
Leo dan felysia memasuki gedung berlantai yang di dominasi oleh dinding kaca itu.mall ini sangat elegan dan terkesan mewah, bisa di lihat oleh ekor mata felysia di lantai satu saja dia sudah di suguhi pemandangan indah yang menjadi surganya para wanita.sebuah tempat yang benar-benar tak akan masuk ke daftar tempat yang bisa felysia kunjungi-kecuali Dian sahabatnya.Ah,andai saja Dian ada di sini untuk menemaninya.
"Nyonya ada apa? wajahmu terlihat muram." Leo yang sedari tadi mengikuti dari belakang bertanya karna sekarang melihat air muka felysia yang bergurat sedih.
"Ahha-ha, tak apa.hanya saja aku teringat sesuatu," elak felysia tertawa gamang.
"Ouh ya,tuan di mana?" tanya felysia yang mengedarkan pandangannya karna belum bertemu Abhimanyu yang menyuruhnya kemari.
"Harusnya tuan muda sudah sampai nyonya,namun sepertinya ada kendala sedikit."
"Apa itu? apakah tuan dalam bahaya?"
Leo yang melihat gurat khawatir di wajah felysia malah terkekeh pelan, "Tidak nyonya,anda tak perlu khawatir.tuan muda tak gampang untuk disentuh."
"Kalau begitu kenapa?" Felysia mengernyitkan keningnya.
Leo tertegun.tak menyangka bahwa sekarang wanita ini benar-benar sedang mengkhawatirkan tuannya, "Baiklah nyonya, bisakah kau di sini sebentar? aku akan ke depan dahulu untuk menghubungi tuan muda.tak akan lama." pinta Leo mencoba membuat felysia tak khawatir.
Felysia buru-buru menggangguk.mendapatkan kabar Abhimanyu adalah hal yang penting sekarang, mengingat hidup keras pria itu Felysia rasa bahaya bisa kapan saja datang menimpanya.toh sepertinya tidak apa jika dia berkilling seorang diri sebentar sambil menunggu kedua pria itu.
sementara Leo yang sudah berlalu untuk menghubungi Abhimanyu.kaki kecil felysia berjalan tak tentu arah,tapi hanya di sekitar di mana Leo meninggalkannya agar Leo tak susah mencarinya nanti. dia memandang takjub baju dan gaun-gaun mewah yang terpanjang di sepanjang etalase,juga berderet-deret tas dan sepatu yang tertata sangat rapi.Mall ini benar-benar sangat ekslusif.
Sampai di mana Dia berhenti di sebuah tas yang tersangkut bersamaan dengan tas-tas indah lainnya.kemudian seorang wanita muda yang felysia yakini sebagai pegawai di tokoh itu mendekatinya dan menawarkan sebuah promo padanya.tapi buru-buru Sia menggeleng pergi. Astaga dia hampir lupa bahwa semua harga benda di sini berkali-kali lipat lebih mahal di banding yang dia lihat di pasar, tentu dia tak akan punya uang untuk itu.
Karna tak terlalu memperhatikan jalan, Tubuh felysia terhuyung karna menabrak tubuh seseorang,untung saja tak sampai terpelanting.Felysia lalu buru-buru membenarkan tubuhnya,Demi melihat siapa tadi yang tak sengaja bertabrakan dengannya.
"Stupid! Apakah kau tidak bisa melihat jalan?!" Orang yang menabrak felysia berteriak geram.
"Ah,maafkan aku nyonya.maafkan aku." Felysia menunduk meminta maaf, meskipun ia sendiri tak tahu di mana letak kesalahannya.
"Hah! Jakarta masih saja seperti dulu,kau tahu jika sedikit saja dorongan kaki jelekmu itu bisa membuat high heals ratusan juta ku ini rusak." Maki wanita yang lebih tinggi dari felysia itu.
Sementara felysia yang mendengar makian itu hanya tertunduk,ia benci dirinya di saat seperti ini.ia tak bisa bersuara barang sedikitpun untuk membela diri, apalagi lalu lalang para manusia di sini mulai mencibirnya,mereka mulai berbisik namun tak ada satupun orang yang berani menengahi kericuhan ini.
Sampai seorang pria datang ke arah mereka berdua.felysia tak melihat wajahnya,namun ia bisa melihat bahwa pria itu sedang menghampiri wanita di depannya ini.pria itu menengahi kericuhan yang dibuat wanita di hadapannya.
