Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 52


__ADS_3

Felysia tak mengerti,tapi matanya kini berkaca-kaca mendengar betapa tulusnya perkataan Abhimanyu. Pria itu ternyata sedari tadi menunggunya pulang. Felysia mengangguk dalam pelukan hangat pria itu. Dalam hati dia bersyukur Abhimanyu, suaminya yang perhatian kini telah kembali.


Malam semakin larut, di dalam kamarnya felysia masih duduk terpekur di bibir kasur. Tangannya menggenggam erat sebuah peti kotak yang kini pak Manaf berikan untuknya.


"Sekarang kotak kayu itu milikmu nak. Semua kenanganku bersama ayahmu ada di sana, simpan itu dengan baik."


Perkataan terakhir ayah mertuanya yang kembali ia ingat.


Lalu gadis itu berdiri, berjalan pelan ke arah kaca jendela yang menampilkan indahnya langit malam. Rembulan bersinar terang.sejak kecil felysia selalu suka melihat bulan, berbicara sendiri sambil menatap indahnya sinar bulan adalah rutinitasnya saat rindu kepada orang tuanya menyapa. Kini rutinitas itu kembali ia lakukan, berbeda kali ini, dengan hati yang lapang dan sudah ikhlas.


"Ayah, ibu. Apa kalian bisa melihatku di bawah sini?" Felysia berbicara, seperti sebelumnya,seakan ia sedang berbincang kepada orang tuanya langsung.


"Sekarang kalian sudah bisa tenang, karna putri kalian ini sudah mengetahui semua kebenarannya." Felysia mengusap pipi yang lagi-lagi basah.


"Aku sekarang sudah bahagia, ayah,ibu. Dengan pria sebaik Abhimanyu yang selalu ada untukku.dengan orang-orang baik yang selalu dekat denganku." Felysia mengeratkan genggaman pada tiang jendela.


"Kini, kalian tak perlu lagi khawatir. Istirahatlah dengan damai." Felysia tersenyum. Seakan orang tuanya selalu menanggapi setiap ucapannya. Kini, gadis itu sudah bebas. Rasa sakitnya selama bertahun-tahun kini telah menghilang,dia sudah membebaskan kepergian sang ayah dan sang ibu dengan hati yang lapang.


"Lagi-lagi bicara dengan rembulan." Seseorang tiba-tiba muncul dibelakangnya.


Felysia menoleh ke belakang,di dapatinya Abhimanyu sudah berdiri di belakangnya kedua tangan pria itu tertahan di pembatas jendela, Membuatnya menutupi tubuh felysia.


"Rembulan itu tampak sangat cantik. Sama sepertimu." Felysia mendongak menatap Abhimanyu yang kini serius menatap ke depan. Pipinya memerah mendengar ucapan lelaki itu.


"Kau berbicara seolah kau sering melihatku yang menatap dan berbicara dengan rembulan?" Felysia menoleh, menyipitkan matanya. Abhimanyu memandangnya, hanya tersenyum.


Lalu tangan Abhimanyu tergerak, memeluk Felysia dari belakang. Felysia terkejut, tubuhnya seakan merespon setiap gerakan Abhimanyu. Pria itu mengulurkan kedua tangannya memeluk pinggang felysia dengan kedua tangan felysia sebagai tumpuan.


"M-mas, kenapa kau memelukku seperti ini?" Felysia bisa merasakan detak jantung Abhimanyu di belakangnya.


"Malam ini anginnya cukup kencang. Aku memelukmu untuk menghangatkan tubuhmu." Selanjutnya Abhimanyu tak lagi merespon perkataan felysia.pria itu memejamkan mata menikmati angin malam yang menerpa wajahnya.


Sementara Felysia sendiri masih dilanda kegugupan, ntahlah padahal sudah sering mereka melakukan kontak fisik,tapi Felysia tetap saja selalu gugup dan canggung. Bisa felysia rasakan tangan Abhimanyu yang semakin erat memeluk pinggangnya.


