
Sore hari itu, felysia yang bersama Dian tiba di depan gerbang rumah bertingkat dua yang selama kurang lebih tiga bulan ditempatinya bersama Abhimanyu. Mang Jajang selaku satpam di rumah itu membukakan pagar kokoh yang menjulang, memberikan jalan agar mobil yang dikendarai Dian masuk.Kemudian felysia dan Dian turun setelah sampai di pekarangan rumah.
"Jadi ini rumah suamimu.kok rumahnya biasa saja,tidak seperti rumah megah konglomerat kebanyakan,kaya mansion gitu."Dian berceletuk sambil menelisik ke sekitar rumah.
Felysia yang mendengarnya menyenggol lengan Dian kuat, "Ssstt ... Tutup mulutmu."
"Awww! Kenapa sih memang-Eh hehehe." Dian tersenyum kikuk melihat satpam rumah ini yang menatap aneh ke arahnya.
"Makasih ya pak udah ngebukain gerbangnya tadi, ... Permisi." Dian yang cengengesan melewati mang Jajang dengan mendorong felysia yang ada didepannya.
"Kamu jangan asal bicara Dian, rumah ini tuh banyak mata-mata, jangan sampai kau berbicara yang menjelekkan tuan muda di sini." Felysia memperingati setelah mereka masuk ke dalam rumah.
"Kau tahu, bahkan dinding di sini saja bisa mendengar apa yang kau bicarakan." Lanjut felysia.menakuti.
"Hiiiih ... Suamimu serem banget Fel." Dian bergidik ngeri.
"Lihatlah, suasana rumah ini juga udah kaya rumah angker." Lanjutnya, Dian mengusap bulu kuduknya yang meremang.
"Rumah angker kaya gimana non!" Suara yang terdengar dari arah belakang Dian, membuat wanita itu berjengit kaget.
"Astaga monyet! Siapa?!" Dian kaget reflek beringsut ke arah felysia.
"Tidak usah takut non,saya pembantu rumah ini." Bi ati tersenyum lebar menunjukkan giginya yang berderet.yang mana agak menyeramkan menurut Dian.
"Panggil saya bi ati,non pasti temannya nyonya muda.mau minum apa non?" Tawarnya.
"Ekhem! O-oh Y-ya bi ati.Aku pengen minum jus alpukat deh,di atasnya di taruh whipcream bi kalo ada."
Bi ati mengangguk.
"Kalau perlu jangan terlalu manis,oh ya tambahin sedotan bi,kalo ada juga." Tambahnya.
Felysia menggeplak tangan Dian, "kau pikir ini restoran bisa request."
"Ya,kalo ada fely." Dian mengusap tangannya yang digelpak felysia.
Bi ati terkekeh, "gak apa-apa non,ada kok.kalo gitu saya permisi ke dapur dulu."
Mereka berdua mengangguk. setelahnya Dian mengekori felysia yang berjalan menuju ke kamar yang berada di ujung, Dekat dengan tangga.
"Ini kamarmu?" Felysia mengangguk sebagai jawaban dan mereka pun masuk.Dian tercengang sejenak melihat isi kamar felysia dan setelahnya dia menghampiri deretan gaun dan aksesoris lainnya yang diberikan Abhimanyu.
"Anjir! Ini beneran semuanya dia berikan untukmu." Dian menyusuri dan melihat setiap set gaun dan beberapa baju potongan yang tersusun rapi.
"Iya pria itu memberikan semua ini untukku.maka dari itu aku ingin berdandan maksimal untuk acara malam nanti agar tidak mempermalukannya."
"Astaga yang benar saja,kau lihat sepatu ini fel? Ini adalah high heels yang hanya diproduksi oleh merek ternama dengan perancang busana yang telah mendunia," Kata Dian hiperbola, menunjukkan sebuah kotak yang di hiasi mutiara yang berisi sepatu kaca berwarna perak yang terlihat sangat elegan desainnya.
"Kau tahu banyak artis dan model terkemuka yang mengincar high heals ini karena mereka memproduksinya secara terbatas, dan bisa-bisanya tuan muda itu mendapatkannya dan memberikannya untukmu.kau tahu ini luar biasa."