"Ada apa ini honey? mengapa kau sampai semarah ini." pria dengan pakaian nyentrik bak preman itu bertanya kepada wanita yang ia rangkul pinggangnya.dari tempatnya berdiri pun Sia sudah bisa menebak bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
"Huftt, lihatlah honey.wanita kuno ini membuatku kesal sekali,dia hampir mematahkan high heals ku karna kecerobohannya ini." adu wanita itu.
"Sudahlah tak usah di perpanjang,aku bisa memberikannya mu yang seperti ini banyak sekali.lagian lihat wanita Malang ini.sebaiknya kita pergi saja kau menjadi pusat perhatian." ucap pria itu menuntun wanita yang masih dalam keadaan dongkol menjauh meninggalkan felysia sendiri.
"Maafkan pacarku nona, bila membuatmu tak nyaman." kata pria bertubuh atletis itu kepada felysia dan hanya diangguki maklum olehnya.
Sementara felysia yang melihat punggung kedua orang itu menjauh bernafas lega,dia memukul pelan dadanya yang rasanya akan meledak.untung saja panik attacknya tak menyerang tadi kalau tidak dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Felysia!" seseorang meneriaki nama Sia membuat gadis itu berbalik.wanita itu membulatkan matanya terkejut melihat Abhimanyu yang sedang berlari tergesa-gesa langsung menerjang dan memeluknya erat.tubuh mereka bahkan hampir tak seimbang karna Abhimanyu yang sambil berlari memeluk tiba-tiba.Nafas pria itu terdengar memburu di telinga felysia.
Sementara felysia hanya terdiam.mendapat perlakuan mendadak ini membuat pikirannya menjadi kosong tak tahu harus berbuat apa, bahkan saat ini pelukan Abhimanyu semakin erat tanda tak ingin kehilangan.
"dari mana?" tanya Abhimanyu ketus setelah melepas pelukannya.
"Aku t-tadi-" belum sempat felysia menjawab, Abhimanyu kembali berteriak.
"Kau tahu betapa berbahayanya di sini!" Felysia terkejut mendengar bentakan dari mulut Abhimanyu, tangan dan bibirnya bergetar takut.
"Ikut!" Abhimanyu menarik lengan felysia kasar menjauh dari kerumunan.
"bisakah kau tenang sedikit,ini sakit," ucap Sia berusaha melepaskan cengkraman Abhimanyu.semua mata pengunjung mall ini tertuju kepada mereka.sementara Abhimanyu hanya bergeming,menatap Nyalang ke depan.felysia yang melihatnya menciut,belum pernah Sia melihat Abhimanyu semarah ini.
Abhimanyu membawa felysia ke parkiran gedung, membawanya ke sebuah mobil Pajero sport hitam dan menyuruh felysia masuk.felysia hanya bisa menurut meski pergelangan tangannya berdenyut sakit karna kasarnya genggaman Abhimanyu tadi.
__ADS_1
"Kita akan kemana?" felysia bertanya menatap khawatir Abhimanyu yang sedang mengemudi.pria itu sungguh membuat felysia takut karna mengandarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Rumah!" hanya itu jawaban yang felysia dengar dari Abhimanyu.nampaknya ia melakukan kesalahan besar menurut pria itu.bahkan sedari tadi ia tak melihat Leo disamping pria ini.
"Kau sudah salah,masih berani mencari pria lain hah!" Abhimanyu berteriak Nyalang yang melihat felysia mengedarkan pandangannya.
"A-apa maksudmu tuan,aku tidak ..." mobil berhenti tiba-tiba membuat kepala felysia hampir bertumbruk dengan depan mobil.felysia mengedarkan pandangannya, ternyata mereka sudah ada di pelataran rumah.
"Tidak apa! jelas-jelas kau sedang mencari Leo kan? dan di mall tadi jelas aku melihatmu dengan seorang pria dan mengobrol seperti teman lama."
Felysia yang mendengarnya terkejut, "T-tidak tuan kau salah paham, bukan seperti itu." belum sempat Sia memberi penjelasan Abhimanyu sudah keluar terlebih dahulu dari mobil dengan menggebrak pintu mobil kencang.felysia yang mendengarnya pun menutup mata kaget.
Astaga pria itu benar-benar salah paham padanya,ntah dari sisi mana pria itu melihat felysia yang sedang mengobrol dengan lelaki lain, jelas-jelas di saat itu ada seorang wanita juga yang sebagai pacar lelaki yang dia maksud.apa tuan muda itu tak bisa melihat.lagipula bagaimana tuan muda itu tiba-tiba bisa ada di mall dan melihatnya.memikirkannya membuat felysia menggeleng gusar.
