
Abhimanyu diam berdiri di balkon hotel dengan tatapan kosong, tangan pria itu mengepal kuat.Memikirkan apa yang terjadi hari ini membuatnya berfikir ulang tentang rencana balas dendamnya.
Mengetahui fakta Arya yang menyedihkan karena merasa tak memiliki kasih sayang ayah mereka membuat fikiran Abhimanyu terbuka,apakah dirinya terlalu kejam kepada adik tirinya,apakah rencana balas dendam ini harus ia hentikan sampai sini.
Seseorang menepuk bahunya membuatnya refleks menoleh.
"Sedang apa kau di sini?" Pak Manaf bertanya, pria paruh baya tersebut kini mengandalkan tongkat sebagai penopang tubuhnya.
"Ayah," Abhimanyu melirik sang ayah, "Harusnya aku yang bertanya begitu, kesehatan ayah belum pulih, harusnya ayah beristirahat."
Pak Manaf membuang nafas kasar, "Apakah selama ini aku salah dalam mendidik kalian," lirihnya.
Abhimanyu menoleh, "apa maksud ayah?"
"Sepertinya yang dikatakan Arya benar, selama ini aku terkesan pilih kasih kepada kalian berdua,aku menyadari sejak kalian kecil, perhatian ku selalu tercurah padamu,karna kau ahli waris ku, seseorang yang meneruskan kepemimpinanku kelak."
"Aku tak menyadari jika tindakanku itu akan menghancurkan hati salah satu putraku, sehingga dia menjadi liar seperti sekarang," tatapan mata pria tua itu meredup seiring gurat kesedihan yang semakin tampak terlihat.
Abhimanyu tak mendengarkan ucapan ayahnya, pikirannya terlalu berkecamuk, balas dendam yang dia janjikan kepada wanita-wanita yang pernah Arya sakiti sekarang di pertanyakan,namun di satu sisi ia mulai ragu untuk melanjutkan balas dendam ini.
***
Pagi sekali semua orang dibuat heboh, beberapa polisi datang ke hotel tempat mereka menginap sekarang, Semua orang terkejut,mereka seperti sudah bisa menerka apa yang akan para polisi tanyakan.
"Kami di sini untuk menangkap putra anda, Arya Wijaya Maheswara," ucap polisi to the poin setelah di tanya pak Manaf tentang tujuan mereka.
"Ada banyak laporan yang masuk tentang kejahatan putra anda, jadi untuk mempermudah jalannya prosedur hukum, beritahu di mana keberadaan anak anda jika Anda berniat menyembunyikannya," jelas polisi itu,tegas.
"T-tapi kami sendiri tidak tahu keberadaannya pak, anak itu menghilang sejak tadi malam," ucap pak Manaf mencoba mencerna situasi. Laporan ini terlalu cepat.
Tatapan sang polisi tampak tidak percaya,maka dengan satu gelengan memerintahkan kepada anak buahnya, "Geledah."
"Baik," beberapa polisi mengangguk kompak lalu mulai berlari, berpencar.
Semua anggota keluarga yang tersisa tampak khawatir, mereka memasang wajah waspada kepada para polisi yang mulai menggeledah hotel ini,mencari keberadaan Arya. Abhimanyu di duduknya pun terkejut,kapan laporan terhadap Arya dibuat,siapa yang melaporkannya, bahkan ia belum menyuruh utusannya untuk melapor ke polisi.
"Jika kalian berusaha untuk menyembunyikannya,maka beritahu sekarang," ulang polisi itu.
"Kami tidak berniat seperti itu pak, jika kau menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara sekarang pun saya akan setuju, karna memang itu seharusnya dilaksanakan," ujar pak Manaf lagi.
Para polisi kembali lagi dengan serempak, "Lapor pak, kami sudah mencari hingga kesudut ruangan, tapi tak menemukan pelaku ataupun hal yang mencurigakan."
Pemimpin polisi itu tampak menghela nafas, ",Bisa kalian beritahu di mana saja tempat pelaku biasa kunjungi?"
__ADS_1
***
"Anak itu benar-benar sudah menjadi aib." Pak Manaf memukul sisi kursi dengan geram.
Situasi sudah mulai tenang saat para polisi itu melenggang pergi kembali mencari Arya. Kini, status Arya ditetapkan sebagai buronan karna keberadaannya sulit ditemukan, tapi setelah di mintai keterangan dari para orang terdekat, mereka mulai mencari titik terang keberadaan Arya.
Pintu kamar yang seluas ruang tamu itu terbuka, terpampang sesosok wanita yang perutnya membuncit dan penampilan berantakan, Bella berjalan limbung, bahkan gaun pengantin putih itu masih melekat di tubuhnya.
"Bunda," seru Bella menghampiri Sinta, wanita itu memeluk ibu mertuanya dengan Isak tangis hebat.
"Di mana mas Arya bun? Apa dia sudah di tangkap polisi?" Bella menangis di pelukan sang ibu mertua.
"Bunda juga tidak tahu nak, polisi masih sedang mencari," ucap Sinta tergugu. Ketakutan akan anaknya yang kini menjadi buronan menghantuinya.
