
"Arabella!" Jeritan kesedihan itu terdengar sangat memilukan.
Bu Marni terisak kencang, sambil memeluk gundukan tanah yang telah menenggelamkan tubuh kaku putrinya.
"Kenapa kamu pergi secepat ini nak? Bagaimana dengan putramu,dia butuh sosok ibunya." Bu Marni mengusap-usap papan nisan yang tersemat nama sang putri.
"Bu, sudah Bu, ikhlaskan Bella." Pak Manaf di samping mengusap-ngusap pundak sang istri,tak menampik dia pun rasanya ingin sekali menangis karna kehilangan anak satu-satunya.
Manik coklat terang itu menatap area makam dengan kristal bening yang sudah menganak sungai. kepedihan itu semakin terasa, Beberapa kali ia hampir terhuyung karna kehilangan sepupu yang sangat di sayanginya.
Ingatan Felysia meluncur pada moment terakhir mereka, padahal rasanya masih kemarin Dirinya, Bella dan Dian berbincang banyak layaknya sahabat karib di mansion saat itu.
"Aku berharap,anakku kelak akan di sayangi semua orang, dan mempunyai sifat seperti Abhimanyu,Fely," ucap Bella saat mereka tengah mengobrol di mansion sambil melihat-lihat pakaian bayi waktu itu.
"Eh, kenapa begitu?" tanya Felysia menangkap kata-kata terakhir Bella.
Tersenyum getir,sorot mata Bella meredup. "Karna aku tak ingi ia menuruni sifat ayahnya, walau secuil."
Felysia dan Dian saling pandang,lalu mereka mengerti. Mengangguk bersama,Dian setuju dengan ucapan Bella. "Kuharap Begitu, Abhimanyu mempunyai sifat yang tegas dan berwibawa,putramu pasti akan mewarisi sifatnya kelak," ucap Dian yang di Amini oleh Felysia.
Tersenyum, Bella mengangguk semangat. "Aku berharap putraku akan menjadi pemimpin yang bijak seperti dirinya."
"Aww ... Sepertinya kau sangat mengagumi Abhimanyu ya." Dian tersenyum menggoda.
"Sepertinya begitu," ucap Bella tertawa kecil. "Aku dulu sempat membencinya,sampai aku meneliti lebih dekat tentang dirinya,aku mulai mengerti dengan sifat Abhimanyu yang sebenarnya."
"Terkadang aku iri padamu Fel,kau mempunyai Abhimanyu yang selalu perhatian dan sangat mencintaimu,andai Arya juga mempunyai sifat seperti itu." Bella menunduk, menatap gamang.
Felysia menyentuh tangan Bella. "Jangan di pikiran lagi, kau sudah bertekad kan untuk menjadi wanita tangguh tanpa pria itu," ucap Felysia membuat Bella tersentak beberapa saat.
"Kau benar." Lalu mereka saling melempar senyum.
"Eh,guys aku ijin ke toilet dong, tiba-tiba perutku mulas nih." ucapan Dian itu seketika membuat keduanya menoleh.
Geleng-geleng kepala, Felysia tak heran lagi dengan tingkah sahabatnya ini, sementara Bella tertawa sekilas sebelum akhirnya menunjuk salah satu maid yang sedang lewat.
"Kau mungkin tidak tahu di mana letak toiletnya,biarkan dia yang menuntunmu."
"Ayo nona,biar saya tunjukkan di mana toiletnya," ucap maid itu dan Dian segera saja mengikutinya dengan langkah patah-patah menahan mulas.
Felysia dan Bella sama-sama tertawa melihat tingkah Dian itu. lalu Bella menoleh lagi, kali ini ditatapnya Felysia dengan serius.
"Fel, aku punya satu permintaan padamu,apa kau bisa mengabulkannya?"
"Eh,apa itu?" Felysia mengerjap beberapa kali.
"Jika kelak sesuatu terjadi padaku, berjanjilah kau akan merawat putraku Fely. aku ingin jika aku tidak bisa melanjutkan hidup,kau yang akan menggantikan ku membesarkannya."
Ucapan terakhir Bella saat itu memang terdengar cukup ambigu dan Felysia hanya menganggapnya sebagai perkataan biasa,namun siapa sangka itu adalah ucapan wasiatnya untuk terakhir kali. Bella seperti mempunyai firasat jika dia akan pergi meninggalkan dunia ini.
Menyeka pipi yang tak mau berhenti basah, Felysia membenarkan Kerudung hitam yang membalut setengah rambut indahnya.