Cukup lama mereka dalam posisi itu, keduanya seakan terhipnotis memandang pemandangan langit yang bertabur bintang di luar sana. Abhimanyu semakin mengeratkan genggaman tangannya, sesekali tangan besar pria itu saling bergesekan guna mencari kehangatan dan menyalurkannya ke tangan Felysia.


"Tanganmu kecil sekali," pria itu berceletuk setelah sekian lama diam. Abhimanyu memainkan jari tangan felysia persis seperti mainan.


Felysia hampir terkekeh, "benarkah? sepertinya tanganmu yang kebesaran."


"Itu bagus, aku suka tanganmu yang mungil. sangat kecil untuk dipeluk." pria itu mengulum senyum tipis,lalu kembali beraut datar.


Felysia tak berbicara lagi, gadis itu memilih untuk berbalik Membuat Abhimanyu memundurkan tubuhnya.


"Ini sudah malam, sepertinya aku harus segera menutup jendela dan tidur," ujar Felysia lalu berbalik lagi untuk menutup jendela.


"Kau juga harus segera istirahat." Felysia mendorong pelan tubuh Abhimanyu agar kembali ke kamarnya.


"Bukankah lebih baik kita tidur di kasur yang sama?" cetus Abhimanyu membuat felysia terkejut.


"E-eh!" serunya membulatkan mata.


Lalu tanpa aba-aba Abhimanyu segera saja merengkuh tubuh Felysia dari belakang, kembali ke dekapannya Felysia yang kaget berusaha untuk melepaskan diri.


"Mas, kau harus kembali ke kamarmu." Felysia berusaha melepaskan cengkraman tangan Abhimanyu, gadis itu sesekali tertawa pelan karna tingkah Abhimanyu.


"Bukankah lebih baik kita tidur satu kamar," ujar Abhimanyu, "Itu akan mengeratkan hubungan kita." bisik pria itu di dekat telinga Felysia.


Felysia tampak memutar mata, Abhimanyu seperti anak kecil yang bergelayutan padanya, "Mas,kau bukan raksasa yang akan memakan orang kan, lepaskan."


Abhimanyu menggeleng, "Sebelum itu kau harus memanggil namaku dulu." bisiknya lagi.


Oh ayolah, apalagi ini, Felysia tampak mulai jengah terlebih lagi tubuh mereka yang semakin tak seimbang karena Abhimanyu tak mau melepaskan rengkuhannya.


"Panggil aku 'Abhi' baru aku akan pergi dari sini," ucap Abhimanyu.Felysia mendongak menatap pria yang kini tersenyum jahil ke arahnya.


"Jika kau tidak kunjung mengucapkannya juga, aku tak akan pergi dari sini," ujar Abhimanyu lagi karna felysia hanya diam saja. Abhimanyu berniat menggoda istri kecilnya ini.

__ADS_1


Felysia menggeleng cepat, "Tidak,tidak. kau harus segera kembali ke kamarmu dan tidur."


Abhimanyu membuang nafas, "Kau tahu,aku sangat merindukanmu, mulai Minggu depan aku sudah akan sibuk di kantor. apakah kau tidak merindukanku hmm?" Abhimanyu lagi-lagi berbisik di dekat telinga Felysia,wangi harum dari rambut panjang istrinya kini telah menjadi candu untuknya.


Felysia berhasil melepaskan cengkraman tangan Abhimanyu,gadis itu lalu berbalik dengan tangan Abhimanyu yang kini pindah memeluk pinggangnya. gadis itu masih dalam kekungan.


"Mas lepaskan," Ujar felysia namun Abhimanyu tetap menggeleng.


Felysia menurunkan bahunya, "Kau tahu, kau yang sekarang bukan seperti dirimu yang biasa."


Abhimanyu menarik pinggang felysia Membuat wajah gadis itu hampir membentur dadanya. felysia menepuk dada Abhimanyu karna saking terkejutnya. gadis itu memasang wajah cemberut Membuat Abhimanyu mengulum senyum.


"Memangnya seperti apa aku yang biasa?" dengan sengaja Abhimanyu mendekatkan wajahnya.


Felysia melirik ke sekeliling tak ingin menatap mata yang kini memandangnya dengan gemas itu.


