dan mulai memasangkan dasi untuknya.
Seperti Dejavu, adegan memasangkan dasi ini mengingatkan felysia tentang saat pertama kalinya dia memasangkan dasi untuk Abhimanyu, di saat yang sama yaitu hari pertamanya tinggal di rumah dulu.
Abhimanyu yang melihat felysia tersenyum dalam hati. cara felysia berjinjit demi menyamakan tinggi badan mereka, membuat Abhimanyu gemas sendiri. gadis dengan gaun selutut berwarna hijau pastel itu tampak sangat kecil dari arah Abhimanyu memandang.
"Sudah selesai, tuan." felysia melangkah mundur.
"Baiklah, terimakasih," kata Abhimanyu terdengar tuluss meskipun pria itu tidak tersenyum.
"Tuan muda, nyonya muda selamat pagi." Leo yang tiba-tiba muncul menyapa, berjalan ke arah mereka.
"Kau baru sampai?" tanya Abhimanyu melihat ajudannya itu.
"Iyah Bos." jawab Leo dengan senyum merekah.
"Nyonya muda selamat pagi, seperti biasa anda selalu terlihat cantik," kata Leo memuji, hendak menghampiri mereka.
"Ekhem!" Abhimanyu berdehem.
Leo mengerti isyarat itu, dengan segera menarik diri dengan wajah pias, tidak jadi menghampiri felysia. Aduh suka nyari penyakit sendiri memang.
"Hehehe ... maafkan saya nyonya muda," kata Leo cengengesan di tempat.
"Maaf untuk apa?" Felysia bingung.
"Anu itu Euum ... " Leo tampak susah memberi penjelasan.
__ADS_1
"Sudahlah,Leo kau tunggu di mobil saja, nanti saya menyusul." perintah Abhimanyu yang langsung saja di laksanakan olehnya.
Setelah menatap Leo yang sudah menjauh, Abhimanyu berbalik menatap felysia.
"Kalian sudah sedekat apa, hingga Leo bisa memujimu secara terang-terangan seperti itu?" Abhimanyu mulai bertanya dengan tatapan mengintimidasi.
"Eum, aku dan tuan Leo memang sudah cukup akrab, karna kami beberapa kali terlibat obrolan panjang," ungkap felysia.
" Kau memanggilnya tuan? sejak kapan?" cecar Abhimanyu.
Belum sempat felysia menjawab, Abhimanyu sudah menyela dengan kata yang lebih serius dari sebelumnya.
"Kau boleh memanggil 'Tuan' hanya kepadaku, tidak untuk pria lain."
Felysia tampak bingung, lelaki di depannya ini malah bertampang kesal hanya karna hal sepele.
"Baik,tuan." felysia akhirnya hanya bisa menurut saja.
"Good." angguk Abhimanyu.
"Hari ini, apa kau ada waktu?" tanya Abhimanyu to the poin.
"Eumm, ada tuan? kenapa memangnya?" ujar Felysia.
Abhimanyu tersenyum simpul, " Saya ingin mengajakmu ke suatu tempat."
"Ke suatu tempat? kemana tuan?" felysia mulai penasaran.
"Ke tempat bunda." kata Abhimanyu.
****
"Besok sore adalah jam penerbanganmu untuk ke tanah air, jangan sampai telat," ucap seseorang di seberang telepon.
"Baik paman, aku ingat," kata Arya sambil memakai kaos oblongnya, dengan handphonenya yang terselip di antara bahu dan telinganya.
"Baiklah. lalu bagaimana dengan gadis itu?" Orang di telponnya bertanya.
"Jangan khawatir paman, Aku menitipkan dia di rumah ini dengan para pengasuh yang sudah aku tugaskan untuk menjaganya."
Terdengar helaan nafas dari seberang sana.
"Harusnya kau mendengar perkataanku untuk menggugurkan saja bayi yang dikandungnya, jadi tidak usah repot seperti ini," kata Abbas kepada keponakannya itu.
"Paman, halo paman ... aku tidak bisa mendengar suaramu." Arya beralibi.
"Sinyalnya hilang ... aku matikan dulu ya,Daah.
Tuttt!
Arya mendengus, lalu melempar handphonenya dengan perasaan dongkol.
Lagi dan lagi, selalu saja begitu, seenaknya memerintah dan mengambil keputusan sepihak tanpa memperdulikan pendapatnya, jika bukan karenanya yang selalu memerintah ia tidak perlu repot-repot untuk lari ke luar negeri seperti ini.
Arya yang sudah terkadung kesal keluar kamar, berjalan ke arah ruangan lain, tempat wanita yang sedang mengandung anaknya berada.
Ceklek! pintu ruang terbuka.
"Bagaimana keadaanmu?" Arus bertanya pada seorang wanita yang diikat kaki dan tangannya di sebuah kursi di ruangan remang itu.
"Hmmppp ... hmppp." wanita itu memberontak, berusaha untuk melepaskan diri.
