
Felysia membuka pintu mobil dan turun tepat di pelataran parkiran rumah sakit. Leo menyusui setelahnya.
Felysia mengeratkan tangannya, berusaha menata hati. Ia yakin suaminya adalah pria yang kuat, Abhimanyu pasti akan baik-baik saja. Di saat seperti ini dia tidak boleh panik, dia harus tangguh. untuk segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Lewat sini nyonya muda." Suara Leo mengagetkannya. Felysia mengangguk lalu mengikuti Leo di belakang.
Suasana rumah sakit mulai ramai saat felysia dan Leo menginjakkan kaki. Bau steril dan obat-obatan langsung menyergap indera penciuman felysia. Lalu lalang perawat dan para pasien melewati mereka.
Hingga sampailah mereka di depan ruang IGD tempat Abhimanyu di operasi. Felysia berlari kecil menengok ke arah pintu yang dilapisi kaca bening, namun tertutup gorden.
"Leo, apakah dokternya belum keluar? Bagaimana kondisinya?" Felysia menatap nanar.
"Kita hanya bisa berdoa nyonya muda." Leo terhenti sejenak, " tuan Abhimanyu pasti bisa melewati ini." Namun nadanya terdengar tak yakin.
30 menit berlalu, Tiba-tiba pintu itu terbuka, menampakkan sang dokter dengan sarung tangan dan masker yang membungkus wajahnya.
"Di mana keluarga pasien?" Dokter mengedarkan pandangan.
"Saya dok." Felysia berdiri dari duduknya, menunggu "Saya istrinya."
"Apakah suami saya baik-baik saja? Bagaimana keadaannya?"
"Suami ibu baik-baik saja.operasi berjalan lancar."
Felysia dan Leo mendengarnya menghembuskan nafas, lega.
"Untunglah peluru itu tidak mengenai organ vital,meski pasien sempat kehilangan banyak darah namun kini kondisinya baik-baik saja." Jelas sang dokter.
"Apakah saya bisa melihat keadaannya?" Felysia berharap cemas.
Dokter menggeleng, "Untuk saat ini pasien masih dalam pemeriksaan. Anda bisa melihatnya jika sudah di pindahkan di ruang rawat."
Felysia menunduk setelah sang dokter pamit, Leo menepuk pundaknya, "yang terpenting sekarang tuan muda selamat nyonya."
Felysia menoleh, tersenyum.
"Anda bisa menunggu sebentar di sini? Saya harus kebagian administrasi sebentar."
Felysia mengangguk sebagai jawaban.
***
Satu hari berlalu,Kini Abhimanyu sudah dipindahkan di kamar rawat inap VVIP. Felysia duduk di samping brankar melihat Abhimanyu yang kini terbaring, pria itu belum juga siuman. Di luar penjagaan terlihat ketat ada dua bodyguard yang masing-masing berjaga di pintu masuk. Leo sedang pergi sebentar untuk mencari makan.
Baik Leo maupun felysia yang tahu kondisi Abhimanyu belum mengabarkan keadaannya kepada keluarga Maheswara. Meskipun seharusnya mereka tahu, apalagi pak Manaf selaku ayahnya. Namun felysia memilih untuk merahasiakan ini dulu, demi keamanan Abhimanyu.Hanya dian, sahabatnya yang diberi tahu. Itupun Leo yang mengabari karna di desak Dian.
Abhimanyu masih belum sadar dari pengaruh obat bius, felysia meraih jemari kokoh itu mengenggamnya. Dokter bilang memang membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk pasien membuka matanya.
"Kau harus segera bangun mas, masih banyak hal yang belum kita lakukan, masih banyak tempat yang ingin ku kunjungi bersama mu. Kau harus bangun." Felysia menangis,air matanya jatuh mengenai lengan Abhimanyu.
"Nyonya muda,kau belum makan? Saya sudah membelikan makanan untuk anda juga." Leo masuk membawa dua kantong plastik.
"Saya tahu,anda pasti tidak akan turun untuk makan di kantin rumah sakit, jadi saya membungkuskan untuk anda."
"Tidak perlu seformal itu Leo, kau bisa memanggilku dengan panggilan biasa." Felysia menceletuk tanpa menoleh.
"Eh." Leo tampak kikuk, sebelum-sebelumnya nyonya mudanya ini tidak mempersalahkan.
"Baiklah, apakah kamu mau Makan sekarang? Biar aku yang menunggu tuan muda di sini."