"A-aku sudah melihat di sosmed, berita ini sudah tersebar luas bun, aku tidak sanggup melihat caci maki orang-orang," ucap Bella melepaskan pelukannya.
Wanita Hamil memang cenderung lebih sensitif, kejadian ini pasti sangat mengguncang hati Bella, bahkan di hari bahagianya menjadi pengantin,ia harus menerima kenyataan tentang kebejatan sang suami.
Bella menatap ke sekeliling,mata wanita itu bersibobrok dengan netra terang Felysia yang kini menatapnya iba. Ntah.bisikan dari mana Bella tiba-tiba menerjang, menghampiri Felysia.
"Semuanya pasti gara-gara wanita sialan ini!" Bella berseru marah, kedua tangannya tergerak mencekik leher Felysia.
Semua orang yang berada di situ memekik kaget, segera saja melerai, termasuk Abhimanyu yang kini berjalan ke arah mereka.
"Semua ini pasti gara-gara lo, wanita sialan!" Bella semakin mengeratkan cekikikannya. Semua orang sudah berusaha untuk menarik Bella.
"Apa yang kau lakukan." Abhimanyu datang, dengan satu gerakan tak segan mendorong Bella.
Jika tak ditangkap oleh dua orang anggota keluarga di belakangnya,Bella sudah dipastikan jatuh.nafas wanita itu memburu.
"Uhuk-uhuk!" Felysia tampak terbatuk dengan susah payah, cengkraman tangan Bella di lehernya begitu kuat.
"Kau tidak apa-apa," tanya Abhimanyu memindai leher Felysia yang kini memerah bekas cekikan.
Felysia mengangguk ragu, nafas gadis itu tampak tak beraturan dengan keringat di dahi.
"Suamimu yang menjadi buronan, kenapa istriku yang kau salahkan," geram Abhimanyu. Bella memandang Abhimanyu dengan sengit.
"Sudah Abhimanyu," pak Manaf yang tak berdaya di tempat duduknya hanya menggeleng pasrah.
Dengan keadannya yang sekarang,dia merasa tak berguna sebagai kepala keluarga.
"Kalian lebih baik kembali saja," ucap pak Manaf memandang keduanya. wajah tua itu tampak terlihat lelah.
__ADS_1
"Urusan ini biar kami yang selesaikan,kalian sama sekali tak terlibat."
"Terlebih Abhimanyu,kau besok sudah harus masuk ke kantor kan. Kembalilah ke rumah kalian," tambah pria tua itu.
Abhimanyu tampak menimang lalu memandang sang istri yang kini tampak menahan sakit. Lalu Abhimanyu lebih memilih mengangguk setuju,dia juga harus mencari tahu siapa yang membuat laporan terhadap Arya.
***
Abhimanyu dan felysia akhirnya lebih memilih pulang. Di rumah, Felysia terduduk di sofa panjang dengan sekotak P3k di tangannya, cekikan yang diberikan Bella bukan saja hanya kuat dan erat tapi Bella dengan sengaja menggunakan kukunya yang panjang hingga membuat kulit leher Felysia menjadi luka.
Tiba-tiba Abhimanyu sudah duduk di sampingnya, melihat sang istri yang cukup kesusahan menaruh plester luka di lehernya, Membuat lelaki itu tergerak membantu.
Felysia tampak terkejut, gadis itu membeku seketika, Abhimanyu dengan telaten menaruh plester di tempat luka sayatan di lehernya.
"Apa kalian sering seperti ini?" Abhimanyu bertanya,pria itu lalu menaruh kotak P3k di bawah meja.
"Apa?" Felysia tak mengerti.
"Jika kalian berkelahi, apakah Bella selalu melakukan kekerasan padamu?" Abhimanyu menoleh menatap manik terang itu.
"Eh, T-tidak, Bella memang sedikit kasar jika kita terlibat masalah tapi tak sering, Bella lebih sering baik padaku," ujar Felysia.
Melihat gerak-gerik sang istri Abhimanyu tahu bahwa dia berbohong. Felysia bukanlah tipe wanita yang melawan jika disakiti, itulah yang di khawatirkan Abhimanyu,hidup gadis itu pasti sangat berat saat bersama keluarga pamannya.
"Justru aku ingin minta maaf padamu," lirih felysia menunduk.
"Untuk?" tanya Abhimanyu.
"Untuk semuanya. Maaf karna terus menyusahkan mu," ucapnya.
Abhimanyu tak menjawab, lebih memilih menatap lekat sang istri yang kini terus menunduk. Sementara Felysia di tatap seperti itu membuatnya menjadi salah tingkah.
Abhimanyu mengangkat satu tangannya, mengelus dengan sayang pipi sang istri, felysia mendapat perlakuan seperti itu mengerjapkan mata.
"Bagaimana ini? sepertinya sekarang aku benar-benar telah jatuh cinta padamu," ujar Abhimanyu.
Lenggang, keduanya insani itu terlihat menatap dalam. Felysia bisa merasakan tatapan tulus Abhimanyu hanya untuknya.
"Apa aku harus menghentikan balas dendam ini dan hidup bahagia bersamamu?"
Felysia semakin mengerjapkan mata, antara terkejut dan tak mengerti.
Balas dendam apa yang Abhimanyu katakan?
__ADS_1