Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 6


__ADS_3

Langit malam kali ini terasa berbeda untuk Sia. biasanya di malam hari dia akan berdiri di depan jendelanya kamarnya untuk melihat bulan dan memandangi betapa indah cahaya yang ia pancarkan.


Tapi di malam ini meskipun rembulan tampak bersinar terang tidak bisa menutupi kegugupannya untuk menghadiri makan malam yang katanya di buatkan khusus untuknya oleh keluarga maheswara.


Biasanya Sia tak akan diijinkan untuk keluar malam. meskipun itu untuk kepentingan mendesak dia akan diijinkan pergi jika hanya bersama sahabat atau kenalannya, itupun jika mereka sudah membuat janji jika terjadi sesuatu kepada Sia, mereka tidak akan bertanggungjawab.


Dan untuk orang introvert seperti dirinya itu tentu tidak menjadi masalah besar.dan dia pun memang cenderung nyaman jika hanya dirumah saja. Tergolong gadis rumahan.


Sebelum Sia bersiap-siap tadi,dia di kejutkan dengan kedatangan Dian untuk menemuinya.dengan membawa sejumlah peralatan make up yang lumayan banyak dan beberapa potong gaun, Dian bilang hari ini dia akan menjadi penata rias khusus untuk Sia.


Dan itu tentu membuat Sia sangat senang.Dian mungkin tau jika dengan perekonomian seperti ini pamannya pasti tidak akan mengeluarkan uang untuk keperluan Sia berdandan supaya pantas untuk datang ke makan malam itu,sedangkan Sia tidak memiliki gaun yang layak dan juga peralatan make up seperti gadis-gadis pada umumnya.


Tentu di makan malam yang dikhususkan untuknya ini dia setidaknya harus tampil menawan oleh karna itu kedatangan sahabatnya kali ini adalah sebuah anugerah untuknya.


"Astaga Sia kau tampak sangat cantik dengan ini semua, aku sampai pangling melihatnya." Kata dian heboh setelah berhasil mengubah Sia seperti princess dalam Disney.


Sia lalu memandang dirinya dari atas hingga bawah di cermin yang tersedia di lemarinya. Sekejap Sia merasa sedikit aneh dengan penampilannya malam ini, dengan gaun selutut berwarna hijau emerald dan riasan tipis ini sia seperti bukan dirinya sendiri.


"Apa ini benar-benar diriku? Aku tampak sangat berbeda." Ungkap sia dengan sedikit berlenggak di depan cermin.


"Benar ini dirimu,aku sudah tahu bahwa kau memang cantik tapi setelah dipoles seperti ini kau tampak sangat menawan,aku yakin mata tuan muda itu tidak akan lepas melihatmu setelah kalian bertemu nanti," ucap Dian semangat.


Mendengar itu raut wajah sia seketika berubah, "Aku tidak yakin tuan muda itu akan ikut juga nanti." gumam sia pelan.


"Hei! ada apa dengan wajah lesu itu, dia pasti akan datang.dia kan calon mempelai laki-laki nya."


"Kau tidak tahu Dian, seperti apa tuan muda Abhimanyu maheswara itu." Ujar Sia menatap ke arah Dian.


"Maksudmu?"


Sia kemudian menceritakan semua tentang Abhimanyu yang dia ketahui kepada dian.sebelumnya dia sudah berjanji untuk menceritakannya kepada Dian setelah makan malam dengan keluarga maheswara berjalan lancar.tapi dengan kedatangan Dian mengejutkan nya kali ini menceritakan sekarang pun sepertinya tidak apa.


"Apa! si tuan muda itu ternyata mantan narapi-hmppp- hmpp"


"Astaga kau jangan berteriak seperti itu, masih ada bibi dan Bella di sini," ucap sia membekap mulut temannya itu.


