
Di depan bagasi di rumah mereka, Abhimanyu sedang menaikan satu persatu barang dan hadiah yang akan di bawa untuk kunjungan mereka di tempat tinggal anak jalanan nanti. Di bantu mang Jajang dan mang Ujang supir dan satpam rumah ini.
Ada banyak barang dan hadiah dari mulai pakaian, sembako, peralatan masak, peralatan sekolah dan masih banyak lagi yang di perlukan.tentu jika dia ingin dia bisa membeli semua yang ada swalayan bahkan tempatnya sekaligus untuk anak-anak itu, tapi dia ingin rencana bakti sosial ini sederhana saja, hanya di lakukan olehnya dan istrinya,bukan dengan embel-embel dia adalah seorang Presdir di perusahaan besar.Abhimanyu tidak mau itu. dan lagi rencananya dia akan menampung anak-anak jalan yang memang sudah tak mempunyai orang tua dan butuh perhatian lebih ke rumah singgah bagi anak-anak terlantar,agar mendapatkan kehidupan yang layak.
"Den ini udah semua?" Mang Jajang bertanya.
Abhimanyu mengangguk, " udah mang kayanya udah gak ada lagi."
Mang Jajang lalu menutup bagasi mobil, "Saya tunggu di depan ya den."
Abhimanyu hanya mengangguk sebagai jawaban, dengan kemeja hitamnya yang ia gulung lengannya sampai ke siku, pria itu tampak semakin gagah terlihat,tampan dan berkharisma,dua kata yang kini cocok untuk menggambarkan dirinya.
Rencana awalnya Abhimanyu ingin mengajak Leo dan Dian ikut serta, tapi karna ada sedikit masalah itu,hal itu tidak bisa dia lakukan.bersyukurnya tadi Leo sudah menelpon memberi kabar padanya,dan kini pria itu sedang bersama Dian. Abhimanyu berfikir jika kedua orang itu benar-benar terjebak perasaan yang serius.
Abhimanyu melirik arjoli yang berada di tangan kanannya sekilas. Hari sudah semakin petang, tapi Felysia tidak muncul juga,apa sesuatu terjadi pada istrinya di dalam sana. Menghela nafas panjang, Abhimanyu melengkah berniat untuk menyusul.
Namun langkanya terhenti saat melihat istrinya keluar dari pintu rumah mereka dengan wajah lesu. Gadis itu sudah berganti pakaian dengan Surai hitam panjangnya di kepang satu, Membuat dia semakin menggemaskan menurut Abhimanyu.
Abhimanyu menghampiri sang istri, raut wajah itu terlihat kusut. sepertinya pertengkarannya dengan Dian memberi dampak besar untuk istrinya ini. seperkian detik lenggang, Abhimanyu hanya menatap sang istri yang kini terus-terusan menatap ke bawah.
"Kenapa berwajah lesu begitu?" Abhimanyu mengusap pipi istrinya.
Felysia mendongak menatapnya, "enggak apa-apa."
"Oh ya." pria itu menaikkan alisnya, "Hmm, sepertinya kita tidak usah ikut saja. kamu berwajah seperti ini bagaimana mau bertemu anak-anak nanti."
Felysia buru-buru menggeleng, "tidak aku sungguh tidak apa-apa. aku ingin bertemu anak-anak itu."
"Kalau begitu, tersenyum. kamu tidak mau kan bertemu anak-anak dengan raut muka cemberut."
Felysia menegapkan bahunya,yang dikatakan suaminya itu benar. dia tidak boleh bertemu anak-anak dengan lesu begini, kedatangannya adalah untuk memberikan kebahagiaan untuk anak-anak itu,maka dia pun harus bahagia.
"Baiklah, ayo." Felysia tersenyum. walaupun raut sedih itu masih ada, tapi Abhimanyu senang istrinya yang ceria telah kembali.
