Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 49


__ADS_3

"Jangan membuka mata,sampai aku menyuruhnya." Seruan Abhimanyu terdengar kembali.


Felysia hanya mengangguk dengan mata tertutup. Dengan gaun ungu muda sepanjang lutut gadis itu tampak sangat cantik di beri polesan tipis. Kini Abhimanyu hendak membawanya ke suatu tempat, katanya tempat yang indah yang akan di sukainya. Felysia tentu saja sangat gembira.


"Sekarang kau boleh membuka mata." Abhimanyu berseru lagi, tanah tempatnya berpijak telah berubah, hembusan angin langsung menerpa rambut panjang Felysia.


Felysia perlahan membuka mata, kelopak indah itu perlahan menyesuaikan cahaya di sekitarnya.


"Indahnya." Felysia terkejut. Tepat di depannya hamparan laut luas terpampang, burung camar menari-nari di atas langit dengan suaranya yang khas. Mereka sedang berada di pinggir pantai.


"Kau menyukainya?" Abhimanyu berdiri di sampingnya.


Felysia mengangguk semangat, "ini indah sekali." Netra coklatnya sekali lagi menelusuri tepi pantai yang indah ini, ombak sore saling bersahutan membentur batu karang di sekitarnya. Alunan merdu perpaduan indah dari suara derasnya ombak dan suara burung camar menerpa indera pendengarannya.


"Aku tahu kau menyukai pantai,jadi aku membawa mu kesini."


Abhimanyu lalu menggamit lengan felysia, mengenggamnya dengan erat. "Ayo."


Felysia mengikuti langkah Abhimanyu, pemandangan matahari di depan mereka yang akan terbenam indah, seiring dengan langkah kedua insani itu, Abhimanyu membawanya ke sebuah meja bundar yang telah di taburi kelopak bunga di sepanjang jalannya. Abhimanyu telah menyiapkan kejutan ini dengan matang.


"Duduklah." Abhimanyu menyuruh felysia untuk duduk di salah satu kursi. Pria itu sendiri duduk di depan felysia.


"Apa kau yang menyiapkan ini semua?" Felysia bertanya sambil matanya tak berhenti memandang takjub.


Abhimanyu mengangguk.


"Aku tak pernah tahu, kau tahu tempat yang indah seperti ini." Felysia tersenyum.manis sekali.


"Dengan sedikit bantuan Leo dan sekretaris mawar." Abhimanyu menjawab Jujur.


"Oh, Begitu rupanya." Lirih felysia, mengangguk kecil.


Lenggang sejenak.mereka berdua sama-sama terjebak canggung. Abhimanyu lalu berdehem.


"Aku mungkin bukan pria yang romantis dan mungkin terkesan kaku. Aku tak pernah ingat baik padamu,tapi aku berbicara dan bertindak sesuai isi hatiku."


Felysia tersenyum,itu benar. Dia teringat perkataan Dian tempo lalu saat mereka sedang membicarakan Abhimanyu.


"Dengar, mungkin Abhimanyu tak seperti pria di luar sana, yang bisa mengungkapkan cinta kepada pasangannya kapan saja. Tidak, Abhimanyu bukan pria seperti itu. Dia membuktikan cintanya bukan dengan kata-kata tapi dengan tindakan langsung. Itulah yang ku suka darinya,tak banyak basa-basi, tak perlu mengutarakan cinta setiap saat dengan tindakan dan juga kepedulian yang dia tunjukkan, Sudah sangat menunjukkan cintanya untukmu."


Dan kini felysia menyadari apa yang di katakan Dian itu benar adanya. Abhimanyu selalu Begitu,pria yang felysia kenal dan selalu ia cintai.


"jadi mungkin aku akan kesusahan jika harus mengungkapkan perasaanku padamu."


Felysia mengangguk, "Aku mengerti."


Abhimanyu kini menatapnya, "Kau mengerti?"


"Eum," Felysia sekali lagi mengangguk, "Kita bukan lagi ABG yang sedang kasmaran bukan."


"Ah,ya kau benar." Abhimanyu manggut-manggut.


Hening. mereka kini sibuk memandang hamparan laut yang membentang luas di sana. langit biru sebentar lagi akan menjadi gelap.

__ADS_1


Abhimanyu lalu merogoh saku celananya, membawa sebuah kotak berwarna biru tua dari sana. Felysia memperhatikannya.


"Ini adalah sebuah peninggalan." Abhimanyu lalu membuka kotak itu, terdapat sebuah cincin perak di sana.


"Peninggalan?"


Abhimanyu mengangguk, "ini adalah satu-satunya hal yang bunda tinggalkan untukku."


Ah, felysia mengangguk. sebuah cincin peninggalan dari Alm. Ibunda Abhimanyu rupanya.


"Orang-orang bilang sebelum bunda meninggal,dia meninggalkan cincin ini untukku. aku selalu membawanya sejak ini di wariskan untukku."


Abhimanyu berdehem sebentar.


"Mungkin,aku tak pernah percaya dengan takhayul atau semacamnya. tapi percayalah aku selalu beruntung saat membawa ini bersamaku."


"Dan keberuntungan itu,aku ingin memberikannya untukmu."


Mereka saling bersitatap.Felysia tak mengerti apa yang di maksud Abhimanyu.


"Selama kita menikah,tidak ada cincin yang merekat di jarimu, jadi aku ingin memberikan ini sebagai bukti pernikahan kita." Abhimanyu menatap manik coklat terang itu.