Felysia keluar dari mobil dan langsung disambut oleh Bu ati asisten rumah ini sejak seminggu lalu.ya, Abhimanyu yang merekomendasikannya, katanya agar felysia bisa ada teman mengobrol di rumah ini.sungguh alasan aneh bukan,tapi Felysia setuju saja. Bi ati selama dua hari ini sakit jadi felysia, terkejut ketika tiba-tiba melihatnya lagi di rumah ini.
"Nyonya muda ada apa?" Bi ati bertanya sambil menenteng barang belanjaan.nampaknya bi ati baru saja belanja di pasar.
"Bibi ada di sini? Apakah keadaan bibi sudah membaik?" Bi ati tersenyum mendengar pertanyaan nyonya mudanya ini.tak salah tuan muda Abhimanyu memilih istri, nyonya muda sungguh sangat perhatian.
"Sudah nyonya,hanya demam biasa saja, lagipula bibi tak tega meninggalkan nyonya terlalu lama yang hanya tinggal sendiri,kan tuan jarang pulang." Ucap bi ati menimbulkan tawa dari felysia.
"Oh ya nyonya,tuan muda tadi kenapa? tampangnya Seram sekali.tuan bahkan tadi menggebrak pintu dengan kasar." bisik bi ati.
Felysia bergeming sesaat sebelum akhirnya menjawab, " Tak apa bi, hanya sebuah kesalahpahaman."
Bi ati hendak bertanya lagi,namun buru-buru felysia mengalihkan perhatian dengan menyuruh bi ati cepat ke dapur untuk mengolah bahan masakan itu.sungguh akan sangat merepotkan bila Bi ati tahu apa yang terjadi diantara mereka. Felysia pun menyusul untuk masuk ke dalam rumah,dia mengedarkan penglihatannya guna mencari Abhimanyu.namun sepertinya pria itu sedang berada di ruang kerjanya yang berada di lantai atas.itu tentu bertanda bahwa pria tak ingin di ganggu.
Malam menjelang, namun felysia tak melihat tanda-tanda Abhimanyu keluar dari ruangannya, bahkan sekedar turun untuk mengisi perut.bahkan makanan yang ia hantarkan melalui perantara Bi ati tak di terima sama sekali,pria itu seakan menutup diri tak ingin ditemui siapapun.
"Sedari tadi nyonya hanya menatap pintu itu, bahkan kamu melewatkan makan malam."
"Tuan belum makan dan belum keluar dari kamarnya. aku khawatir," kata felysia memandang pintu kamar Abhimanyu yang tertutup itu.
Felysia tersenyum samar, "Tak apa.apakah bibi lelah? bibi bisa kembali,untuk beristirahat."
Alih-alih menjawab bi ati malah tersenyum kecil, "tuan sungguh beruntung memilikimu.nyonya tahu bahkan saat tinggal di mansion tuan besar dulu den Abhimanyu tak ada yang memperdulikan,tak ada yang mengkhawatirkan den Abi lebih dari nyonya."
"Bibi ... apakah pernah bekerja di mansion Pak manaf?" felysia yang kaget mengalihkan pandangannya ke arah bi ati.
"nampaknya den Abi tidak menceritakan kepada nyonya.benar,bibi pernah bekerja di mansion tuan besar sebelum dipindahkan tugaskan ke sini nyonya.bahkan bibi tahu bagaimana kerasnya hidup den Abi sedari ia kecil."
"Memangnya ada apa dengan hidupnya dulu bi?" tanya felysia mulai penasaran.
__ADS_1
"Kemarilah." wanita berumur 40tahunan itu menuntun felysia untuk mengikutinya.,sampai di kursi ruang tamu bi ati meminta Sia untuk duduk dan dia pun duduk di samping Sia mulai menceritakan yang ia tahu.
"Den Abi adalah anak tiri nyonya besar.anak kandung nyonya besar hanya satu yaitu den Arya, nampaknya anda baru mengetahui hal ini." Bi ati tersenyum kecut melihat felysia yang memandangnya kaget.
"Bisakah bibi melanjutkan cerita?" felysia mengangguk antusias.inilah saatnya ia mengetahui segalanya tentang pria itu.
"Den Abi menjalani hidup yang tak mudah nyonya, bahkan sedari umurnya yang menginjak tiga tahun dia tak benar-benar mendapatkan kasih sayang yang layak dari figur yang bernama orang tua.apalagi setelah kedatangan den Arya membuat dirinya tersisih dan tak dianggap."
