Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 31


__ADS_3

"Abhimanyu berhenti!" seseorang berteriak menghampiri mereka.


Sinta tergopoh-gopoh menghampiri putranya yang sudah tergeletak tak berdaya. wanita paruh baya itu lalu mendorong tubuh Abhimanyu untuk menyingkir dari putranya. Sinta lalu dengan susah payah membantu Arya untuk berdiri.


"Kau mau membuat putraku tiada, hah!" teriak Sinta meradang. wajahnya berkerut menahan amarah.


"Dasar pria gila!" desisnya, menatap tajam.


Lalu raut wajahnya berubah khawatir saat melihat kondisi Arya yang sudah babak belur,darah pekat menetes hingga mengenai kemeja putihnya.


"Astaga,putraku.lihat kondisimu nak,kau sampai terluka separah ini." Sinta menangis menatap kasihan ke arah sang putra.


Sementara itu felysia baru sampai, lalu berdiri tak jauh dari mereka. sambil mendorong kursi roda pak manaf, kekhawatiran terlihat jelas di sana. gadis itu memandang sekilas ayah mertuanya yang duduk di kursi roda, Pak manaf yang mengerti kegelisahan felysia,mengangguk kecil.


Felysia lalu berlari kecil ikut menghampiri mereka.langkahnya terhenti saat sudah berhadapan dengan Abhimanyu.


"Tuan .... " Felysia menangis. air mata wanita itu sudah tidak bisa di tahan lagi saat melihat kondisi Abhimanyu yang juga terluka parah.


Kenapa bisa sampai seperti ini, padahal awalnya semua baik-baik saja. wanita terisak melihat kondisi sang suami.


Persetan jika ada yang menyebutnya wanita cengeng. melihat bagaimana Abhimanyu yang berkelahi karna dirinya dan mengetahui bagaimana sikap asli Nyonya.sinta kepada suaminya itu, membuat felysia tidak bisa menyembunyikan air matanya.


"Jangan menangis." Abhimanyu menatap sendu, jari jempol pria itu bergerak untuk mengusap air mata yang mengalir di pipi sang istri.keadaan pria itu sudah sangat parah, dengan darah yang mengalir di sudut bibir dan pelipisnya.


"Hatiku sakit saat melihat kau menangis." tambah pria itu.kini tangannya yang kekar mengelus wajah istrinya dengan sayang.


"Maaf ... " Felysia berkata lirih, isakannya sudah tak sekeras tadi.


Abhimanyu menggeleng, " tidak, bukan salahmu."


Air mata gadis itu malah mengalir semakin deras, melihat bagaimana Abhimanyu yang berusaha melindungi kehormatannya, membuatnya terharu.


"Cih!" dari belakang mereka terdengar Arya berdecih. pria yang sudah babak belur itu membuang ludahnya ke samping.


"Kau seharusnya sudah masuk penjara kembali, karna sudah melakukan kekerasan terhadap adikmu sendiri," ujar Sinta menatap tajam ke arah mereka.


Abhimanyu berbalik begitupun dengan felysia.


"Sebelum kau mengatakan itu, katakan dulu kepada putramu untuk menghargai wanita. Terlebih lagi wanita yang di hina disini adalah istriku. Kakak iparnya." Abhimanyu berkata dingin.


"Apa salahnya putraku,dia hanya mengatakan yang sebenarnya tentang istrimu." Desis Sinta.


Ucapan nyonya Sinta itu membuat felysia terkesiap kaget, tidak percaya. Darahnya berdesir hebat seiring dengan degupan jantungnya yang yang tak beraturan.


"Ibu kau ... " Lirih felysia hampir tak percaya.


"Diam! Jangan pernah kau memanggilku dengan sebutan itu lagi!" Teriak Sinta.


" Sudah dua kali putraku berkelahi karna dirimu." Ucapnya menunjuk felysia dengan tatapan sengit.


Sekelebat bayangan ingatan Sinta kembali saat makan malam diadakan untuk felysia.malam di mana Arya, felysia dan Abhimanyu bertemu pertama kali. Saat itu Arya menghampirinya dengan babak belur dan hidungnya yang berdarah, mengatakan bahwa dia dipukuli oleh Abhimanyu.


Setelah di selidiki oleh orang suruhannya ternyata Abhimanyu memang terlibat perkelahian dengan putranya karna felysia. Saat itu Sinta Marah besar namun dia masih mewajari, karna memang Arya lah yang pertama berbuat ulah.

