
Abhimanyu membuka mata, di rasakannya cahaya mentari yang masuk menerpa wajahnya. Lalu merasakan tangan mungil yang kini memeluk dada bidangnya.
Mengulum senyum, Abhimanyu mengecup singkat kening Felysia yang kini masih tertidur pulas. Dia baru menyadari jika Istrinya ini sudah memakai kemeja hitamnya yang menenggelamkan tubuh mungil itu.
Menatap lamat-lamat wajah tenang Felysia membuatnya mengingat kembali kegiatan mereka malam tadi, pelengkap bukti cinta mereka.
Ah, mengingat itu membuatnya seperti di mabuk kembali, rasanya dia tak ingin lepas dari wanita di hadapannya ini.
Merasa ada pergerakan, Abhimanyu memejamkan mata kembali, dengan posisi tangan kokohnya masih setia merengkuh posesif pinggang sang istri.
Sementara Felysia baru membuka mata, dan di saat itulah baru dapat ia rasakan rasa sakit yang kini mendera sekujur tubuh, Apalagi bagian sensitifnya. seperti yang dikatakan Abhimanyu tadi malam, pria itu sama sekali tak mau berhenti, membuat dirinya merasa kewalahan dengan tenaga pria itu.
Meski begitu Felysia tersenyum senang, kesalahan pahaman ini akhirnya selesai, dan dia bisa melihat sisi lembut suaminya.
Felysia memandang wajah tampan itu, baru ia sadari Abhimanyu saat tertidur seperti bayi yang tenang. Menarik sudut bibir, telunjuk Felysia kini berjalan menyusuri setiap inci wajah tegas itu.
Felysia mengusap alis lebat Abhimanyu, lalu turun ke bulu mata panjang pria itu, lalu turun lagi ke bibirnya, Membuat Felysia merona sendiri.
"Apa yang kau lakukan?" Felysia terkejut saat tangan Abhimanyu menghentikan pergerakan telunjuknya.
"Ah, M-maaf jika mengganggu tidurmu."
Tidak menanggapi itu, Abhimanyu malah mendekat, mencium pipi Felysia.
Felysia merona, lalu pria itu kembali mencium pipi kirinya,lalu kening,dagu, ujung hidung,dan berakhir di bibir.
"M-mas .... "
"Yah?"
Felysia menjadi gugup sendiri, netra pria itu menatapnya lembut sekali dan dipenuhi dengan cinta.
"Kau tidak ke kantor?"
"Untuk apa menanyakan itu?" Felysia menggeleng lugu.
"Kau tidak usah pikirkan itu, hari ini full time akan ku habiskan bersama denganmu."
Mengerjap beberapa kali, wanita itu mengangguk, merasa senang.
Mata Abhimanyu tak lepas memandang dirinya, Membuat Felysia kikuk sendiri. Sementara Abhimanyu menatap gemas istrinya ini.
"Ah,ya soal baju maaf, di tempat ini tidak ada baju wanita,Jadi aku memakai kemeja mu," ucap Felysia yang menyadari tatapan Abhimanyu.
Kasur empuk itu terdengar berderit saat Abhimanyu memiringkan tubuhnya, pria itu lalu mendekati Felysia dan berbisik di telinganya.
"Apakah kau takut aku akan melihat tubuh mu yang polos, makanya kau memakai kemejaku."
Felysia merasakan mukanya yang memanas saat suara bariton itu terdengar berbisik di telinga.
"Padahal aku sudah melihat bahkan merasakan setiap inci tubuhmu, harusnya kau tidak perlu merasa malu."
Dengan satu gerakan Felysia menggeplak lengan kokoh pria itu. " B-berhenti menggodaku."
Abhimanyu malah memasang raut pura-pura terkejutnya. "Kenapa? Wajahmu memerah sekali."
"Mas," pekik Felysia merasa sebal.
Abhimanyu menoreh senyum tipis, menggoda Felysia mungkin akan menjadi salah satu hobinya.
"Atau mungkin kita akan tetap di kasur ini, melakukan aktivitas tadi sampai malam menjelang."
Menyadari arah pembicaraan Abhimanyu dan nadanya yang serius Membuat felysia menggeleng cepat. "Apa kau tidak lelah?