"Ya kau tahu, kau yang biasa adalah pria yang cuek, terkesan dingin dan apatis, juga kejam." cicit Felysia.


Abhimanyu berpura memasang wajah kaget, "Hmm,kau bilang aku pria kejam?"


Felysia tersenyum,karna wajah Abhimanyu kini terlihat lucu di matanya.


"Lagipula aku yang seperti ini hanya padamu, tidak dengan wanita lain."


Felysia tampak tersenyum lagi, "Baiklah, baiklah.maka kau harus tidur sekarang karena ini sudah malam."


"Hmm, baiklah aku menyerah. satu kecupan di pipi maka aku akan pergi."


Felysia terkekeh geli, Abhimanyu benar-benar seperti anak kecil. pria itu kini dengan sengaja mendekatkan pipinya ke arahnya Membuat felysia gemas sendiri.


"Ayo,satu kecupan maka aku akan pergi."


Felysia menghela nafas pelan, "Baiklah tutup matamu dulu."


Abhimanyu awalnya ingin protes tapi akhirnya ia menurut juga. namun saat ia menutup mata tak ada respon apapun dari felysia. lalu bisa dia rasakan lengannya yang ditarik kuat.


Dengan susah payah Felysia menarik lelaki itu, hingga akhirnya Abhimanyu keluar dari kamarnya juga, kali ini felysia menghadang pintu agar Abhimanyu tak bisa masuk lagi.


"Hei tunggu dulu," Abhimanyu berseru.


"Selamat malam." Felysia tersenyum lalu pintu di tutup rapat.


Abhimanyu hendak mengetuk pintu lagi namun ia urungkan,pria itu berbalik tersenyum simpul sambil memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak kencang.


"Kenapa jatuh cinta bisa segila ini." monolog pria itu.


***


Pagi hari, Felysia dikejutkan dengan beberapa orang-orang yang berlalu lalang di sekitar rumah. Felysia yang baru keluar kamar sehabis mandi itu tampak tertegun,karna orang-orang itu tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.


"Ada apa ini?" tanya gadis itu.


"Oh nona muda, selamat pagi." orang-orang itu berjejer, semuanya terdiri dari wanita. ada satu wanita yang sedikit menonjol di antara mereka, memakai kacamata dengan rambut di sanggul rapi.


"Hari ini kami akan melayani nona muda, mohon bantuannya." orang-orang itu merunduk serempak, memberi hormat.


Felysia masih tak paham, hingga akhirnya Leo datang di antara mereka,berdiri dengan senyum terbaiknya.


"Leo, ada apa ini? siapa orang-orang ini?"


"Oh nyonya muda tidak tahu,"ujar Leo di hadiahi gelengan oleh Felysia.


Leo lalu berdiri diantara mereka merentangkan tangannya, "Perkenalkan, mereka adalah penata rias terbaik yang tuan muda kirimkan untuk merias nyonya."


Felysia membelangakkan matanya," untuk meriasku?"


Leo mengangguk semangat, "Iyah nyonya muda, anda tidak lupa kan hari ini resepsi pernikahan tuan Arya dilaksanakan, tuan muda berpesan agar nyonya muda tampil cantik hari ini."

__ADS_1


"Ayo nona,hari ini kami akan meriasmu hingga mungkin kecantikanmu akan melebihi pengantin wanita di sana nanti." salah satu dari mereka berucap, menarik lengan Felysia.


"Eh,tunggu,tunggu .... " Seru Felysia,namun mereka tak mengindahkan.menarik felysia ke dalam kamar yang sudah disulap menjadi ruangan rias.


"Selamat bersenang-senang, nyonya muda." Leo melambaikan tangannya ke arah felysia.


Setengah jam Leo menunggu di depan pintu,sampai akhirnya Abhimanyu datang dengan Stelan jas rapi, rambut pria itu juga berubah gaya dipangkas hingga terlihat segar.


"Bagaimana istriku,apa sudah siap?" Abhimanyu bertanya menatap Leo.


"Sebentar lagi tuan muda," ujar Leo tersenyum.


