
Di sebuah ruangan remang tanpa pencahayaan yang jelas seorang pria berbadan tegap masuk ke dalam untuk melapor kepada tuannya. Kini dia berdiri tak jauh dari tempat tuannya duduk.
"Jadi berita apa yang kau dapatkan David?"
"Lapor, besok adalah kepulangan putri anda, tuan abbas." Lapor David, salah satu orang kepercayaan Abbas.
Abbas yang duduk membelakangi meja kerja, memutar kursi kekuasaannya.
"Besok?" Gumamnya.
Itu artinya keberangkatannya akan sama dengan keberangkatan Arya.
David mengangguk, "benar pak."
"Jam berapa pesawat yang ditumpanginya landing?" tanya Abbas.
"Sekitar jam 2 siang,pak." Jawab David.
Abbas menggut-manggut.dia sudah sangat merindukan putri kesayangannya itu.Sarah Sanjaya mawangsa, adalah putri tunggalnya yang kini sedang melanjutkan s2-nya di Oxford university,di Inggris. tak menyangka sudah empat tahun Sarah berada di sana, dan besok adalah hari kedatangannya ke tanah air setelah kelulusannya.
"Baiklah, besok kosongkan semua jadwalku. Aku ingin menjemput putriku secara langsung di bandara nanti." Perintah Abbas.
"Baik pak."
"Lalu bagaimana dengan Zeline? apa wanita itu tetap berontak?" tanya Abbas lagi.
"Untuk saat ini tidak tuan,karna terakhir dia mencoba memberontak saya mengikatnya di ruang bawah tanah sesuai perintah anda."
"Bagus. tetap pantau dia 24 jam jangan sampai berusaha untuk kabur lagi kali ini." ujar Abbas.
David mengangguk, "Baik tuan."
"Baiklah kau boleh pergi."
David membungkuk badannya, hormat dan berlalu ke luar ruangan itu.
Abbas menyenderkan punggungnya di badan kursi, merenggangkan otot lehernya yang sedikit kaku.
"Andai si bedebah Abhimanyu itu tak pernah kembali,kini aku pasti sedang menikmati hidupku yang sejahtera dan bergelimang harta." monolognya menatap langit-langit.
***
Malam hari di Mansion utama, suasana di sekitar Mansion tampak lenggang, tak ada aktivitas yang terjadi di dalam maupun di luar mansion,mungkin sebagian orang yang menghuni mansion ini sudah berlalu ke peraduan dan merajut mimpi mereka masing-masing.
Felysia di kamarnya tampak tak bisa lelap tertidur,ntahlah sudah tiga hari sejak kedatangannya ke mansion ini, felysia sama sekali tak pernah merasakan yang namanya tidur nyenyak, pemikirannya selalu melanglang buana entah kemana. entah memikirkan tentang pernikahan kontraknya dengan tuan muda itu, atau memikirkan tentang kerinduannya kepada sang paman.
Sore tadi setelah Abhimanyu dan dirinya mengunjugi makam bunda Melisa, ibu dari pria itu,mereka langsung kembali ke mansion lagi. Abhimanyu tampak selalu diam tak bersuara saat di perjalanan ataupun sampai tiba ke mansion.
Saat makam malam tadi pun, Abhimanyu hanya memakan makanannya dan langsung kembali ke kamarnya. sampai-sampai angel yang melihat perubahan sikap Abhimanyu jadi dongkol dan kesal sendiri karna pria itu terus mengabaikannya.
Felysia lantas bertanya-bertanya,apakah Abhimanyu yang sekarang sedang menunjukkan sisi lemahnya, pria itu pasti sangat merindukan ibunya, felysia tahu itu. meskipun tak ada memori kenangan ataupun sekedar foto bersama tapi sosok ibu selalu mempunyai peran penting untuk hidup kita, dengan ataupun tidak kehadirannya di samping kita, kehilangannya akan tetap terasa.
Felysia yang tak bisa tidur itu akhirnya turun dari kasurnya, dan berjalan ke luar kamar.
Dengan keberanian yang tiba-tiba datang, membawa kaki kecil felysia untuk melangkah ke undakan tangga menuju lantai atas, ke kamar Abhimanyu berada.
