Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 59


__ADS_3

Keesokannya, persidangan pertama untuk Arya dimulai. Dengan masker dan jaket yang menutupi tubuhnya, Arya di giring polisi menuju gedung yang menentukan nasibnya ini.


Nyonya Sinta datang bersama Bella, juga ada beberapa keluarga yang datang ingin menyaksikan bagaimana jalannya persidangan ini, dengan berderai air mata kedua wanita itu menatap pilu ke arah Arya yang di tuntun ke kursi depan hakim dengan kedua tangan di borgol.


Pak Manaf tak ikut menghadiri persidangan, jika di tanya kenapa? Kekecewaan terhadap Arya sangat menyakiti hati pria paruh baya itu,meski begitu ada Abhimanyu yang mewakilinya.


Setelah itu hakim pun mendatangkan para korban dan saksi tak lupa bukti-bukti yang sudah terkumpul di terpampang jelas di sana.


Terhitung ada sepuluh wanita yang menjadi korban Arya termasuk Maria, masalah mereka dengan Arya beragam, bahkan ada keluarga korban yang ikut melaporkan Arya ke polisi karena kejahatan pria itu,yang membuat sang korban wanita menjadi depresi dan memilih mengakhiri diri,karna Arya yang melakukan kekerasan padanya hingga ia keguguran dan kehilangan bayinya yang padahal juga adalah anak Arya.


Saat dibacakan oleh jaksa penuntut umum, semua orang yang ada di ruangan itu berseru heboh.


"Bahkan dia menganiaya wanita hamil, biad*b sekali."


Seruan-seruan dan bisikkan kian terdengar, merasa ricuh hakim meminta semua orang untuk diam.


Sementara Abhimanyu dengan setelan jas hitam rapih,tak jauh dari keriuhan orang-orang di sana,menatap ke arah Arya. Melihat wajah yang kini tak memiliki tujuan hidup, seakan mengingatkan ia tentang dirinya sendiri tujuh tahun lalu.


Seperti Dejavu, Abhimanyu melihat Arya seperti melihat dirinya, dengan situasi yang sama dan rasa putus asa yang sama. di kursi itu dengan tangan terborgol, Abhimanyu seakan melihat bayangannya sendiri.


Berbeda dengan Arya yang mempunyai support system berupa keluarga yang kini hadir untuknya, pengacara terbaik yang nyonya Sinta siapkan untuknya. Sementara Abhimanyu saat itu benar-benar sendiri,menahan rasa sakitnya sendiri di kursi persidangan.


Lalu setelah semua keterangan di jabarkan, para saksi di hadirkan, jaksa umum memberikan beberapa pertanyaan yang harus mereka jawab, Abhimanyu menatap dari jauh, netranya lalu bersibobrok dengan manik hitam Maria, wanita itu menatapnya seperti mengisyaratkan sesuatu, seperkian detik mereka mengunci tatapan sampai akhirnya Abhimanyu yang lebih dulu mengalihkan pandangan.


Waktu terus bergulir, Perseteruan sempat terjadi antara jaksa penuntut umum dan pengacara Arya, hingga akhirnya setelah beberapa jam berjalan pengadilan terhenti dan di lanjutkan lagi di tanggal yang sudah di tentukan hakim.


"Saya hanya ingin terdakwa itu dihukum mati yang mulia!"


Ucapan Maria terdengar lantang dan penuh penekanan,saat di mintai kata-kata terakhirnya untuk pelaku, wanita itu menatap tajam ke arah Arya.


Seruan orang-orang kembali heboh mendukung apa yang di ucapkan Maria.


"Saya ingin lelaki biad*b itu mendapat hukuman yang setimpal atas nyawa yang hilang sia-sia, atas hidup para wanita yang hancur karenanya."


Lalu Maria turun dari meja bimbar dengan nafas yang terengah,puas karna berhasil mengeluarkan uneg-unegnya.


Seperkian detik matanya kembali menatap Abhimanyu, wanita itu tersenyum ke arahnya, Membuat Abhimanyu diam-diam mengacungkan jempol karna keberaniannya.


***


Abhimanyu berjalan di sekitar gedung pengadilan menuju pelataran parkir. dengan pikiran berkecamuk, dan tatapan kosong. seperti ad yang hilang dari dirinya, ntahlah sesuatu yang membuatnya sedih saat Arya melewatinya dengan tatapan sendu tadi.


"Tak perduli Apapun yang terjadi kau harus membebaskan putraku."


Abhimanyu terhenti mendengar suara itu, dia sangat kenal,itu adalah suara sang ibu. Abhimanyu memelankan langkahnya menengok ke samping tampak wanita bergaya anggun itu sedang mengobrol dengan pengacara sang putra.

__ADS_1


"Kau tidak usah khawatir nyonya Shinta, saya akan berusaha sekuat saya untuk membebaskan tuan Arya dari tuntutan ini," ucap pengacara kondang itu.


Shinta mengangguk, "Ingat aku sudah membayar mu sangat mahal. lakukan apapun, jika perlu sogok saja pengadilan itu, tentang uang aku bisa memberi banyak asal putraku terbebas."


Abhimanyu menarik diri setelah menguping pembicaraan keduanya. lalu melanjutkan langkahnya dengan tersenyum getir.


Kasih sayang yang berbelebih nyonya Shinta seakan membutakan mata hatinya akan kejahatan yang dilakukan putranya, apapun akan dia lakukan Meski itu salah, untuk tetap bisa melihat putranya bebas. sungguh miris, pikir Abhimanyu.


***


"Tuan Maheswara, Tunggu,tuan Maheswara!"


Teriakan itu membuat Abhimanyu menghentikan kegiatannya membuka mobil. Tampak dari ekor matanya, Maria berlari terengah-engah menghampirinya.


