
Berita duka cita itu tersiar hingga ke seantero negeri. Ramai orang mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya--Manaf Arifin Maheswara, yang mengejutkan. Tak sedikit dari mereka bertanya-tanya apa penyebab pebisnis ulung itu tutup usia.
Di sepanjang jalan perusahaan, di mansion sudah bersejajar papan rangkaian bunga untuk ucapan belasungkawa dari semua orang yang mengenal almarhum.
Dan di sinilah Abhimanyu berada, dengan pakaian serba hitam, berdiri di antara banyak orang yang mengisyaratkan kehilangan. Berita ini sungguh mengguncang hatinya, padahal rasanya baru kemarin ia mengobrol banyak dengan sang ayah, tapi kini sosok pahlawannya itu sudah di timbun bersama tanah.
Disampig Abhimanyu ada sang istri, Felysia, Dian, dan juga Leo. di tengah itu ada Sinta yang memeluk foto sang suami bersama Bella dan kedua orang tuanya, juga para kerabat yang berkerumun dengan payung hitam dan keranjang berisi bunga tabur.
Suara Isak tangis kian menggema, kehilangan begitu terasa karna kini sosok kepala rumah tangga dan berwibawa itu sudah tidak ada. Terlebih lagi Sinta, beberapa kali Sinta pingsan karna tak bisa menerima kenyataan ini, suaminya telah berpulang,tak ada lagi tempatnya untuk bersandar.
"Kenapa kau hanya diam menatap?" Seseorang menepuk bahu Abhimanyu, menengok ke samping di lihatnya Pak Husein--pamannya, adik dari sang ayah.
"Paman," Abhimanyu hanya menoleh sebentar, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Kehilangan adalah sesuatu yang wajar, hari ini kau telah kehilangan seseorang yang amat penting untukmu, jika kau ingin menangis, menangislah nak," ujar sang paman menepuk-nepuk punggungnya.
Abhimanyu hanya bergeming, kini pemakan itu sudah mulai lenggang, orang-orang yang memakai baju serba hitam sudah meninggalkan area makam, hanya beberapa anggota keluarga yang masih bertahan.
"Ayah pernah bilang dulu, lelaki sejati pantang mengeluarkan air mata, menangis bukanlah hal yang dilakukan seorang pria."
Jeda sejenak, awan kelabu tampak menggantung di garis cakrawala, seolah mewakili hati Abhimanyu saat ini.
"Tidak ada perbandingan gender untuk seseorang mencurahkan perasaan. tidak peduli kau pria sejati atau bukan, menangis bukanlah hal yang salah, sebelum kau menyesali semuanya," ucap sang paman, menepuk sekali lagi bahunya, sebelum akhirnya berlalu.
Abhimanyu tetap bergeming, menatap gundukan tanah yang masih basah itu. Tanpa ia sadari dibalik kacamata hitamnya, setitik air mata itu jatuh tanpa bisa ia tahan.
"Ayah, bagaimana hidupku tanpamu sekarang?" Batinnya.
***
Sementara itu di antara banyaknya orang yang mengantar jasad Almarhum pak Manaf sampai ke peristirahatan terakhirnya, jauh dari riuh duka dan Isak tangis, berdiri di samping pohon beringin yang masih terlihat kokoh, Abbas hanya diam menatap ke area pemakaman.
Abbas membetulkan posisi kacamata hitamnya. "Harusnya dari dulu saja aku melenyapkanmu." Menjeda perkataan, Abbas tersenyum miring. "Setelah ini, putramu kesayanganmu Abhimanyu,akan segera menyusulmu ke neraka."
***
Hingga matahari yang semakin meninggi, awan kelabu telah menghilang bersamanya dengan orang-orang yang sudah meninggalkan area makam.
Kondisi Sinta masih tetap sama, wajah yang sembab dan penampilan yang sedikit tak urus, wanita itu masih menangis di kamarnya sambil memeluk foto sang suami.
Kini Felysia juga ikut menemani di mansion, ada paman dan bibinya juga disini, serta Bella yang terus mengusap-ngusap perutnya yang kini semakin mendekati proses persalinan.
"Sayang sekali, ayah mertua belum sempat bisa melihat cucunya lahir ke dunia ini."
__ADS_1
Felysia yang mendengarnya ikut merasa sakit, mata wanita itu juga sudah sangat sembab, karna ia sudah kehilangan sosok yang sudah ia anggap sebagai pengganti sang ayah.
"Beliau sudah tenang di alam sana." Bella tersenyum getir mendengar yang dikatakan sang ibu.
"Apa kau juga akan menginap Felysia?" Tanya pak Hanif.
Wanita itu menggeleng mendengar pertanyaan sang paman. "Aku belum tahu, mas Abhi masih belum kesini."
Sang bibi yang duduk di samping pamannya mencebik. "Ya,urusi saja suamimu itu, orang lagi berduka gini masa gak punya rasa empati."
"Bu!" Pak Hanif menyenggol lengan sang istri, memperingatinya.
