Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 44


__ADS_3

Malam semakin larut, Leo sudah melapor ke Abhimanyu jika Felysia kini tengah menginap di rumah Dian. Angel pun telah kembali ke apartemennya, awalnya wanita itu memaksa ingin menginap tapi Abhimanyu dengan keras menolak. Bagaimanapun dia adalah pria yang sudah menikah.


"Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan denganku." Abhimanyu duduk di kursinya.


Leo mengangguk,"Aku ingin bertanya tentang nyonya muda."


"Kau ingin tahu kenapa aku berubah sikap padanya?" Abhimanyu menebak.


"Benar. Saya ingin tahu tentang itu, tuan padahal nyonya muda saat kau koma selalu berada di sampingmu, menunggu hingga kau siuman,kenapa anda menjadi tega seperti ini." Leo yang tak tahan mengeluarkan uneg-unegnya.


"Karna aku ingin melindunginya,Leo."


Leo mengernyit, "Apa maksud anda?"


"Aku ingin membalaskan kepada siapa saja yang terlibat dalam penculikan itu, Leo."


"M-maksud anda bukan hanya nona Zeline saja yang terlibat?"


Abhimanyu menggeleng, " Zeline hanyalah kaki tangan, sekedar alat. Yang sebenarnya otak dari semua rencana busuk ini adalah Abbas."


Leo semakin kaget, keadaan semakin serius, "Bagaimana anda tahu?"


"Semua fakta ini aku mengetahuinya dari mulut Zeline sendiri, sebelum akhirnya wanita itu pergi entah kemana, aku sempat mencarinya,tapi naas satu tembakan yang melesat membuatku tak sadarkan diri."


Leo mengangguk, di saat itulah dia menemukan Abhimanyu tak sadarkan diri, peluru itu bersarang di dada kanannya. Tak disangka saat itu Abhimanyu sedang mengejar Zeline.


"Satu persatu dari mereka akan ku habisi Leo, mereka harus membayar mahal atas semuanya,atas semua rasa sakit istriku." Abhimanyu meremat tinjunya kuat, menjelaskan segala dendam yang ada.


"Tapi apa hubungannya dengan anda menjauhi nyonya muda?"


Abhimanyu membuang nafas, "Felysia bisa jadi penghalang ku saat ini, untuk itu aku harus menjauhinya agar dia pun tetap aman."


"Tapi anda tinggal menjelaskan padanya bukan malah pura-pura membencinya seperti ini." Leo tak habis fikir, meskipun telah mengikuti Abhimanyu sejak kecil, Leo masih tak pernah paham dengan pemikirannya.


"Kau tahu, istriku adalah wanita yang naif, dia terlalu lugu untuk menghadapi hidupku yang selalu terjerat masalah.aku tak ingin dia di hadapi oleh bahaya lagi,Leo."


Leo menganggukkan dalam hati,apa yang dikatakan tuan mudanya juga tak salah.


"jadi untuk saat ini, menyembunyikan ini semua adalah solusi terbaik. biarkan semua berjalan semestinya." Abhimanyu menatap Leo.


"Yang kuberi tahu tentang rencanaku hanya dirimu,karna aku percaya padamu."


Leo mengangguk tegas, "Apapun rencana tuan muda saya akan mengikuti dan mematuhi perintah."


"Operasi balas dendam ini akan terlaksana,Di mulai dari Arya."


***


Di kediaman mansion Maheswara Pukul 7 pagi.


Suasana tampak ramai dengan para maid yang hilir mudik di Antara para kesibukan. pernikahan antara tuan muda keluarga Maheswara yaitu Arya dan Arabella sudah sangat tersohor beritanya.

__ADS_1


Semua sedang di persiapkan secara matang, undangan telah di cetak, kesibukan tampak terlihat, sunting baju, pemotretan telah dilakukan sejak dua hari lalu, pernikahan ini akan menjadi pernikahan ter-Akbar,termegah dan termewah.


Pak Herul dan bi ati tampak sibuk di antara lalu lalang para maid, mendoktrin para maid, memastikan semua yang sudah di rencanakan berjalan tanpa hambatan.


"Sangat di sayangkan tuan muda dan nyonya muda tidak ada di sini ya." bi ati bercelatuk di antara hiruk pikuk kesibukan.