"Sebenarnya yang akan pergi ke acara itu kamu atau aku? kau bersemangat sekali." Felysia berkata misuh.yang sebenarnya hanya candaan untuk sahabatnya itu.
"Aduuhhh ... Baiklah,baiklah tidak lagi.kau tahu kan bagaimana kecintaanku terhadap fashion."
Felysia tersenyum, "iya aku tahu, makanya aku mempercayakanmu untuk mempersiapkan diriku malam ini."
"Baiklah tuan putri,aku akan membuatmu menjadi ratu malam ini." Dian tersenyum menggapai pundak Felysia.
Tok Tok ...
"Bibi masuk ya." Bi ati berjalan menghampiri kedua gadis itu setelah mengetuk pintu kamar yang terbuka.
"Ini! Sesuai rakoes non Dian." Bi ati tersenyum, meletakkan jus alpukat sesuai pesanan Dian dari nampan ke meja.
Baik Dian maupun Sia melemparkan pandangan sebelum akhirnya tertawa lepas Karena mendengar kosa kata yang bi ati ucapkan salah dan terdengar lucu.
"Bukan rakoes bi,tpi request.dibacanya RI KU ES." Dian menekan katanya di akhir supaya bi ati paham.
"Ck! Bibi terlalu kuno buat kata belibet kaya gitu non, ngucapinnya sesuai yang enak di lidah aja."
Dian menggeleng pelan, "Ya sudah makasih ya bi, minumannya." Dian berkata di sela tawanya.
"Iya non sami-sami.Btw heppan ya, nona-nona."Seru bi ati dengan gaya centil, mengedipkan sebelah matanya sambil keluar kamar.Hal itu lantas menimbulkan tawa keras diantara Dian dan felysia.
Bahkan Dian sampai memegangi perutnya yang keram karena saking kerasnya ia tertawa, "Bwahahaha lucu banget Fel pembantu kamu, Adudu di perutku sakit, hahaha."
Felysia malah menatap aneh sahabatnya ini, "Udah gak ada yang lucu Dian.cepat dandani aku."
"Baiklah,baik.kau mandi dulu sana." Kata Dian sambil mengusap setitik air matanya karena tertawa tadi.
***
"Oh my god, lihatlah kau cantik sekali fely!" Dian berseru heboh setelah berhasil mendadani felysia.
Felysia berdiri dari tempatnya duduk,dan berjalan ke arah kaca tinggi yang menampilkan seluruh tubuhnya.malam ini Felysia memakai gaun mewah yang berwarna putih gading yang menjulur sampai ke mata kaki,sangat selaras dengan kulit putihnya. dengan renda-renda indah yang menghiasi membuat si gaun tak nampak kosong.ditambah riasan tipis yang menghiasi wajah ayunya dan sepasang anting berbandul seperti mutiara berkilauan sebagai pemanis, membuat penampilan felysia kian memukau.meskipun terkesan sederhana namun terlihat sangat elegan.
"Apakah begini sudah bagus? Jujur aku merasa tidak percaya diri." Felysia menurunkan senyumnya yang tadi sempat terpatri.
"Hei! Kenapa tidak percaya diri, lihatlah bayanganmu di kaca itu.kau sudah terlihat sangat menawan."Ujar Dian menyemangati.
"Tapi di sana aku akan bertemu banyak orang baru, aku ... takut." Cicit Sia.
"Kau harus percaya diri okey, tidak perlu merasa takut.ambil nafas dalam dan keluarkan."
Felysia mengikuti kata Dian. Sia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, dan itu ternyata berhasil.karna setidaknya jantungnya tidak berdebar-debar seperti tadi.
"Nah sekarang kau siapkan, kendalikan rasa takutmu dan tunjukkan pesonamu okey!" Felysia mengangguk mantap ke arah Dian.
Tok ... Tok ...
"Nyonya Sia sudah siap? Tuan sudah menunggu!" Seruan dari bi ati membuat keduanya menoleh.
"Masuklah Bi!" Kata Dian.Bi ati lalu masuk ke dalam kamar yang pintunya tertutup setengah itu.
"Astaga, Nyonya muda sangat cantik!" Seru bi ati memuji sedikit histeris.
"Nyonya muda memang sudah manis dari dahulu tapi selalu sederhana,namun melihat nyonya memakai gaun mewah begini membuat saya pangling." Lanjut bi ati.
