
Seorang di sebuah hotel dengan kamar yang terbilang kecil,sedang duduk termangu di samping ranjang dengan sebuah botol minuman di tangannya.
Ini sudah botol yang ke enam,Arya menenggak minuman keras itu. Mata pria itu telah berubah merah, terkadang dia meracau, meraung, bahkan mengamuk karna pengaruh alkohol.
Dia tahu dirinya telah menjadi buronan polisi,oleh sebabnya dengan uang yang masih ia pegang ia nekat bersembunyi dari kejaran polisi. tersuruk-suruk Arya mengubah identitas, menyembunyikan dirinya dari semua orang yang mungkin mengenalinya. Tapi itu tak akan bertahan lama, polisi cepat atau lambat pasti akan menemukannya.
"Brengs*k, bangs*t kalian semua!" Arya kembali meracau, botol minuman yang di genggamannya telah hancur berkeping-keping karna ia lempar ke tembok.
"Ini pasti ulah Abhimanyu, ya,ya bener, bener.si pembunuh itu pasti yang ngerencanain ini semua," Arya menunjuk sembarang ke udara, keadaan pria itu memprihatinkan.
"Gua bakal bales perbuatan dia,ya bener.awas lo Abhimanyu! Arghhh!" Arya kembali berteriak kesal. Untunglah ia memesan kamar yang di desain memang kedap suara.
Orang-orang mungkin tak akan mengetahui keberadaannya karna ponselnya telah ia banting, pemikirannya sekarang. Namun sebuah gedoran keras di pintu yang ia kunci dari dalam itu membuatnya harus berfikir ulang.
Arya yang hendak mengambil botol minuman baru, seketika diam mematung dengan mata membelakak. Gedoran semakin terdengar keras, membuat keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Buka atau kami dobrak paksa!" Teriakan keras itu seketika membuat Arya berdiri dengan kalang kabut.
Pria itu berjalan limbung, pengaruh alkohol yang mencapai batas maksimum membuatnya mabuk berat hingga tidak bisa mencerna keadaan. Tapi apapun itu ia menyadari, jika ada polisi di balik pintu itu yang siap menangkapnya,dia tidak mau masuk ke dalam jeruji besi.
The power of kepepet, sepertinya memang benar adanya, Arya tanpa pikir panjang berlari ke arah jendela, penginapan ini mempunyai tiga lantai, dan dia ada di lantai kedua,meski begitu jarak diantara satu lantai dengan lantai lainnya cukup tinggi, dengan diameter segitu,Arya dengan nekat menaiki jendela itu dan meloncat ke bawah.
Braaak!
Pintu terbuka setelah akhirnya di dobrak paksa, para pria berseragam cokelat dengan pistol di masing-masing tangan mereka langsung menyerbu memasuki kamar yang kini sudah kosong. Para polisi itu saling melempar pandang, karna orang yang mereka cari tidak ada di sini, hanya sisa-sisa botol minuman dan pecahan beling yang tergeletak.
"Sisir semua tempat,geledah!" Perintah pimpinan mereka.
Para polisi itu berpencar, membuka lemari, memeriksa kolong tempat tidur,dan kamar mandi,tidak ada siapa-siapa di sana, kamar ini telah benar-benar kosong.
"Buronan kabur lewat jendela!" Salah satu di antara mereka berteriak, menatap ke bawah.
"Kejar, jangan sampa lolos!" Setengah dari mereka berputar balik mengejar Arya. Satunya lagi ada yang memberi tembakan peringatan dari arah atas agar pelaku berhenti.
"Menyerah atau terpaksa kami menggunakan kekerasan?!"
Arya tetap tidak memperdulikan gertakan itu, dengan sekuat tenaga dia berlari dari kejaran polisi. Namun seperti pepatah sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah juga. Arya tak bisa melampaui jarak para polisi itu dengan keadaannya yang seperti ini.
Door!
__ADS_1
Satu tembakan melesat ke arah Arya,timah panas itu langsung mengenai kaki kirinya yang membuat tubuh pria itu langsung jatuh ke tanah dengan darah yang tiba-tiba merembes.
***
Esoknya, di televisi dan berita internet, nama Arya Wijaya Maheswara telah terpampang bersama fotonya yang tiba-tiba muncul,Arya yang di tetapkan sebagai buronan polisi akhirnya tertangkap dengan luka tembakan di bagian betis, dan kondisi memprihatinkan. Proses hukum akan tetap berlanjut di pengadilan.
Felysia duduk terpekur di kursi ruang tamu, menyaksikan berita Arya yang di sampaikan oleh penyiar berita. Gadis itu menatap kosong, lega dan iba Secara bersamaan. Lega akhirnya penjahat seperti Arya bisa di tangkap juga dan berharap para korbannya bisa mendapat keadilan di pengadilan nanti dan ia iba karna baru saja beberapa hari kemarin Arya dan Bella melangsungkan pernikahan mewah, tapi hari ini pria itu sudah di tetapkan menjadi terdakwa dan meninggalkan Bella, adik sepupunya yang kini akan melahirkan.
Suara klakson mobil mengangetkan Felysia, wanita itu lalu berdiri berjalan ke arah luar, karna ia tahu suaminya sudah pulang dari kantor. Dia melewatkan bi ati yang sedang mengepel lantai di ruang depan. Lalu wanita itu berdiri di depan teras, menyambut Abhimanyu pulang.
"Mas," seru Felysia melihat Abhimanyu yang diikuti Leo di belakang, sedang berjalan ke arahnya.