Sia hampir lupa kalau Dian memiliki mulut yang tidak bisa di kontrol,jika sudah seperti ini dia hanya berharap bibi nya terutama Bella yang berada di ruang tengah tidak mendengar teriakan Dian yang membahana ini.


Dian hanya mengangguk-anggukan kepala dan meminta untuk sia melepaskan bekapannya itu.


"Hah..hah...Astaga aku hampir kehabisan nafas tau."


Sia kemudian tampak terkekeh geli, "maafkan aku, habisnya teriakanmu itu keras sekali," seketika Sia menyesal memberitahu Dian sekarang.


"Habisnya aku sangat terkejut hingga tidak bisa mengontrol diri." elak Dian.


"Yah tidak apa-apa,tapi aku sangat gugup kali ini,kau pasti sangat tahu bagaimana reaksiku jika bertemu orang banyak.apalagi sekarang terpaksa harus mengakrabkan diri dengan orang baru." Ucap Felysia gelisah.


Melihat itu Dian pun mengelus pundak sahabatnya itu guna memberi semangat, "kau tidak perlu khawatir,kudengar dari paman mu bahwa nyonya besar keluarga besar itu menyukaimu,sudah pasti keluarganya pun nanti akan menyukaimu."


"Maksudmu nyonya.sinta? Bagaimana kau bisa mendengar hal itu dari pamanku? Tanya felysia sedikit terkejut.


"Mmm ... Karna aku sudah kemarin saat aku kesini untuk melihatmu." Jawab Dian.


Sia kemudian ber oh ria saja mendengar jawaban Dian.


"Dari pada itu,aku sangat penasaran dengan rupa tuan muda itu,aku sebelumnya tak pernah tahu tentang perusahaan mereka, tapi mengetahui namanya saja, sudah pasti dia sangat tampan." Ujar Dian berangan-angan.


Sia yang melihat sahabatnya itu hanya meringis.tak pernah terpikirkan olehnya seperti apa tuan muda yang akan menjadi suaminya itu.tinggi badannya, pahatan wajahnya, Sia rasa dia terlalu jauh untuk membayangkannya.


Tiba-tiba pintu kamarnya didobrak keras membuat keduanya terkejut. di ambang pintu terlihat Arabella dan ibunya yang memandang mereka berdua terutama Sia dengan sinis.


" Oii princess ... Jemputanmu sudah datang noh dandan kok lama sekali sudah seperti orang hajatan." Ucap bibinya dengan sinis.


" Tidak apa-apa lama,toh hasilnya sebanding.lihat Sia, sudah berubah menjadi princess seperti yang kau katakan bukan." Balas Dian dengan mendorong Sia maju kepada mereka.


" Halah tak lebih cantik dari diriku.Awas kau nanti jangan mempermalukan ayahku dengan sifat pemalu mu itu!" Kini giliran Arabella yang berkata sinis.


"Ck,ck! kalian ini memang sangat mirip sebagai ibu dan anak, sama-sama bermulut pedas dan dipenuhi iri dengki ,miris aku melihatnya." Sarkas Dian kepada keduanya.


"Apa kau bilang!" Bella yang mendengarnya menjadi geram dan mencoba menampar Dian jika saja Sia tidak menghentikannya.


" Sudah cukup.kamu Bella dan juga Dian berhenti Adu mulut." Ucap Sia menengahi mereka.


" Huh, Kau tahu Sia aku dengar tuan muda itu mempunyai tempramen yang dingin dan suka membentak.wajar saja sih dia kan mantan narapidana,dan seorang mafia,kau baik-baik lah dengannya ya." Bisik Bella dengan senyum liciknya.


Dian yang melihat raut ketakutan Sia itu segera bertindak, " sudahlah jangan kau dengarkan wanita cabe merah keriting ini, sekarang ayo kita pergi saja, keluarga kolongmerat itu pasti sudah menunggumu."


Dia kemudian menggamit tangan sahabatnya itu untuk dan menggandengya,tak lupa ia menjulurkan lidahnya lucu seperti anak kecil untuk mengejek Arabella yang sekarang bermuka masam.