__ADS_1


Tapi sekarang melihat Abhimanyu dan putranya kembali berkelahi dan lagi-lagi karna gadis itu membuat dirinya muak. Ternyata seperti inilah sifat asli menantu yang sempat disayanginya itu.


"Ibu, kenapa kau seperti ini padaku. Padahal putramu dulu yang memulai duluan." Felysia berkata pelan.


"Walaupun putraku yang memulai duluan, tapi semua ini bersumber karna mu." wanita paruh baya itu melotot menatap tajam, ingin sekali rasanya dia menampar gadis rendahan itu.


"Apa sekarang kau membenciku?" Felysia berkata lirih mencoba menguatkan hatinya.


"Ya! Sekarang aku membencimu felysia. Awalnya aku tidak mengira, tapi setelah aku melihat sendiri aku jadi tahu, apa yang di katakan putraku benar adanya, kau adalah gadis yang licik, sok suci dan suka memanipulasi dengan sikap sok polos mu itu." Ujar Sinta berapi-api.


Bahu felysia merosot,luruh sudah pertahanannya setelah mendengar itu. Raut kebencian terlihat jelas dari nyonya.sinta untuknya. Wanita itu ingin sekali menangis tapi air matanya tidak bisa keluar lagi.


Sekarangpun ibu mertuanya membenci dirinya.


"Cukup. Sudah cukup mengatakan hal buruk mengenai istriku." Abhimanyu berkata tajam, pria itu maju selangkah melindungi tubuh felysia.


"Kau boleh menghinaku sepuasnya. Tapi jangan pernah menghina felysia," ujarnya.


"Kenapa memangnya hah? Jika kau tidak ingin istrimu di hina, pergi dari sini!" Usir Sinta menyibak tangannya ke udara.


Wanita paruh baya itu memegang pundak putranya yang sudah tidak berdaya ke dalam pelukannya.


"Pergi! Kriminal seperti dirimu dan istrimu tidak di terima disini!" Teriak Sinta lantang bak mengusir pengemis jalanan dengan teganya Sinta mengusir anak dan menantunya itu.


"Baik!" Abhimanyu berteriak murka, "Aku dan istriku akan pergi dari sini."


Pandangannya mengedar ke sekeliling mansion, "Tempat yang seperti neraka ini, tidak pantas untuk malaikat baik seperti istriku!" ucapnya lantang.


Rahang pria itu mengeras dengan mata membulat,berkilat marah. jika bukan karna permintaan ayahnya,pria itu tidak akan Sudi untuk menginjakkan kaki di tempat ini lagi.


"Ayo felysia, kita pergi." Abhimanyu menggamit lengan felysia, wanita yang sedang terisak itu hanya bisa menurut.


Lalu keduanya berjalan berbalik, meninggalkan semua kenangan mereka yang ada di sini.


Bahkan belum ada sebulan mereka tinggal di mansion, tapi para maid di sini seperti sudah sangat mengenal tuan muda mereka dan istrinya itu, terlebih lagi felysia wanita lembut dan baik hati seperti dirinya,akan sangat dirindukan kehadirannya jika mereka benar-benar akan meninggalkan mansion.


Bi ati dan pak Herul yang sejak tadi memperhatikan perseturuan keluarga besar itu hanya bisa memandang Pasangan suami-istri itu dengan raut sedih.


Melihat bagaimana tragisnya kisah cinta kedua insani ini membuat air mata keduanya menitik, ikut terharu sekaligus sedih. Apalagi pak Herul walaupun baru bisa melayani pasangan itu, tapi mengingat betapa baik dan murah hatinya nona mudanya Membuat pak Herul sedih dan akan sangat kesepian jika benar keduanya akan pergi dari sini dan tidak akan pernah kembali.


Langkah Abhimanyu dan felysia semakin menjauh, bisa felysia rasakan suhu dingin yang terpendar dari telapak tangan Abhimanyu. Felysia mendongak menatap Abhimanyu yang sedang menatap tajam ke depan.


Felysia menunduk, dia merasa seperti wanita jahat, karena menyebabkan hubungan antara putra dan keluarganya yang semakin merenggang bahkan kini bermusuhan.


Sampai di depan pintu utama, langkah kedua insani itu terhenti. di depan mereka ada pak Manaf yang duduk dengan raut yang tidak bisa di tebak. pria itu mendorong kursi rodanya sendiri sampai kesini.


"Apa kau juga akan meninggalkan ku, nak." lirih orang tua itu.


Abhimanyu menghembuskan nafasnya pelan.


