Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 76


__ADS_3

"Abbas, sekarang benar-benar tidak di ketahui keberadaannya,tuan muda. Seakan hilang di telan bumi, jejaknya pun sudah tidak bisa di lacak."


Di ruang gelap minim pencahayaan itu, Leo melapor kepada sang tuan tentang apa yang sudah ia selidiki selama ini. Di luar tanggung jawabnya sebagai tangan kanan Abhimanyu di perusahaan, Leo juga orang yang paling di percaya Abhimanyu untuk pekerjaan seperti ini.


Leo memang mempunyai intuisi yang tajam, kepekaan pria itu sangat tinggi, dan keahliannya di bidang IT membuatnya menjadi satu-satunya orang kepercayaan Abhimanyu hingga kini.


Mengusap pelan cincin logam berlapis emas yang tersemat di jari kelingkingnya, Abhimanyu tampak sangat serius kini. Pria itu menatap ke depan dengan tatapan mata elangnya.


"Dia pasti sedang bersembunyi saat ini."


Leo membetulkan posisi kedua tangannya,demi mendengar perkataan Abhimanyu selanjutnya.


"Dia sudah tahu,jika kini giliran dia untuk mendapatkan karma. Pria itu terlalu takut untuk menampakkan diri."


Abhimanyu menoleh menatap Leo yang berdiri di samping duduknya.


"Apa kau sudah menyelidiki Sarah dan bibi Saila?" Tanya Abhimanyu menyebutkan nama anak dan istri abbas.


"Sudah tuan, namun tidak ada tanda-tanda jika Abbas menemui keduanya. Bahkan kini nona Sarah dan nyonya Saila tinggal bersama di mansion demi menjaga nyonya besar."


Abhimanyu bergeming beberapa saat, ia hampir lupa keadaan ibu tirinya itu.


"Lalu, bagaimana keadaannya?" Suara Abhimanyu terdengar putus-putus, seperti enggan untuk menanyakan namun ia penasaran.


"Masih tetap sama tuan, bahkan terkadang nyonya Sinta mengamuk sampai berkeliaran keluar mansion, memanggil-manggil nama tuan besar."


"Apakah pak herul ada di sana untuk menjaga ibuku?"


Terlepas dari apapun masalah dia antara mereka, nyonya Sinta tetaplah ibunya, istri dari sang ayah.


Leo mengangguk. "Bahkan kini penjagaan di mansion sudah ditambahkan sesuai perintah anda."


Abhimanyu tampak manggut-manggut. "Good. Beri tahu selalu perkembangan tentang kasus Abbas. Dan untuk ibuku, Carikan psikiater terbaik untuknya."


Leo mengangguk. "Baik tuan muda."


Abhimanyu sadar, masalah belum tuntas begitu saja. masih ada masalah terbesarnya, yaitu Abbas,yang belum mendapatkan buah dari perbuatan biadabnya selama ini.


***


Menuruni anak tangga satu persatu, Abhimanyu yang di ikuti Leo di belakangnya, berjalan menghampiri Felysia dan Dian yang sedang bermain bersama Baby Al di ruang tamu.


"Kalian sudah akan pergi?" tanya Felysia saat melihat Leo ada di sini. itu berarti percakapan penting antara Leo dan Abhimanyu sudah selesai.


Tersenyum,Leo mengangguki. "Iyah nyonya muda, ini sudah malam dan saya sudah berjanji pada adik saya untuk menemaninya."


"Lalu bagaimana denganmu Dian?" pandangan Felysia teralih kepada Dian.


Dian memasang wajah melasnya. "Yang dikatakan Leo benar,ini sudah malam. tapi ... Aku masih ingin bermain dengan baby Al." Dian histeris sendiri.

__ADS_1


Tepuk jidat Felysia di buatnya, Dian selalu seperti anak kecil, namun itulah yang menjadi daya tariknya. Dian akan membuat siapapun merasa nyaman saat berdekatan dengannya.


"Baiklah,kau bisa menemuinya besok lagi iya kan."


"Ah,ya benar. tapi ijinkan aku memeluknya sebentar." Dian berseru, heboh sendiri.


Felysia dan Leo terkekeh melihat tingkah Dian itu, lalu Felysia dengan hati-hati menyerahkan bayi mungil itu ke dekapan Dian.


"Aaaa, lihatlah bayi lucu ini, bagaimana ada bayi seimut dia," ucap Dian memejamkan mata, merasa gemas, mendusel-dusel pipi baby Al yang sekarang berisi.


Felysia tersenyum menatap, selama mereka menjalin persahabatan, Felysia sangat tahu Dian memang sangat menyukai bayi, namun tidak dengan anak kecil.


Mencium singkat pipi gembul Baby Al, Dian lalu menyerahkannya kembali pada Felysia.


"Baiklah,besok aku akan kesini lagi."


Mengangguk, mereka bersama berjalan sampai depan pintu, mengantar.


"Aku pulang yah." Felysia mengangguk saat Dian berpamitan.


"Ingat, langsung pulang, jangan malah keluyuran loh." goda Felysia.


"Issh apa sih." mendesis, Dian tersipu malu.