" Tuan, apa anda tidak apa-apa?" Tanya Leo kepada Abhimanyu setelah melihat wajah tertekuk pria itu selama berada di restoranan mewah ini.



Sore itu ketika di kantor Abhimanyu yang sedang menyusun strategi selanjutnya dikejutkan oleh panggilan yang datang dari ayahnya.



Mengira ada hal yang penting, Abhimanyu malah di buat kesal karena ternyata orang tua itu menyuruhnya untuk datang ke makan malam yang mereka khusus kan untuk bertemu dengan gadis yang katanya akan menjadi istrinya itu.



Awalnya Abhimanyu tak menggubris sama sekali, tapi seakan tak kehabisan akal Manaf maheswara malah menggunakan kelemahan Abhimanyu agar Abhimanyu menuruti perintahnya.



Dan sekarang disinilah dia,di sebuah restoran bintang lima yang berada dipusat kota, dengan tatapan dari para wanita di sini yang membuatnya risih.



Bahkan tadi ada yang tak segan menyapanya dan meminta foto seolah dia adalah artis papan atas yang baru naik daun.



Tapi untungnya ada Leo, pengawalnya yang selalu siap siaga disampingnya. Leo memang sangat tahu kalau Abhimanyu tidak suka menjadi pusat perhatian dan terlalu menonjol.



Sisi misterius dan hidup yang sangat anti Dengan basa-basi adalah hidup yang Abhimanyu jalani.sedari kecil selalu merasa sendiri dan tidak pernah benar-benar mendapat perhatian dari sosok orang tua membuat Abhimanyu tumbuh menjadi pria yang irit bicara dan bersikap tidak perduli.



Tapi meskipun begitu Leo tahu tuannya sekaligus teman masa kuliahnya dulu ini adalah orang yang baik dan care kepada orang yang dipercayainya, hanya saja memang cara penyampaiannya yang sedikit berbeda.



Dulu sebelum kejadian tujuh tahun lalu itu yang membuatnya harus mendekam dipenjara, Abhimanyu tak sedingin dan seapatis ini, dia masih bisa tersenyum walaupun terkadang hanya mengeluarkan sepatah dua patah saat terjebak obrolan panjang.



Tapi mengetahui yang berkhianat adalah adiknya sendiri, orang yang dia percayai, dia menjadi lebih dingin, sedikit arogan,dan selalu waspada seakan dia seperti membangun tembok pembatas yang menjulang antara dirinya dengan orang disekitarnya.

__ADS_1



Meskipun begitu Leo mengetahui jika sisi perhatian dan kasih sayang di dalam diri Abhimanyu itu itu masih ada,hanya saja itu masih tersembunyi.tinggal menunggu saja orang yang tepat yang menghancurkan dan menerobos dinding yang dia buat di hatinya dan berhasil menemukannya.



"Tuan muda,tuan besar dan nyonya besar sudah datang." Bisik Leo ke telinga Abhimanyu yang sedang meminum minumannya itu.


.


"Eh, Kau sudah datang rupanya,aku senang melihatnya." Ucap Sinta kepada putranya itu setelah dia menduduki tempatnya.



Sedangkan untuk sang suami yang masih harus duduk di kursi roda dia tempatkan di sampgnya.tentu saja dengan juru bicara suaminya dan pengawal disamping kiri kanan mereka.



"Yah karena setelah ini aku akan sangat sibuk." Balas Abhimanyu cepat, dengan senyum terpaksa.



"Dan sebenarya aku sangat tidak ingin menghadiri acara ini jika saja tidak dengan ancaman, sebetulnya masih banyak hal yang lebih penting yang bisa aku kerjakan dari pada datang ke acara makan malam konyol ini." Abhimanyu dengan mulut tajamnya.



