Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 73


__ADS_3

Esoknya, seperti yang telah di janjikan, Felysia dan Abhimanyu akan berziarah ke makam sang ayah. Mengendarai mobil sendiri tanpa Leo, Abhimanyu ingin waktu berdua saja dengan Felysia.


"Bunga Lily, bagus untuk Ayah," ucap Felysia saat mereka mampir sebentar ke tokoh bunga.


Abhimanyu mengangguk, bunga Lily memang sudah sangat melekat dalam keluarga mereka, karna yang ia tahu Almarhumah bundanya pun menyukai bunga Lily.


Langit biru tampak sangat cantik hari ini, awan seputih kapas tampak menggantung di garis cakrawala, dengan semilir angin lembut yang lewat saat mereka tiba di pemakaman keluarga ini.


"Ayah, kami datang."


Abhimanyu dan Felysia duduk di tepi makam. Batu nisan itu tetap sama seperti terakhir kali mereka datang, rumput-rumput di sekitar makam tampak sudah tercabut, karna memang sudah ada orang khusus untuk merawatnya.


Menepi sejenak, Abhimanyu berusaha untuk mempertahankan mimik wajahnya. Rasa kehilangan itu tetap ada, namun ia yakin seperti kata Felysia, ayahnya kini sudah tenang di alam sana.


Menatap sendu, Felysia mengusap punggung tegap sang suami. "Mas .... " Lirihnya.


Abhimanyu menoleh, menampilkan raut biasa, mengisyaratkan dia tidak apa-apa.


Buket bunga Lily di tangan Felysia,kini ia letakkan di atas batu nisan. Lalu keduanya sama-sama menaburkan kelopak mawar di atas makam.


Duduk dengan hikmat, keduanya sama-sama mengadahkan tangan, memanjatkan doa tertulus kepada sang maha pencipta, agar Almarhum selalu diterima di sisinya.


Lalu setelahnya, mereka berdiri kembali, menepuk kaki yang terkena debu, Abhimanyu menatap terakhir kali tempat peristirahatan abadi sang Ayah.


Tangan Abhimanyu lalu terjulur, mengenggam erat jemari Felysia di sisinya. Saling menatap, mata hitam bak obsidian itu memandang lembut manik coklat terang wanita di depannya.


"Apa sekarang kau sudah lega?"


Abhimanyu mengangguk menanggapi pertanyaan sang istri. "Aku sudah mengikhlaskannya."


Tersenyum, Felysia mengeratkan genggaman tangan mereka. "Aku yakin ayah pasti sedang tersenyum padamu sekarang."


Lalu keduanya berbalik, meninggalkan area pemakaman dengan hati yang sudah lapang.


Kehilangan ada agar kita selalu mensyukuri saat hal itu masih ada di depan kita, kesedihan datang,agar kita lebih menghargai waktu bersama orang terkasih yang belum tentu bisa kembali.


Jadi, hargailah selagi ada, sebelum hal itu benar-benar pergi dan tak akan pernah kembali ke sisimu.


Karna sejatinya tak ada yang abadi di dunia ini.


***


"Apa yang ku minta sudah kau laksanakan, Leo?"


Abhimanyu menatap serius ke arah pria yang kini melipat tangan di depan. Dengan tatapan mengintimidasinya yang selalu bisa membuat suasana menjadi mencekam.


"Sudah seminggu terakhir anak buah kita mengikuti setiap jejak Abbas, jadwal-jadwal pentingnya pun sudah saya sadap dan ada beberapa diantara anak buah kita yang menyelinap di acara-acara yang di datangi Abbas, demi mendapat bukti yang anda mau."


"Lalu apa yang kau dapatkan?"


Leo mengulurkan sebuah alat perekam di telapak tangannya pada Abhimanyu. di saat itulah alis Abhimanyu bertaut, namun ia tetap mengambil alat penyadap itu.


"Itu adalah alat penyadap yang berhasil di selundupkan anak buah kita di sebuah ruangan VVIP club malam yang di datangi Abbas," jelasnya.


"Abbas mendatangi sebuah club malam?" Tanya Abhimanyu yang matanya tak lepas menatap benda hitam berukuran kecil itu.