"Bella,janjiku padamu akan ku penuhi,aku akan merawat putramu dengan baik."
***
Sudah dua hari semenjak pemakan Bella di lakukan, mansion megah ini semakin terasa kehampaannya. seperti saat kematian Almarhum pak Manaf dulu, kini pengajian rutin pun dilakukan atas meninggalnya Bella.
__ADS_1
Semua kerabat dari keluarga besar Pak Hanif dan Bu Marni maupun dari pihak keluarga Maheswara datang, mengucapkan berbela sungkawa atas perginya Bella yang menurut mereka terlalu cepat, bahkan umur Bella masih sangat muda. mereka pun menaruh simpatik pada bayi merah yang Kini di tinggal mati oleh ibunya.
Di kamar yang Bella tempati,ada Bu Marni, Felysia, Sarah dan Dian di sana, keempat wanita itu serempak berjaga di depan box baby yang terdapat baby Al di dalamnya.
'Baby Al' nama yang dicetuskan oleh Bella dulu kepada janinnya,dan sekarang nama itu di sematkan untuk bayi merah yang masih tertutup matanya ini.
"Malang sekali nasibmu sayang, baru lahir tapi kau sudah harus menerima kenyataan pahit, jika ibumu tidak ada di sampingmu, untuk melihatmu tumbuh."
Semua orang yang ada di situ menatap haru,menyeka bulir bening yang menetes saat mendengar perkataan Bu Mirna kepada cucunya itu.
"Dan ayahmu yang bangs*t itu!" Bu Marni menggeram tertahan.
"Bi ... " Felysia menghentikan ucapan bibinya.
Menggeleng pelan, Felysia memegang sang bibi. "Jangan bicara seperti itu."
Menghela nafas berat, Bu Marni mengenggam tangan Felysia. "Maaf,aku terlalu terbawa emosi."
Felysia mengangguk. "Kita di sini sama-sama kehilangan Bi."
Mengedarkan pandangannya ke sekeliling,Bu Marni menatap Sarah di depannya. "Kemana mama mu sar?" tanyanya. selama mengenal keluarga dari suami putrinya ini, Bu Marni memang terkenal paling dekat dengan Sarah dan mamanya.
"Mama sedang menjaga Tante Sinta,bi." menjeda perkataannya Sarah menghela nafasnya.
"Tadi pagi, Tante Sinta ngamuk-ngamuk lagi," lirihnya.
Bu Marni menutup matanya sebentar, "semuanya tampak berantakan, Nyonya Sinta sekarang pun tampaknya sudah menjadi gila."
"Bi ... " Felysia lagi-lagi memeluk erat lengan Bu Marni. "Ada kami di sini, bibi jangan menanggung semuanya sendiri."
Bi Marni tersenyum getir menatap keponakan yang dulu pernah sangat ia benci, namun kini sudah berubah,Bu Marni sudah membuka mata hatinya.
Manik coklat Felysia tampak berkaca-kaca, "Yang sudah berlalu biarlah berlalu bi."
Bu Marni tersenyum samar. "Sekarang aku tahu, yang dikatakan Bella memang benar, kau wanita yang sangat baik nak."
Pandangan Felysia kembali mengeruh, tetes-tetes kristal bening itu kembali jatuh. tak kuat menahan haru, Felysia tergerak memeluk sang bibi.
"Maafkan bibimu ini yah nak. kuharap kamu mau memaafkan kesalahan orang tua ini."
Felysia terisak, menganggukkan dengan suara tercekat. "Bagaimanapun bibi akan tetap menjadi orang tuaku,yang sudah membesarkan ku."
***
Dua Minggu berlalu dengan cepat, rasa kehilangan itu tetap ada, pengajian rutin pun masih di lakukan, mereka masih dalam keadaan berkabung. namun satu masalah kini harus segera di putuskan.
"Ini." pak Hanif mengulurkan sebuah surat kepada Felysia.
"Surat ini di titipkan Bella pada paman, sepertinya Bella memang sudah punya firasat jika dia akan pergi dari jauh-jauh hari, makanya dia menitipkan surat wasiat itu untukmu."
Felysia mengambil surat itu, netra wanita itu fokus menatap satu persatu kata yang di tulis Bella untuknya.
"Sepertinya Bella sudah sangat mempercayakan bayinya padamu, sehingga dia memintamu untuk merawat baby Al saat dia akan pergi," ujar sang paman yang membuatnya mengadah.
