Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 72


__ADS_3

Netra Felysia menatap lekat mata segelap obsidian laki-laki di depannya ini. Mencari jawaban yang selama ini ingin ia tahu, yang selama ini selalu mengusik hatinya.


Namun pria itu hanya bergeming. Netranya yang segelap malam hanya memandang Felysia tanpa mau menjawab apa yang di pertanyakan wanita yang paling penting di hidupnya ini.


"Kenapa kau hanya diam?" Felysia menuntut penjelasan.


"Karna aku tak ingin menjelaskan apapun."


Sorot mata Felysia meredup, guratan kekecewaan tampak terlihat di sana. Jawaban yang selama ini ia cari, pria di depannya tak ingin memberikannya.


"Kenapa?" Felysia berusaha mengatur nafas yang mulai tersendat. "Kamu tahu segalanya tentangku,kenapa aku tidak boleh mengetahui tentangmu."


"Karna aku tidak ingin kehilanganmu, setelah kau mengetahui segala faktanya."


"Kau meragukan kesetiaanku?" Felysia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat berusaha menghalau rasa yang sulit ia jabarkan sendiri.


"Bukan." Sergah Abhimanyu cepat, tangan pria itu terulur mengusap bibir ranum sang istri. "Jangan digigit seperti itu, nanti bisa luka."


"Jangan mengalihkan pembicaraan." Di tepisnya tangan kekar itu.


"Selama ini aku telah bersabar menunggumu menjelaskannya sendiri, tapi hari ini rasa penasaranku semakin tinggi Setelah aku bertemu langsung dengan Sarah, wanita yang pernah kau sebut namanya itu."


"Kau bertemu dengan wanita itu?" Abhimanyu terkejut.


Felysia mengangguk. "Tak sengaja berpapasan saat aku ke mall bertiga bersama Dian dan Bella kemarin."


"Apa ada bilang sesuatu padamu? Atau mengancam mu?" Tanya Abhimanyu. Ia geram,lupa membereskan wanita itu, setelah kejadian tak sengaja di cafe yang sudah lumayan lama, dirinya sudah melupakan tentang Sarah.


Felysia menggeleng cepat. "Tidak, malahan dia sangat baik padaku."


Hening, di genggamannya tangan Abhimanyu yang dua kali lipat lebih besar dari tangannya.


"Apa kau ingin menjelaskan semuanya padaku?" Tanyanya lagi penuh harap.


Membuang nafas berat, Abhimanyu tak bisa mengelak lagi. Walaupun konsekuensinya kemungkinan besar, dan ketakutannya akan felysia yang bisa saja meninggalkannya setelah semuanya di ceritakan, semakin menghantuinya.


"Baiklah." Mata Felysia berbinar mendengar satu kata itu.


"Balas dendam yang ku bicarakan padamu. Tentang rasa sakit seorang remaja tujuh tahun lalu, atas konspirasi yang di lakukan oleh anggota keluarganya sendiri." Menjeda sejenak ucapannya, Abhimanyu mengeratkan genggaman tangan mereka.


"Akan ku ceritakan semuanya padamu."


***


Di lain waktu, di sebuah ruangan VVIP yang menyediakan minuman keras dan para wanita malam, tampak Abbas, pria yang kini menginjak usia 60-an itu duduk di sofa dengan ditemani dua wanita cantik dengan pakaian minim di masing-masing kiri dan kanannya.


"Layani aku ... Layani aku." Abbas terus meracau, dua botol anggur yang ia tenggak membuatnya mabuk kepayang, di temani dengan wanita seksi di sekitarnya membuatnya lupa dunia.


Sudah hampir satu bulan setelah masalah terbesarnya pergi yaitu adik iparnya sendiri--Manaf Arifin. Kini Abbas merasa bebas, tak ada lagi yang akan mengancamnya, meskipun masih ada Abhimanyu, dia rasa akan mudah untuk membereskan anak bau kencur itu setelah ini.


Sebenarnya kebiasaan buruk Abbas ini sudah ia tinggalkan sejak bertahun-tahun lalu, semenjak kesibukannya mengelola salah satu cabang perusahaan, Membuat dirinya sudah tidak bisa seperti muda dulu.


Namun pada kesempatan ini Abbas ingin menikmatinya lagi, kebahagiaan atas meninggalnya Manaf Arifin, harus ia rayakan.


Karna kesenangannya seminggu belakangan ini, Abbas hampir lupa untuk menjenguk sang keponakan di dalam penjara, bahkan janjinya kepada Sinta untuk segera membebaskan Arya,kini mulai ia lupakan. Kesenangan dunia telah menghanyutkannya dari yang terdalam.