Felysia tersenyum kikuk,merasa tak nyaman, "Biasa saja bi."
"Benar kan kataku,siapa dulu dong bi,MUA-nya." Dian menepuk dadanya pelan, tersenyum bangga.
"Waaah, nona dian benar-benar top markotop." Bi ati memuji dengan mengacungkan kedua jempolnya kepada Dian.membuat si empunya hidungnya makin kampas-kempis di tempat.
"Lihat saja Nya,den Abi pasti langsung klepek-klepek lihat nyonya." Bi ati tersenyum.
"Naaah ini dia yang gue cari Brayyy!Ayok bi kita toss dulu." Ucap Dian heboh.Bi ati tersenyum sebelum akhirnya ber-toss ria bersama Dian.
Felysia menggeleng kepalanya pelan, melihat tingkah keduanya,juga merasa senang karna melihat bi ati dan Dian yang cepat akrab seperti ini.bahkan mereka seperti teman lama jika disatukan.
"Oh ayok Nya,Tuan sudah menunggu di depan."
"Ayo biar aku antar juga." Dian berseru.
Felysia mengangguk,dia menghembuskan nafasnya pelan,guna menetralkan gugup, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya untuk bertemu suaminya, Abhimanyu.
***
Abhimanyu mengecek arjolinya ke sekian kalinya di dalam mobil.pria dengan setelan jas rapi itu mengetukkan jarinya ke bahan mobil.
"Kenapa lama sekali." gerutunya.
"Sabar tuan, mungkin nyonya muda masih bersiap " Leo berkata di luar mobil, berdiri tepat di samping Abhimanyu.
Abhimanyu mendengus pelan, "Wanita itu kenapa suka sekali berlama-lama berdandan.Membuat orang lama menunggu itu tidak baik.lihatlah, bahkan mungkin mereka membuat satu alis saja membutuhkan waktu satu jam,."
Leo yang mendengar itu tertawa kecil, "anda ternyata bisa melucu juga.tapi memang sudah begitu tradisinya bagi mereka, tuan."
"Saya tidak sedang melucu."Abhimanyu berkata dingin, membuat Leo seketika diam, menciut.
"Nah itu mereka." Leo mengarahkan telunjuknya ke arah felysia yang sedang menuju mereka.
"Siapa wanita di sampingnya?"
__ADS_1
"Oh itu teman nyonya tuan,kalo tidak salah namanya dian.nona Dian adalah satu-satunya teman nyonya." Abhimanyu mengangguk mendengar penuturan Leo.
Dian yang melihat Leo berada disamping mobil, membisikkan sesuatu kepada felysia,"itu pasti suamimu."
Tak sempat Sia menyela,Dian sudah berlari duluan meninggalkan, felysia yang kesusahan karena memakai high heels berusaha mengejar Dian.
"Tunggu Dian, kau salah paham!"
"Halo, selamat malam tuan Abhimanyu." Dian membukukan badannya memberi salam kepada Leo, membuat Leo mematung seketika.
"Anda terlihat tampan, seperti yang saya dengar." Dian menyengir merasa tak berdosa, membuat Leo tiba-tiba berkeringat dingin.
"Anu Eee ... Itu ... Anda salah sangka nona,Ee ..." Leo salah tingkah sendiri, apalagi ia merasakan tatapan tajam seseorang tengah mengarah padanya.
Tiba-tiba kaca mobil yang terlihat hitam dari luar,turun perlahan. Menampilkan wajah seseorang yang datar, "saya yang Abhimanyu, bukan dia." Abhimanyu berkata dingin.
"Astaga! Ommo!" Dian menutup mulutnya dengan telapak tangan terkejut, "Joong Ki oppa? Is that you?" Dian mengatakan hal yang membuat kedua pria itu bingung.
Dian lalu menghampiri depan mobil dengan agresif seakan Tengah melihat sebuah keajaiban sekarang, "Joong Ki oppa,anyonghaseo," teriak Dian histeris.
"Nona,dia bukan Joong Ki oppamu,dia bosku tuan Abhimanyu."Leo mendesah pelan.wanita ini merepotkan.