"Apa sih pak! Asal kamu tau pak, semenjak keponakan tersayangmu itu menikah sama tuh mafia, ada gak dia mikirin kita. Lah jangankan kita,masa ayah mertuanya sudah tidak ada, yang dipikirkannya suaminya terus."
"Bu, bicara ibu keterlaluan, ini dirumah orang loh,kita lagi masa berkabung," ucap Bella ikut memperingati.
"Apasih kok kamu jadi ngebela dia gini sih, Bel."
Tak ingin memperpanjang Bella meminta sang ayah untuk membawa ibunya.
"Pah, mending bawa aja ibu ke kamar, udah di siapin ini kan."
Pak Hanif mengangguk. "Ayok Bu ikut."
"Maaf ya, perkataan ibuku mungkin menyakiti hatimu," ucap Bella memandang Felysia.
Felysia menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, bagaimanapun dia bibiku.aku tahu seperti apa perangainya."
Tersenyum Bella mengenggam telapak tangan Felysia. "Semakin kesini aku semakin menyadari jika kau memang wanita yang baik."
"Dulu,aku sangat membencimu karna kau yang selalu lebih tinggi dariku,aku merasa kau selalu merebut apa yang menjadi milikku.namun sekarang cara pandangku berubah, kau adalah sepupuku."
Sorot mata Felysia meredup, mata wanita itu berkaca-kaca mendengar apa yang Bella katakan.
"Terimakasih,sudah mengakui ku sebagai sepupumu," ucap Felysia mengeratkan genggaman tangan.
Bella tersenyum. "Saat nanti anakku ini lahir, bisakah kau juga membantuku mengurusnya?"
"Tentu saja." Felysia mengangguk, tersenyum.
***
Malam hari, Felysia sudah kembali kerumah, wanita itu menatap pintu rumah dengan raut khawatir, dilihatnya berkali-kali jam yang ada di dinding. Ia menunggu Abhimanyu yang tak kunjung pulang.
__ADS_1
Felysia sudah menelpon Leo,namun pria itu juga tidak tahu keberadaan Abhimanyu.
Suara klakson mobil terdengar di luar, Felysia langsung berlari kecil ke arah pintu, dilihatnya penampilan Abhimanyu yang berantakan.
"Mas kau kenapa?"
Tak memperdulikan pertanyaan itu, Abhimanyu terus melangkahkan kakinya masuk kedalam.
"Mas .... " lirih Felysia,raut wajah Abhimanyu seperti menyiratkan kesedihan yang mendalam namun tatapannya seakan kosong.
"Mas kau kenapa, bicaralah." Felysia menatap nanar, di usapnya rahang kokoh pria itu.
Tak kunjung mendapat respon lelaki itu, Felysia memeluknya, kakinya berjinjit mendekap erat pria yang kini hanya diam mematung.
"Jangan seperti ini,jika kau sedih, curahkanlah semuanya." Felysia terisak sendiri.
Abhimanyu melepas pelukan mereka, di usapnya pipi basah sang istri.
"Aku hanya ingin sendiri."
Lalu Abhimanyu berlalu tanpa mengatakan apapun lagi, menaiki tangga menuju ruang kerja, dan menutup pintunya dengan sedikit keras. Felysia menyusul tak ingin sesuatu terjadi.
Namun langkah Felysia terhenti, hatinya mencelos saat didengarnya suara isakan tangis dari dalam ruangan kerja Abhimanyu.
Bagai tertusuk sembilu, Felysia seperti merasakan kesedihan pria itu, Isak tangis itu terdengar kecil namun sangat menyayat hati.melangkah pelan Felysia mendekati daun pintu.
"Mas, kau bisa membagi kesedihan itu denganku, kau bisa bersandar di bahuku, jangan pernah memendamnya sendiri." Air mata Felysia Lulu lantah melihat Abhimanyu yang terpuruk sendiri seperti ini.
"Aku adalah istrimu, jadi bagilah semua rasa sakit itu denganku."
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Abhimanyu dengan kemeja hitam yang kerahnya tak beraturan mata pria itu memerah dengan rambutnya yang berantakan.
"Mas .... " Felysia mengelus pipi sang suami, "Kau pasti sangat sedih,ya kan."
Bergeming sejenak, Abhimanyu lalu menarik pinggang felysia dan memeluk tubuh mungil itu. Felysia tersentak sebelum akhirnya balas memeluknya. di tepuk-tepuknya punggung pria itu.
"Kau tahu apa yang kurasakan saat ini?"
Felysia mengangguk mendengar suara serak pria itu, dirasakannya tangan Abhimanyu yang semakin erat memeluk pinggangnya.
"Bahkan di saat-saat terakhirnya,aku tak ada di samping Ayah."
Hening. Felysia tak mampu menjawab, tubuh Abhimanyu seakan mendingin. kedua insani itu terdiam kaku, seakan tengah menyalurkan kekuatan di tengah kesedihan atas kehilangan ini.
__ADS_1