"Setelah aku menghabisi Abhimanyu,aku akan menguasai semua harta Maheswara dan perusahaannya akan menjadi milikku, Hahaha!" Abbas tertawa menggelegar,di tenggaknya minuman keras itu lagi.


"Kau tahu Abhimanyu, akulah yang telah membunuh ibumu. Kau camkan itu." Suara Abbas terputus-putus, pengaruh alkohol telah membuat fungsi otaknya tumpul, dan kata-kata itu keluar begitu saja.


"Akulah yang telah membunuh Melisa!" Abbas tertawa. "Yah aku!" Teriaknya seperti orang kerasukan.

__ADS_1


Para wanita yang ada di ruang VVIP bersamanya itu tampak tercengang, beringsut mundur setelah Abbas mengucapkan kata-kata itu.


Dan Tanpa mereka sadari ada sebuah alat penyadap yang diam-diam merekam semua yang telah diucapkan Abbas.


Alat penyadap yang kelak akan membongkar semua kelakukan biadabnya.


***


Baik Abhimanyu maupun Felysia sama-sama terdiam,setelah Abhimanyu menjelaskan semuanya, wanita itu hanya berdiam diri tanpa mengatakan apapun.


"Jadi ini balas dendam yang selalu kau bicarakan?" Felysia tiba-tiba membuka suara membuat Abhimanyu menoleh.


Abhimanyu mengangguk. Lalu kembali menatap ke arah depan. seumur hidupnya, baru kali ini ia bercerita panjang lebar mengenai dirinya sendiri, dan itu hanya kepada Felysia, gadis yang telah mengisi kekosongannya selama ini.


"Lalu setelah semua yang sudah terjadi, setelah kamu kehilangan orang yang amat penting dalam hidupmu, apa dendam itu masih ada?" tanya Felysia.


Abhimanyu menggeleng. "Tidak." menjeda sejenak kalimatnya, memikirkan kata-kata apalagi yang akan ia lontarkan.


"Semenjak aku menyadari perasaanku padamu, aku tak berniat untuk membalaskan dendam itu lagi,walau terkadang ada beberapa alasan yang membuatku harus melakukannya. namun setelah kehilangan Ayah, dendam itu sudah menghilang."


Tak disangka,di luar dugaan Abhimanyu, istrinya malah menangis, tetes-tetes air mata itu jatuh di permukaan kulitnya yang mulus, lalu isakan yang sama sekali tak ingin didengarnya, kembali ia dengar.


"Kenapa kau menangis?"


Felysia diam, ingin menjawab namun tenggorokannya terasa tercekat. Lalu kedua tangannya tergerak merangkul leher sang suami dan membenamkan wajahnya di bahu pria Itu.


"Terimakasih karna sudah terbuka padaku, rasa sesak yang kurasakan saat tahu kau pernah punya hubungan dengan Sarah selalu menakutiku."


"Siapa yang bilang seperti itu?" Abhimanyu mengernyit, melepaskan rangkulan Felysia.


"Sarah sendiri." Felysia menyeka pipinya. "Dia bilang padaku kau pernah menjemputnya di bandara dan mengajaknya makan bersama di restoran mewah."


Abhimanyu paham,ia ingat terakhir kalinya ia bertemu dengan Sarah waktu itu. saat rencana awal ingin mendekati Sarah dan menghancurkannya demi membalas dendam kepada Abbas. rencana yang akhirnya ia batalkan sendiri.


Mata Felysia membulat sempurna. "Benarkah?"


pletak!


Abhimanyu menyentil dahi Felysia. "Jadi itu yang kau khawatirkan sedari tadi?"


Felysia Meringis. "B-bukan, maksudku ya, semuanya tentangmu aku selalu khawatir."


Terkekeh geli, Mereka saling melempar senyum, suasana sudah mulai mencair.


Menatap lembut, Abhimanyu mengusap jejak air mata sang istri. "Sudah tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja."


Felysia mengangguk. "Aku akan selalu berada di sampingmu apapun yang terjadi," ucapnya Membuat Abhimanyu terdiam.


****


Di sebuah istana mewah namun di balut dengan kehampaan, wanita yang beberapa hari lagi akan menuju persalinan itu tampak mematutkan dirinya di kaca. Menata kembali penampilannya hari ini, Bella berencana untuk mengunjungi Arya di lapas tahanan.


Terhitung hingga hari ini sudah satu bulan semenjak kepergian sang ayah mertua, janinnya pun semakin tak sabar ingin segera keluar.


Seperti yang selalu orang bilang, ada kelahiran ada juga kematian, satu kehidupan lama telah berakhir, satu kehidupan baru akan segera di mulai.


