
Pagi ini hujan turun dengan lebat, pemandangan di luar berkabur dengan rintik rinai air yang jatuh membasahi bumi.
Felysia di kamarnya menggeliat, dirabanya dada bidang di pelukannya, wanita dengan gaun tidur biru langit itu membuka mata, ternyata Abhimanyu yang tertidur di sampingnya.
Ah, ya dia hampir melupakan jika kini mereka satu kamar. Dan sudah hampir satu bulan sejak kepergian Almarhum ayah mertuanya, waktu terasa cepat bergulir.
Felysia bangun dari tidurnya, Meregangkan otot tubuh yang terasa kaku, lalu mata wanita itu tertuju pada wajah tenang yang kini sedang tertidur damai.
Mengusap rambut sang suami, Felysia melabuhkan satu kecupan singkat di rahang tegas itu. Terkikik geli atas apa yang dia lakukan, Felysia lalu turun dari kasur.
Menatap diri sebentar di cermin panjang, Felysia lalu menggelung rambut panjangnya asal,lalu keluar untuk membuat sarapan, mungkin sudah ada Bi ati di dapur.
Abhimanyu perlahan membuka mata, mengusap pelan bekas kecupan sang istri, lalu menarik senyum simpul. Sejak tadi memang ia sudah bangun hanya berpura-pura tidur saja.
Menyingkap selimut, Abhimanyu turun dari ranjang, mengambil kaus putih dan memakainya. Lalu berjalan menyusul sang istri.
Sudah hampir satu bulan, namun sisa-sisa kesedihan itu masih ada, Abhimanyu yang curiga dengan kematian mendadak ayahnya, Kini ia mulai mencari tahu apa penyebabnya.
Meski sudah dikatakan berulang kali oleh orang mansion dan ibu tirinya sendiri jika sang ayah meninggal akibat terjatuh dari tangga, Abhimanyu tetap tidak percaya.
Karna menurutnya mustahil sang ayah bisa begitu saja terjatuh dari tangga ke lantai bawah, tanpa ada pengawasan,tanpa ada yang tahu, padahal pengawal di sana terhitung banyak dan 24 jam siap siaga untuk menjaga sang ayah.
Jika pun ini karna kelalaian, Abhimanyu tetap ingin mencari tahu, terlebih di saat kecelakaan ayahnya terjatuh dari tangga, ada Abbas yang menginap di mansion. Ia sudah bisa menebak ada yang tak beres di sini.
Terhenti di ruang tengah, Abhimanyu menengok ke arah jendela, mata elangnya menatap tetes-tetes air hujan yang menempel di kaca. Hujan semakin reda,tak selebat tadi.
"Mas?" Seseorang menepuk bahu Abhimanyu,pria itu menoleh.
Tersenyum ceria, Felysia membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur di tangan kirinya.
"Kau melamun?"
Abhimanyu menggeleng, melihat sang istri yang kesusahan Abhimanyu mengambil alih nampan itu.
"Jika jatuh bisa melukai kakimu," ucap pria itu, melihat bubur itu masih mengepulkan asap.
"Terimakasih."
Abhimanyu hanya mengangguk,lalu berjalan duluan ke arah meja makan.
"Pagi den, mau bibi siapkan teh?"
Abhimanyu menganggukan kepala,lalu duduk di salah satu kursi.
Sejak mengenal Felysia, Abhimanyu tak lagi meminum kopi seperti kebiasaannya saat di dalam penjara dulu, bahkan sudah sejak lama pria itu meninggalkan rokok karna tau sang istri tak tahan dengan asapnya. Jika dulu hidup Abhimanyu tak beraturan dan tak sehat,kini sudah sangat membaik berkat kehadiran gadis mungil itu.
Tertunduk, Abhimanyu tersenyum getir. "Apa yang kau katakan benar yah, hidupku berubah semenjak kehadiran Stela."
"Ini den, teh pahit tanpa gula,seperti biasa."
Bi ati menaruh cangkir yang masih mengepulkan asap di hadapannya, Abhimanyu mendongak lalu menarik piring kecil yang sebagai Tatakannya.
"Pagi." Felysia menyapa,lalu mengambil tempat di samping Abhimanyu.
Wanita itu terlihat segar setelah mandi, Abhimanyu bahkan bisa mencium wangi sabun yang digunakan sang istri.
Felysia lalu menarik nampan yang tadi Abhimanyu bawa, mangkuk berisi bubur lengkap dengan topingnya itu ia sodorkan kepada Abhimanyu.
"Sarapan pagi ini." tersenyum, Felysia mengambil sendok dan garpu yang ada di nampannya.
"Tadinya aku akan membawakan sarapanmu ke kamar,karna kupikir kamu masih tidur."
Felysia mengambil mangkuk buburnya sendiri setelah disiapkan bi ati. "Eum, ini enak. makanlah."
Mata Abhimanyu tak lepas memandang sang istri, merasa senang karna Felysia semakin terbuka dan terlihat aktif tak seperti saat awal mereka bertemu, gadis polos yang pemalu.