Saat sudah akan dekat dengan Abhimanyu, tiba-tiba tubuh Maria tak seimbang karna sempat terhantuk membuatnya terhuyung.


"Hati-hati."


Ucapan itu menyadarkan Maria yang menutup matanya, Maria memekik karena ternyata ia tak jatuh, ada Abhimanyu yang menahan perutnya hingga bobotnya tak sampai menyentuh tanah.


Menyadari itu Abhimanyu segera saja menarik tangannya, Maria cepat-cepat membetulkan posisi dengan wajah yang tiba-tiba bersemu merah.


"Terimakasih," ucapnya tersenyum kikuk.


Abhimanyu hanya mengangguk, merapatkan tangannya ke belakang.


Dengan cepat Maria mengangguk memaklumi, harusnya pria itu tak perlu meminta maaf.


"Ada apa kau memanggilku? tanya lelaki itu.


"Ah,ya ini." wanita dengan rok selutut dan blezer hitam itu menyerahkan sebuah kotak ke hadapan Abhimanyu.


Abhimanyu mengambil kotak persegi itu dengan tatapan ragu.


"Itu adalah sepatu, mudah-mudahan ukurannya pas denganmu."


Maria tersenyum lebih lebar, berharap pria tersebut berekspresi gembira dan membuka kotaknya untuk melihat sepatu yang ia berikan. namun nihil, harapan Maria hanya sekedar harapan, Abhimanyu hanya bergeming dengan ekspresi biasa.


Maria menurunkan bahu dengan raut yang sedikit kecewa, tapi ia segera menepis.Dia mengerti Abhimanyu memang terkenal dengan sifatnya yang pasif dan sangat cuek, apalagi mereka belum lama berkenalan.


"Itu adalah hadiah untuk ucapan terimakasih ku."


"Terimakasih ya." kini nada wanita itu ia buat selembut mungkin dan berhasil Abhimanyu menoleh padanya.


"Kalau bukan karna mu, Arya tak mungkin bisa di tangkap dan bisa tetap bebas di luar sana,kalau bukan karnamu wanita-wanita yang menjadi korban Arya tak akan bisa di temukan dan mendapat keadilan mereka, sepertiku."

__ADS_1


"Aku sungguh bersyukur pada Tuhan,bisa di pertemukan dengan pria sebaik dirimu." ucap Maria dengan tersenyum tulus.


Membuat Abhimanyu yang semula biasa saja sedikit terkejut, lalu Abhimanyu mengangguk.


"Sama-sama, memang sudah seharusnya aku melakukan itu sejak awal," ujar Abhimanyu.


"Oh ya, kau kan yang mengirimkan pengacara untuk kita?" tanya Maria. karena saat di pengadilan seorang pengacara datang dan mengatakan dia ada di pihak korban. padahal Maria dan para wanita yang menjadi korban Arya tak pernah menyewa seorang pengacara.


Abhimanyu mengangguk kecil sebagai jawaban, sejak awal Abhimanyu memang sudah mempersiapkan pengacara untuk mereka.


Seperkian detik berlalu, Maria terhanyut menatap pria di depannya ini. Seminggu Maria mengenal lebih dekat Abhimanyu, sama seperti berita yang selalu beredar, Abhimanyu terlihat sangat menawan.


"Oh ya satu lagi,jika tak keberatan, apakah aku boleh mengundangmu untuk makan malam bersama?"


***


Petang Abhimanyu kembali kerumah, di kantor tak banyak yang ia lakukan hanya mengecek beberapa email yang masuk karna semuanya sudah di handle sekretaris mawar dan juga Leo.


Saat hendak masuk ke dalam,tercium wangi harum enak yang menusuk indera penciumannya.


"Kau sedang apa?" Abhimanyu menyapa Felysia yang kini tengah sibuk di dapur.


"Kau pulang." Felysia berlari kecil menghampiri Abhimanyu, wanita itu tampak terlihat imut dengan celemek bergambar Doraemon dan rambutnya yang di cepol asal.


"Aku sedang membuat beberapa brownies, di bantu bi ati." Felysia nyengir lebar.


Merasa gemas, Abhimanyu mengacak pelan Surai panjang istrinya. Ia mengerti sejak berhenti dari tempatnya mengajar, waktu felysia lebih banyak di rumah,jika tak ada keadaan mendesak Abhimanyu melarang gadisnya untuk keluar komplek. jadi mungkin Felysia memanfaatkan waktu luang yang ada untuk menikmati hobinya, Membuat beragam aneka kue salah satunya.


"Silahkan kamu membersihkan diri dulu, aku akan menyiapkan brownies ini juga untukmu."


Abhimanyu mengangguk lalu berjalan menuju tangga. Tapi satu seruan felysia membuat langkahnya terhenti.


"Mas kau membeli sepatu?" tanya Felysia menemukan kardus sepatu bewarna silver di atas kotak.


"Oh, kau taruh saja sepatu itu di sana." ucap Abhimanyu.


"Apa aku harus membukanya dan menaruhnya di rak? tanya Felysia lagi.


Abhimanyu tampak berfikir sejenak, "Tak usah. aku tak akan memakainya, mungkin akan kuberikan pada Leo nanti."


Felysia mengangguk setelah pria itu melengkah kan kakinya kembali. Felysia sempat membuka kotak sepatu itu, ada sebuah note kecil di sana.


Felysia mengambil kertas tersebut.


[Untuk pria baik yang selama ini mengisi hatiku.

__ADS_1


Tertanda : Maria. ]


Felysia tertegun membaca tulisan di kertas itu, Maria? nama wanita yang baru di telinga felysia. Siapa wanita ini? apakah dia yang memberikan sepatu ini untuk Abhimanyu?


__ADS_2