Felysia menggeleng, "aku ingin tetap disini."
Leo menghela nafas, sebelumnya juga seperti ini saat di ajak sarapan pagi tadi felysia juga tak mau, sejak kemarin felysia dengan setia menunggu Abhimanyu di sini. padahal Leo tahu sejak insiden penculikan itu Felysia tak pernah makan apa-apa lagi bahkan sekedar minum.
"Setidaknya minumlah walau hanya air putih." Leo menata makanan itu di atas meja.
"Kau bisa menaruhnya di samping, aku akan meminumnya nanti."
Leo menyerah untuk membujuk, setidaknya felysia mau untuk sekedar minum. Leo lalu ijin pergi lagi setelah menaruh segelas air di atas nakas samping brankar.
Setelah kepergian Leo,kini Dian yang datang. wanita dengan blazer batik itu mengusap pundak Felysia Membuat felysia menoleh. Felysia menatapnya sebentar lalu kembali fokus kepada Abhimanyu.
"Kau datang." felysia berseru.
"Tentu, di saat Sahabatku dalam kondisi seperti ini bagaimana aku tidak datang." Dian mengambil tempat di sampingnya.
Dian bisa melihat garis hitam di sekitar mata bulat itu, felysia tak tidur dan terus duduk disini, menunggu Abhimanyu sadar.
"Kata Leo kau belum makan sejak kemarin? bahkan kau belum pulang untuk sekedar berganti baju."
"Leo memberitahumu?" felysia menatap.
Dian menggangguk, "Aku tak sengaja berpapasan dengannya di luar."
"Pulanglah kerumah dahulu fely, bajumu kotor dan apa ini." Dian menutup hidungnya, " kau sekarang bau." katanya mencoba bergurau.
Namun felysia hanya diam, sesekali mengusap kepala Abhimanyu.
Dian membuang nafas pelan.
"Kau seperti ini sama saja menyiksa diri. luka di kakimu bahkan belum diobati." arah mata Dian menunjuk ke bawah.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa meninggalkan Abhimanyu di saat kondisinya seperti ini Dian? bahkan dia belum siuman."
"Aku tahu,kau khawatir. tapi kamu harus memperhatikan dirimu juga. kau tidak mau kan saat Abhimanyu bangun, melihat kondisimu seperti ini."
Felysia tampak ragu, namun yang dikatakan Dian benar. dia tak mau saat Abhimanyu bangun melihat kondisinya yang seperti ini. tapi di sisi lain dia khawatir dengan keamanan Abhimanyu.
"Kau tak perlu khawatir tentang keamanannya." Dian seakan menebak pikiran felysia, " ada Leo dan bodyguard diluar yang berjaga."
Hening. tak ada respon dari felysia.
Dian menghela nafas, "Jika kau ingin pulang,aku akan mengantarmu. aku akan menunggu di luar."
****
Pada akhirnya felysia memilih mengikuti saran Dian, dia akan pulang terlebih dahulu untuk membersihkan diri dan mengambil beberapa barang yang di perlukan untuk dirumah sakit. Dian yang mengantarnya, setelah berbincang sebentar dengan Leo dan memastikan keadaan Abhimanyu sekali lagi.
Rumah bertingkat dua ini tampak renggang,lebih terlihat seperti rumah kosong padahal baru beberapa hari ditinggalkan.
Dian menatap sekitar rumah, berakhir terduduk di sofa. sementara felysia sedang mandi dan membersihkan lukanya.
"Sayang banget nih rumah Segede ini yang huni cuma dua orang." dian bergumam meminum jus yang dia ambil dari kulkas.
Dian yang bosan menunggu felysia akhirnya memilih untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. sampai akhirnya dia menuju ke kamar felysia yang pintunya terbuka.
"Duh ngapain sampe sini ya." Dian menggaruk kepalanya, bingung dengan diri sendiri.
Saat hendak kembali matanya tertuju pada sebuah kertas yang terselip diantara bantal. Dian yang memang berjiwa kepo tingkat tinggi mengambil kertas itu. dan ternyata itu adalah sebuah dokumen.
"Apaan nih." Dian mencoba membuka dokumen itu.
"Kontrak pernikahan?" mata Dian membulat. ini surat kontrak pernikahan antara felysia dan Abhimanyu.
Saat dia ingin membuka lebih seseorang menarik dokumen itu dengan cepat. Dian menoleh mendapati Felysia ada di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan di sini,Dian?" felysia menatap tajam.