Mobil yang di tumpangi Abhimanyu dan felysia segera saja meluncur untuk menuju tempat lokasi. ada mobil juga berwarna hitam mengikuti tak jauh dari arah mereka,itu adalah mobil para bodyguardnya yang akan berjaga-jaga di sana.
Beberapa saat kemudian mobil mendarat di bawah kolong jembatan, tempat semula Felysia bertemu dengan anak-anak jalanan itu. Abhimanyu terlebih dahulu turun,pria itu memakai kacamata dan topi. di susul felysia.
"Kamu tau di mana tempat mereka tinggal?" Felysia mengangguk menjawab pertanyaan sang suami.
"Gubuk mereka tak jauh dari sini."
Kemudian suami-istri itu mulai berjalan menuju gubuk, semilir angin Langung menerpa kulit mereka. suara bising kendaraan juga selalu berlalu lalang di sini. di ikuti oleh beberapa bodyguard untuk berjaga, karna mobil tak bisa langsung menuju lokasi, mereka harus berjalan beberapa saat.
"Nah itu mereka." Felysia menunjuk sekumpulan anak yang sedang duduk berkumpul di sebuah tenda.
"Eh,kakak peri datang." satu anak dari mereka menyahut melihat felysia.
"Teman-teman kakak peri datang. kakak peri datang!" bocah berusia sekitar 8 tahun itu berteriak Membuat anak-anak yang lain menengok.
Benar saja, anak-anak itu melihat felysia yang sedang melambaikan tangan ke arah mereka. sontak saja mereka semua berlarian dengan kaki telanjang, satu persatu menghampiri felysia.
"Kakak peri. kakak peri!" ada sekitar 20 anak-anak yang rata-rata berusia 5 sampai 15 tahun menggerumungi felysia dan Abhimanyu. mereka meloncat-loncat kegirangan.
Baju lusuh dan kaki tanpa alas tak menyurutkan semangat anak-anak itu menjalani kerasnya hidup.mereka tetap tersenyum di situasi apapun.
Abhimanyu mengulas senyum tipis melihat Betapa atraktifnya anak-anak ini bertemu dengan istrinya.
"Mereka memanggilmu 'Kakak peri'? Abhimanyu menoleh.
Felysia tersenyum, " sejak pertama kali aku datang kesini, anak-anak ini sudah memanggilku seperti itu.ntah apa alasan."
"Alasannya tentu sudah sangat jelas. mereka menganggapmu memang seperti 'peri' yang membawa kebahagiaan untuk anak-anak ini," kata Abhimanyu mengusap kepala anak-anak itu.
__ADS_1
Felysia tersenyum. dia bisa melupakan rasa sakitnya, melihat senyum yang mengembang dari anak-anak ini saja sudah menghangatkan hatinya.
"Eh paman ini siapa? kok ada di samping kakak peri yah?" satu anak berbisik menatap Abhimanyu dengan sengit. Anak-anak lain mulai menyadari dan semuanya menatap ke arah Abhimanyu.
Dari tatapan tak suka itu membuat Abhimanyu kikuk sendiri. dia bukan pria yang supel dan terkesan kaku. Abhimanyu tak bisa bergaul begitu saja, pria itu harus mulai dari mana. dia tidak tahu.
Menyadari situasi canggung ini, felysia segera saja mengambil alih.
"Anak-anak perkenalkan ini adalah kak Abi. dia disini akan memberikan hadiah untuk kalian semua." Felysia bertepuk tangan Membuat anak-anak itu menoleh.
Mendengar kata 'Hadiah' mereka sontak saja kegirangan. Abhimanyu menghela nafas.
Lalu di situasi ramai itu, tiba-tiba saja muncul bocah perempuan berusia lima tahun berjalan dengan susah payah ke arah Abhimanyu. felysia dan anak-anak itu memperhatikan. bocah itu berdiri tepat di depan Abhimanyu.