Dengan sedikit mengendap-ngendap,kini felysia sudah berada di depan pintu kamar Abhimanyu. felysia tidak tahu apa yang dilakukannya,dia hanya berpikir tidak apa-apa untuk sesekali menanyakan keadaan tuan muda itu, mengingat wajah murung Abhimanyu yang terus terpatri sejak mereka pulang dari pemakaman terus membayanginya.
__ADS_1
Felysia hendak mengetuk pintu,ketika tiba-tiba suara Leo terdengar dari arah ruangan lain di samping kamar Abhimanyu. Ruangan itu setahu felysia adalah ruang kerja Abhimanyu di sini.
Dengan sedikit mengendap-endap felysia berusaha mendekatkan telinganya di daun pintu, mencoba menguping pembicaraan penting antara atasan dan asisten itu.
Felysia tahu ini salah, tapi rasa penasarannya yang tinggi Membuatnya mau tak mau harus melakukan ini.abhimanyu memiliki begitu banyak rahasia yang disembunyikannya, hidup tuan muda itu terlalu misterius.
Sementara itu di dalam ruangan, Abhimanyu duduk di kursi kerjanya sambil manggut-manggut mendengar penjelasan Leo. dengan tangannya yang memainkan sebuah pulpen, membuat ia terpikirkan ide yang sedari dulu ia pikirkan.
Apakah kini sudah saatnya dia membalas dendam?
"Jadi Sarah, putri Abbas itu akan tiba di sini besok?" Tanya Abhimanyu memastikan.
Leo mengangguk, "Ya, tuan muda."
"Sebenarnya apa yang anda rencanakan, sampai menyuruh saya mencari info tentang nona Sarah ini?"
Abhimanyu berdiri dari duduknya, memutari meja dan berjalan pelan. Pria itu menyunggingkan senyum penuh arti.
"Sarah Sanjaya mawangsa, adalah putri tunggal kesayangan Abbas. sejak kecil Abbas selalu memanjakannya. aku tahu Abbas sangat menyayangi putrinya itu mungkin melebihi apapun."
"Lalu ... Bagaimana jika dia melihat putri kesayangannya itu disakiti dan hidupnya hancur porak poranda?"
Leo tampak bergeming sejenak melihat tuan mudanya itu.kini apa yang akan di rencanakan Abhimanyu.
"Eum ... Abbas juga pasti akan ikut hancur karna hidup putri yang di cintai nya hancur." Jawab Leo ragu-ragu.
"Tepat sekali. Dan kehancuran itulah yang aku ingin lihat dari Abbas," kata Abhimanyu.
Leo Membulatkan matanya dramatis. Seolah mengerti apa yang sedang di rencanakan tuannya itu.
"Ya. Aku akan menggunakan Sarah sebagai alat dalam upaya balas dendam ku kepada Abbas," Kata Abhimanyu matang.
"Aku ingin putrinya lah yang merasakan apa yang kurasakan dulu." tambahnya.
"Tuan muda, tidakkah kau pikir caramu ini terlalu ekstrim, kau berusaha menghancurkan hidup seorang wanita?" Ujar Leo berusaha membuat Abhimanyu sadar.
Jadi ini yang Abhimanyu maksud dengan balas dendam tapi dengan cara lain? Tapi Rencana Abhimanyu ini terlalu beresiko.
"Tidak ada yang tidak ekstrim dalam sebuah balas dendam, Leo," ucap Abhimanyu datar.
"Kenapa? Apa kini kau mulai ragu Leo?" Kata Abhimanyu lagi melihat Leo yang pias dengan wajah tidak yakin.
"Bukan begitu tuan muda, tap--"
"Kau sudah berjanji untuk bersumpah setia sebagai bawahanku,apa kau ini mulai mengingkarinya?" Ujar Abhimanyu memotong ucapan Leo.
Tatapan Abhimanyu kini mulai mengintimidasi.
Leo semula cemas kini membuang nafas kasar. Dia tidak yakin tapi apa yang di katakan Abhimanyu benar, sebagai seorang pria dia tidak mungkin mengingkari perkataannya.
"Baiklah ... Lalu bagaimana rencana anda,tuan muda," ucap Leo akhirnya.
