Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 68


__ADS_3

Kehampaan di mansion luas itu tampak terasa, suara ketukan high heels di lantai pualam yang sejuk terdengar jelas di keheningan.


"Kakak, untuk apa kau kesini?" Sinta yang membuka gagang pintu tampak terkejut melihat Abbas yang ternyata datang bertamu.


Abbas tampak tersenyum lebar. "Tentu saja aku ingin mengunjungi adikku,apa tidak boleh?"


"Bukan begitu, hanya saja kau tidak pernah datang bertandang ke sini sebelumnya." Sinta melebarkan pintu megah yang dilapisi emas itu. Mempersilahkan sang kakak untuk masuk.


"Kenapa kau yang membuka pintu? Apakah suamimu sudah tidak sanggup untuk mempekerjakan maid?"


"Kak!" Sinta tampak memperingati Abbas.


"Baiklah aku hanya bercanda." Menghela nafas, Abbas mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu.


Sinta tampak menepuk tangan pelan. "Siapkan minuman untuk kakak ku." Ucapnya pada seorang maid yang menghampiri mereka.


"Baik nyonya." Lalu si maid langsung berlalu sambil menunduk.


"Tadi aku mengunjungi putramu," ucap Abbas membuat Sinta menoleh.


"Kakak juga menemuinya untuk memberitahukan masalah itu? Padahal aku sudah mengunjungi Arya sebelumnya."


"Kau tampak lesu, apa kau kurang tidur?" Mengalihkan topik, Abbas menatap intens adik perempuan satu-satunya ini.


Sinta membuang nafas berat. "Bagaimana aku bisa tidur kak, sedangkan putraku sendiri menderita di dalam penjara," ujarnya parau.


"Keputusan suamiku tidak bisa di ganggu gugat lagi, setelah ini dia sama sekali tak akan mengijinkan ku untuk mengunjungi Arya."


"Biad*b!" Abbas tiba-tiba berseru marah. "Suamimu itu sama saja seperti memisahkan anak dari ibunya."


Sinta menatap sendu, tak menampik karna yang di ucapkan sang kakak ada benarnya.


"Kau tenang saja,aku pasti akan membebaskan Arya." Abbas menepuk pundak Sinta pelan.


"Bagaimana caranya? Jangan bilang kakak akan melakukan trik licik lagi,aku tidak akan setuju."


"Kau tidak percaya padaku?"


Sinta menggeleng, "Bukan, hanya saja, jika cara kotor yang akan kakak lakukan lebih baik jangan sama sekali. Susah cukup dengan apa yang kakak perbuat selama ini."


"Kau tidak usah khawatir, caraku nanti tidak akan mungkin merugikan ku maupun Arya."


Sinta mengangguk lemah, itulah yang dia khawatirkan,takut sang putra terlibat masalah lagi di dalam rencana yang dibuat kakaknya ini.


"Oh ya, apa aku boleh menginap?"


Cukup terkejut, Sinta tersenyum heran. "Tidak seperti biasanya kakak sampai meminta menginap seperti ini? Ada urusan apa?"


Abbas mens sudut bibirnya, "Tidak ada, hanya saja di rumah terasa kosong karna Sarah dan mamahnya sedang pergi."


"Kakak ipar dan Sarah bagaimana kabar mereka? Terakhir kali aku melihat Sarah di acara fashion show bulan lalu, aku kangen dengan anak itu," ucap Sinta.


"Sarah dan mamahnya tentu saja sangat baik, kau bisa menemui dia besok." Sinta mengangguk mendengar itu.


Tak menaruh curiga sama sekali Sinta berdiri. "Akan ku siapkan kamar untukmu."


Abbas mengangguk pelan, lalu ekor matanya menatap seksama langkah sang adik dengan tatapannya yang tak biasa.

__ADS_1


"Maaf, mungkin rencanaku ini yang akan menyakitimu."


***


Malam hari, mansion megah itu sudah terlihat sangat sunyi,seperti peraturan yang sudah tertulis di atas jam 10 semua penghuni sudah harus masuk ke dalam kamar masing-masing dan tidak ada yang boleh berkeliaran lagi.


Di anak tangga,Abbas tampak menuruni undakan tangga yang sedikit tajam itu dengan sangat hati-hati, di keheningan ini suara langkah kakinya mungkin akan jelas terdengar.


