
Mobil terhenti di sebuah parkiran padat Hotel berbintang lima. Tampak ada pembatas seperti pagar kecil yang mengelilingi parkiran. Dan jangan lupakan red cerpet yang membentang di sepanjang jalan menuju gedung. Resepsi pernikahan ini mungkin akan menjadi resepsi pernikahan ter-Akbar.
Abhimanyu dan Felysia turun terlebih dahulu, bak pasangan selebriti yang menghadiri sebuah pesta, Felysia dan Abhimanyu tampak sangat serasi, dengan sengaja Abhimanyu mengenggam erat tangan felysia, menggandengya. Mereka menjadi pusat perhatian seketika.
Sedangkan tak jauh dari mereka berdiri Leo dan Dian, kedua orang itu juga mendapat pandangan semua orang, pribadi Dian yang centil dan periang di padu padankan dengan penampilan Leo yang terkesan dewasa dan bersahaja, mereka akan sangat cocok apabila menjadi sepasang kekasih.
Abhimanyu dan felysia berjalan lebih dulu, beriringan menuju ke tempat resepsi. Sementara di belakang Dian dengan ragu menyelipkan tangannya di antara lengan Leo, Membuat Leo menoleh. Dia tampak malu-maly dengan pipi memerah.
"Bisakah kita ke dalam dengan bergandengan tangan," ucap Dian tampak berbinar.
Leo terdiam, lalu pria itu mengangguk, "Baiklah."
Dian tampak senang, seperti pasangan di depan mereka,Leo dan Dian juga berjalan dengan bergandeng mesra.
Seperti resepsi pernikahan kebanyakan, resepsi pernikahan Arya dan Bella juga bernuasa serba putih, ada buket mawar besar di tiap-tiap tiang gedung. Tulisan besar dengan nama keduanya juga tertata indah dan apik. Persmanan yang rapi dan Berderet.
Para tamu sudah mendesaki gedung saat mereka masuk, sesekali Felysia menatap ke sekelilingnya, lalu matanya terpaku pada pemandangan di depan sana, terlihat Arya dan Bella di kursi pelaminan dengan bahagianya.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar, di satu sisi felysia turut senang untuk sepupunya itu,tapi di sisi lain kenangannya dengan Arya tiba-tiba hadir, Membuat dadanya berdesir ngilu.
Tapi buru-buru ia tepis perasaan itu,Felysia menoleh ke samping mendapati Abhimanyu yang memandang ke arah depan. Benar, untuk saatnya ia melupakan segala kenangannya bersama Arya, kini ada Abhimanyu, pria yang seharusnya menjadi tempat bahagianya. Felysia membuang nafas,lalu tersenyum.
"Kalian datang?" Seseorang berseru dari belakang, Membuat felysia dan Abhimanyu berbalik.
"Ayah." Abhimanyu menyapa ayahnya, membungkuk, memeluk sekilas tubuh ringkih itu.
"Ayah senang kalian benar-benar datang," ujar pak Manaf setelah ikut bersalaman.
"Tentu saja, kami akan datang," ucap Abhimanyu. Pak manaf tersenyum begitupun felysia.
"Kami ijin untuk memberikan selamat pada pengantin," ujar Abhimanyu.
Pak Manaf mengangguk, lalu keduanya berjalan ke depan naik ke panggung yang di hiasi berbagai macam bunga itu.
Arya dan Bella yang sedang tertawa bersama para teman-temannya di atas pelaminan sana, menoleh menatap Abhimanyu dan felysia yang menuju ke arah mereka. Bella tersenyum sinis, sedangkan Arya di sampingnya menjadi diam.
"Selamat untuk pernikahan kalian," ujar Abhimanyu, tersenyum miring.
"Tak kusangka kau akan datang," ucap Arya pria, itu memandang Abhimanyu dengan tatapan tak biasa.
Abhimanyu mendengus, sejujurnya dia masih mempunyai dendam atas penghinaan Arya terhadap istrinya, Felysia. Tapi berusaha menekan perasaan itu demi sang ayah.
Sementara tak jauh dari mereka, ada Bella dan Felysia yang kini saling bersitatap, pandangan felysia jatuh pada perut Bella yang sudah membesar, di perkirakan kehamilannya sudah memasuki bulan ke delapan.
"Bagaimana,kau iri?" Bella menyeringai.
Felysia mengerutkan keningnya, "Iri? Untuk apa?"
__ADS_1
Bella tersenyum angkuh, "Lo gak usah naif deh,Lo iri kan akhirnya gue lah yang sah jadi istrinya Arya, pria yang bahkan dulu muja-muja Lo, sekarang udah resmi jadi milik gue."
"Gue tau, pasti sekarang hati lo lagi remuk redam." Bisik wanita itu.
Felysia memandangnya aneh, bisa-bisanya Bella mempunyai pemikiran yang seperti itu setelah semuanya yang terjadi.
"Aku bahkan turut bahagia atas pernikahan kalian? Untuk apa aku iri?" Felysia menggeleng pelan.
Bella mengeratkan tangannya melihat felysia yang bereaksi biasa-biasa saja, harusnya wanita itu sudah nelangsa dan sakit hati karena ia berhasil merebut Arya darinya. Bella ingin melihat kehancuran felysia yang itu, tapi kenapa malah berbeda,tak sesuai yang ia pikirkan.
"Selamat ya,atas pernikahan kalian," ucap Felysia menjulurkan jabat tangan padanya.