"Kenapa hanya menatapku? apakah buburnya tidak enak?" Felysia menautkan alis.
"Tidak.ini enak," ucap Abhimanyu menyuap satu sendok ke dalam mulutnya.
Felysia tersenyum lalu kembali mengaduk bubur itu dan memakannya.
***
__ADS_1
Matahari semakin meninggi, sisa-sisa genangan hujan menyelimuti tanah yang kini basah.
Seperti biasa jika berada di rumah, Abhimanyu akan berada di dalam ruang kerjanya bahkan bisa sampai seharian penuh.
Mengamati layar monitor, Abhimanyu memeriksa beberapa email yang masuk,meski tak masuk kantor, pekerjaannya tetap ada.
Sebagai pemimpin perusahaan besar,ia harus serius di satu waktu dan tenang di waktu lainnya, yang dilakukannya untuk perusahaan bukanlah untuk main-main,ia harus tetap serius namun tenang secara bersamaan,karna tanggung jawabnya sangat besar untuk terus memajukan perusahaan yang sudah dikembangkan Almarhum sang ayah.
Abhimanyu kini tampak tak fokus, memikirkan mulai dari mana ia harus menyelidiki kasus kematian sang ayah yang menurutnya misterius. Sudah hampir sebulan ini ia mencoba mengumpulkan bukti,namun itu semua tak berarti,tak ada hal yang mencurigakan. namun ia masih tetap penasaran karna pria itu yakin ada yang tak beres tentang kematian ayahnya.
Mengambil ponsel yang tak jauh darinya, Abhimanyu mencoba mencari referensi untuk rapat yang akan di adakan nanti. namun atensinya terhenti pada sebuah notifikasi portal berita yang muncul dilayar.
Terdapat foto wanita yang sangat ia kenali di sana, dia adalah Angel-- foto beritanya yang kini sedang ia lihat.
Abhimanyu hampir lupa dengan wanita itu, semenjak mempunyai Felysia, hubungannya dan Angel semakin berjarak, namun itu tentu bukan masalah besar karna ia tahu Angel menginginkan hubungan yang lebih dari teman dengannya dan itu tidak akan Mungkin.
Karna Angel adalah seorang model terkenal dan ayahnya mempunyai pengaruh politik yang cukup besar, nama Angel selalu menjadi topik perbincangan di portal berita internet, seperti saat ini di beritakan wanita itu sekarang sedang berada di kota Istanbul--turki dan sedang mengerjakan proyek modeling besar di sana dan mungkin akan menetap di kota itu.
Tersenyum, Abhimanyu senang wanita yang sejak kecil selalu mengekor dengannya itu kini terlihat bahagia dan baik-baik saja.Terlepas dari perilaku Angel padanya ataupun kepada Felysia, Abhimanyu tetap menganggap Angel adalah adik kecilnya yang manis.
Pintu ruangan di ketuk, lalu terbuka menampilkan tubuh Felysia yang memakai tunik bewarna moccha, tersenyum kikuk felysia melangkahkan kaki menuju Abhimanyu.
"Ada apa?" tanya pria itu.
"Begini, apakah sore nanti aku boleh pergi bersama Bella?"
Abhimanyu mengernyit. "Bella? sejak kapan kau dekat dengannya?"
Mata Felysia tampak menatap ke sekeliling. "Eumm, sudah lumayan lama. sekarang dia sudah berubah jadi lebih baik denganku."
Abhimanyu bangkit dari duduknya, berjalan pelan, setelah berdiri bersejajar dengan sang istri, Abhimanyu menarik tubuh kecil itu dengan kedua tangannya.
"Apa kau berkata jujur?" Abhimanyu menatap netra coklat itu lekat, mencari pembuktian di sana.
"Aku berkata jujur,sungguh. Aku dan Bella akan berbelanja guna Melengkapi perlengkapan bayi. Kau tahu kan dia semakin mendekati persalinan."
"Kau sungguh-sungguh kan?"
Mengerjap beberapa kali Felysia malah tertawa. "Sungguh.kenapa wajahmu jadi sangat menyeramkan? aku jadi takut."
Felysia semakin terbahak."Tidak, aku hanya bercanda."
Abhimanyu mengulum senyum,sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari wajah cantik itu.
"Aishiteru."
Raut Felysia berubah dari yang semula senyum kini meredup dengan tatapan malas.
"Bahasa apa lagi itu dan apa artinya?"
"Itu bahasa Jepang dan artinya 'Aku cinta kamu' ."
"Kau suka sekali mengungkapkan hal gombal dalam berbagai bahasa, aku tidak bisa mempelajarinya sebanyak itu tahu." memukul pelan dada Abhimanyu.
"Tidak apa-apa,kau hanya perlu mendengarkan saja." Abhimanyu menjawab santai.
"Tak bisakah kau langsung mengungkapkannya dalam bahasa Indonesia?"
Abhimanyu menggeleng. "Itu terlalu mainstream."
Geleng-geleng kepala Felysia dibuatnya, wanita itu lalu membenarkan anak rambut yang menutupi kening Abhimanyu, lalu Felysia berjinjit mencium singkat kening pria itu.