"Eh, ehehe aku gak sengaja kesasar sampe sini. awalnya cuma iseng jalan-jalan doang." Dian cengengesan.
Felysia menggeleng, " ya ya aku percaya. tapi lebih baik kau tidak masuk ke kamar seseorang sembarangan." Felysia memperingati.
"Baiklah, aku minta maaf." Dian duduk di tepi ranjang.
"Tapi bukankah itu surat kontrak pernikahanmu?" mulai lagi keponnya.
"Ini?" felysia mengangkat dokumen itu, lalu mengangguk, "Kau benar ini dokumen kontrak pernikahan."
"Lalu sekarang kau bagaimana? maksudku pernikahan kalian."
"Ntahlah, akupun bingung." Felysia ikut duduk disamping Dian. gadis itu sudah berganti pakaian.
"Sepertinya dia sudah melupakannya.pria itu sudah benar-benar mencintaimu."
Felysia menoleh, "Maksudmu?"
"Kau selama ini tidak menyadari ya?"
Felysia bingung, "Menyadari apa?"
"Astaga, tentang abhimanyu.tentang perasaannya padamu." Dian memutar bola matanya,gemas.
"Kau tidak menyadari dari cara dia menatapmu, memperhatikanmu, jelas sekali Abhimanyu menaruh rasa padamu.dia mencintaimu Felysia."
"Benarkah? tapi aku tak pernah menyadari itu."
"Tentu saja kau tidak menyadarinya karna kau tidak punya pengalaman tentang ini." Dian berpangku tangan.
"Yang kutahu, sejak pindah dari mansion, Abhimanyu sedikit bersahabat padaku, tak cuek seperti biasanya. hanya itu." Felysia tampak berpikir.
Dian merenggangkan tangan,gemas sekali ingin mencekik Felysia. kenapa sahabatnya ini tidak peka sama sekali.
Terdengar suara dering ponsel, Felysia menoleh Mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Leo yang menelpon, gadis itu mengangkatnya.
"Halo?"
[ ... " ..." ]
"Apa? benarkah?" Felysia berseru senang.
"Baiklah,aku akan segera kesana?"
Telepon lalu terputus.
"Ada apa?" Dian bertanya tidak sabaran.
"Abhimanyu sudah sadar Dian. mas abhi-ku sudah membuka matanya." Felysia terlonjak senang.
"Syukurlah." Dian tersenyum.ikut bahagia untuk felysia.
Felysia lalu memeluknya, bisa Dian rasakan pelukan felysia yang Begitu erat.
"Akhirnya dia sadar, Dian." ucap Felysia dengan suara serak. gadis itu nampak berkaca-berkaca.
__ADS_1
"Selama ini aku selalu merasa bersalah untuk keadaannya,aku sangat merindukannya."
"Sudah jangan menangis." Dian menepuk pelan punggung felysia.
"Jika kau sudah sangat merindukannya.segeralah berkemas dan kita ke rumah sakit."
Felysia menyeka pipinya, " Sudah. aku sudah menyiapkan barang-barang yang akan diperlukan."
"Tunggu apa lagi,ayo." Dian tahu felysia sudah tak sabar ingin bertemu Abhimanyu.
"Eum." felysia mengangguk semangat lalu berdiri dari duduknya.
"Nanti bisakah kita ketokoh bunga dulu. mas Abhi menyukai bunga lily.aku ingin memberikan untuknya."
Dian mengangguk, " tentu saja. apapun untuk kebahagiaan sahabatku." lalu keduanya tersenyum.
***
Felysia menghembuskan nafas, gugup, dada gadis itu berdetak kencang. kini dia berada di depan pintu ruang rawat,dia akan melihat Abhimanyu yang sudah siuman. ntahlah kenapa dia jadi gugup seperti ini,mungkin karna kerinduan akan tatapan hangat pria itu penyebabnya. dia ingin melihat Abhimanyu dan tatapan hangatnya.
Pukul delapan malam saat felysia melikirik jam di pergelangan tangannya. mereka sedikit terlambat tiba di sini karna kemacetan.
Felysia menoleh melihat Dian dibelakangnya.dian mengacungkan tangannya ke udara seakan memberi semangat. dia tahu felysia sedang dalam kegugupan.
Felysia membuang nafa sekali lagi, mengusir gugup.dengan buket bunga Lily putih di genggamannya Felysia memberanikan diri membuka pintu kamar VVIP itu.