"Oh ya,aku lupa membuka perbannya." Arya lalu membuka yang menutup mulut wanita itu dengan kasar. wanita itu meringis.
"L-lepaskan aku,T-tolong lepaskan aku," Ujar Bella dengan memohon terisak. matanya kini sudah membengkak karna terus menangis.
"Aku sedang mengandung anakmu, kenapa kau seperti ini padaku," katanya lagi.
'Sudah tiga hari kau mengurungku di sini, kenapa kau kejam padaku Hah!" jerit Bella, terus memberontak.
Arya membuang nafas kasar, sedikit membungkuk lalu mencengkeram erat dagu Bella.
"Jika saja kau tidak terus-terusan menangis dan mengamuk,aku juga tidak akan melakukan ini!" Arya berkata marah, pria itu melolot dengan urat-uratnya terpampang jelas.
"Dasar kau brengs*k, bej*t, bajing*n!" umpat Bella keras.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulusnya.
Tidak cukup sampai di situ, kini Arya menjebak rambut pirang panjang milik Bella.
"Kau bilang apa tadi hah!" Arya berkata marah. emosinya sudah terlihat jelas.
Bukannya berkata Bella kini malah menatap Nyalang ke arah Arya seolah sedang menantang, wanita yang sudah ngos-ngosan itu melotot kepada Arya.
Arya mengambil nafas dalam, berusaha meredakan amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun.
"Argh! membuat kesal saja," katanya, melepaskan cengkeramannya dari rambut Bella dengan kasar.
"Awalnya aku kesini karna kasihan dan mau bermurah hati padamu, tapi rengekan dan air matamu itu membuatku muak!"
"Hari ini kau tidak akan mendapatkan makan sampai malam nanti,kau akan terus di sini sebagai hukuman karna terus membangkang padaku."
__ADS_1
Arya lalu menutup kembali mulut Bella dengan lakban, Bella tampak diam pasrah, dia tahu jika dia terus memberontak di saat seperti ini, pria itu bisa membunuhnya sekarang juga.
Arya kemudian berlalu keluar dari ruangan dan menguncinya, meninggalkan Bella yang kini menangis keras sendirian di sana.
Sementara itu di tanah air dengan waktu malam dan siang yang berbeda,di rumah keluarga pak Hanif,ada Bu Marni ibu dari bella yang sedari tadi mondar-mondir di ruang tamu, mencemaskan keadaan putrinya yang tak memberinya kabar lagi.dengan handphone yang berada di genggaman,Bu Marni berusaha menelpon nomor putrinya itu.
"Tetep gak di angkat,pak." adunya dengan wajah cemas.
"Ya udah kalo tetep gak di angkat juga, bapak yakin Bella juga pasti bakal tetep baik-baik aja," kata pak Hanif menenangkan istrinya itu.
"Tapi feeling ibu gak enak," ujar Bu Marni duduk di samping suaminya.
"Kamu ini toh Bu, dulu kamu yang nyolot desak bapak buat nyuruh Bella ngejar Arya sampai ke luar negeri, sekarang mereka sudah bersama kamu malah cemas," ujar pak Hanif.
"Ya kan ini beda pak, Bella gak ngehubungin kita lagi ngasih tau kabarnya, biasanya kan dia yang nelpon kita duluan."
" terus walupun tuan Manaf dan nyonya Sinta menerima putri kita, belum tentu dengan arya," kata Bu Marni lagi.
"Bapak tau sendiri kan gimana kurang ajarnya dia kalo ketemu kita, apalagi ke Bella." tambahnya.
"Lah ini juga semua gara-gara kamu bu, andai saja kamu lebih bisa mendidiknya,Bella tidak akan pernah hamil anak pria itu,dan kejadiannya tidak akan seperti ini."
"Loh,kok kamu malah nyalahin aku sih pak!" Bu marni tampak tidak terima.
"Salahkan noh keponakan tercinta kamu, yang tidak pernah mau mengalah pada Bella.lihatlah, sekarang saja dia tidak tahu diri semenjak menikah dengan tuan muda itu, tidak pernah menemui kita lagi orang tua yang sudah susah payah membesarkannya." kata bu marni lagi,nyolot.
"Kok kamu malah kesitu-situ sih Bu,tidak ada hubungannya."
"Tentu ada lah. kalo bukan karna bapak yang dulu gak ikutin saran ibu buat titipin dia ke panti asuhan, ini semua gak akan terjadi. harusnya keponakan kamu itu gak pernah ada di keluarga kita pak, dia tuh pembawa sial!"
Pak Hanif yang mendengarnya tampak geleng-geleng kepala, Kenapa dengan istrinya ini, kenapa dia malah mengungkit hal-hal yang sudah lalu.
"Sudahlah Bu,aku mumet kalo adu argumen sama kamu," kata pak Hanif memilih mengalah.
"Lagian kan terakhir kita nelpon, Bella bilang kan dia baik-baik aja, Arya memperlakukannya dengan baik. mungkin sekarang Bella memang lagi tidak bisa di hubungi,mungkin saja lagi liburan di sana, makanya tidak bisa di ganggu," ucap Pak Hanif mencoba memberi pengertian lagi.