"Aigu khamchagia! Tapi bosmu ini kek Joong Ki oppa, pemain descendats of the sun tea!" Dian lagi-lagi meracau tak jelas.setidaknya Leo tahu itu bahasa Korea.
"Kau terlalu banyak nonton drama Nona."
Tiba-tiba felysia menghimpiri mereka berdua dengan raut wajah khawatir, nampaknya sifat gesrek temannya ini sudah keluar, apalagi melihat Dian yang meracau sendiri membuat felysia malu sebagai sahabatnya.
"Dian apa yang kau lakukan, kau memalukan!" Desis felysia yang sekarang berada di samping Dian.
Dian berbalik dan memicingkan matanya ke arah felysia, "kenapa kau gak bilang punya suami setampan ini hah." Bisik Dian.
Abhimanyu yang sedari tadi menyimak mendesah pelan, malas melihat keributan ini, "Leo Bereskan wanita itu.Stela ayo masuk."
Felysia menurut, setidaknya ia tahu yang dipanggil stela itu dirinya jadi ia tak bingung.Felysia memasuki mobil dengan berat hati melihat Dian yang terus menerus meracau tak jelas, namun melihat Leo ia rasa dia bisa mengatasinya.
"Joong Ki oppa, Changi, Yogie Yogie, bogoshipoyo, bisakah kita berfoto "
"Sudah ya nona,kau bisa bertemu dengan Joong Ki oppamu di Korea nanti." Leo terus saja menghalangi Dian yang ingin mendekati Abhimanyu.meskipun tak sekali dua kali dia melakukan ini mengusir para wanita yang ingin berdekatan dengan bosnya,namun dengan Dian dia merasa berbeda.
Dian mendelik menatap Leo, "baiklah, baiklah kalian boleh pergi."
Leo tersenyum. akhirnya, "begitu dong Nona dari tadi."
"Tapi ingat,Jaga Fely-ku jangan sampe di macem-macemin sama bosmu itu." Dian mengarahkan telunjuknya ke arah Leo dengan tatapan serius, membuat Leo menelan Saliva kasar.
"Tapi ... Kalo di macem-macemin soal ekhem ... Aku malah setuju banget." Dian mengedipkan sebelah matanya genit.
Leo loading sebentar sebelum mengerti tentang kemana arah pembicaraan wanita itu. Leo menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Anda benar-benar gadis yang barbar.ya sudah kami permisi." Leo yang sudah tidak kuat menghadapi tingkah absurd teman nyonya mudanya ini memilih masuk ke dalam mobil.
Pintu kaca mobil terbuka setengah menampilkan wajah felysia yang menyembul, "Dian kau pulang berhati-hati ya, terimakasih untuk riasanmu ini, kau benar-benar sahabatku." Kata felysia sambil melambaikan tangannya sambil mobil yang terus merangkak jalan.
"Baiklah, baiklah jangan khawatirkan aku.kau juga have fun ya." Ujar Dian melambaikan tangan juga.
"Tuan bos mafia, Joong Ki kw, jaga sahabatku ya!" Dian berteriak keras sambil melihat mobil yang terus merangsak menjauh.
Mobil hitam yang dikendarai Leo meluncur mulus sampai ke tempat tujuan, Sebuah hotel berbintang lima yang menjulang tinggi,di Sertai penjagaan yang ketat di pintu masuk.Leo keluar terlebih dahulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk Abhimanyu, disusul felysia yang keluar terakhir.
Felysia menatap raut wajah tak mengenakkan Abhimanyu dengan sendu. Saat mereka berjalan di anak tangga gedung yang di lapisi karpet merah felysia menghimpirinya.
"Tuan, sedari tadi kau diam saja dengan raut datar, apakah kau Masih kesal dengan kejadian tadi?" Felysia bertanya takut.
"Tuan!"
"Ada apa?"
"Maafkan temanku jika tadi membuatmu tak nyaman."
"Tidak apa-apa,kau tidak perlu meminta maaf."
"Jika kau tidak apa-apa, mengapa wajahmu tertekuk."
"Wajah saya memang seperti ini,." Abhimanyu berkata apa adanya.
"Tersenyum.kata orang jika kau tersenyum sedikit saja,itu akan mengurangi kadar keseramanmu."