Lucunya bocah perempuan berkuncir dua itu mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya di depan Abhimanyu namun dengan raut datar. Abhimanyu bingung dia melihat ke sekeliling arah,apa yang bocah ini inginkan.
"Paman,Rara ingin di gendong olehmu." bocah lelaki yang berada di sampingnya menyahut.
Abhimanyu menoleh ke arah felysia, Istrinya itu tersenyum. lalu dengan ragu-ragu Abhimanyu mulai mengangkat bocah Perempuan yang di panggil 'rara' itu ke dalam gendongannya.
Rara tertawa setelahnya, bocah berusia empat tahun itu bertepuk tangan, tersenyum girang menunjukkan gigi kelincinya yang baru tumbuh. sangat menggemaskan.
"Ehehehe paman ganteng." Rara berceloteh.
"Sepertinya Rara menyukaimu." felysia di sampingnya tersenyum.
"Benarkah?" Abhimanyu menatap bocah berpipi tembem itu.
"Kau menyukai paman?"
Rara mengangguk semangat, " Iya,kalna paman ganteng, kakak peli juga cantik.lala suka." aksen bicara Rara lancar tapi Rara belum bisa mengucapkan kata 'R' membuatnya terdengar lucu.
"Nah baiklah,untuk hadiah yang paman Abi janjikan ada di dalam mobil. kalian bisa ikuti kakak untuk sampai ke sana." Felysia memberikan instruksi.
"Ingat harus apa ... " Felysia menunjuk jarinya.
"Tidak boleh berdesakkan dan harus tertib!" Anak-anak itu kembali bersorak.
"Bagus." Lalu felysia berjalan memimpin di depan dengan anak-anak itu mengikuti di belakang menuju ke hadiah-hadiah mereka.
Abhimanyu yang melihat itu tersenyum. sepertinya felysia sudah mengenal lama anak-anak ini. kepiawaiannya mengajar dan mendidik mereka membuat Abhimanyu kagum. mungkin seperti inilah pemandangan yang dia lihat jika nanti mereka berdua mempunyai anak.
Menyadari itu Abhimanyu terkekeh pelan, 'Anak' satu hal yang ingin Abhimanyu lakukan bersama Felysia. yaitu mempunyai anak. bisakah?
"Paman, paman kok paman diem aja. ikuti meleka dong." Rara menepuk-nepuk pipi Abhimanyu.
"Eh iya, baiklah." Abhimanyu tersadar lalu berjalan dengan Rara di gendongannya.
Anak-anak itu dan felysia sudah sampai di depan mobil yang terparkir tak jauh dari gubuk. sudah ada mang Jajang dan beberapa bodyguard yang tersisa yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Oke, kalian bisa langsung berbaris dan yang tertib ya, kalau sudah tertib baru akan di kasih."
"Baik kakak peri!" bersorak kegirangan.
Di sore yang cerah itu Abhimanyu dan felysia mengabiskan waktu dengan memberi anak-anak itu hadiah, canda dan tawa saling menghiasai, dengan mang Ujang yang terus melawak membuat anak-anak itu tertawa kencang.
Sementara Abhimanyu tak jauh dari mereka terus menatap felysia yang tak henti-hentinya tersenyum. sebenarnya dia ingin menghampiri tapi Rara kekeh tak ingin turun dari gendongannya,bocah tembem itu terlalu nyaman dengannya.
"Paman Lala juga ingin hadiah." Rara dengan lollipop di tangannya menyeletuk.
"Rara pengen apa hmm?" Abhimanyu mengecup pipi chubby itu.
"Lala pengen Boneka Teddy yang besal. Sangat besal. Sebesal ini." Rara mengangkat kedua tangannya ke udara.
__ADS_1
"Eh lihat deh pria yang di sana." segerombol ibu-ibu tiba-tiba menunjuk Abhimanyu yang tak jauh darinya.
