
Ceklek!
Suara kenop pintu terbuka. Felysia mengintip sebentar sebelum akhirnya masuk kedalam kamarnya. Dia tersenyum.
Ruangan berukuran 4 x 5 m itu tampak sama saat terakhir kali ia meninggalkannya. Ada sebuah rak buku dan meja belajar tempat favorit felysia untuk membaca buku jika dia bosan di rumah.
Felysia menghirup udara,dalam. Di merindukan kamarnya ini, juga suasananya. Jemari kakinya bergerak menginjak lantai pualam yang sedikit sejuk.
Banyak peristiwa yang ia lewati selama menjadi istri Abhimanyu dan selama itu juga ia mengetahui bagaimana keluarga Maheswara. Keluarga kolongmerat yang sangat terlihat harmonis jika di depan publik siapa menyangka jika dibalik itu semua mereka hanyalah sekumpulan orang yang mempunyai ambisi masing-masing, bahkan keharmonisan yang dibicarakan banyak orang itu tidak ada sama sekali saat ia berada di mansion. Yang ada hanya iri hati,ambisi,dan kedengkian.
Akankah Felysia bisa bertahan hidup di tengah keluarga yang tak pernah harmonis itu? Akankah Felysia bisa bertahan di samping Abhimanyu? Pemikirannya akhir-akhir ini. Felysia tampak mulai ragu.
Felysia membuang nafas panjang, bokong gadis itu terduduk di bibir kasur. Kebimbangan ini terus melandanya.
Pikirnya lalu menerawang jauh seiring dengan tatapan kosongnya yang mengadah ke langit-langit. Pengakuan Abhimanyu hari ini cukup membuatnya terkejut sekaligus senang. Dada gadis itu tiba-tiba bergemuruh hebat mengingat kembali kata-kata Abhimanyu barusan.
"Aku Beruntung memilikimu." Terdengar sangat indah dan romantis. Gadis itu tersenyum, memejamkan mata.
"Kenapa kau senyam-senyum sendiri." Abhimanyu tiba-tiba sudah berada di depan pintu.
Felysia membuka matanya, terkejut, "T-tuan!"
"Aduh bodohnya, aku lupa menutup pintu, memalukan." Batinnya.
Kini Abhimanyu melangkah ke arahnya, pria itu tampak terlihat maskulin dengan pakaian Santai yang dikenakannya, rambut hitamnya terlihat basah, sepertinya pria itu habis membersihkan diri.
"Tuan? Bukankah sudah ku bilang untuk merubah panggilan kita." Suara bariton itu mengalun di telinga felysia seiring dengan langkah Abhimanyu yang semakin mendekatinya.
"Eh,Y-ya. Sepertinya aku lupa." Felysia jadi salah tingkah sendiri.
"Panggil aku 'Mas' jangan 'Tuan'. Kita sudah menyepakati itu." terdengar nada merajuk di dalam suaranya.
Felysia berusaha menahan tawa selama beberapa detik. Raut wajah pria itu terlihat cemberut.
Pria itu lalu mengambil tempat di sampingnya, Aroma wangi shampo langsung menyergap indera penciuman felysia. Felysia selalu berfikir, kenapa tuan muda ini selalu wangi,bukan hanya saat ini tapi di setiap keadaan Abhimanyu selalu harum. Dia jadi ingin tahu parfum apa yang digunakan oleh pria ini.
"Bisakah kau mengeringkan rambutku dengan ini." Abhimanyu menyodorkan handuk kecil yang dibawanya.
"Eh." Felysia terkesiap. Terkejut dan bingung secara bersamaan.
Tiba-tiba saja tanpa mengatakan apa-apa lagi, Abhimanyu sudah terduduk di lantai bawah kasur,tepat di depan gadis itu. Kepalanya ia sandarkan di paha felysia. Abhimanyu mulai memejamkan mata dengan menekuk satu lututnya sebagai tumpuan satu tangannya, sementara satu tangan lainnya ia lipat di depan dada.
__ADS_1
Felysia terkejut setengah mati, berusaha menahan gejolak dihatinya,dada gadis itu berdebar. Pria ini sikapnya selalu tidak bisa ditebak.
Felysia dengan ragu mulai melakukan apa yang tuan muda itu suruh,mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang tadi dia berikan. dinginnya air dari rambut basah pria itu langsung menyergap kulit pahanya.
"Apakah mas lelah?" Felysia mulai bertanya. Sesuai instruksi pria itu dia mulai menggunakan panggilan 'Mas' meskipun agak aneh untuknya.
"Sepertinya begitu. Tunggu ... Kau memanggilku apa barusan?" Abhimanyu membuka mata, tatapannya langsung mengarah ke wajah felysia.
"M-mas?" Felysia mengatakannya dengan gugup,pipi wanita itu merona.
Abhimanyu mengulum senyum tipis pria itu terlihat senang. Hanya sebentar,lalu raut wajahnya kembali lempeng, lelaki itu kembali menutup matanya.
Seperkian detik lengang, Abhimanyu seperti meresapi momen mengeringkan rambut ini.
"Kau tahu,dahulu saat di penjara,aku mempunyai teman bernama pak Aming." Abhimanyu tiba-tiba membuka obrolan.
"Saat berada di sel dahulu, pak Aming sangat di takuti dengan tato di tubuhnya yang sebenarnya ringkih,tak ada yang berani dengannya semua orang menjauhinya, bahkan memusuhinya karena dia anggap sebagai ancaman. Saat itu bisa kulihat tatapan mata tuanya yang berembun karna sikap tak suka para napi lain padanya."