Pintu terbuka, para penata rias bergerombol keluar, lalu di belakang mereka terlihatlah Felysia yang sedang dituntun oleh wanita berkacamata. Felysia terlihat anggun dengan riasan dan dress yang begitu cantik.


Abhimanyu tertegun, seperti sihir Felysia seakan menghipnotisnya.Felysia berjalan dengan anggun ke arah Abhimanyu, netra pria itu tak lepas menatapnya.seakan hari ini hanya felysia lah gadis yang akan selalu ia lihat.


"Tak perlu sampai cengo seperti tuan," Leo di sampingnya berbisik. Abhimanyu menoleh menatap horor.


"Lihatlah, bukankah dia tampak sangat cantik." wanita dengan sanggul dan kacamata itu berucap memuji.


"Iyah, nona jenie, tangan anda memang sangat profesional, siapapun yang anda rias akan terlihat sangat cantik," ungkap Leo memuji.


Felysia dan Abhimanyu tampak saling bersitatap beberapa saat, sampai akhirnya Abhimanyu mengulurkan tangannya.felysia menerima uluran tangan itu dengan senyum termanis.


Tak ada kata pujian yang terlontar dari mulut pria Itu, tapi Felysia yakin, Abhimanyu memuji dirinya Lewat tatapan mata,dan itu amat istimewa untuknya.


***


"Kita berangkat,Tuan muda, nyonya muda?"


Abhimanyu mengangguk,pria itu menanggapi santai,tak ada senyum yang menghiasi wajahnya.pria itu hanya menunjukkan senyum hanya untuk gadis di depannya sekarang.


Saat akan memasuki mobil ketiganya terkejut karna teriakan melengking seseorang yang jauh berada di dalam mobil yang sedang berjalan.


"Hei, tunggu.tunggu!" Dian berteriak, menonjolkan wajahnya di kaca mobil yang terbuka. wanita itu melambai-lambaikan tangannya.


Lalu mobil terhenti di depan mereka,Dian turun tergesa-gesa dengan dress yang cukup panjang wanita tampak sedikit kesusahan.


"Dian,kau di sini?" Felysia bertanya terkejut.


"Iya dong,kan tadi malam aku udah bilang ke kamu lewat telpon, aku mau ikut berangkat bareng kalian," ujar Dian,wanita itu tampak sibuk membetulkan riasannya.


Felysia tampak tersenyum kecut, "Kayanya aku lupa." Dian hanya menggelengkan kepalanya.


"Oke, kalau gitu aku memutuskan untuk ikut, nebeng bareng kalian." Dian nyengir lebar.


"Tapi itu mobil kamu gimana?" Leo menunjuk mobil sedan yang terparkir.


"Ah,tenang aku di anter sama sopir,dia bakal balik lagi kok," ucap Dian, wanita itu terlihat sangat heboh.


"Tuan muda bagaimana?" Leo bertanya meminta persetujuan.


"Mas?" giliran Felysia yang menatapnya dengan mata berbinar.


Abhimanyu yang melihatnya hanya bisa menghela nafas, "Terserah," ucap pria itu akhirnya.


"Yey!" Dian terlonjak senang. lalu memeluk sekilas Felysia.


"Ya udah kalo gitu, ayo kita berangkat," ucap Leo.


"Aku duduk di depan ya, Abhi," pinta Dian yang hanya diangguki oleh Abhimanyu.


"Rela ngorbanin mobil, biar satu mobil sama ayang, hihihi," Dian terkikik, menutup mulutnya. wanita itu sejak tadi selalu menatap ke arah Leo.


"Kamu ngomong apa?" tanya Felysia.


"Eh,gak kok enggak." Dian menyampirkan tangan, tersenyum.

__ADS_1


Lalu keempatnya masuk kedalam mobil, Dengan Dian yang duduk di depan,di samping Leo. lalu Abhimanyu dan felysia yang duduk di belakang.Mesin mobil mulai berdesing,menyala, lalu berjalan membelah jalan raya. Menuju tempat pesta resepsi di adakan.


__ADS_2