__ADS_1


Leo mengangguk. "Bahkan tak hanya sekali dua kali tuan. Abbas sangat sering mengunjungi klub malam yang sama,sejak seminggu belakangan."


Abhimanyu tersenyum miring yang lebih mirip semrik mengerikan. "Satu Fakta yang mencengangkan.ternyata paman dan keponakan itu sama saja." ucapnya mensejajarkan tabiat buruk Abbas dan Arya yang ternyata mirip.


"Apa kau sudah memeriksa alat ini?"


Leo menggeleng. "Saya tak berani, karna saya yakin ada bukti kuat tentang kejahatan Abbas yang anda cari di alat itu dan saya menyerahkan sepenuhnya kepada anda."


Manggut-manggut, Abhimanyu menyelipkan benda itu di sakunya. "Aku akan memeriksanya setelah ini."


"Lalu apa lagi yang kau dapatkan?" tanya Abhimanyu.


Menggeleng pelan,Leo menunduk. "Hanya itu tuan, maafkan saya. sangat sulit untuk menembus Abbas, pria itu sangat cerdik menyembunyikan bangkainya."


"Tidak apa-apa." Abhimanyu menarik sudut bibirnya penuh arti.


"Sudah sejak lama aku memegang kartu As Abbas. dan inilah saatnya aku menggunakannya."


Leo terkesiap. "Maksud tuan muda?"


Abhimanyu mengangguk, mengerti dengan arah pembicaraan Leo.


"Kau siapkan saja surat tuntutannya Leo. kita akan menggiring Abbas ke penjara, untuk menemani keponakan tersayangnya."


***


Hari-hari berjalan cepat, siklus hari telah di lewati, seminggu berlalu, kini saat yang di nantikan Bella dan seluruh keluarga besar Maheswara tiba.


Di ruangan serba putih yang steril itu, Bella meremas sprei putih brankar rumah sakit dengan kuat-kuat, di rasakannya sakit yang baru kali ini ia alami, rasa sakit yang membuat heboh orang-orang di mansion karna pewaris tahta Maheswara yang tak sabar ingin melihat dunia ini.


Dengan di temani Ibu dan Ayahnya di rumah sakit, Bella beberapa kali menghembuskan nafas kasar, keringat sebiji jagung sudah menetes di pelipisnya sedari tadi.


"Ini gimana sih pak kasihan putri kita."


"Sabar bu.ibu juga sudah pernah mengalami kan, kita panjatkan doa terbaik untuk keselamatan Bella dan bayinya."


"Bukan begitu maksud ibu." Bu Marni berdecak.


"Lah terus apa?" pak Hanif bertanya bingung.


"Kok ini tega banget,gak ada gitu sama sekali kerabat dari keluarga Maheswara menjenguk putri kita, cucu pertama mereka akan lahir loh padahal." Bu Marni berkaca-kaca.


Menggeleng pelan, pak Hanif merangkul pundak sang istri. "Tidak apa-apa Bu, semuanya terjadi secara mendadak, mereka mungkin lagi dalam perjalanan. Toh semua pasilitas terbaik sudah di siapkan kan, bahkan mereka menjamin keamanan kita dengan baik, tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Bu Mirna, ibunya Bella menatap sang putri prihatin yang menahan sakit karna sang bayi yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar.


Bella memang memilih untuk melahirkan bayinya secara normal, hingga di detik-detik rasa sakitnya itu semakin menjalar,dokter Fania-- yang kebetulan ia tahu namanya, datang mengecek kondisinya lagi setelah dua jam berlalu.


Bella susah payah mengatur nafasnya yang terasa berat, wanita itu meringis kesakitan menekan perut bagian kanannya, ketika dirasakan perutnya semakin mengencang dan terasa semakin kram.


Dokter segera mengecek denyut nadi Bella. dokter Fania seketika terkejut ketika cairan merah pekat mengalir di betis wanita itu.


"Siapkan ruang operasi segera!"Teriak dokter Fania,yang membuat kinerja suster dan perawat di sana bekerja cepat.


"Bella, Bella, kau mendengar suaraku kan? jangan menutup matamu." Dokter Fania melambaikan tangannya ke wajah Bella yang sudah pucat Pasih.