Pria itu lalu mengambil cincin itu dari kotak,lalu menggamit tangan kanan Felysia, memasangkan cincin cantik itu di jari manisnya. cincin itu tampak sangat pas tak longgar ataupun tak sempit.


"Seakan ibuku sudah tahu,siapa yang menjadi pasanganku, cincin ini sangat pas untukmu," Abhimanyu berkata lirih.


"Sebenarnya sejak dulu aku ingin memberikannya untukmu, tapi tak pernah ada waktu yang tepat untuk itu. jadi kupikir inilah saatnya." lanjut lelaki itu.


Felysia mengangkat jemarinya tinggi, menatap cincin perak yang bersinar di jari manisnya itu. ada perasaan yang seketika membuncah. terharu sekaligus senang.


***


"Di mana wanita itu sekarang?"


"Dia penjara.polisi menangkapnya setelah insiden penculikan itu." suara berat di seberang sana tampak prustasi.


Abbas menghela nafas, untunglah Zeline tak berkeliaran, wanita itu pasti sudah menjadi gila,di tambah dia sekarang sudah menjadi salah satu napi.


"Lain kali kau harus berhati-hati, masih untung hanya wanita itu yang tertangkap.jika Abhimanyu mau dia bisa menyelidiki masalah ini."


"Abhimanyu mungkin sudah tahu semuanya. mungkin juga sekarang dia sedang menyusun strategi untuk membalas dendam." Abbas berkata datar.


"Kau tak takut sama sekali rupanya. ya sudah hanya itu yang ingin ku laporkan.sekarang kau aman tentang rahasia mu, karna sesuai dengan dugaanmu wanita itu sudah menjadi gila."


Abbas tersenyum,lalu telepon di matikan. Seseorang menepuk bahunya.


"Papa?"


"Ya?" Abbas berbalik, melihat Sarah, putri semata wayangnya di sana.


"Aku memanggilmu dari tadi, tapi kau tak menyahut." Sarah berseru.


"Ah, ayah tidak kedengaran tadi." Abbas menggaruk kepalanya, takut putrinya mendengar percakapannya.

__ADS_1


"Tadi aku sempat mendengar nama Abhimanyu di sebut." Sarah memicingkan matanya.


"Dan kau tadi sepertinya serius sekali, ada apa?"


"Ah,hanya masalah perusahaan,tak terlalu penting." Abbas mengibaskan tangannya.


"Benarkah?" Sarah menyelidik.pasalnya gerak-gerik ayahnya sangat mencurigakan belakangan ini.


"Tentu saja." Abbas mengangguk cepat, "Kau ada apa memanggil papah?"


"Aku ingin makan malam denganmu dan juga dengan mamah. sudah lama kita tidak makan malam bersama." Sarah menggandeng lengan papahnya, tersenyum senang.


"Baiklah,tapi mungkin mamah mu sedang sibuk.ingat, pernikahan Arya tinggal menunggu besok."


"Ya sudah,kita sekalian jemput mamah.dan aku juga gak lupa kok sama pernikahan sepupuku sendiri." Sarah bergelayut manja.


Abbas tertawa, "Baiklah,kita jemput mamah mu."


"Asyik." Sarah melompat senang.seperti anak kecil.


Lalu keduanya berjalan meninggalkan ruangan.


"Kau ini padahal sudah sebesar ini masih saja manja." Abbas mengelus kepala putrinya.


"Gapapa, sama papahku ini kok." lalu Abbas tertawa.


****


"Ayo,kau harus mau,ini menyenangkan." Felysia menarik-narik lengan Abhimanyu, ingin membawanya ke tengah air.


Seperti anak kecil felysia menariknya sampai ke sini,gadis itu katanya ingin bermain air. sesekali mereka berlari bermain kejar-kejaran di hamparan pasir putih.


Felysia tertawa menarik kemeja Abhimanyu lalu menyipratkan air laut ke arah pria itu, Abhimanyu pun tak mau kalah,jika sebelumnya dia hanya mengejar kini ikut menyipratkan air ke arah felysia.


Keduanya tertawa di saksikan burung camar yang menari-nari. sore menjelang malam ini terlihat sangat indah, ada pohon kelapa di antara dua sisi batu karang. Abhimanyu berlari mengejar Felysia di tengah ombak yang menari tenang. keduanya terlihat sangat bahagia.


"Maafkan aku,karna ku jas dan kemeja mu jadi basah semua." Felysia membawa jas Abhimanyu di tangan kanannya, keduanya sedang berjalan kembali ke mobil.karna hari semakin gelap.


Mungkin niatnya mereka akan makan malam di sini,tapi keduanya memilih untuk pulang saja.


Felysia tertawa, "Tapi lihat gaunku juga ikut basah." Abhimanyu menoleh, tersenyum.


"Tunggu." Abhimanyu berseru. felysia menghentikan langkahnya.


Keduanya berdiri di antara pohon kelapa yang berdiri bersisian. matahari akan terbenam sebentar lagi.


"Sebelum kita meninggalkan tempat indah ini," Abhimanyu menggamit kedua lengan felysia dan mengenggamnya, "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


Dada felysia berdentum hebat,gadis itu gugup, "Mengatakan apa?" mungkin jika tidak terhalang suara ombak,suara dentuman jantungnya akan terdengar keras.


"Aku tidak tahu aku pernah mengatakan ini sebelumnya."


Abhimanyu berdehem sekilas.

__ADS_1


"Aku mencintaimu," kata pria itu. di saksikan langsung oleh matahari terbenam.


__ADS_2