__ADS_1
Karna jujur tubuhnya sendiri butuh istirahat Sekarang.
"M-mas .... " Felysia merasakan bibir Abhimanyu yang kini menyusuri lekuk lehernya.
Abhimanyu mendongak saat sang istri menyebut namanya. "Aku tidak pernah lelah sampai--"
Puk puk!
Ucapan Abhimanyu terhenti,lelaki itu menepuk-nepuk perut Felysia pelan.
"Ada Abhimanyu junior di dalam sini," ujar lelaki itu melanjutkan kata-katanya.
Felysia kembali menepuk pundak Abhimanyu. "Bayi tidak bisa di buat secepat itu suamiku."
"Makanya kita harus sering melakukannya agar dia cepat hadir di rahim mu."
Tertawa pelan, Felysia merasa lucu karna wajah Abhimanyu terlihat nyolot sekarang. Ekspresi yang tak pernah sama sekali di tunjukan pria itu, dan hari ini Felysia melihatnya.
"Baiklah tuan muda pemaksa, sekarang kau harus mandi karna tubuhmu bau sekali."
Mereka saling melempar tawa pelan, sampai akhirnya Felysia memilih bangkit dari tempat tidur.
"Aku akan mandi duluan saja kalau begitu," ujarnya saat Abhimanyu tak kunjung beranjak.
Baru beberapa kali dia melangkah,tubuh Felysia mematung ketika merasakan tangan kekar seseorang memeluknya dari belakang.
"Haruskah kita mandi bersama?" ucap pria itu di dekat telinganya.
Felysia berusaha menahan senyum, Berusaha melepas tangan kokoh itu. "Sudah kubilang kan berhenti menggoda ku."
Lalu dengan satu gerakan, tubuh Felysi berpaling dan kini berhadapan dengan lelaki itu. Abhimanyu ternyata sudah mengenakkan celananya sejak tadi namun badan kekar pria itu masih polos belum mengenakan baju.
"Siapa yang menggodamu? aku hanya menawarkan," ujar Abhimanyu sambil menautkan alis.
Abhimanyu malah menggeleng, "bilang 'ya' dulu."
"Untuk?"
"Kita mandi bersama," ujar pria itu yang membuat Felysia menggeleng cepat.
"Tidak, kau harus mandi sendiri."
"Kalau begitu aku tidak akan melepaskan mu," ucap Abhimanyu mengeratkan genggaman di pinggang felysia.
Felysia kembali melayangkan pukulan pelan di lengan polos Abhimanyu, dengan berulang Membuat Abhimanyu meringis di buat-buat.
"Aww," pekik Abhimanyu pura-pura kesakitan, "Kenapa sekarang kau suka sekali memukul ku."
Felysia menghela nafas pelan. "Karna sekarang kau nakal."
"Hmm, begitukah." Abhimanyu tampak manggut-manggut.
Felysia tertawa, "Lepaskan mas, sekarang aku harus mandi."
Memilih menyerah, Abhimanyu melepaskan kekungannya, sama-sama saling melempar senyum, Felysia akhirnya berbalik sambil membetulkan kemeja Abhimanyu di badannya yang hanya sampai sebatas lutut.
"Jangan lama-lama, karna kita akan ke tempat liburan setelah ini!" Teriak pelan Abhimanyu.
***
"Sayang,apa maksudmu menarik pengecara yang aku utus untuk Arya."
Sinta menatap sengit ke arah pria paruh baya yang kini hanya menatapnya di kursi roda.
__ADS_1
"Karna sia-sia kau menyewa pengacara untuknya, anak itu tetap akan mendapatkan hukuman."
"Sayang ... " Suara Sinta kini terdengar lemah.
"Kenapa kau tega sekali? dia putramu."
Pak Manaf di kursi tersenyum miring, "Putra yang telah menghancurkan martabat keluarga, begitu maksudmu?"
"Sudahlah Sinta, percuma kau membela anak pembangkang itu, dia akan tetap di hukum untuk kejahatannya," ujar Pak Manaf.
Sinta menggeleng dengan wajah penuh harap.
"Kumohon, biarkan aku yang mengurus masalah ini, kau tetap di sini, aku hanya ingin melihat putra kita bebas, dia tersiksa di penjara, jika kau tahu itu."