Felysia mengambil tas yang tergantung di tangan Abhimanyu, lalu Abhimanyu mendekat,mencium ujung pucuk kepala felysia sekilas.
Tak tahan melihat kemesraan kedua orang itu, Leo melangkah ke depan, "Kalau begitu saya pamit dahulu,tuan muda dan nyonya muda," ucapnya.
Abhimanyu mengangguk,lalu Leo sedikit membungkukkan badannya,memberi hormat. Lain kali ia harus ingat untuk pamit lebih awal, jika tak ingin jiwa kejomloannya bergetar iri melihat mesranya dua orang di depannya ini.
Malam tiba, Abhimanyu turun dari tangga setelah membersihkan diri, pria itu duduk dan makan dengan tenang lalu setelahnya bersantai sebentar di meja tengah sambil membaca buku dengan ditemani secangkir teh tanpa gula kesukaannya.
Felysia yang melihat itu merasa bingung, sejak tadi Abhimanyu terlihat tenang seolah tidak ada yang mengagetkannya, padahal berita tentang di tangkapnya Arya telah tersiar ramai, apakah pria itu tidak tahu jika kini adiknya sudah ditetapkan sebagai terdakwa.
"Apa kau mendengar beritanya?" Felysia mencoba membuka obrolan.
"Berita apa?" Abhimanyu terlihat acuh.
"Arya, dia kini sudah di tangkap, kaki sebelah kirinya tertebak katanya, karna melawan saat akan di bekuk."
"Lalu?" Abhimanyu menutup bukunya, menengok, memperhatikan felysia dengan kacamata baca yang masih bertengger di hidung bengirnya.
"Apakah kau kini mulai khawatir padanya?" suara bass pria itu terdengar sangat mengintimidasi.
Felysia mengerjap, "Aku hanya khawatir dengan ayah dan ibu. mereka pasti terguncang setelah mendengar beritanya."
Abhimanyu menarik diri,tak berniat menjawab lalu kembali membuka bukunya.Felysia bisa merasakan pria itu berubah, seperti awal mereka bertemu,dingin dan tak terjangkau.
Karna tak kunjung mendapat respon, Felysia tergerak untuk berdiri, namun tak sampai ia mengangkat bobotnya, Abhimanyu mencekal tangannya.
"Kau sungguh merepotkan."
__ADS_1
Felysia tak mengerti dengan ucapan pria itu, namun dia terduduk kembali karna Abhimanyu menariknya, Lalu tanpa perhitungan lagi, Abhimanyu merentangkan badannya dengan paha wanita itu sebagai bantalan. Abhimanyu tertidur di pangkuan Felysia.
"Perasaanku padamu ini yang sungguh sangat merepotkan," monolog pria itu dalam hati.
Felysia membeku,tak tahu harus melakukan apa, ia tetap terdiam memandang lelaki kini tertidur di pangkuannya dengan melipat tangan di depan dada.
"Semua ini sudah benar Stella. Arya sudah di hukum atas semua kejahatannya." ujar pria yang kini sudah memejamkan mata.
"Adikku itu sudah mendapatkan karmanya," lanjut pria itu.
Felysia tanpa sadar mengangguk setuju, semoga saja Arya tidak bisa lepas dengan mudah atas jeratan hukum yang ada, pria itu harus benar-benar merasakan dinginnya penjara, karma atas semua kejahatan yang ia perbuat.
"Tentang ayah dan ibuku, mereka pasti hanya terkejut,kau tak usah khawatir. ayahku adalah pria yang mempunyai presfektif yang adil tentang hukum, mata harus di bayar dengan mata,nyawa harus di bayar dengan nyawa juga, dia pasti tak akan berpihak pada Arya kali ini, sekalipun reputasi keluarga telah hancur karenanya."
Felysia mengangguk, "Syukurlah jika begitu." Felysia lalu terkekeh pelan membuat Abhimanyu membuka mata seketika.
"Kenapa kau tertawa?" ucap pria itu.
Felysia segera saja menghentikan tawanya, "Tidak. aku hanya terkejut, terkadang kau bisa jadi pria yang begitu serius dan misterius secara bersamaan."
Abhimanyu berdehem, "Oh ya?"
Felysia mengangguk cepat, "Kau tahu tadi aku hampir jantungan saat melihat tatapan mu yang begitu mengintimidasi, tapi setelah itu kau berbicara santai padaku, membuatku bisa bernafas lega."
Abhimanyu tersenyum, "begitukah? kau tahu, aku seperti ini hanya karna mu?"
"Maksudnya?" Felysia tak mengerti.
Di luar dugaan, Abhimanyu mengambil sebelah tangan Felysia dan menaruhnya di atas dahinya, "Aku ingin kau mengusap rambutku."
Felysia yang langsung mengerti, mengelus pelan Surai hitam pekat pria itu, Felysia baru menyadari jika Abhimanyu mempunyai rambut yang sedikit kasar dan lebat.
"Orang bilang sebagai pemimpin aku adalah pria yang tegas, terkesan kaku dan kadang galak, sedangkan menurut mereka yang mengenalku, aku seperti orang yang selalu menarik diri dari lingkungan,apatis dan pasif."
"Tapi kepadamu semua sifat itu seakan lenyap, mengenalmu seakan bisa membuatku menjadi diriku sendiri."
Felysia tersenyum, ntah kenapa bibirnya terus saja menarik senyum mendengar ucapan lelaki ini.
"Kau mengubah cara pandangku tentang dunia ini, istriku," ujar pria itu, membuat felysia bersemu mendengarnya.
__ADS_1