Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 39


__ADS_3

"Apa!" Leo yang terlonjak kaget berdiri dari duduknya.


"Ada apa?" Abhimanyu ikut berdiri karna terkejut. Kini mereka sedang berada di dalam tenda warung pecel. Menunggu pesanan yang sedang di buat.padahal Leo hanya ditelpon Dian kenapa sampai teriak-teriak begitu.


Leo menjauhkan ponselnya, "Tuan, nyonya muda menghilang!"


Mendengar itu sontak saja Abhimanyu melebarkan matanya,kaget. Pria itu segera mengambil alih ponsel dari tangan Leo.


"Halo Dian ini saya, kau sekarang di mana?" Abhimanyu yang tercekat seketika, langsung berlalu keluar dari tenda.


Terdengar isakan tangis dari Dian.


"A-aku sekarang sedang ada di pinggir jalan, di dekat tokoh jam."


Lokasi itu, Abhimanyu mengetahuinya, itu tidak jauh dari sini.


"Oke tenang, saya dan Leo akan secepatnya kesana.tetap nyalakan ponselmu."


"Ini Leo." Abhimanyu langsung saja menyerahkan kembali ponsel ke pemiliknya.


Lalu Abhimanyu langsung berlari secepat yang dia bisa, menuju lokasi. Sejak tadi feeling-nya memang sudah tidak enak, dan benar saja sesuatu terjadi pada istrinya.


"Eh,tuan anda mau kemana?!" Leo berteriak, dirinya masih dalam mode belum menyadari situasi.


"Aduh, gimana ini,ya udah deh kejar aja deh." Leo yang hendak berlari menyusul tuan mudanya itu terhenti karna sesuatu seperti menariknya.


"Eh,pak mau kemana? Ini pesanannya udah mau jadi loh?" Si ibu-ibu warung menarik kaosnya dengan tatapan sengit.


Aduh, Leo tidak waktu untuk ini, jangankan makan rasa laparnya saja sudah hilang ntah kemana.


"Duhh,nih Bu ambil." Leo menaruh uang lembar bewarna merah ke telapak tangan ibu itu.


"Makannya nanti, kembaliannya ambil aja." Kata terakhir Leo sebelum akhirnya berlari kencang menyusul tuannya.


***


"Abhimanyu!" Dian sedang menangis menghapus air matanya melihat Abhimanyu yang kini tengah menghampirinya.


Abhimanyu mengambil nafas panjang, dada pria itu naik-turun tak beraturan.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Di mana istriku?"


Dian menggeleng lemah, "Aku tidak tahu. Sudah hampir satu jam para warga disini membantuku mencarinya. Maafkan aku."


"Astaga." Abhimanyu mengusap wajah kasar, "dimana kau Stela?" Pandangan pria itu berpendar ke seluruh penjuru.


Tak berselang lama Leo tiba sampai kesini dengan nafas ngos-ngosan juga. Dian langsung saja berdiri dan memeluk lelaki itu.


"Leo, bagaimana ini? Felysia belum ditemukan juga." Dian menangis di pelukan pria itu.


Leo mencoba menenangkannya, mengusap rambut sebahu wanita itu. "Tidak apa-apa,bukan salahmu.tenanglah."


"Sial, sial! Teleponnya tidak diangkat." Abhimanyu menggeram kesal.


"Aku juga sudah menelponnya berulang kali. Tapi panggilannya hanya berdering,tidak ada yang menjawab." Dian menatap Abhimanyu.


"Permisi pak." Salah satu warga di situ menghampiri mereka.


"E-euh,ini saya menemukan ini tak jauh dari sana." Kakek tua itu menatap ke arah Dian.

__ADS_1


"Astaga itu tas felysia." Pekik Dian.


Abhimanyu menatap Dian,lalu dia mengambil tas itu dari tangan si bapak.


"Saya menemukannya di tempat sepi," ucap bapak itu.


Abhimanyu memeriksa isi dalam tas,pantas felysia tak mengangkat, ponsel gadis itu tertinggal di dalam sini.


"Ada kemungkinan teman yang mbak cari diculik. Di sini emang tempatnya rawan penculikan mbak, sudah 6 bulan terakhir ada saja yang orang hilang di sekitar sini, kebanyakan wanita juga." Tutur pria itu.