Bu Marni yang sedari tadi khawatir, kini tampak diam. benar juga apa yang dikatakan oleh suaminya, seharusnya dia tidak perlu khawatir karna Bella pasti sedang baik-baik saja.
"Ya semoga aja apa yang bapak bilang benar, Bella pasti lagi bahagia di sana."
Tapi Bu marni tampak tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
***
"Jadi Arya sering mengunjungi club king devil dan bermain judi di sana? sejak kapan?"
"Agaknya sejak tuan Manaf mengambil haknya di kantor ini, kebiasaan buruknya itu memang sudah ada sejak dulu, bahkan dia semakin bebas dengan sering bergonta-ganti pasangan dengan para wanita malam."
Abhimanyu manggut-manggut mengerti, pak Farhan salah satu informannya itu lalu memberikan sebuah map kepada Abhimanyu.
"Itu adalah beberapa foto yang diambil saat bawahan saya menguntit Arya di sana,di ketahui Arya sering sekali melakukan kekerasan terhadap wanita tak jarang wanita malam yang di tidurinya sering berakhir di rumah sakit karna ulahnya itu."
Abhimanyu lalu membuka map dan melihat foto-foto itu dengan seksama,di foto ini mengambil beberapa adegan di saat Arya memukuli wanita yang menemaninya di sebuah club, Abhimanyu yang melihatnya meremas foto dengan perasaan marah.
Arya,sejak dahulu kebiasaan buruknya itu tak pernah berubah, selalu memandang rendah wanita, melecehkan, bahkan kini menyakiti mereka. kali ini. kali ini tidak akan Abhimanyu biarkan orang seperti arya bebas,dia sendiri yang akan memberikan hukuman kepada Arya.
"Dan lagi tuan muda, Arya kini sering sekali menarik uang dana perusahaan ntah untuk kepentingan apa,sejak satu tahun kepimpinannya sudah terhitung 20 kali ia melakukan itu dengan nominal yang berbeda," kata pak Farhan lagi.
Abhimanyu mengangguk, Arya telah menyalahgunakan wewenang dan kekuasaannya di perusahaan ini.
"Baiklah hanya itu informasi yang ingin kudengar simpan dahulu foto-foto ini sebagai bukti nanti, pak Han bisa kembali."
Pak Farhan mengangguk,lalu membungkuk hormat sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan.
"Arya, kali ini kau tidak akan bisa kabur lagi." gumam Abhimanyu menatap Nyalang.
***
Sore ini Abhimanyu benar-benar menepati perkataannya.pria itu menjemput felysia yang berada di mansion, tanpa di dampingi asisten Leo,
karna kali ini dia membawa mobilnya sendiri.
Abhimanyu membawa felysia ke tempat pemakaman umum. di sore yang teduh itu, Abhimanyu menggandeng tangan mungil felysia untuk bertemu dengan bundanya.
"Bunda,aku datang kembali," kata Abhimanyu dengan suara serak, pria itu lantas berjongkok di samping makam sang bunda, diikuti oleh felysia.
"Lihatlah siapa yang aku bawa bersamaku, dia adalah menantumu." Abhimanyu melirik felysia.
Felysia lantas tersenyum, lalu meletakkan sebuah rangkaian buket bunga mawar putih di atas batu nisan.
"Bunda aku felysia,aku datang kesini mengunjungi mu bersama dengan tuan," kata felysia mengusap pelan makam yang di lapisi marmer itu.
Abhimanyu yang melihat mengembangkan senyumnya, pria itu lalu maju beberapa langkah mengelus lembut batu nisan sang bunda.
"Maaf jika selama ini aku jarang mengunjungi mu lagi, maaf jika belum bisa menjadi putramu yang baik. tapi yang harus kau ketahui adalah aku selalu menyayangimu, aku selalu merindukanmu, bahkan sebelum kau bisa menggandeng tanganku."
Abhimanyu mengelus batu nisan itu dengan sayang, seakan sedang menyalurkan kerinduannya kepada sang bunda yang sama sekali tak bisa ia lihat secara langsung di kehidupan ini.
Suara Abhimanyu tampak begitu serak, seakan sedang menahan tangis. felysia bisa melihat itu, meskipun tak ada air mata yang keluar,tapi Felysia mengerti kesedihan yang mendalam yang dirasakan oleh Abhimanyu. pada dasarnya Abhimanyu dan dirinya adalah orang yang sama,
sama-sama anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu, bahkan sejak mereka lahir.
"Tuan .... " Felysia mengusap pelan punggung Abhimanyu.
__ADS_1
Abhimanyu menoleh, tersenyum samar.
Lalu sore itu dengan senja indah yang mendampingi, Abhimanyu dan felysia bersama merawat makam dan menaburi bunga baru.lalu memanjatkan doa tertulus mereka kepada sang maha kuasa,agar almarhumah selalu tenang di sisinya.