"Mas aku datang." Felysia tersenyum lebar.
Namun langkanya terhenti, senyuman gadis itu luntur seiring dengan pemandangan menyakitkan yang dia lihat. terlihat ada Angel di sana.wanita itu sedang menyuapi Abhimanyu, Abhimanyu merespon baik, mereka tampak saling tersenyum dan melempar tawa.
Felysia mencoba berjalan dengan kaki gemetar, mereka tampak asyik tak menyadari ada dirinya di sini.
Angel yang terlebih dahulu menoleh, menatapnya.
"Ngapain kau kesini?" Angel mendelik.
Abhimanyu mengikuti arah pandang Angel,kini tatapan Abhimanyu dan felysia bertemu. Felysia mencoba untuk tersenyum.
Tapi raut wajah pria itu berubah,dia menatap tak suka ke arah felysia.
"Untuk apa wanita itu ada di sini?"
Deg!
Kedua tangan felysia bergetar, jantung gadis itu berpacu cepat setelah mendengar apa yang dikatakan suaminya.
"K-kau tidak suka aku ada di sini?" Felysia mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak.
"Jika kau tahu jawabannya,kenapa masih bertanya." Abhimanyu mengalihkan pandangannya.
Felysia merasa dunianya tiba-tiba hancur. Abhimanyu tak ingin melihatnya ada di sini? pria itu terlihat lebih bahagia bersama angel? dia bahkan tak sudi untuk sekedar menatap dirinya.
Angel tersenyum, " sudah dengar kan. Felysia, Kak Abhi tak ingin kau ada di sini, dia tak Sudi melihatmu, jadi lebih baik kau pergi."
Pandangan angel lalu beralih ke Abhimanyu, " Kau sudah selesai makannya? atau ingin ku suapi lagi?"wanita itu mengusap sudut bibir Abhimanyu.
Abhimanyu menggeleng, " Aku sudah kenyang."
"Baiklah aku membawa nampan ini, kau minum airnya." Abhimanyu tersenyum simpul, menatap kepergian Angel.
Ke dua orang itu tidak lagi memperdulikan keberadaan Felysia. hancur tentu saja felysia merasa sangat hancur,bahkan dari kemarin dialah yang menemani Abhimanyu, tapi mengapa? mengapa angel lah yang mendapatkan senyuman pria itu.
Kau tahu, sekarang Abhimanyu membencimu. karna kau lah dia sampai seperti ini." bisik angel saat mereka bersejajar.
Felysia menangis, gadis itu mengeratkan genggamannya pada buket bunga Lily putih di tangannya.
Dengan keberanian yang ada felysia mencoba menghampiri Abhimanyu dan menaruh buket bunga itu di atas nakas. Abhimanyu memperhatikan gerak-gerik gadis itu
"Hadiah dariku untukmu, kau sangat menyukai bunga Lily." Felysia menunduk tak berani menatap Abhimanyu.
"Semoga kau cepat pulih." Felysia sekuat yang ia bisa menyembunyikan isakannya.
Felysia lalu berbalik. namun langkahnya terhenti saat Abhimanyu tiba-tiba mengenggam pergelangan tangannya.
"Tunggu!"
Felysia menoleh kembali. secercah harapan terbit saat Abhimanyu menghentikannya.
"Untuk besok-besok jangan datang kesini lagi. aku benci melihatmu."
Sorot mata berbinar Felysia tiba-tiba meredup seiring dengan aliran air mata yang semakin deras. Felysia menarik pergelangan tangannya.
"Sebegitu bencinya kah kau padaku?" Felysia tergugu.
Abhimanyu hanya diam,tak ingin menatapnya. jadi benar apa yang dikatakan Angel, pria itu sekarang membencinya.
Felysia berusaha menata hatinya yang kini hancur berkeping-keping. ntah apa yang terjadi, tapi mungkin inilah saatnya Felysia pergi. dia sudah berjanji pada pria itu jika dia akan pergi saat Abhimanyu sendiri yang memintanya untuk pergi. dan mungkin inilah saatnya.
"Baiklah,aku tak akan pernah datang kesini lagi sesuai dengan perkataanmu." Felysia terisak semakin dalam.
"Aku anggap hari ini adalah kemunduranku. semoga kau bahagia."
__ADS_1
Felysia menyeka air matanya, lalu berbalik. Abhimanyu bahkan tak mau lagi menatapnya.
Untuk saat ini cinta itu tak akan tumbuh.