Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 75


__ADS_3

Berdiri di depan gerbang yang tinggi menjulang bangunan lapas tahanan. Abhimanyu dan felysia saling mengenggam erat kaitan tangan mereka. Di lengan kanan Felysia sendiri terdapat bayi mungil yang terbungkus kain rapi yang di gendongannya.


"Apa kamu yakin?" Tanya Abhimanyu.


Felysia menoleh, mengangguk." Bagaimanapun Adikmu berhak tahu tentang putranya mas, dan aku janji ini yang terakhir kali."


Abhimanyu memandang netra coklat itu tanpa berkedip. mengumpulkan pasokan oksigen dan menghembuskannya perlahan, Felysia berjalan beriringan bersama Abhimanyu,untuk menemui Arya, untuk mempertemukan anak dan Ayahnya.


Lima menit menunggu, Arya dengan dengan baju oranye dan kedua tangan di borgol berjalan tersuruk-suruk bersama seorang polisi di sisi kanannya.


Dengan kepala yang tetap menunduk,Arya di duduk kan di kursi yang mana terdapat Abhimanyu dan Felysia di depannya yang sudah menunggunya.


Arya mendongak menatap secara bergantian dua orang yang ada di hadapannya ini. Sorot mata Arya mengkeruh, dengan lingkaran hitam yang tercetak jelas di matanya.


"A-apakah benar, Bella sudah tiada?" Suara Arya seperti tertahan di tenggorokan. "Istriku sudah tiada?"


Felysia menatap sendu, Arya yang di duduk di depannya tampak sangat berbeda. Tubuhnya yang mulai menyusut, garis-garis penuaan mulai terlihat di wajahnya, seakan depresi dengan berita sang istri dan bundanya telah mengambil separuh umurnya.


Felysia mengangguk perlahan. "Istrimu sudah tenang sekarang."


Felysia maupun Abhimanyu tersentak, karna raut wajah Arya mulai berubah, tetes-tetes air mata mulai jatuh dari netranya. Arya menutup wajah, berusaha menahan isakannya.


"Oh,my good,jadi benar? Aku bahkan belum meminta maaf padanya." Suara Arya tertahan karna ia berusaha untuk tidak menangis.


"Kau sudah terlambat Arya, apa sekarang kau menyesal?" Tanya Felysia.


Arya hanya diam, berusaha menetralkan sesak di dalam dada yang semakin terasa kuat. Membuang nafas kasar, Arya mengusap kasar sisa-sisa jejak air matanya.


"Aku tidak tahu, apakah aku menyesal atau tidak. Namun jauh di dalam sini, aku merasakan kepahitan, terlebih setelah mendengar kabar bundaku yang sekarang," ucapnya menunjuk ke dadanya.


Hening. Di ruangan, kehampaan semakin terasa, mengumpulkan kata-kata apa lagi yang akan di ucapkan, Arya sepertinya sudah tidak sanggup.


"Arya, dia adalah putramu." Felysia mendekatkan tangannya perlahan ke arah Arya, yang dimana terdapat baby Al di gendongannya. Namun gerakannya terhenti ketika tangan kekar itu menahannya.


"Biar aku saja." Abhimanyu mengambil alih baby Al di gendongan Felysia. Felysia mengangguk menyerahkan secara hati-hati.


"B-bayi ini putraku?" Tak bisa menyembunyikan raut terkejutnya, Arya menatap intens wajah bayi yang belum genap satu bulan itu.


"Kau ingin menggendongnya?"


Arya menggeleng mendengar perkataan Abhimanyu itu. "Rasanya aku tidak sanggup."


"Kesalahanku pada ibu bayi ini sangat banyak, aku takut,aku tidak bisa menggendongnya setelah semua rasa sakit yang kuberikan pada ibunya."


Abhimanyu menatap Felysia, lalu tatapan Felysia melembut padanya, mengangguk, Abhimanyu lalu hanya diam beberapa saat membiarkan Arya menatap puas wajah darah dagingnya.


"Putraku, maafkan kesalahan Ayah nak," lirih Arya.