"Maaf ayah, ternyata tempat ini tidak cocok untuk kami tinggali." Abhimanyu semakin mengeratkan genggamannya di tangan felysia.


"Lalu bagaimana denganku, apakah kali ini aku akan benar-benar kehilangan putra dan juga menantuku."

__ADS_1


Abhimanyu menggeleng, "tentu tidak ayah."


Abhimanyu kemudian melepaskan tautan jemari tangannya dengan felysia dan melangkah menghampiri ayahnya. felysia mengikuti dari belakang.


"Kau tetap ayahku, datanglah nanti ke rumah jika ingin mengunjungi kami." Abhimanyu menekuk lututnya, mensejajarkan dirinya dengan sang ayah.


"Sebenarnya apa yang salah, apa aku tidak bisa mendidik kalian dengan baik. sehingga kalian dua bersaudara saling bermusuhan seperti ini." pak manaf berkata lemah.


"Rasanya aku gagal menjadi orang tua." pak manaf mengusap mata tuanya yang sudah berkaca-kaca.


"Jangan seperti ini yah. di sini tidak ada yang salah, kami hanya terhalang keegoisan masing-masing." Abhimanyu menggenggam tangan keriput itu.


"Maafkan aku ... " ucapnya lirih.


Abhimanyu lalu memeluk tubuh ringkih itu. rasanya sudah sangat lama dia tidak mengobrol seperti ini dengan ayahnya. waktu yang mereka habiskan terlalu sedikit. bahkan sangat sedikit.


Felysia menangis dalam diam, melihat anak dan ayah yang sedang berpelukan itu membuatnya terharu. lalu felysia ikut berjongkok mengusap punggung pak Manaf pelan.


"Tinggallah bersama kami, jika kau ingin." kata Abhimanyu pelan hampir tak terdengar.pria semakin mengeratkan pelukannya.


"Tolong jaga felysia, untukku." bisik pak Manaf pelan. satu titik air mata dari mata tua itu menetes mengenai bahu Abhimanyu.


Abhimanyu lalu melepas pelukannya, mata pria itu sudah memerah namun dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan kesedihannya.


"Aku pasti akan selalu menjaganya," ucap pria itu mengangguk mantap.


Pak manaf menghela nafas lega. pria tua itu lalu mengambil sebelah tangan felysia dan Abhimanyu, kemudian menautkannya di atas tangannya.


"Kau tahu aku tidak bisa meninggalkan tempat ini meskipun aku ingin. maka dari itu aku hanya bisa memberikan doa dan restu ku kepada kalian berdua," ujar pak manaf.


"Tidak apa-apa, restu dan doamu sudah sangat cukup untuk kami," kata Abhimanyu.


"Untuk felysia,aku meminta maaf atas nama putraku Arya, maaf atas semua keburukannya padamu. meskipun aku tahu kata maaf saja tidak bisa menghapus luka hatimu."


Felysia menggeleng, " Kau tidak perlu sampai meminta maaf seperti ini yah,ini bukan salahmu."


Pak manaf menghela nafasnya,lalu kemudian mengangguk.


"Aku pasti akan berkunjung ke rumah kalian nanti. ingat nak,kau masih berhutang penjelasan kepada ku," ucap pak Manaf.


Abhimanyu mengangguk pasti. sebenarnya masalah ini memang masih belum selesai.


"Ijinkan kami pergi ayah." ucap Abhimanyu.


Abhimanyu dan felysia lalu berdiri, menautkan kembali telapak tangan mereka.


"Pergilah, jalani kehidupan yang baik dan harmonis. tanpa ada rasa sakit hati tanpa ada balas dendam. ku doakan kalian berbahagia selalu."


Abhimanyu dan felysia lalu mengangguk, dan melangkah ke luar pintu utama mansion yang megah itu.


Kehidupan yang glamor dan bergelimang harta tidak bisa menjamin seseorang akan bahagia jika tempat yang disebutnya 'rumah' saja selalu menorehkan luka padanya.


Tidak ada yang lebih penting dari keluarga, jika pondasi itu hilang, saat satu keluarga tidak harmonis bahkan saling memusuhi satu sama lain. maka kebahagiaan itu tidak akan pernah bisa di dapatkan.

__ADS_1


Felysia dan Abhimanyu lalu masuk ke dalam mobil, tidak ada barang yang di bawa mereka dari tempat ini. biarkan lah semua itu menjadi kenangan kelak.


Mobil hitam itu lalu melaju keluar dari gerbang kokoh mansion, meninggalkan pak Manaf dengan tatapan mata tuanya yang mulai berembun.


__ADS_2