Felysia tertawa pelan, memang bukan rahasia umum lagi jika kini, Dian dan Leo sedang menjalani hubungan asmara. Berjuang bersama demi mendapatkan restu dari ayah Dian, Leo benar-benar menunjukkan kesungguhannya kali ini,hanya pada satu wanita.


Felysia dan Abhimanyu menatap mobil yang di Kendarai Leo yang kini mulai menghilang di tikungan, keduanya lalu berbalik dan Abhimanyu menutup pintu rapat.


Namun tanpa perhitungan lagi, tangan kekar Abhimanyu kini sudah mengambil alih tubuh mungil baby Al.


"Aku yang akan membawanya ke kamar. kau mandilah dulu."


Tersenyum, hati felysia menghangatkan karna pria di sampingnya ini selalu mengerti keadaannya. memang sedari sore, setelah memandikan Baby Al, Felysia malah belum mandi sama sekali Karna kesibukannya.


"Baiklah, terimakasih ya."


Tidak menjawab lagi, Abhimanyu berjalan santai, menggendong baby Al yang tampak anteng menuju Baby box yang ada di kamar mereka.


****


Di kamar mereka, Felysia baru masuk setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya menjadi gaun tidur berwarna putih gading.Rambut sepinggangnya terurai panjang.


Berjalan ke arah tempat tidur baby Al, Felysia terkejut, karna ternyata baby Al sudah tertidur lelap.


"Eh, tumben gak rewel,udah tidur aja."


"Aku sudah memberinya susu tadi."


Menoleh, di dapatinya Abhimanyu sedang membaca buku di ranjang mereka.

__ADS_1


"Tumben."


Abhimanyu mengadah, kasur berderit saat felysia mendudukkan bokongnya di samping sang suami.


Tidak mengeluarkan sepatah kata pun lagi, Abhimanyu kembali pada buku di tangannya.


"Tumben sekali Baby Al kini anteng denganmu." Felysia tetap melanjutkan perkataannya meskipun tidak di tanya balik.


"Kau sudah maju satu langkah untuk menjadi papah yang hebat." Felysia tersenyum manis.


Tak kunjung mendapat tanggapan pria itu, Felysia merasa aneh. Felysia lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Abhimanyu,demi melihat apa yang sedang di baca pria itu hingga tidak merespon perkataannya.


"Kau sedang baca apa sih, eh--"


Felysia Membulatkan mata sempurna, saat tubuhnya di dorong tiba-tiba oleh Abhimanyu, hingga kini ia terlentang di atas kasur dengan tangan pria itu yang mencengkram lembut lengannya.


"A-ada apa?" Felysia jadi gugup sendiri, di rasakannya pasokan oksigen tiba-tiba menghilang,karna wajah Abhimanyu sangat dekat dengan wajahnya.


"Setelah berani menggodaku,kau masih bertanya ada apa?"


"Menggodamu, maksudmu?"


Bukannya menjawab, Abhimanyu kini malah menatap intens Felysia dari atas hingga ke bawah.


"Kau tidak sadar kini kau memakai baju tidur yang menerawang?"


"Eh--" Felysia memekik, di silangkan nya kedua tangan di depan dada.


"B-benarkah menerawang?" Felysia tertunduk malu, dengan semburat merah yang sangat jelas di pipinya.


Abhimanyu mengangguk, sebagai jawabannya.


"Aku tidak sadar itu. baiklah aku akan ganti baju jika Begitu."


Belum sempat Felysia membangunkan dirinya di atas kasur, Abhimanyu sudah menahannya hingga tubuhnya terhempas lagi di bawah kekungan pria itu.


"Untuk apa? lagipula aku sudah pernah melihat semuanya kan?"


Mengerjap beberapa kali Felysia kini merasakan hal yang berbeda. Abhimanyu terlihat sangat menawan di matanya sekarang. menelan Saliva berat, tangan felysia terjulur mengelus rahang kokoh pria Itu.


Abhimanyu menyambut uluran tangan Felysia, menciumnya dengan lembut. wangi harum minyak telon dan mint segar langsung menyergap indera penciumannya.


"Bagaimana jika kita membuatkan adik untuk, Alister?" Abhimanyu mengusap lembut perut Felysia. lalu berjalan ke bawah, mengelus setiap permukaan kulit mulus sang istri.


Felysia mengangguk malu-malu di bawahnya, membuka satu persatu kancing gaun tidur yang dikenakan sang istri, Abhimanyu kini mulai melancarkan aksinya.


"Kau hanya perlu mengecilkan suaramu. agar baby kita tidak terbangun." Suara bariton itu mengalun merdu di telinga Felysia.


Abhimanyu lalu mendekatkan wajahnya, mempertemukan bibirnya dengan bibir ranum sang istri, menciumnya dengan segala kelembutan.

__ADS_1


Menerima sentuhan itu Felysia sudah tidak kaget lagi, Felysia mengalungkan tangannya di leher pria itu, merasakan hal manis yang pernah di lewatinya dengan Abhimanyu.


"Mi amor." Abhimanyu berbisik lembut di telinganya.


__ADS_2