__ADS_1


Sementara Bu Marni dan pak Hanif yang berada di luar ruangan seketika panik, melihat para perawat yang berlarian sambil membawa alat-alat yang mereka tak tahu apa namanya.


"Ada apa ini? ap terjadi sesuatu pada putriku?" tanya Bu Marni menghentikan salah satu perawat.


"Pasien kini mengalami pendarahan, harus segera di tangani."


"Apa?!" Bu Marni membulat mata terkejut, begitupun pak Hanif.


Lalu pintu ruangan terbuka, tampak Bella yang mengejang kesakitan di atas brankar, dengan darah yang merembes dari antara pahanya.


Tanpa memperdulikan Bu Marni yang ingin melihat anaknya, mereka setengah berlari menuju ruang operasi.


"Dok, apa Putri saya baik-baik saja?" tanya Bu Mirna terakhir kali di depan pintu ruang operasi.


Dokter Fania menggeleng. "Persalinan normal tidak memungkinkan, pendarahan yang terjadi Membuat pasien harus segera menjalani operasi untuk keselamatan bayi dan juga sang ibu."


Lalu pintu tertutup mengisahkan kehampaan yang terdalam, Bu Marni terisak, begitupun dengan pak Hanif yang hanya bisa mengusap punggung sang istri.


"Tenang Bu, kita berdoa pada Tuhan, Bella pasti bisa melewati ini semua."


"Paman,Bibi!"


Felysia berseru, wanita itu datang bersama dengan Abhimanyu, Leo,dan juga Dian.


"Bi, gimana dengan keadaan Bella dan bayinya?" tanya Felysia dengan raut khawatir.


"Kata mereka Bella mengalami pendarahan, terpaksa mengambil tindakan operasi," ucap sang paman memberi tahu.


Dian tampak meringis, begitupun dengan Felysia yang menatap nanar ke arah pintu ruang operasi.


Abhimanyu menghampiri, tangannya terulur untuk memeluk bahu sang istri,guna memberinya ketenangan.


Nyonya Sinta tidak bisa hadir saat ini, padahal dialah yang paling menantikan kelahiran sang cucu, karna kondisinya yang semakin buruk pasca kehilangan Pak Manaf membuatnya acapkali di sangka gila karna perilakunya.


***


Waktu bergulir, jarum jam semakin meninggi, semua orang yang menunggu di depan sana, berharap cemas menantinya kabar baik. kini sudah ada Sarah dan mamanya yang mewakili kehadiran nyonya Sinta, mereka bersama, menautkan tangan merapalkan doa menurut kepercayaan masing-masing, Agar Bella yang sedang berjuang di dalam sana bisa selamat bersama bayinya.


Hingga suara tangisan bayi terdengar memecah keheningan. Semua orang yang ada di situ, bergeming sebelum akhirnya Menghela nafas lega lalu mengucap syukur atas lahirnya kehidupan baru.


"Pak,cucu kita pak." wajah Bu Mirna seketika sumringah, mengenggam tangan sang suami.


"Iyah Bu, kita sekarang punya cucu."


Semuanya berucap syukur, bahagia memeluk satu sama lain. meskipun sang ayah dari si bayi,yang amat penting kehadirannya tak ada di sini, setidaknya ada mereka,yang masih saling menyayangi dan menganggap keluarga.


Pintu ruang operasi terbuka, menampilkan sosok dokter dengan pakaian medisnya, semua keluarga lalu berkerumun menghampirinya.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya dan bagaimana dengan cucu saya?" tanya pak Hanif kepada dokter.


Sang dokter melepas maskernya, menatap sendu ke arah mereka, menghela nafas berat siap menyampaikan berita yang mungkin akan mengguncang hati mereka.


"Sebelumnya bayinya lahir dengan selamat. sehat tanpa kekurangan apapun, namun ... "


"Kenapa dok? katakan?" Bu Marni yang sudah tak enak hati, mengguncang lengan sang dokter.

__ADS_1


"Maaf untuk sang ibu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Pasien mengalami abubrsi plasenta,yang membuatnya kehilangan banyak darah." Menjeda ucapannya dokter menghembuskan nafas berat.


"Dan belum sempat kami melakukan upaya penyelamatan, nyawa pasien sudah tidak bisa ditolong." lanjutnya Membuat semua orang yang ada di sana mematung.


__ADS_2