"Baik, kalau gitu, terimakasih pak." Leo berucap menangkupkan kedua tangannya.


"Iyah, sami-sami mas." Lalu pria tua itu melenggang pergi.


"Barang-barangnya masih ada.lalu kemana perginya dia?" Pria itu melenguh, hampir frustasi.


Abhimanyu menghela nafas, berusaha mengatur emosinya. Di kondisi ini dia harus tetap tenang dan rasional. Dia tidak boleh gegabah.


Drrrrt! Tiba-tiba ponselnya bergetar.


Sebuah nomor tidak dikenal tertera di layar persegi panjang itu, Abhimanyu menatap ke sekitar. Semua orang menahan nafas menunggu pria itu mengangkatnya.


Hening sejenak. hanya terdengar deru nafas tak beraturan.


Telepon tersambung, "Halo."


Tak ada jawaban. namun terdengar suara Isak tangis dari seberang sana, itu suara Felysia.


Abhimanyu terkejut, "Felysia! Kau dimana sekarang?"


Tidak ada jawaban, hanya terdengar isakan tangis yang semakin kencang.


"Sh*it!" Abhimanyu memaki. Istrinya diculik,itu sudah jelas. Sialan,dia benar-benar kecolongan kali ini.


"Bagaimana Abhimanyu? sakit bukan?" Suara di seberang sana terdengar congkak.


Abhimanyu melebarkan mata, "Halo! Ini siapa? Katakan padaku? Apa yang kau lakukan pada istriku hah!"


"Jika kau ada masalah denganku, hanya padaku saja,jangan libatkan istriku!" Abhimanyu berteriak.


"Heuh! Seseorang di sebrang telpon mendengus, "Aku tidak butuh basa-basimu."


"Jika kau ingin menyelamatkan istri tercintamu ini, datanglah ke gedung kosong di blok A aku akan mengirimkan alamatnya di SMS. Ingat, datanglah jam 11 malam pas. Tidak boleh datang lebih awal ataupun terlambat walau hanya semenit."


"Bedeb*h, kau mau apa dariku brengs*k!" Abhimanyu lagi-lagi memaki.


Si penelpon tidak menggubris makian Abhimanyu malahan tertawa senang mendengar suara frustasi pria itu.


"Dan satu lagi, jangan pernah libatkan polisi di sini dan membawa para bodyguardmu itu. Kau hanya boleh datang sendiri. Jika tidak ... "


Plak!


Terdengar suara tamparan keras, Abhimanyu menahan nafas. Dia bisa mendengar suara meringis felysia juga Isak tangisnya yang semakin pilu.


"Kau hanya akan membawa jasadnya saja." Lanjut si penelpon tertawa nyaring.


Abhimanyu mengeratkan genggamannya dari gagang telepon, "Akan kupastikan kau menyesal telah melakukan ini. Kau telah mencari masalah dengan orang yang salah!"


Hening sejenak. Tak ada balasan dari si penelpon, lalu sambungan itu terputus.

__ADS_1


***


"Bagaimana ini paman, Abhimanyu sepertinya benar-benar Sangat marah kali ini.Kita benar-benar sudah memancing seekor singa yang sedang tertidur." Arya, disamping Abbas tampak memasang raut waspada.


"Kenapa? kau takut padanya?" Abbas mendengus.


"Tidak kusangka Arya, dibalik sifat pongah mu kau ternyata bermental karet. Tak berani sedikitpun." Itu suara Zeline wanita itu sedang mengelus sebuah senapan di tangannya seolah itu adalah peliharaan.


Kini ntah mengapa Zeline sangat muak dengan pria itu.


Arya menatap tajam,tak berniat membalas juga.kenapa sang paman mau saja membantu wanita jal*Ng ini, padahal tidak ada untungnya juga untuk mereka. Dan yang paling bodohnya lagi, kenapa dia mau saja ikut terlibat dalam ide gila ini.


"Paman setidaknya janganlah gunakan felysia sebagai sandera.gadis itu tidak menguntungkan, Abhimanyu tidak akan datang untuk wanita itu,dia tidak mencintainya."