Setelah menuruni tangga pria itu langsung berlari pelan ke arah timur, ke ruangan kerja Pak Manaf berada. Dia melakukan semuanya sehening mungkin tak ingin meninggalkan jejak.


Tujuan pertamanya di ruangan kerja itu adalah mencari berkas bukti kejahatannya tujuh tahun lalu dan kemudian menghilangkan bukti itu agar pak Manaf tidak bisa lagi mengancamnya.


Mencari ke seluruh penjuru, Abbas tampak hati-hati untuk tidak membuat ruangan ini berantakan. Di malam hari mansion ini biasanya minim pencahayaan, jadi dia harus ekstra bekerja keras untuk mencari berkas itu.


Setelah hampir setengah jam mencari Abbas akhirnya menemukannya, lalu dengan pelan ia keluar ruangan dan menutup pintunya.


"Sinta,kau dimana?!"


Suara itu seketika mengagetkan Abbas, pria itu mematung dengan berkas di tangannya. Menoleh pelan, dilihatnya suami dari adiknya itu sedang berdiri dengan susah payah di atas tangga.


"Aku butuh turun ke bawah, aku tidak bisa melihat tanpa kacamata."


Abbas mengernyit heran, Pak Manaf tampak tidak mengenakan kursi rodanya, pria tua itu terlihat menggapai tembok dengan susah payah untuk menopang tubuhnya yang ringkih.


Abbas tersenyum miring, "Sepertinya rencana plan B harus kulakukan."


Abbas lalu berjalan mengendap-endap menaiki undakan tangga satu persatu guna mendekati Pak Manaf.


Merasa ada pergerakan seseorang, tangan pak manaf tampak menggapai-gapai udara, "Kau siapa, kenapa ada di depanku?"


Pak Manaf menajamkan indera pendengarannya,ia sama sekali tak bisa melihat wujud orang di hadapannya ini, terlebih sekarang ia tak memakai kacamatanya dan pencahayaan yang minim, namun ia juga tak mengenali suara orang itu, apakah seorang pria ataukah seorang wanita. suaranya begitu aneh.


Sementara Abbas yang sedari tadi menatap pria paruh baya di depannya ini, tersenyum puas. Inilah salah satu keahlian yang dimilikinya, ia bisa mengubah-ngubah suara sesuai keinginannya,seperti bunglon suara yang ada di tenggorokannya ada begitu banyak dan tak mungkin bisa di kenal.


Sejak kecil memang dia sudah menyadari salah satu bakatnya ini dan hanya dirinya yang tahu.


Keahlian yang seharusnya bisa bermanfaat namun di salah gunakan oleh orang sepertinya.


"Kau siapa? aku tidak mengenali suaramu,kenapa kau bisa ada di mansion ku?" Suara pak Manaf terdengar panik.


"Kau bertanya aku siapa? Aku adalah malaikat maut mu!"


"Apa mak-" belum sempat kata-kata pak Manaf terlontar, tubuhnya sudah terlempar, melayang ke bawah.


Abbas mendorong kasar tubuh ringkih itu hingga berguling di atas tangga lalu jatuh ke bawah. kejadiannya begitu cepat, hingga suara lolongan pak Manaf terhenti di tenggorokan.


Menarik sudut bibir, Abbas lalu turun ke bawah Memastikan adik iparnya yang kini sudah terkapar mengenaskan.


Tampak kepala Pak Manaf mengeluarkan banyak darah, Jatuhnya ia dari tangga yang tinggi itu membuat fungsi organnya terluka parah, terlebih benturan di kepala.


Setelah mengamati, Abbas tampak menempelkan telunjuknya di hidung pria paruh baya itu.


"Ternyata kau bisa mati secepat ini yah."


Abbas berdiri dari posisi jongkoknya. "Maafkan aku, tapi sepertinya aku sudah mempermudah tugas malaikat maut."


Sejak awal kedatangannya kesini, memang ada rencana yang sudah ia susun. Abbas berencana untuk mengambil berkas bukti-bukti yang ada di tangan Manaf, Dia tahu jika ia menyuruh seseorang untuk melakukan itu hanya akan menggali lubang untuk kuburannya sendiri, karna penjagaan di mansion ini cukup ketat, menyuruh seseorang untuk mencuri berkas itu hanya akan sia-sia oleh sebab itu ia menggunakan alasan 'menginap' agar leluasa untuk mengambilnya.