"Lalu apa? bukankah tujuh tahun yang lalu putraku, Abhimanyu juga tersiksa di penjara karna ulahnya, anggaplah ini karma."
Sinta tertegun, Membulatkan matanya. "A-apa maksudmu?"
"Kau pikir aku tidak tahu, konspirasi apa yang di perbuat Arya terhadap Abhimanyu tujuh tahun lalu? jika saat itu aku tidak memberikan satu kesempatan kepada Arya, dia mungkin akan dipenjara lebih cepat."
Sinta mematung dengan tatapan tidak percaya, ternyata selama ini suaminya itu sudah tahu tentang semua rahasia yang sudah ia sembunyikan rapat-rapat.
"Sudahlah keputusanku sudah mutlak, setelah ini jangan pernah mengirimkan pengacara atau bantuan kepada Arya,atau kau akan tahu akibatnya jika aku sudah merasa di khianati." tukas Pak Manaf.
***
Wanita dengan rambut sepundak yang berwarna blonde cerah tampak keluar dari rumahnya dan tak lupa mengunci pintu. Dian dengan setelan celana navy dan kemeja motifnya tampak cantik di pagi ini.
Setelah Membuat janji, rencananya dia dan Leo akan pergi bersama mencari kado untuk Lana-- Adik perempuan pria itu, karna besok adalah ulang tahun gadis yang akan menginjak SMA itu.
"Dian!"
Seseorang meneriaki namanya membuat Dian terkejut. Dilihatnya Leo melambaikan tangan di seberang jalan tak jauh dari rumahnya.
Dian lalu berjalan cepat menghampiri mobil Leo yang terparkir. "Kenapa gak sampai gerbang aja?" tanya wanita itu setelah mereka berhadapan.
Leo malah tersenyum kikuk sambil mengusap belakang tengkuknya. "Kau tahu kan aku minder dengan ayahmu?"
"Astaga,kau masih memikirkan yang di katakan Dedy-ku?"
Lalu ingatan dia terlempar saat seminggu lalu Mereka, Leo, dirinya dan juga sang ayah mengadakan makan malam bersama.
Merasa hubungan mereka kian dekat, Seminggu yang lalu Dian dengan berani menyatakan perasaannya kepada Leo,karna ia sudah kesal dengan sikap Leo tak peka dengan perasaannya,oleh karna itulah Dian dengan berani mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu.
Dan beruntungnya ternyata Leo juga mempunyai perasaan yang sama terhadapnya, Merasa senang Dian akhirnya mengajak Leo untuk berpacaran, namun sayangnya sebelum Leo menjawab ajakannya,sang ayah sudah mengetahui lebih dulu tentang kedekatan mereka.
Jadilah makan malam itu diadakan dadakan Karna pak Taufiq--Ayah Dian, ingin mengetahui langsung kesungguhan Leo terhadap putrinya.Lalu di makan malam itu, dengan bermodalkan tekat yang kuat Leo dengan berani mengatakan jika dia mencintai Dian, dengan sepenuh hati di hadapan langsung ayah wanita itu.
"Mencintai putriku? punya apa kamu?" itulah kata pertama kali yang mereka dengar dari mulut Ayah Dian.
"Tentu saja saya mempunyai cinta yang tulus terhadap putri anda," ucap Leo dengan lantang.
"Cinta saja tidak bisa membuat hidup putriku sejahtera."
Menghela nafas,pak Taufiq menaruh kembali sendok dan garpu di atas meja makan.
"Sadar diri saja, kau dan putriku tidaklah sama, kalian berdua berada di kasta yang berbeda. jadi,putuskan lah hubungan kalian," ucap pak Taufiq, tegas.
"Ded .... " Menatap kecewa, Dian menggeleng. "Aku gak akan bisa ngelepasin dia dad, karna dia satu-satunya pria yang kucintai."
Menoleh,merasa harga dirinya juga tergores, Leo mencegah Dian yang akan melawan sang ayah, lalu Leo mengenggam tangan Dian dengan erat di perlihatkan langsung di depan mata Pak Taufiq.
"Saya akan buktikan kepada anda, bahwa saya layak mendapatkan putri anda."
__ADS_1