Mendengar itu Abbas langsung saja melayangkan toyoran di kepala kosong Arya. Pria ini apakah tidak bisa menggunakan otaknya, yang dia pikirkan hanya kemolekan tubuh wanita saja,yang lainnnya nol besar.Bodoh, pikirnya.


"Kau ini tidak bisa berfikir hah! Kau tidak dengar tadi betapa khawatir dan paniknya Abhimanyu."


Arya mengusap kepalanya, "Tapi Abhimanyu dan felysia hanya menikah terpaksa, tidak ada cinta didalamnya. Abhimanyu sama sekali tidak memperdulikan gadis itu."


"Orang sepertimu untuk apa membicarakan cinta." Abbas melongos, "yang di pikirkan otakmu hanya selangkang*n saja."


Arya mendengus, percuma berdebat dengan orang tua itu,yang dia dapatkan hanya makian dan hinaan saja.


"Lalu bagaimana Zeline, apakah rencanamu sudah terpikirkan. Kau akan membunuh gadis itu?" Abbas kini menatap Zeline, jari telunjuknya mengarah pada seseorang yang tak jauh dari mereka.


Duduk di kursi dengan kedua tangan dan kakinya diikat juga ada kantung hitam yang menutup kepalanya. Itu adalah felysia, gadis yang mereka Sandera. Kelemahan terbesar Abhimanyu.


"Kita lihat saja nanti." Zeline menyeringai.


"Akan kupastikan Abhimanyu akan bersimpuh di kakiku dan berteriak meminta ampunan." gumamnya, tersenyum devil.


****


Jam menunjukkan pukul sebelas malam saat Abhimanyu memeriksa arjolinya. Sesuai yang di instruksikan si penculik, Abhimanyu kini tiba di sebuah gedung tua terbengkalai jauh dari kawasan pemukiman.


Abhimanyu memeriksa ponselnya,foto dan alamat tempat ini sama seperti yang di kirim si penculik, tapi gudang ini kosong tak ada tanda-tanda pergerakan manusia di sini.


Sebelum kesini Abhimanyu sudah menyiapkan beberapa rencana masak-masak. Dia tak bodoh, mungkin sesuai yang diperintahkan dia memang datang ke tempat ini seorang diri tapi tak jauh 500m dari tempatnya berpijak, dia sudah menyiapkan beberapa bodyguard dan Leo yang sedang menunggu perintahnya di sana. Abhimanyu tak ingin sesuatu terjadi pada Felysia jadi dia memiliki beberapa kemungkinan, jika si penculik itu hanya menjadikan Istrinya tameng dan sebenarnya hanya menginginkannya,dia bisa menyelamatkan sang istri.


Suasana tempat ini sangat sepi, tampak remang tak ada cahaya lampu sama sekali, hanya sorot dari rembulan yang menerangi. Abhimanyu melangkahkan kakinya menyisir setiap jengkal. tak ada tanda-tanda si penculik dan istrinya ada di sini.


Tak sabaran Abhimanyu akhirnya menelpon kembali nomor yang tak di kenal itu. telpon berdering...


"Di mana kau bedeb*h! Aku sudah ada di sini di jam yang sudah kau janjikan. dimana istriku, dimana kau menyembunyikannya?!"


"Ouh nampaknya kau sudah sangat tidak sabaran yah." si penculik tertawa di seberang sana.


"Jangan banyak omong!"


"Kau sungguh temperamen yah Hahaha. Lagipula aku tak pernah mengatakan istrimu ada di gudang itu kan."


Abhimanyu meradang, " brengs*k!"


"ck ck! tak usah khawatir Abhimanyu,kau nikmati beberapa pembukaan dulu, karna permainannya baru saja akan di mulai. tentang istrimu, dia aman bersama kami."


Tuttt! Sambungan terputus.


Tiba-tiba di gelapnya malam itu saat Abhimanyu masih mencerna situasi, muncul beberapa orang berbadan besar dari penjuru arah.

__ADS_1


Orang-orang itu mengerumuni Abhimanyu seolah dia adalah sebongkah gula batu di antara para semut. ada sekitar 10 orang sedang merentangkan tangan dan menekuk leher mereka sudah siap menerkam dan menghajar Abhimanyu yang hanya seorang diri.


__ADS_2