Pak Herul menoleh, "Kau benar." lalu menghadap ke depan lagi mengamati para pekerja yang sedang memasang tirai besar di atas plafon.


"Sepertinya jika diundang Secara resmi pun, mereka tidak akan datang." bi ati berkata lagi, mengingat janji Abhimanyu yang diucapkan sebelum meninggalkan mansion ini.


"Ini adalah pernikahan adiknya,mana mungkin dia tak datang.lagipula pesta utama diadakan di hotel berbintang bukan di mansion."


Bi ati menghela nafas, "Ya ya,pak Herul benar.semoga saja mereka datang. aku sudah sangat merindukan nyonya muda."


Pak Herul menggeleng pelan sambil terkekeh, "bukan hanya kau saja yang merindukannya.tapi semua orang yang ada di mansion ini, yang pernah merasakan ketulusan Nyonya muda juga sangat merindukannya."


Lalu keduanya tertawa pelan dan melanjutkan pekerjaan Masing-masing.


***


Sementara Bella kini sedang berada di rumahnya, salah satu adat yang termasuk dalam pernikahan ini, yaitu pingitan. Arya dan Bella tidak bisa dipertemukan dulu, hingga waktu pernikahan tiba.


Bella sendiri telah pulang ke tanah air beberapa Minggu lalu, kehamilan wanita itu sudah akan memasuki bulan ke-7, perut buncitnya sudah mulai terlihat.


Bella tampak sangat senang,wanita itu sedang duduk di sofa sambil mengelus perutnya. pernikahan yang di impi-impikannya akhirnya akan terlaksana juga, meskipun ada jalan kerikil yang harus dia lewati,pada akhirnya Arya mau menikahinya dan bertanggung jawab atas bayinya.dia sangat gembira.


"Wanita hamil harusnya lebih banyak beraktivitas."


Bu Mira takut jika putrinya tidak bisa melunakkan hati Arya, karna di sini keluarga mereka telah mendapatkan banyak gunjingan dari para warga sekitar karna mereka sudah mengetahui Bella yang hamil di luar nikah. namun setelah keluarga Maheswara menghubungi mereka langsung dan mengatakan Arya akan segera menikahi Bella Membuat mereka bisa bernafas lega.


jika sebelum-sebelumnya Bella akan banyak melamun dirumah kini wanita itu lebih segar, dan bahagia. Arya akan bertanggung jawab dan menikahinya, sebuah kebahagiaan yang tiada Tara untuknya. kini dia pun akan menyandang gelar 'Nyonya muda maheswara' seperti felysia. bahkan mungkin statusnya akan lebih tinggi, karna Arya bukanlah aib seperti Abhimanyu yang seorang mantan napi.


"Aku malas Bu, aku juga sudah lelah karna terus bergerak untuk pemotretan."


Bu Mira tersenyum, "Oh ya, apakah nyonya Sinta memperlakukanmu dengan baik?"


"Sangat Bu." Bella sumringah, "Dia Sangat loyal dan memperlakukanmu seperti putrinya sendiri."


"Bahkan saat tahu bayi yang dikandungku adalah laki-laki dia semakin perhatian padaku."


Bella lalu dengan semangat menceritakan tentang semua kebaikan nyonya Sinta dan pak Manaf Padanya, tentang bagaimana dia pertama kali datang di acara pesta orang-orang penting bersama Arya dan tatapan iri semua wanita padanya,karna telah berhasil melunakkan hati Arya,sang primadona cinta. dan Arya yang kini mulai perhatian padanya dan juga bayinya. Bella bercerita dengan mata berbinar terang.


"Ibu senang, ayahmu juga,ibu tahu saat pertama kali Arya kerumah kita kau sudah mencintai pria itu dan kini impianmu terwujud untuk menikahinya."


Bella mengangguk senang.


"Bahkan semua perhatian yang kamu dapatkan dari keluarga Maheswara, felysia belum tentu mendapatkannya." Bu Marni tersenyum miring.


"Tentu saja ibu, jangan bandingkan aku dengan perempuan murahan itu,dia hanyalah istri Abhimanyu, si mantan napi, sementara calon suamiku adalah pria baik-baik dengan reputasi baik,tentu saja felysia jauh berada di bawahku." Bella tersenyum bangga.


"Tapi nak,ibu dengar suaminya itu kini pemimpin tertinggi perusahaan maheswara group."