__ADS_1


"Awalnya aku hanya berencana untuk mengambil berkas ini. Tapi sepertinya jika aku membiarkan mu, hanya akan membuatku ketahuan. Jadi aku terpaksa mengambil nyawamu juga."


Tertawa devil, Abbas berbisik di samping tubuh yang sudah kaku itu. "beristirahatlah tenang, karna semuanya akan di ambil alih olehku."


Abbas lalu berjalan santai seperti tidak terjadi apa-apa, untunglah ia sudah tahu seluk-beluk mansion ini. Jika di malam hari keamanan mansion memang di matikan dan semuanya cctv yang ada di sini tidak akan berfungsi,jadi ia tak perlu khawatir ada jejak yang tertinggal,karna itu tidak akan Mungkin.


***


Pagi hari masih di apartemen Abhimanyu, tampak kedua insani itu sekarang sedang bersiap untuk kembali kerumah. mengingat Abhimanyu juga setelah ini akan aktif di kantor, mereka tidak bisa berlama-lama lagi di sini.


Abhimanyu sejak tadi selalu memperhatikan gerak-gerik Felysia yang kini sedang memakaikan dasi di lehernya, setelah kemarin puas berduaan seharian penuh,kini Abhimanyu harus sudah kembali ke rutinitasnya.


"Sudah siap." Felysia menepuk-nepuk pelan dasi yang sudah di pasangkannya, lalu turun dari bangku kecil yang membantunya untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Abhimanyu,semua itu tak lepas dari pandangan pria di depannya sekarang.


"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Felysia bersemu, Abhimanyu terus saja menatapnya dengan tatapan lembut.


"Kenapa? tidak boleh?"


Felysia menggeleng cepat. "Tidak.hanya saja aku malu."


Merasa gemas, Abhimanyu mendekatkan dirinya dan mengecup bibir ranum itu singkat. Felysia tampak memerah malu, lalu tangan pria itu tergerak untuk mengusap pucuk kepalanya penuh sayang.


"Mi amor." bisik pria itu.


Felysia tampak mengulas senyum, "Apa artinya itu?"


" 'Sayangku' dalam bahasa Spanyol."


Senyum Felysia semakin merekah setelah mengetahui artinya. Pria di depannya ini selalu penuh kejutan, bahkan untuk panggilan kesayangan saja ia ucapkan dengan anti-mainstream.


"Apa kau tidak apa-apa jika di antar supir, karna aku harus segera ke kantor bersama Leo," ujar Abhimanyu membetulkan kancing tangan jas-nya.


Felysia mengangguk,memaklumi. "Tidak apa-apa."


Lalu terdengar suara ketukan pintu, Abhimanyu menoleh pada Felysia. "Sepertinya itu Leo,kau bisa membukanya."


Mengangguk, Felysia berjalan ke arah pintu, mendengar ketukan dan suara Leo yang terdengar gelisah, Felysia segera saja menarik gagang pintu itu.


"Leo ada apa? kenapa wajahmu terlihat gelisah." Felysia menatap heran Leo yang terlihat gelisah namun sedih secara bersamaan.


"Tuan muda, di mana tuan muda?" kini suara Leo terdengar lemah.


"Ada apa Leo? apa ada sesuatu?" Felysia tampak ikut khawatir.


"Ada apa?" Abhimanyu tiba-tiba datang


"Tuan muda .... " ucap Leo lebih terdengar lirih, wajah pria itu berubah sayu dengan tatapan mata yang mulai meredup.


"Ada apa? kenapa raut mukamu seperti itu?" tanyanya pada asisten setianya itu.


"Tuan besar," suara Leo terhenti di tenggorokan, seperti menahan sesuatu yang akan keluar.


"Kenapa dengan ayahku?" Abhimanyu menautkan alis, bingung.


"Tuan besar sudah tiada, beliau sudah tiada tuan."


Di saat itulah Abhimanyu tahu jika dia sudah kehilangan seseorang yang sangat penting di hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2