"Bibi akan sangat setuju jika baby Al di rawat olehmu Fel." sang bibi di samping pamannya ikut menimpali.
Karna bagaimanapun juga nyonya Sinta tidak dalam keadaan yang mampu untuk merawat baby Al, maka tanggung jawab ini mereka percayakan kepada felysia. karna bagaimanapun Bella sendiri yang sudah memilihnya.
__ADS_1
"Sebelum ini Bella juga sudah pernah bilang padaku, namun bagaimana dengan kalian berdua jika baby Al di rawat olehku ... "
"Jangan bilang seperti itu Felysia." ucapan Bu Marni menghentikan perkataan felysia.
"Jika Bella sudah memilihmu untuk mengasuh baby Al itu berarti dia sudah mempercayakanmu."
"Bibimu benar. jangan pikirkan kami, Lagipula paman dan bibi masih bisa sesekali mengunjungi baby Al di rumahmu kan?"
Felysia mengangguk. "Tentu, kalian boleh kapan saja mengunjungi baby Al nanti."
Saling melempar senyum, pak Hanif dan Bu Marni mengenggam tangan felysia bersamaan.
"Rawatlah dan besarkan baby Al untuk Bella, berikan dia kasih sayang yang tak bisa diberikan Bella, didiklah dia seperti kamu mendindik anakmu sendiri,Fel. kami mempercayakan baby Al, padamu."
Felysia tersenyum, menahan tangis. "Aku pasti akan mengingat dan menjalankan amanat kalian dengan baik."
Mereka tersenyum, suasana menjadi mengharu biru,lalu pandangan mereka tertuju pada baby box di samping Felysia, di mana terdapat malaikat kecil yang kini sedang tertidur.
"Baby Al belum mempunyai nama yang lengkap, bagaimana?"
Pak Hanif dan Bu Marni saling melempar pandang,lalu mengulas senyum. "Kau tak usah khawatir felysia, Karna sudah ada orang yang paling berhak untuk memberikan nama kepada baby Al."
"Eh,siapa?" Felysia terkejut.
"Orang itu sudah ada di belakangmu Felysia."
Menengok ke belakang, Felysia mendapati sosok tegap sang suami yang menatap lembut ke arahnya.
Felysia membulatkan mata. "Mas sejak kapan kau ada di sini?"
Abhimanyu memajukan diri selangkah. "Belum lama." Jawab pria itu.
Felysia terpekur, Abhimanyu berada di mansion ini? Tidak bisa di percaya. pria yang dulu sangat geram dan berjanji tidak akan lagi menginjakkan kaki di mansion ini, sekarang malah berada di sini.
"Tidak usah merasa bingung begitu."
"Eh?" Felysia terkejut.
"Aku berada di mansion ini dengan situasi Yang berbeda dengan yang dulu." menjeda ucapannya Abhimanyu melangkahkan kakinya mendekati baby box.
"Dan sekarang aku akan memberi nama pada bayi ini."
Bu Marni tersenyum. "sebelum ini bibi memang sudah menyuruh pamanmu untuk meminta nak Abhimanyu kesini, karna sekarang dialah kepala keluarga, kami rasa nak Abhimanyu lah orang yang paling berhak untuk memberikan nama pada Baby Al."
Tersenyum menanggapi, pak Hanif menatap Abhimanyu. "Silahkan beri dia nama nak."
Abhimanyu mengangguk lalu mengangkat dengan hati-hati bayi mungil yang kini menggeliat di tangannya.
Mungkin karna merasa waktu tidurnya terganggu oleh tangan besar yang mengangkat tubuhnya.
Hening melanda sejenak. Abhimanyu menatap lekat bayi yang hanya seukuran kepalan tangannya itu. wajah Arya di bayi itu sekilas terlintas di bayangannya.
"Alister Zeane Maheswara." Abhimanyu tak lepas menatap bayi yang masih memerah itu.
"Alister, nama yanng sangat bagus." kedua orang tua di samping Abhimanyu tampak tersenyum senang.
"Yah Baby Al, orang-orang akan mengenalnya sebagai manusia yang suka menolong,membela dan membuat kebajikan, seperti namanya," ujar Abhimanyu. ada yang menghangat di hatinya kini.
__ADS_1
"Dan mulai sekarang aku dan Felysia, istriku yang akan menjadi orang tua untuknya," ucap Abhimanyu memandang Bayi mungil ditangannya dan Felysia di sampingnya bergantian.