Hal itu lantas membuat senyum nyonya.sinta merekah tiba-tiba turun secara drastis.dan itulah yang Abhimanyu inginkan.sebenernya Abhimanyu tak benar-benar membenci ibu tirinya ini tapi mengetahui bahwa kakaknya dan anaknya yang merencanakan konspirasi keji tujuh tahun lalu itu membuat dirinya tidak punya alasan untuk tidak membencinya.



Mr.manaf kemudian membisikkan sesuatu kepada asistennya, " tuan muda bersikap ramah lah kepada nyonya besar karena bagaimanapun dia adalah ibumu."ucap asisten itu menerjemahkan ucapan sang Presdir.



"Bagaimana seorang mantan narapidana bisa bersikap ramah, sudah pasti didalam penjara hanya kata-kata kotor yang di ucapkan nya." Tiba-tiba seorang pria datang dengan setelan jas berwarna cokelat menghampiri tempat duduk mereka.



"Kau!"



"Iya Kaka ini aku adik tersayangmu.bagaimana ini sebuah kejutan bukan." Ucapnya dengan seringai kecil.



"Arya kau ada disini? bukankah katanya kau sedang sibuk?" tanya nyonya Sinta kepada putranya itu.



"iya bunda aku disini.masalah pekerjaanku itu aku sudah membereskannya." jawab Arya melembut kepada ibunya.



"nyonya sepertinya tuan Presdir ingin ke toilet." bisik pengawalnya kepada Sinta.



"Ahh baiklah aku akan mengantarnya." ujar Sinta.



"tidak perlu nyonya, katanya tuan Presdir akan bersama pengawal saja.nonya uruslah situasi." bisik pengawal itu lagi.




"Cih tak menyangka kau juga akan kesini. ke acara yang bahkan tidak ada hubungannya denganmu" Sinis Abhimanyu.



"Oh tak apa,toh kebetulan aku sekalian mampir, melihat siapa wanita bodoh yang akan menghabiskan hidupnya untuk bersama penjahat sepertimu."



"Kau berani menghina bosku!."



Leo sudah maju dan ingin memberikan bogem mentah kepada pria itu jika saja Tidak dihentikan oleh Abhimanyu.



"Sabarlah.kunci dari sebuah pertarungan adalah ketenangan,buat musuhmu takut dan merasakan kekuatanmu dengan ketenangan." ucap Abhimanyu sambil menatap tajam ke Arya, adik tirinya itu.



Arya yang semula hanya diam tiba-tiba bertepuk tangan, "wah ... wah ... hubungan atasan dan bawahan yang baik,aku tidak menyangka ternyata kau masih mempunyai seorang bawahan yang setia disampingmu."



Abhimanyu kemudian terkekeh geli, " bukankah itu bagus meskipun dia bawahan tapi dia setia padaku, sedangkan orang yang aku percayai malah menusukku dari belakang.memang tak lebih dari seorang pecundang." ucapnya meremehkan.



"Sialan kau Abhimanyu!" teriak Arya dengan amarah.



"Kalian berhentilah!" tiba-tiba nyonya.sinta berteriak mencoba menengahi perdebatan kedua putranya itu.



"Kalian ini dua bersaudara dulu sangat damai, mengapa sekarang menjadi musuh seperti ini." ujar nyonya Sinta dengan raut wajah sendu.



"Cih aku tidak pernah menganggapnya saudaraku lagi sejak tujuh tahun yang lalu" ucap Abhimanyu.



"akupun tak pernah menganggapnya saudaraku.sejak dulu kita adalah rival abadi." ungkap Arya dengan wajah songongnya.



"Maaf ibu,aku sedikit terlambat karna tadi macet cukup membuat lama menunggu." tiba-tiba felysia datang dan menyapa nyonya Sinta dengan santainya.



Dia tidak melihat jika ada Arya, Abhimanyu dan Leo disana Karna posisinya sekarang yang membelakangi mereka.Begitu sia berbalik dan melihat arah mata nyonya Sinta menghadap Sia dikagetkan oleh teriakan dari Abhimanyu dan Arya.