"Untuk itu aku akan memberitahumu nanti," kata Abhimanyu dengan senyuman yang mengerikan.
Sementara itu di balik pintu ruang kerja itu, felysia yang menguping pembicaraan mereka dari awal sampai akhir, memekik dalam hati.
"Balas dendam? Apa maksudnya itu?" Felysia bermonolog dalam hati.
__ADS_1
Lalu siapa wanita yang bernama Sarah itu? Apakah dia wanita baru dalam kehidupan tuan muda itu?
Felysia mulai bertanya-tanya.
Felysia tak mengerti, semakin ia mengulik dalam tentang kehidupan Abhimanyu, semakin ia tidak mrngerti.pria dingin itu mempunyai sejuta rahasianya yang membuat felysia harus memutar otak untuk mencerna ini.
Saat felysia sedang berfikir, tiba-tiba kenop memutar dari dalam. Felysia terpekik kaget,
Tidak. Dia akan ketahuan.
Dengan sisa waktu yang ada felysia menjauh dari pintu, dengan jantung yang berdegup kencang seakan sedang meloncat, felysia memejamkan matanya,berdiri di depan tembok yang menjadi sekat antara kamar Abhimanyu dan ruang kerjanya.
Abhimanyu keluar dari ruangan, di susul ajudannya, Leo di Belakang. Abhimanyu mengernyitkan dahinya melihat felysia yang berdiri berhadapan dengan tembok yang tak jauh dari tempatnya berpijak.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Abhimanyu menghampiri felysia yang sudah panas dingin di tempatnya.
Mereka berhadapan, felysia mencoba sebaik mungkin menutupi kegelisahannya,dia berpura-pura memperbaiki rambut panjangnya ke arah belakang berusaha untuk tidak gugup.
"E-eh T-tuan." Felysia gugup setengah mati.bagaimana jika Abhimanyu mencurigai dirinya menguping pembicaraan. Padahal sebenarnya memang benar.
"Sekali lagi kutanya, apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Abhimanyu menekan perkataannya.
Felysia tampak salah tingkah.
"Eeuu itu,anu.Aaa ya,aku sedang mengelap tembok ini, tuan. Siapa tahu ada kotoran hehehe." Felysia yang sudah terkadung malu hanya mengusap-usap tembok di hadapannya.
Abhimanyu semakin mengerut heran. wanita dihadapannya ini sekarang bertingkah aneh.
"Ayo,ikut."
Abhimanyu menggamit lengan felysia dan menariknya untuk mengikuti langkahnya.
Leo yang di tinggalkan di belakang, hanya geleng-geleng kepala. Leo mendesah pelan, sebelumnya akhirnya melenggang pergi.
Abhimanyu membawa membawa felysia ke kamarnya. Pria itu menarik felysia dan mengapitnya di samping pintu.
"Tuan apa yang kau lakukan?" Felysia merundukkan wajahnya,karna kini posisi mereka yang terlalu dekat.
"Ku tanya sekali lagi,apa yang kau lakukan di depan tadi?" kata Abhimanyu semakin mencondongkan tubuhnya ke arah felysia.
"Eum, sebenarnya aku ingin menanyakan keadaanmu tuan," ujar Felysia.
Sumpah demi apapun jarak mereka yang sangat dekat seperti ini membuat dada felysia bergemuruh hebat. bisa felysia rasakan hembusan nafas Abhimanyu yang menerpa wajahnya.
"Kenapa? kau Khawatir padaku? hmm."
Abhimanyu menatap lekuk wajah felysia intens, mata bulatnya yang indah dengan bulu mata lebat, hidung mancungnya, kulitnya yang putih bersih tanpa makeup apapun, membuat pandangan Abhimanyu jadi tak fokus.
"Tentu aku khawatir tuan, sedari sore kau terus diam dengan wajah murung, aku kira kau sedang sakit atau merasakan sakit," kata felysia.
Abhimanyu melangkah mundur, melepaskan kekungannya dari gadis itu.
"Terimakasih." kata Abhimanyu pelan hampir tak terdengar.
"Hah?" felysia tak mendengar ucapan Abhimanyu.
"Terimakasih. terimakasih Stela, karna terus mengkhwatirkan saya."
__ADS_1