Abhimanyu membetulkan posisi kepalanya di atas paha Felysia sebagai bantalan, mencari posisi nyaman.
"Akupun pernah menganggapnya, demikian. Dia pria yang menyeramkan. Sampai aku tahu satu fakta bahwa ternyata pria itu kesepian dan kesakitan.Dia hanya ingin memiliki teman,tapi semua orang menjauhinya dengan tatapan permusuhan." lanjut pria itu.
"Aku hanya ingin mempunyai teman tapi semua orang menjauhiku.Kata-kata yang selalu kuingat darinya. di saat dulu terjadi krisis berat di lapas tahanan,pak Aming lah yang membantu para napi, membina dan melakukan pekerjaan apa saja yang bisa membantu para napi saat itu,dan dari situlah aku mulai dekat dengannya."
"Saat itu aku pernah ditolongnya juga,aku bertanya kenapa dia masih saja baik, padahal banyak yang sudah membencinya, termasuk orang yang dia bantu."
"Lalu dia menjawab, karna di dunia ini masih dipenuhi dengan orang baik. jika kamu tidak menemukannya,maka jadilah salah satunya."
Abhimanyu lalu tersenyum, mengingat kenangannya bersama pak tua itu.
"Sejak saat itu ntah kenapa tiba-tiba dia dan aku menjadi seperti sahabat karib,aku dan beliau mengobrol banyak menceritakan kisah pilu masing-masing.Beliau ternyata pribadi yang menyenangkan, bijaksana,dan mempunyai humor yang bagus. aku belajar banyak darinya tentang pelajaran hidup saat di sel dulu."
Abhimanyu terdiam sejenak. netra pekat pria itu menatap ke depan Dengan gamang.
"Lalu bagaimana dengan pak Aming sekarang? apakah kau masih terhubung dengannya?" Felysia yang sedari tadi mendengarkan mulai bertanya. Topik tentang pak Aming ini cukup menarik atensinya.
Abhimanyu tersenyum getir, "Sayangnya dia sekarang sudah meninggal."
Felysia terdiam, begitupun dengan Abhimanyu. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyergap Abhimanyu saat ini. seperti kehilangan.
"Tepat di dua Minggu sebelum kebebasannya,dia malah terlebih dahulu menghadap ke sang pencipta. Pak Aming meninggal di dalam jeruji besi karna kanker paru-paru yang di deritanya."
__ADS_1
"Di saat itu para napi lain termasuk aku sangat terpukul berat karna kehilangan sosok malaikat seperti beliau, terlebih para napi yang pernah menjauhinya dan mengolok-oloknya. mereka menyesal, terlambat mengetahui bahwa sebenarnya dia adalah pria yang baik di balik wajah sangarnya."
Lengang sejenak.Sorot mata Abhimanyu sedikit meredup saat mengatakannya.
"Aku turut berduka," ujar Felysia akhirnya. wajahnya menatap Abhimanyu sendu.
"Beliau pria yang baik.mungkin itu adalah cara Tuhan untuk mengambil rasa sakitnya," ucap Felysia.
Abhimanyu mengangguk setuju, "Kau benar.dia adalah pria yang paling baik yang pernah kutemui."
Abhimanyu lalu mengambil posisi berbalik, dengan keadaannya yang masih terduduk. pria itu menghadap felysia,lalu Tangan kokoh lelaki itu mengambil kedua tangan sang istri menggenggamnya dan mengelusnya dengan sayang.
"Kau tahu kenapa aku menceritakan kisah tentang pak Aming ini padamu?"
Felysia menggeleng lugu. Abhimanyu menarik sudut bibirnya melihat itu.
"Aku ingin kau belajar dari kisah beliau,bahwa jangan melihat seseorang hanya karna penampilannya. penampilan bisa berubah tapi hati tidak. wujud dan raga bisa saja menjadi tua lalu habis termakan usia tapi hati ... hati manusia tidak akan pernah berubah."
Felysia menatapnya tanpa berkedip,tak menyangka jika Abhimanyu bisa mengatakan hal seperti itu.
Lalu Abhimanyu tersenyum, "jadi bisakah kau melupakan tentang kejadian di mansion dan tetap percaya pada hatimu."
Abhimanyu mengatakan semua ini karna dia tahu felysia sedang dalam kebimbangan.
Felysia tersenyum,mata bulat wanita itu menyipit hampir menangis.
Lalu tiba-tiba saja gadis itu melempar handuk kecil yang dipegangnya dan langsung memeluk badan kekar pria itu.
Abhimanyu terperanjat, terdiam sejenak. terdengar Isak tangis kecil yang lolos dari bibir felysia.
Lalu dengan gerakkan ragu, Abhimanyu membalas, memeluk tubuh mungil sang istri. lelaki itu mengulum senyum. Akankah kini pertahannya hancur? sepertinya begitu. Abhimanyu telah jatuh cinta kepada gadis ini.
"Terimakasih,karna telah mengembalikan kepercayaanku." suara felysia nampak tersedat.
"Aku memutuskan akan terus berada disampingmu, apapun keadaannya," ujar gadis itu. membuat dada Abhimanyu berdesir hebat.
*******
Holla-holla jangan lupa like, favorit dan beri hadiah ya kak supaya aku tambah semangat buat up.please please.
karna kali ini aku bimbang mau dilanjutin apa gk novel ini jadi beri aku semangat!!ππ
__ADS_1