Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 48


__ADS_3

Malam datang,semua keluarga besar duduk di kursi meja makan panjang yang sudah di sediakan.para maid hilir mudik menyiapkan makanan yang serba mewah untuk hari yang istimewa ini.


Felysia dan Dian duduk canggung di kursi paling ujung, Dian yang duduk di samping Felysia sesekali berbisik merasa tak nyaman karna dia hanya orang luar disini, harusnya dia tak usah datang saja. Pak Manaf yang mengerti gerak-gerik Dian tertawa lalu menenangkannya.


"Tak usah khawatir nak Dian, kau adalah sahabat Felysia, menantuku. Kau juga termasuk bagian dari kita, tak usah sungkan."


Dian hanya mengangguk samar, mengulum senyum, sedikit lebih tenang.


Ketukan langkah kaki di lantai pualam itu membuat atensi sekitar menjadi hening, semua orang berbalik. Felysia menahan nafas sebentar,dia melihat Arya sedang berjalan ke arah meja makan.


Sumpah demi apapun seharusnya Felysia biasa saja,namun bayang-bayang saat Arya menghinanya kembali datang seiring Arya yang kini berjalan menatapnya. Felysia mengeratkan genggaman di sendok dan garpu yang dia pegang.


"Ini dia bintang utamanya sudah datang." Pak Husain, adik laki-laki pak Manaf, begitu yang felysia tahu, menyeringai senang lalu memeluk Arya.


Arya bergantian memeluk seluruh anggota keluarga laki-laki di sana dan menyalami kerabat wanita yang lebih tua, tersenyum lalu menyapa anak-anak.


"Kuakui si Arya itu pintar mengatur imegnya." Dian berbisik di samping. Felysia menoleh sebentar,tak menanggapi.


"Tak tahu saja bagaimana perangai yang sebenarnya." Dian berbisik lagi.kini felysia menoleh menatap tajam, Dian cengengesan.


Waktu seakan berjalan lambat untuk felysia. acara makan itu berjalan khidmat, sesekali anggota keluarga melempar candaan dan tertawa,lalu yang anak-anak akan sedikit lewer dan ibu-ibu akan memenangkan. Sangat harmonis, felysia tak menyangka.


"Ibu, Ayah aku ijin pamit." Acara makan keluarga telah selesai, felysia dan Dian undur diri.


"Pak Manaf, nyonya Sinta saya juga ijin pamit." Dian tersenyum manis.


"Kalian yakin tak ingin menginap?" Pak Manaf bertanya sekali lagi. Sebelumnya sudah menawarkan untuk Dian dan felysia menginap saja.


"Suamiku benar,Hari H tinggal menunggu besok, kalian menginap saja." Nyonya Sinta ikut menimpali, meskipun nadanya terkesan tak ramah.setidaknya felysia senang nyonya Sinta masih mau bicara dengannya.


"Terimakasih untuk tawarannya,tapi mas Abhi di rumah sendiri,aku belum menyiapkan makan." Felysia menarik senyum simpul.


"Begitu rupanya." Ada senyum yang terbit di bibir pak Manaf, "sampaikan salam ku untuk putraku,aku akan kerumah kalian besok."


Felysia tersenyum, "Baiklah."


Lalu mereka pergi setelah pamit dengan yang lainnya.


"Kau buru-buru sekali ya." Seseorang menghadang mereka saat mau masuk ke mobil.


"Ngapain kau?" Dian bersungut. Arya menatapnya remeh.


"Aku tak berbicara denganmu." Arya, pria itu menatap tajam. Dian mendengus.


Felysia malas meladeni, tapi saat dia berjalan Arya menghalangi. Lalu felysia berjalan ke samping Arya mengikutinya dan tetap menghalangi, felysia kesal tapi berusaha tetap sabar.


"Apa mau mu?" Felysia menatap langsung ke netra hitam pria itu.


"Tentu saja bersenang-senang denganmu." Arya menyeringai. Lalu mendekat berusaha menyentuh pipi felysia namun tangan dian menahannya.


"Jaga batasanmu Arya, Felysia adalah kakak iparmu."

__ADS_1


"Aku bilang,aku tak bicara denganmu!"


Arya menatap tajam, sedari dekat dengan felysia dahulu,dia memang tak pernah suka dengan Dian, menurutnya wanita ini selalu menghalangi dirinya saat akan berduaaan dengan felysia.


"Apakah kau sudah melupakan semua kenangan indah kita selama satu tahun terakhir ini. bisakah kita bersama-sama lagi." Arya kali ini menatap manik coklat terang felysia dengan tatapan lembut dan penuh kasih.


Apa yang pria ini rencanakan? batin Dian, mengamati gerak-gerik pria di depannya ini.


Felysia hampir kehilangan diri, tatapan itu, tatapan mata itu.jujur, Felysia merindukannya.arya adalah pria pertama yang memperkenalkan dirinya tentang cinta juga rasa sakit. banyak kenangan mereka, indah dan penuh tawa. felysia tak mungkin bisa lupa.