Felysia mendengarkan dengan khidmat bi ati bercerita, hatinya merasa teriris perih mendengar bagaimana suaminya tersiksa di neraka bernama mansion itu. Bahkan di umurnya yang sepuluh tahun ia harus menghadapi kenyataan bahwa sosok wanita dirumahnya yang selama ini ia anggap ibu hanyalah seorang ibu tiri.belum lagi siksaan demi siksaan yang harus diterimanya karna ulah Arya dan pamannya, bahkan disaat itu sosok ayah yang di harapkan Abhimanyu tak ada di sampingnya.abhimanyu kecil memiliki kisah hidup yang tragis.
Terlahir dari keluarga kaya tak menjamin dirimu bisa bahagia, setidaknya itulah felysia ambil dari kisah Abhimanyu kecil ini.
"Tuan apakah kau masih ada di dalam?" felysia,wanita itu sudah sepuluh kali mengetuk pintu bercat gading itu berharap si empunya Sudi untuk membukanya.Di tangan kiri Sia sudah tersedia nampan yang di isi dengan nasi dan lauk yang masih mengepul asapnya.
di ketukan yang ke lima belas kali,pintu tak kunjung terbuka,namun Sia tak menyerah.dia ingin lihat sebarapa jauh tuan muda ini lebih mementingkan egonya.hingga di ketukan selanjutnya,pintu tiba-tiba terbuka menampilkan seorang pria yang masih memakai kemeja hitam dengan lengan baju yang tergulung sampai ke sikut.
"Ada apa? kau menganggu!" Felysia yang mendengar nada ketus itupun tak gentar,ia bahkan tersenyum manis yang ia punya.ia harus ekstra sabar menghadapi beruang kutub ini.
"Untuk apa kau masuk?" Abhimanyu bertanya geram karna tiba-tiba felysia sudah melesat masuk kedalam ruangannya.
"Kau pasti belum makan? aku mengantarkan makanan ini untukmu tuan." felysia meletakkan nampan itu di meja.
"Tak usah aku tak lapar," ucapnya ketus. Abhimanyu lalu mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya.
"Untuk apa kau masih ada di sini?" Abhimanyu menatap tajam.
"Aku sedang menunggmu makan tuan." kata Sia masih setia berdiri dengan senyum manisnya.
"Saya bilang saya tak lapar! Pergi!" Felysia yang mendengar bentakan keras itu terperanjat kaget,teriakan itu sungguh keras membuat jantung felysia hampir jatuh dari tempatnya.
Seperkian detik terhanyut dalam hening, felysia membuka suaranya sambil terus mengeratkan kepalan tangannya. mulai muak.
"Kenapa kau egois sekali.jika tak ingin menganggap ku istri, kamu bisa menganggap ku sahabat,kenapa kau sangat kejam." felysia berkata sambil bergetar hebat sekarang dimatanya ia melihat sosok yang menyeramkan di diri Abhimanyu.
Sementara Abhimanyu yang tersadar mengusap wajahnya kasar.dia tak tahu apa yang tadi ia lakukan, hanya saja kedatangan felysia ke ruangannya ini adalah sebuah ancaman baginya. karna banyak hal penting ada disini yang felysia tak boleh mengetahui.
"Tunggu!" Abhimanyu menggamit lengan felysia yang hendak membuka pintu untuk keluar.
di luar dugaan felysia menghentakkan lengannya kasar berusaha untuk tidak terjerat lagi dari cengkeramnya.dari belakang sini Abhimanyu dapat melihat tetesan air mata yang terjatuh dari pipi mulus itu.
"Akhhh,sial*n apa yang kulakukan!" desis Abhimanyu dalam hati.
"Tunggu! jangan pergi!" Abhimanyu dengan gerakan cepat menghalau Sia yang ingin keluar ruangan.abhimanyu menyergap tubuh felysia dari belakang mengukung dalam pelukan.
Nafas mereka berdua sama-sama memburu, dapat Abhimanyu rasakan tubuh felysia yang tiba-tiba menegang karna pelukan dari belakangnya ini.Abhimanyu pun tak dapat memprediksi mengapa dia melakukan hal ini,hanya saja dia merasa perlakuannya kali ini terlalu kasar terhadap felysia.pria itu merasa bersalah.
"Kau benar-benar membuat saya gila, Felysia Auristela." kata Abhimanyu mulai memeluk erat felysia dan menenggelamkan wajahnya di leher jenjang gadis itu.
__ADS_1