"Saya memang seperti ini, lagipula orang yang tak sayang nyawa mana yang mengatakanku seram."
Felysia bergeming sejenak, kaget, "tidak apa-apa, tidak usah di bahas lagi.Ayok" Felysia hendak melanjutkan jalan,namun langkahnya dihentikan Abhimanyu.
"Tunggu ... Kita akan masuk ke acara formal, masukkan lenganmu kesini." Abhimanyu menunjuk lengannya yang melingkar di samping pinggang. Kode kepada felysia agar mereka bergandengan selayaknya pasangan di dalam nanti.
Namun melihat felysia yang hanya diam saja dengan raut Bingung membuat Abhimanyu gemas sendiri.akhirnya dengan tidak sabaran Abhimanyu menggamit tangan felysia dan menaruhnya di lingkaran lengannya.berjalan berdampingan.
"Ayok," kata Abhimanyu kepada felysia.
Leo yang berada dibelakang kedua pasangan ini hanya cekikikan geli sekaligus tertawa miris, merasa menjadi obat nyamuk di antara pasangan ini. Aish coba saja tadi dia mengajak nona Dian sebagai pasangan pura-pura agar tidak terlalu terlihat jomblonya yang mengenaskan.
Leo tersadar dari lamunannya dan menggeleng, "Tidak,tidak apa yang kau pikirkan Leo.jika kau membawanya, bisa-bisa pesta ini akan kacau seperti kapal pecah." Monolognya.
Merasa pemikirannya makin absurd seperti tingkah laku Dian, membuat Leo geleng-geleng kepala, "Tuan, nyonya muda, tunggu saya!"
\*\*\*
Acara yang diselenggarakan begitu megah dan berkelas, padahal di luar tadi begitu sepi dan remang,namun ketika masuk ke dalam Felysia dibuat takjub dengan riasan interiornya.Felysia mengadah ke atas menatap takjub gerai-geraian sutra yang menggantung indah berbentuk pita,juga sebuah lampu hias besar yang menggantung Kokoh di tengah-tengah, Membuatnya felysia tak bosan untuk memandang.
Prasmanan dan juga para pelayan hilir mudik mendorong troli-troli makanan untuk dihidangkan di meja-meja bundar berlapis indah.Para pejabat juga pengusaha memenuhi sebagian ruangan ini dengan suka cita, dengan minuman semacam sampanye yang berada di masing-masing gelas,mereka mengobrol dan tertawa bersama.
__ADS_1
Juga instrumental merdu yang menggema indah seisi ruangan membuat suasana menjadi semakin syahdu.Felysia baru kali ini melihat acara semegah ini seumur hidupnya,jadi wajar jika dia agak tercengang takjub, Abhimanyu yang sedari tadi melihat gerak-gerik gadis itu menarik senyum simpul.
"Tuan dan Nona selamat datang." Seorang pramusaji datang menghampiri mereka.
"Kalian adalah pasangan yang serasi, keduanya sama-sama cantik dan tampan.ini untuk kalian." Pria paruh baya itu menyerahkan sebuah buket bunga mawar putih kehadapan felysia
"Tuan?" Felysia menoleh ke arah Abhimanyu meminta persetujuan.
Abhimanyu tersenyum kecil, "Ambillah."
Felysia tersenyum senang, lalu mengambil buket bunga itu, "Terimakasih." Ucapnya.
"Apapun untuk Nona cantik,Saya permisi." Pramusaji itu membukukan badannya dan meletakkan tangannya di dada sebentar lalu kemudian pergi.
"OH! Tuan Abhimanyu di sini!" Seorang pria berteriak dari arah seberang mereka sambil mengacungkan tangan.
"Ayo ikut, akan kuperkenalkan kau dengan relasiku." Abhimanyu mengajak felysia.
Merasa tak ada gerakan dari felysia membuat Abhimanyu beringsut mundur, "Ada apa?"
"Anda duluan saja tuan,tadi anda menyebut mereka ' relasi' pasti ada yang akan mereka bicarakan penting dengan anda." Ucap Sia.
"Tapi saya memang akan memperkenalkanmu kepada mereka."
Felysia menggeleng pelan, "Tidak tuan,ini pasti menyangkut bisnis.Aku akan menunggu anda di sana." Abhimanyu mengikuti kemana arah yang ditunjuk Sia.