"Sayangnya aku sudah lupa." felysia menatap datar. pria itu telah memberinya banyak rasa sakit, sangat tak tahu malu dia membicarakan hal itu setelah semuanya terjadi.


"Dan ingat ini,aku adalah istri dari kakakmu.jika kau tidak bisa menghormatiku setidaknya hargai."


Felysia lalu berbalik di susul Dian yang kini balas tersenyum remeh ke arah pria itu.


"Heuh! menghargai mu?" Arya mendengus, Membuat langkah keduanya terhenti. Felysia berbalik lagi begitupun Dian.


"Hargai? memangnya berapa sih hargamu?" Arya tersenyum miring.


Felysia mengeratkan genggaman tangannya, Dian yang mendengar juga ikut kesal.


"Paling hargamu tak lebih mahal dari j*lang-j*lang di luar sana."


Plakk!


satu tamparan telak. Felysia menarik kerah baju pria itu, matanya sudah merah berair.


"Kau bahkan lebih jelek daripada sampah!" Arya kaget dengan perubahan felysia, begitupun Dian.


Gadis pemalu itu kini telah menjadi gadis yang pemberani.


Felysia lalu mendorong tubuh pria itu,dan berlalu pergi. Dian masih cengo lalu menatap Arya yang terjatuh lalu memilih berlalu mengikuti felysia.


***


"Felysia tunggu! Fel, tunggu!" Dian berlari mengejar Felysia yang kini berjalan cepat.


"Hei tunggu dulu!" mereka kini sejajar. bisa Dian lihat air muka felysia yang terlihat sedih.


"Kenapa hidupku selalu begini." Felysia terduduk Membuat Dian kaget. gadis itu menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Hei .... " lirih Dian ikut duduk disampingnya. Kini mereka berada di pinggir jalan.


"Harus berapa kali lagi aku mengalami penghinaan. aku sakit, hatiku sakit." Felysia terisak hebat, membiarkan air matanya terus jatuh.


Dian tergerak mengulurkan tangannya memeluk bahu sahabatnya itu. perkataan Arya memang sangat keterlaluan,dian baru melihat yang ini, ntah berapa kali Arya menghina felysia.


Hampir tiga puluh menit mereka di sini,yang bisa Dian lakukan hanya memenangkannya. Felysia lalu membuka telapak tangannya dan menyeka pipi.


"Kau sudah tenang?"

__ADS_1


Felysia mengangguk, "Sedikit."


Lalu Dian mengambil sebelah tangan felysia, "Apapun yang terjadi kau harus tetap kuat ya Fel, menangis boleh tapi jangan menyerah."


Felysia mengangguk, tersenyum.dian ikut tersenyum.


***


Felysia pulang diantar Dian. gadis itu belum membuat makan malam, Abhimanyu pasti sudah menunggu.


Saat membuka pintu felysia terkejut karna Abhimanyu sudah ada di depannya dengan tatapan tak biasa. Lalu pria itu tiba-tiba merentangkan tangannya membuat felysia tambah terkejut.


"M-mas ngapain?"


Melihat felysia yang tak kunjung peka, Membuat pria itu tak sabaran,lalu merengkuh tubuh mungil itu ke dekapannya. felysia kaget mendongak menatap netra pria itu.


"M-mas?"


Abhimanyu malah membawa kepala felysia ke dada bidangnya. pria itu mengunci felysia ke pelukannya.


"Jika kau sedang bersedih aku yang selalu memelukmu." pria itu berbisik.


Mereka berpelukan di bawah lampu temaram. felysia kini merasa nyaman,ntah bagaimana Abhimanyu tahu Suasana hatinya.


"Diapain sama Arya di mansion tadi,hm?" Abhimanyu berbisik lagi.


"Kau tahu dari mana?" Felysia mendongak,kini wajah mereka sangat dekat.


Lenggang sejenak.


"Tak penting aku tahu dari mana." Abhimanyu berkilah.tentu saja dia tahu, karna di sana ia mempunyai banyak mata-mata,dan tak mungkin membiarkan istrinya tanpa penjagaan.


"Maafkan aku. aku berjanji akan selalu berada di sampingmu dan menjauhkan mu dari pria itu."


Felysia tersenyum mendengarnya.


Lalu keduanya kembali berpelukan, felysia mencoba menghirup aroma wangi pria itu. dia senang Abhimanyu kembali hangat padanya.


"Apa sekarang kau sudah baik-baik saja?"


Felysia mengangguk dalam pelukannya.


"Sekarang kau harus bersiap-siap," ucap Abhimanyu.


"Eh, untuk apa?" tanya felysia.


"Kita akan dinner. hanya berdua."


Mendengar itu Felysia tak bisa menyembunyikan rona kebahagiaannya.


"Tapi kemana?" tanya gadis itu lagi.

__ADS_1


"Rahasia." Abhimanyu berbisik.


__ADS_2