__ADS_1


Bella menggeleng, "Tidak usah khawatir Bu, lagipula mas Arya juga adalah seorang ahli waris sah di keluarga itu, jabatan tidak penting untuknya."


"Mas Arya tidak terlalu suka urusan perusahaan, ibaratnya Abhimanyu yang bekerja dan dia hanya duduk berpangku tangan, hidup kita sudah makmur dengan kekayaan yang berlimpah."


Bu Mira tertawa, "Kau benar nak. keluarga Maheswara itu hartanya pasti tidak akan habis tujuh turunan, apalagi harta warisan Arya yang sangat besar. kita akan jadi orang terkaya di desa ini."


"Tentu saja Bu, setelah aku menikah keluarga kita akan pindah dari rumah reyot ini,kau akan tinggal denganku di mansion nanti."


Bu Mira tersenyum sumringah, "Benarkah."


Bella mengangguk, "Hidup kita akan berbeda 180 derajat, ibu bisa membeli apapun yang ibu mau dengan hanya menjetikkkan jari."


"Kau memang putriku." ibu dan anak itu lalu berpelukan sebentar.


"Ibu tahu yang paling aku nantikan adalah kekalahan Felysia, Aku ingin melihat Raut wajah wanita itu saat aku bersanding dengan mas Arya dipelaminan nanti."


"Tentu saja,ibu juga sudah tidak sabar."


***


Di rumah mereka, Abhimanyu dan felysia hanya berdiam diri setelah sarapan, Abhimanyu Sudah tak seperhatian dulu pria itu lebih memilih mengurung dirinya di ruang kerja, sementara Felysia tetap dalam rutinitasnya.


Felysia sendiri masih bingung dengan keadaan mereka sekarang, dia sudah tahu jika Abhimanyu kini membencinya, namun terkadang dia bisa melihat Abhimanyu yang mencuri pandang padanya dan memperhatikannya. bukan dirinya geer,namun tatapan Abhimanyu memandang dirinya dengan tatapan lekat, hingga dia sendiri pun bisa merasakannya, apalagi saat dia menyiapkan sarapan tadi.


Meskipun Pria itu tak sehangat kemarin-kemarin, namun tatapan Abhimanyu padanya tetap sama padanya, tatapan tulus yang menyiratkan kasih sayang, itu yang kemarin Dian katakan padanya.


Sekarang seperti perahu yang berada di ombak besar, begitulah hubungan mereka, terombang-ambing tanpa kepastian. tapi setidaknya jika Abhimanyu memintanya untuk pergi,dia akan pergi di kehidupan pria itu. tapi ini tidak, membiarkan dia tersiksa di antara kebisuan yang ada.


"Eh,mas mau kemana?" Felysia tersadar dari lamunannya melihat Abhimanyu yang sudah rapi.


"Aku ada beberapa urusan." Abhimanyu berkata dingin.


"Tapi kau ... belum sembuh." lirih felysia.


Abhimanyu menoleh, "Aku sudah sembuh."


"Jika kau kesepian di sini, bawalah Dian kesini, atau bersosialisasi lah dengan tetangga." Abhimanyu melirik ke arahnya sebentar.


"Karna mungkin urusanku ini bisa sampai malam."


Felysia hanya mengangguk,tak bisa melarang juga.


"Tunggu." Langkah Felysia yang akan menuju kamar terhenti karna Abhimanyu yang memanggilnya.


Abhimanyu menghampiri Felysia, pria itu menatap datar.kini mereka berdiri Bersejajar. tatapan felysia seperti mengisyaratkan 'Ada apa?' pada pria itu.


Cup!


Abhimanyu mengecup kening felysia. Felysia terhenyak, pria itu menutup mata menempelkan bibir di keningnya dengan cukup lama. hangat dari bibir pria itu bukan hanya terasa di keningnya tapi juga hatinya.


"Morning kiss." Ucap pria itu sekilas, lalu cepat-cepat berlalu.

__ADS_1


Meninggalkannya berdiri mematung di tempat, dada Felysia berdesir hebat. kenapa tindakan Abhimanyu susah sekali untuk di tebak, terkadang pria itu bisa bersikap kejam tapi juga bersikap manis, Membuat pertahanannya goyah, pria itu selalu suka memporak-porandakan hatinya.


__ADS_2