"Kau! Felysia!" teriak dua pria itu berbarengan.

__ADS_1



"Felysia kenapa kau yang ada disini!" tanya Arya.



Felysia yang kaget sontak membulatkan matanya, yang dia lihat adalah tuan muda yang bersama pengawalnya di supermarket waktu itu dan sekarang Arya mantan kekasihnya itu.kenapa dia juga bisa ada di sini.



Setelah sekian lama tak melihat pria brengsek itu yang tak memberikannya penjelasannya tentang perselingkuhannya itu dan menghilang begitu saja,ingin rasanya dia menamparnya sekarang juga.



Tapi didepan nyonya Sinta dan juga pria yang ia temui di supermarket bersama pengawalnya itu disini membuat dia menahan dirinya.dan sekarang tatapan orang-orang disekelilingnya membuat nyalinya ciut seketika.



Tapi oh apa ini? aura permusuhan yang kuat diantara mereka tak bisa terelakkan,Sia sepertinya datang di waktu yang salah.



Sekarang Sia hanya bisa menunduk dan berharap bisa seketika menghilang dari tempat ini.



\*\*\*



Sebelumnya di rumah utama keluarga Maheswara.



Arya berjalan menuruni tangga dengan langkah tegapnya,pria bertubuh atletis itu baru hendak akan menuju pintu ketika teriakan sang bunda tiba-tiba menghentikannya.



"Arya!"



"Kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Sinta Kepada putranya itu.



"Haeuh, biasa bunda orang sibuk." balas Arya dengan gurauan.



"Kau ini masih saja kaya anak kecil." sinta menjawil telinga sang putra Membuat si empunya meringis.



"Aw,Aw sakit bunda. enggak, enggak lagi deh," kata Arya mengusap telinganya yang memerah.



"Katakan kau mau kemana?" tanya sinta sekali lagi.



"Aku beneran ada urusan bunda, serius deh," kata Arya dengan wajah dibuat memelas.



"Kau tidak akan ikut di makan malam nanti?" tanya Sinta.



"Makan malam untuk apa,Bun?" tanya Arya bingung.



"Ouh ya bunda lupa memberitahumu," kata Sinta menepuk pelan jidatnya sendiri.



"Malam nanti akan ada makan malam untuk pertemuan dengan calon istri Abhimanyu, kakakmu." jelasnya.



Arya yang mendengar lantas tertawa mengejek, "Si mantan napi itu akan menikah? Waah,baru keluar dari penjara sudah disuruh nikah saja."



"Kau!" Sinta yang geram memukul lengan Arya.



"Hormatilah kakakmu,jangan berbicara seperti itu."



"Lah emang kenyataanya seperti itu kok." ucap Arya tak merasa bersalah.



Sinta hanya menggelengkan kepalanya pelan.



"Sudahlah kamu pergi saja, cape bicara denganmu," kata Sinta.



"Ada ataupun tidak adanya dirimu, tidak akan berguna juga. yang ada kau dan Abhimanyu malah akan berkelahi." lanjutnya.



"Ya, ya oke bundaku tersayang. ya udah aku pergi dulu.bay," ujar Arya lalu mencium pipi bundanya sekilas dan kemudian melesat keluar.



"Anak itu .... " Sinta menggeleng pelan.



"Kapan kalian dua bersaudara bisa akur." monolog Sinta melihat bayangan Arya yang sudah menghilang.



Sementara itu Arya yang akan masuk ke dalam mobil sport mewahnya berhenti sejenak dan berfikir.


__ADS_1


"Hmm,tidak adanya salahnya aku datang ke Dinner itu nanti.aku akan melihat wanita bodoh mana yang ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama seorang mafia seperti si Abhimanyu itu," kata Arya dengan semriknya.


__ADS_2