"Ih ganteng banget keliatannya." salah satu dari ibu-ibu berbicara ikut nimbrung. mereka membawa belanjaan di tangan masing-masing.
"Papa muda euy. anaknya juga lucu." mereka tertawa lalu berbisik-bisik.
"Uuuyyy hot dedih."
"Ijo banget tuh mata kalo liat laki ganteng."
Si ibu itu tertawa, "woiyah dong selain ngeliat duit yang bikin mata seger tuh kalo liat laki ganteng, apalagi kalo sama anaknya gini,beuh berkharisma banget."
"Aduh idaman banget sih, sayang anak.mau dong daftar jadi calon bini."
"Sebelum lu, gw dulu. ngantri."
"Lah gue dulu lah. siapa coba yang pertama kali ngeliat. lagian anaknya ngeliatin gue Mulu. berarti dia suka tuh sama gue."
Salah satu dari mereka menoyor ibu-ibu yang berbicara tadi, "Lo udah punya laki maeumunah.inget laki Lo dirumah."
"Mending sama gua. janda, sama-sama enak buat membina rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah nanti."
"Yeah.angan-angan lu setinggi langit. jangan halu dah." ibu-ibu itu menyoraki.
"Ibu-ibu ini gak bisa lihat cowok ganteng dikit langsung di gosipin. gak liat apa pak bos udah punya pawang." salah satu bodyguard Abhimanyu yang melihatnya geleng-geleng kepala.
Sebenarnya Abhimanyu juga mendengar dirinya di gosipi tapi dia memilih menulikkan kupingnya tak mendengar.
"Eh, kayanya dia udah punya istri deh. gak liat noh." ibu-ibu itu melihat Felysia berlari ke arah Abhimanyu.
"Lah udah punya bini. bubar-bubar." mereka tampak kecewa.
"Kirain duda,mau nawarin jadi calon mantu gitu."
"Udah diliat kan kaya gitu mana mungkin duda."
"Inget kata kang parkir, 'Mundur'. lu gak liat bininya kek bidadari gitu."
Ibu-ibu itu berdebat, lalu mencibir, "masih cakepan gua bininya.udahlah ayo pulang." Bu Tuti, salah satu dari mereka memberi instruksi. sanggulnya yang tinggi tak kalah tinggi dari menara Monas itu bergoyang.
Mereka lalu bubar karna pupus sudah harapan, melihat Abhimanyu yang felysia yang begitu mesra.
"Lagian gak bisa liat laki cakep dikit. wkwkwk." Bodyguard Abhimanyu yang tadi sempat mencibir tak kuasa menahan tawanya, dia terbahak melihat raut wajah ibu-ibu itu.
"Sial tuh laki, keknya lagi ngetawain kita." Bu Tuti emosi.
"Udahlah Bu Tut. kita pergi aja gak usah di ladenin."
"Nama gua Tuti bukan butut." Bu Tuti tidak terima.
"Lah kan emang di panggilnya butut." salah satu dari mereka menyahut.
Bu Tuti melongos dengan mata mendelik. tiba-tiba ntah datang dari mana sebuah bola meluncur menimpa kepala Bu Tuti.
Bletak! ibu-ibu itu terpekik.
"Adoyy siapa nih yang maen bola sembarangan." Bu Tuti meradang sanggulnya yang setinggi menara Monas itu lagi-lagi bergoyang.
"Ehehehe maaf butut gak sengaja." bocah laki-laki berusia 9 tahun tiba-tiba menghampirinya lalu mengambil bola lalu cepat-cepat berlari pergi.
"Maen bola tuh yang bener,lu gak liat nih kena orang tua!" Bu Tuti berteriak. bibirnya yang tebal bergincu merah terang itu komat-kamit memberi kultum.
Semua yang melihat Bu Tuti emosi bukannya takut malah tertawa terbahak-bahak melihat sanggulnya yang setinggi Monas lagi-lagi bergoyang.
__ADS_1