***


"Jika begitu aku setuju." Arya mengangguk setelah mendengar penjelasan Abhimanyu dan felysia.


"Tak ada yang lebih berhak merawat bayi itu selain kalian berdua."


Mengangguk, Abhimanyu melipat kedua tangan. "Jika kau sudah setuju, itu berarti hak adopsi bayi ini sepenuhnya jatuh ke tangan kami."


"Dan mulai hari ini baby Al akan menjadi putra kami dan tanggung jawab kami," ucap Felysia menambahkan.

__ADS_1


Arya mengangguk lagi. "Kalian berhak menjadi orang tua seutuhnya. Tolong besarkan anak ini dengan penuh cinta, jangan biarkan dia tahu tentang ayah kandungnya siapa. dia tak boleh tahu tentang kebejatan yang di lakukan ayah kandungnya."


Felysia menatap baby Al yang kembali di gendongannya, lalu menatap Arya dengan wajah penuh penyesalannya.


"Baiklah, kami akan mengingat amanatmu ini," ucap Abhimanyu yang di angguki oleh Arya.


"Dan sepertinya ini saatnya giliran ku menyusul Bella dan Ayah." Arya menunduk, tersenyum getir.


Felysia mengerutkan kening, "Apa maksudnya?"


Arya mendongak, tersenyum getir. "Aku menderita HIV Aids, dan umurku sepertinya tidak akan lama lagi."


Tersentak, mereka sama-sama bergeming. Baik Felysia dan Abhimanyu tidak ada yang berbicara satu kata pun.


"Jangan merasa syok seperti itu," terkekeh pelan Arya berusaha mencairkan suasana yang terasa kaku.


"Ini memang sudah takdirku. Kejahatan ku pada wanita-wanita itu,kini sudah mendapatkan karmanya." Menjeda perkataan, Arya memandang kosong ke arah lain.


"Seperti yang di katakan Bella waktu itu 'membusuklah di penjara sampai ajal menjemputmu' sepertinya memang benar-benar akan terlaksana."


Mengadah, Arya kini menatap wanita di depannya, "Dan untuk itu, Felysia aku ingin meminta maaf padamu."


"Sebelum ajalku benar-benar datang,aku meminta maaf atas segala perkataan dan perlakuan kasar ku selama ini padamu."


Ucapan Arya terdengar sangat tulus Membuat Felysia mengangguk. "Aku sudah memaafkan mu."


Tersenyum, perasaan Arya sudah sedikit lega saat ini, Karna Felysia sudah memaafkannya, lalu pria itu sedikit menggeser tubuh,kini tatapannya bertumbuk pada Abhimanyu.


"Dan untuk mu ka, maafkan aku."


"Sepertinya aku jarang sekali memanggil mu kakak." Arya Mengulum senyum karna melihat reaksi Abhimanyu.


"Tidak apa-apa,aku sudah memaafkan mu." sergah Abhimanyu cepat, berusaha menentralisir mimik wajahnya.


Felysia tersenyum senang melihat itu, akhirnya kakak beradik in bisa jujur pada perasaan masing-masing.


"Ayah lihatlah,apa yang kau harapkan tercapai, Arya dan Abhimanyu sekarang sudah akur." Batin Felysia melihat interaksi keduanya.


Setelah berbincang sebentar, kini saatnya Abhimanyu, felysia,dan baby Al pamit kepada Arya.


"Tunggu," ucapan tertahan Arya Membuat langkah mereka terhenti.


"Untuk terakhir kali, bolehkah kalian memberitahu nama putraku?"


Menoleh sebentar ke Abhimanyu, Felysia tersenyum. "Namanya Alister. Alister Zeane Maheswara."


Menatap nanar, Arya manggut-manggut, dia akan mengingat nama anaknya itu.


"Alister Zeane Maheswara. Nama yang sangat indah."


***


Setelah hari di mana mereka mengunjungi Arya, semuanya telah berakhir menemukan titik terang masing-masing. kini di rumah mereka, Felysia dan Abhimanyu menjalani kehidupan bahagia dengan baby Al bersama mereka.