Bersemu merah, mata Felysia tertuju pada Abhimanyu yang kini tak lepas menatapnya.
Mendekatkan wajah mereka, Abhimanyu menciumi setiap inci wajah sang istri. Felysia tersenyum memejamkan mata menerima ciuman bertubi-tubi itu.
"Baiklah karna kau membuatku senang,aku mengijinkanmu asal tidak sampai malam."
Tersenyum, Felysia mengangguk semangat. "Terimakasih tuan muda." Cengirnya.
"Tapi janjinya besok kita akan ke makam ayah, bagaimana?"
Sorot mata Felysia berubah redup. Duka itu memang masih ada.
"Baiklah, kita akan mengunjungi ayah," ucap Felysia.
__ADS_1
Merengkuh sejenak, menenggelamkan wajah dia antara ceruk leher sang istri, Abhimanyu berusaha meredam kembali rasa tak enak itu di dalam hatinya.
"Ayah pasti sudah tenang kan, Stela?"
Felysia mengangguk. "Tentu. ayah tak merasakan sakit lagi, beliau sudah tenang di sana."
***
Sorenya, Felysia langsung menuju ke Mansion, bersama dengan Dian yang menemaninya, hari ini mereka benar-benar akan berbelanja menemani Bella yang akan melengkapi koleksi perlengkapan bayinya nanti.
"Gak nyangka, wanita yang dulu sangat iri dengki denganmu itu, sekarang udah berubah jadi baik."
Felysia tampak meringis. "Itulah takdir. Tuhan selalu bisa membolak-balikkan hati manusia."
Dian mengangguk-ngangguk setuju. Lalu tibalah mereka di depan gerbang kokoh itu, satpam yang bekerja di sana membukakan pagar besar itu agar mobil yang dikendarai Dian masuk ke halaman mansion.
Berjalan sebentar, Ada dua maid yang keluar dan membuka pintu yang menjulang tinggi itu. mereka berdua pun masuk.
"Felysia, ternyata kau datang."
Seseorang berseru, Membuat mereka menoleh, dilihatnya Bella, yang menghampiri ke arah keduanya.
"Oh,ada Dian juga?"
Tersenyum kikuk, Dian melambaikan tangannya. "H-halo."
Kedua wanita itu lalu di persilahkan duduk di ruang tamu yang luas, Ada satu maid yang menghampiri dan membawa minuman.
Emang dasarnya Dian,tak tahu malu langsung menyerobot minuman itu sebelum si tuan rumah mempersilahkan minum. dengan satu tenggakan,minuman itu habis tak bersisa.
Dian sendawa kecil. "Haus Fel." cengirnya, merasa tak berdosa.
Felysia geleng-geleng kepala, Dian sama sekali tak berubah.
"Oh ya, beneran kamu udah berubah jadi baik atau jangan-jangan cuma pura-pura?"
"Dian!" Felysia memicingkan mata, menggeplak lengan Dian.
"Adaww." Dian meringis. "kan cuma nanya Fel."
Di luar dugaan, Bella malah tertawa Membuat kedua wanita itu tersentak. "Tidak apa-apa."
"Memang aku dan Felysia sudah berbaikan dan benar-benar menganggapnya sepupu sejak sebulan lalu."
"Terus apa yang buat kamu berubah drastis sampai seperti ini."
Bella mengangkat bahu, "Ntahlah, aku hanya berfikir jika aku terus-terusan tenggelam dalam rasa benciku hanya akan membuat hidupku tak bahagia, oleh sebab itu aku memutuskan untuk menerima takdir dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya."
Dian dengan sumringah memberikan dua jempolnya. "Bagus banget pemikiranmu,andai sejak dulu kamu begini?"
Bella mengangguk. "Kau benar." lalu tertawa di sambung keduanya.
"Oh ya, ibu mertua di mana?"
Wajah Bella berubah sendu, "Bunda masih berkabung, sejak ayah mertua di makamkan dia hanya mengurung diri di kamar dan makan pun hanya sesekali, itupun harus di paksa dulu."
Felysia menghela nafas, ia memaklumi, ibu mertuanya sangat mencintai Almarhum suaminya itu. kehilangan itu akan tetap terasa.
"Oh ya Bel, HPL mu kira-kira kapan?" tanya Dian tiba-tiba.
(Hari Perkiraan Lahiran)
Merasa suasana berkabut, Dian iseng-iseng bertanya untuk mencairkan suasana.
"Menurut dokter kandungan pribadiku,bisa lusa atau Minggu depan, namun bulannya konsisten."
Dian tampak manggut-manggut. "Semoga persalinannya lancar yah."
"Aamiin." Seru mereka bertiga berbarengan.
"Ya udah, kamu udah siap-siap kan? kita let's go nih ke mall? aku gak sabar buat shopping-shopping." Dian bersorak heboh.
Bella dan Felysia tertawa dengan tingkah absurd Dian.
"Oke, kita let's go Shopping-shopping!" Bella dan Felysia yang kini berseru heboh. Lalu ketiganya sama-sama tertawa.
__ADS_1