"Ditempat para istri Presdir dan direktur lain berkumpul, jadi anda tidak perlu khawatir," lanjutnya.
Abhimanyu mengalah dan menghembuskan nafas pelan, "Baiklah,saya akan menemuimu lagi nanti."
"Jika ada yang mengajakmu minum jangan kau hiraukan, siapapun itu termasuk wanita.kau minum air putih saja." Pesan Abhimanyu membuat felysia tertawa pelan.
"Saya serius." Abhimanyu tak main-main.
"Kau tahu kan saya memiliki hidup yang berbahaya, mereka juga pasti mengincarmu." Tambahnya.
Sia bergeming sejenak, "Baiklah, baiklah tuan muda tak usah khawatir.aku akan melindungi diriku." Katanya diakhiri senyum.
Abhimanyu mengelus punggung tangan felysia pelan dengan ekspresi tak rela.walaupun tempat ini umum dan ekslusif tapi tidak ada yang tahu pergerakan dari kubu musuh.mereka pasti mengetahui keberadaannya yang diluar jangkauan dan pasti mengincar felysia juga.Abhimanyu tidak ingin gadis ini kenapa-kenapa karenanya.
"Baiklah saya pergi." Pamit Abhimanyu berjalan teratur meninggalkan felysia.
Di luar jangkauan Felysia, Abhimanyu yang sudah jalan menjauh, menyalakan handsfreenya dan meletakkan di telinga kiri, ( \_Handsfree sejenis alat komunikasi yang diletakkan di daun telinga pengguna\_ ) dan menyambungkannya kepada seseorang yang berada di luar gedung.
"Ya,Leo kirimkan pengawal kita sekitar dua puluh orang ke dalam gedung acara, beritahu mereka untuk menyamar sebagai tamu.aku tak ingin mengambil resiko, Lindungi istriku apapun yang terjadi." Abhimanyu berkata dingin.
\*\*\*
Acara sudah akan di mulai di atas panggung terlihat seorang MC pria membawa mikrofon dengan selembar kertas di tangannya.suasana yang ramai mulai hening.
"Ladies and gentleman,tuan dan nyonya selamat malam selamat berbahagia." Suara MC pria itu menggema di keseluruhan ruangan pesta.
"Malam ini akan menjadi malam yang panjang. jadi pesta megah nan mewah ini diperuntukkan untuk peringatan telah kembalinya putri dari Presdir kita Mr.hilbert dan istrinya Mrs.Tifanny yaitu nona Catherine dari Jerman ke tanah air dengan gelar magister yang diraihnya. Atas pencapaian nona Catherine ini semuanya bertepuk tangan."
Lalu seisi ruangan gedung itu bergema dengan riuhnya tepuk tangan para manusia yang dilantunkan. Semuanya berbisik-bisik memuji prestasi putri mr.hilbert itu,ada juga yang tertawa senang,tak lupa mereka ber-cheears ria dengan minuman di masing-masing tangan mereka.
"Baiklah, karna tak ingin malam semakin berlarut cepat,maka untuk para tamu undangan dipersilakan berdansa ataupun minum dan menikmati acaranya." Kata terakhir MC tersebut sebelum dia turun dari panggung.
Sementara felysia yang ada disamping para wanita sosialita lainnya berdiri canggung,dia hanya sesekali menunduk dan melihat sekitar.dia tak percaya diri dan merasa kecil di pesta megah ini.felysia pun tak tahu di mana sekarang keberadaan Abhimanyu,yang dia lihat sekarang di samping dan belakang dirinya ada beberapa pria berjas hitam seakan seperti melingkari dirinya, seperti pengawal yang menjaga orang yang mereka jaga,dan itu membuatnya tak nyaman.
"MINGGIR KALIAN SEMUA! BERI JALAN UNTUK TUAN PUTRI ANGEL! " teriakkan keras seseorang didepan pintu gedung membuat felysia dan seisi manusia yang ada di situ menoleh kaget.
Tuan Abhimanyu? dimana anda? felysia bergumam.
\*\*\*
Felysia saat menghadiri Acara pesta ... Canci banget.

Abhimanyu saat menunggu felysia di dalam mobil ... Cool banget.
__ADS_1