Awalnya memang terasa berat, saat Felysia memutuskan akan merawat baby Al sendiri tanpa bantuan Baby sitter, meskipun terkadang ada Bi ati yang membantu,namun felysia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang 'Ibu' sepenuhnya.


Terkadang ada di satu titik ia merasa lelah, karna baby Al yang selalu rewel tengah malam sampai membangunkan seisi rumah, atau ketika tangisan bayi yang sudah menginjak dua bulan itu tak mau berhenti.

__ADS_1


Namun di balik itu semua,ia menikmati perannya, bersama dengan Abhimanyu yang tak sungkan untuk membantu, mereka berusaha untuk menjadi orang tua yang baik untuk Baby Al.


Kini dengan dress rumahan sederhana,dan rambut yang di cepol asal Felysia sedang menimang sambil menyusui baby Al dengan susu formula.


"Bukankah dia terlihat sangat kecil?"


Seseorang menepuk pelan bahunya dari belakang Membuat felysia menoleh.


"Mas ... " Felysia tersenyum ke arah sang suami yang sudah segar pagi ini.


"Lihatlah, dia terlihat sangat tenang di dekapanmu," ucap Abhimanyu lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari baby Al.


Felysia mengulum senyum. "Kau benar."



Abhimanyu lalu menatap sang istri, kondisi felysia tidak bisa di bilang rapih, bahkan wanita itu belum membersihkan diri pagi ini.


Sejak kemarin baby Al selalu rewel, terkadang tidak mau menyusu membuat mereka kelimpungan di pagi buta. menjadi orang tua memang tidak segampang itu,namun mereka berhasil melewatinya hingga di titik ini.


"Apakah dia sudah tidur?" tanya Abhimanyu.


"Sepertinya sudah," ucap Felysia mengecek bayi mungil yang sudah memejamkan matanya.


"Berikan padaku, biarkan aku yang memindahkannya ke baby box." Abhimanyu mengulurkan kedua tangannya. selalu memperhatikan cara Felysia menggendong baby Al, Membuat Abhimanyu belajar bagaimana cara menggendong bayi yang benar.


"Eh?" Felysia tampak terkejut. "Tidak apa-apa?"


Abhimanyu mengangguk. "Kau harus mandi." kata pria itu singkat, Membuat felysia tersadar jika dia belum membersihkan diri.


Mengangguk ragu, Felysia menyerahkan bayi mungil itu pelan-pelan ke tangan Abhimanyu, pria itu menerima dengan hati-hati agar baby Al tidak terbangun. Karna mengingat bagaimana usaha keras Felysia menidurkan baby Al yang terus menangis sejak jam empat subuh.


Abhimanyu lalu berjalan hati-hati sambil sesekali menimang,lalu menaruh bayi yang sudah terlelap itu ke dalam baby box yang terletak tak jauh dari ranjang mereka.



"Terimakasih ya, akhir-akhir ini aku selalu menyusahkanmu," ucap Felysia tersenyum pada Abhimanyu.


"Akhir-akhir ini baby Al tidak serewel dulu, namun tetap saja kau harus terbangun di tengah malam untuk membantuku menenangkannya."


"Tidak apa-apa." menjeda perkataannya sejenak Abhimanyu menatap manik coklat Felysia. "Lagipula aku adalah papahnya."


Tertegun sejenak, mata bulat felysia melebar, lalu wanita itu mengangguk.


"Dan aku adalah Mamah nya," ujarnya, tersenyum.


Abhimanyu mendengus geli, mengulas senyum tipis.lalu pria itu menggamit tangan kanan Felysia dan mengenggamnya, memainkan cincin perak yang tersemat di jari manis sang istri.


"Kau adalah ibu yang hebat, aku bangga padamu."


Felysia mengeratkan genggaman tangan mereka.


"Kau juga papah yang hebat, aku juga bangga padamu."


"Kuharap kita bisa membesarkan baby Al bersama-sama," ujar Felysia lalu di angguki oleh pria itu.


"Kita akan menjadi keluarga kecil yang bahagia."

__ADS_1


__ADS_2