Bella malah tak senang, bukan raut wajah itu yang ingin dia lihat, ia ingin melihat felysia yang menderita, bukan dengan senyum bahagia seperti itu. Ingin rasanya ia melayangkan sebuah tamparan di pipi itu, tapi ia segan karna di sini sangat ramai.
Hingga mau tak mau Bella menerima uluran tangan itu,tapi ia tak ingin kalah, dengan sengaja Bella mengeratkan jabat tangan mereka, dengan kekesalan, Bella mencengkeram tangan felysia dengan sekuat tenaga hingga membuat Felysia meringis. Bella tersenyum puas melihat raut wajah felysia yang kesakitan.
Felysia berusaha melepas cengkraman tangan Bella, tapi Bella malah semakin kuat mencengkram tangannya.
Plak!
Seseorang menggeplak tangan Bella, Membuat cengkramannya terlepas.
"Lo?" seru Bella melihat Dian yang sudah ada di sampingnya.
"Lo sengaja banget ya bikin felysia kesakitan," geram Dian.
"Emang gue gak liat,Lo sengaja ngecengkram tangan Felysia, sampe tangannya merah gitu," ujar Dian yang sudah di ujung tanduk.
"Apaan sih lebay banget," ucap Bella memutar mata malas.
Dian geram sendiri, ingin rasanya menuangkan seember air cabe ke wajah dengan riasan menor itu.
"Udah Dian,aku gak apa-apa, malu banyak orang," ucap Felysia menenangkan Dian.tidak enak, Karna semua orang mulai memandang mereka.
Tapi Bella tiba-tiba saja terduduk membuat Dian dan Felysia otomatis mundur, Dian dan felysia mengerutkan dahi,apa yang coba wanita ini lakukan.
"Aduh!" erang Bella.
"Sayang!" Bella berseru dengan suara di buat-buat.
Semua orang menoleh, begitupun Arya yang langsung menghampiri mereka, "Kenapa?" Arya membantu Bella berdiri.
"Gak apa-apa,tadi kayanya kak Fely gak sengaja ngedorong aku sampe aku jatuh begini," ujar Bella dengan wajah memelas.
"Fel,kamu ngedorong Bella sampe jatuh?" Arya bertanya, menatap tajam.
"Dih Ngadi-ngadi,siapa juga yang ngedorong dia. orang dia ngejatuhin diri sendiri tadi." Dian yang menjawab,sewot melihat tingkah Bella.
__ADS_1
"Aku kan lagi hamil, ngapain aku ngejatuhin diri sendiri kak Dian," Ucap Bella bermanis-manis.
"Udah gak apa-apa sayang. mungkin kak Fely ngelakuin itu karena kesal, gak terima kamu nikahnya sama aku bukan sama dia." Bella memeluk erat lengan Arya.
"Meskipun sakit,aku maklumin kok," ucap Bella bermanja-manja dengan Arya.
Dian melotot, Apa-apaan wanita ini? benar-benar drama queen.
Arya mendekati Felysia, "Jika kau cemburu bukan begini caranya Fely," ucapnya.
"Heh, makin ngaco. Felysia mana ada cemburu sama dia, wong udah punya suami cakep kaya Abhimanyu,ngapain masih ngarepin kamu," semprot Dian berapi-api.
"Wajarlah kalau kak Fely cemburu, bagaimanapun dia tetap masa lalunya mas Arya. wajar juga dong kalau aku berjaga-jaga takut kak Fely berencana ngerebut mas Arya dari aku," ujar Bella lebay.
Dian mulai jengah, wanita itu panas sendiri melihat tingkah adik sepupu felysia ini, "Heh,kamu-"
"Dian udah.malu di liatin orang" Felysia menahan. gadis itu menggeleng.
"Tapi Fel, adik sepupumu ini drama queen banget," ucap Dian.
"Aduh," Bella mulai meringis, "Kayanya kakiku ada yang cidera," ucapnya memelas.
"Ya udah kamu duduk aja dulu." Arya lalu menuntun Bella ke kursi pelaminan.
"Dan kamu Felysia, jika kamu cemburu karna aku akhirnya menikahi Bella,kamu sudah sangat terlambat untuk menyesal. lalu,bilang ke temanmu itu, yang sopan jadi orang." Arya mendelik menatap Dian.
Dian melongos, "Diih apaan nih laki, ga jelas banget." gumamnya dalam hati.
Kekesalan Dian semakin menjadi saat Bella membalikkan wajahnya, tersenyum miring ke arah mereka. senyum yang menurut Dian sangat horor, Dian bergidik.
"Kamu kok diam saja sih Fel?" Dian geram, sedari tadi sahabatnya itu hanya diam saja.
Felysia mengangkat bahu, "Males ngeladenin juga.kan ada kamu," menyeringai ke arah Dian.
Dian menggeplak lengan felysia pelan," Pantes." dengusnya.
"Ck,ck. kok bisa sih Fel,kamu punya sepupu kaya dia," ucap Dian tak habis fikir.
"Si Arya lagi, aneh banget omongannya,berasa paling direbutin kali ya tuh laki." Dian geleng-geleng kepala.
"Eh Fel,mau kemana?" Dian berseru melihat felysia yang sudah menjauh.
"Nyari mas Abhi," ujar Felysia.
"Dasar bucin, suamimu aja yang dicariin," Dian mendengus kesal.
"Tungguin Weh!" lalu Dian sedikit berlari menyusul Felysia.
__ADS_1