Semenjak kepergian sang ayah mertua pula, mansion kokoh ini semakin terasa kehampaannya, Sinta-- ibu mertuanya hanya bisa mengurung diri di kamar, kondisinya semakin hari semakin memburuk,kadang ia meracau tak jelas kadang, juga berhalusinasi jika suaminya masih ada di sisinya.


Bella yang melihatnya kadang merasa prihatin namun ia juga tak berdaya, Sinta hanya punya kakak sebagai keluarganya, yaitu pak Abbas, yang Bella tahu sesekali berkunjung bersama istrinya untuk melihat keadaan adiknya.


Mematut sekali lagi penampilan diri di bayangan cermin, Bella lalu mengambil tas nya yang harganya pun tak main-main. beruntungnya ia bisa menjadi menantu di keluarga ini, meskipun tak ada sosok suami disisinya, Setidaknya kehidupan anaknya kelak tidak akan sengsara dalam hal materi.

__ADS_1


Menuruni satu persatu anak tangga, Bella akan mengunjungi suaminya dengan supir pribadi,ia juga sudah membawa bekal mewah yang sudah di siapkan maid di sini, untuk suaminya nanti.


***


"Untuk apa kau kesini?"


Ucapan dengan nada terlebih ketus itu ia terima saat wajah sang suami yang sudah lama tak ia lihat kini terpampang.


"Aku mengunjungi mu mas," ucap Bella berusaha menghalau rasa tak enak hati akibat sambutan tak ramah suaminya.


Arya malah berdecak. "Ngapain lagi, jika kau tak bisa membebaskan ku,lebih baik kau pulang saja ke mansion."


"Sayang .... " Lirih Bella. "Aku ini istrimu loh."


"Iyah,lebih tepatnya istri yang tidak berguna." desis Arya.


Mengatur nafas, Bella menghalau kristal bening itu di pelupuk matanya, ia sudah terbiasa mendengar caci maki dari mulut Arya, harusnya ia tidak memikirkannya.


"Sayang lihatlah aku membawa makanan enak untuk mu."


Brakk!


Arya melempar bekal makanan itu dengan sekali hentakan.


"Yang kubutuhkan itu bebas dari sini, bukan bekal konyol seperti ini!"


Hancur sudah pertahanan Bella, wanita itu menangis meratapi sikap kasar yang selalu diberikan Arya setiap kali dia berkunjung. Memang bukan sekali dua kali Arya memintanya untuk membebaskan dia dari penjara ini.


Tapi bagaimana caranya? Bella pun tidak mengerti, dia bukanlah wanita yang pintar. Juga kekuasaan Abhimanyu masih berperan penting dalam keluarga Maheswara, karna sekarang dialah yang menggantikan peran pak manaf. Abhimanyu pasti tidak akan membiarkan dia membantu Arya.


"Mas, aku sedang hamil loh? anakmu ini akan segera lahir."


"Cih ... aku tidak perduli." Menjeda ucapannya, Arya menatap Bella yang kini terisak sambil mengelus perutnya.


"Sekarang anak yang kau kandung itu juga sudah tidak berguna lagi untukku."


"Apa maksudmu?"


Arya mendengus. " Kau pikir kenapa aku sampai repot-repot menikahi mu? karna mencintaimu? tentu saja tidak."


"Aku mau bertanggung jawab sampai harus repot-repot menikah denganmu itu agar harapan anak yang kau kandung itu bisa tumbuh menjadi pewaris tahta Maheswara, dan menggulingkan kekuasaan Abhimanyu."


"Tapi sekarang tidak ada gunanya, karna aku saja masih berada di dalam sini." Arya mencebik.


"Jahat kau mas!"


Pria itu tertawa. "Kau baru menyadarinya yah? kemana saja kau selama ini?"


"Pergilah,aku tidak membutuhkan mu di sini lagi," usir pria itu.


"Ya aku memang akan pergi!" Bella berdiri dari duduknya.


"Dan aku tidak akan pernah mengunjungimu lagi!"


"Baguslah," ucap pria itu memandang remeh.


"Membusuklah di penjara ini sampai ajal menjemput mu!"


Lalu Bella berbalik tanpa mau lagi melihat wajah pria itu.


"Bicara apa kau wanita sund*l! dasar kurang ajar!"

__ADS_1


Bella tak memperdulikan seruan-seruan yang lebih menghinanya itu, di tutupnya kuping rapat-rapat. sudah cukup karna cinta bodohnya dia sampai bertahan sejauh ini untuk pria bajing*n itu, dan sekarang tidak lagi. Dirinya dan anaknya sudah cukup dalam keluarga mereka.


__ADS_2