
Rangga sedang melihat jam di tangan nya ia sedang menunggu gadis yang berani menghina dan melawan nya.
"Kenapa lu dari tadi liat jam mulu kerjaan nya" tanya rendi pada rangga yang sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Huff, telat 20 menit, liat aja tu anak gua tambahin kerjaan nya biar dia kapok" tutur rangga memiringkan senyuman nya.
"Ohh lu dari tadi liat jam ternyata lagi nungguin pacar lo? Hahahah" ketawa rio dan rendi bersamaan.
"Apaan sih pacar pacar pacar, cewek matre, keras kepala, cerewet, gak punya sopan santun, gitu aja di bilangin pacar, cewe kayak gitu bagus nya di bilangin cewe liar" tutur rangga menjawab omongan sahabat nya tadi.
Tak lama setelah itu pintu pun berbunyi tanda ada orang yang mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk" perintah rendi pada orang di balik pintu itu.
Ternyata itu adalah tasya gadis yang di tunggu oleh rangga dari tadi. Tasya pun masuk ke dalam ruangan itu dengan keringat yang membasahi dahi nyan dengan napas yang tak teratur.
"Assalamualaikum, siang pak" tasya membungkuk tanda memberi hormat pada ketiga dosen itu.
"Walaikumsalam" jawab rendi dan rio bersamaan dengan suara yang jelas sedang kan rangga menjawab pelan.
"Bagusss, telat 20 menit lebih" tutur rangga sembari menatap jam di tangan nya dan kembali menatap dingin tasya.
"Maaf pak, tadi saya langsung mengikuti kelas dan lupa memberi laporan pada bapak" jelas tasya membela diri pada dosen itu.
"Jangan kebiasaan beri alasan yang konyol seperti yang kamu ucapkan itu" tutur rangga pada tasya dan melangkah kedepan mendekati tasya sedangkan tasya melangkah mundur ke belakang takut akan dosen yang akan mengomelnya lagi.
"Saya berani sumpah pak kalau...." kembali omongan tasya terhenti karena bentakan rangga.
"Sudah saya bilang, kalau salah itu minta maaf bukan banyak omong seperti itu" bentak rangga pada tasya. "Dan jangan membawa sumpah sumpah mu itu ke dalam ruangan ini" sambung rangga lagi yang menbuat tasya kini berwajah pucat dan menahan tangis.
__ADS_1
(tasya begitu takut akan bentakan, iya tak biasa di bentak seperti itu, itu adalah kelemahan tasya apabilaa ia di bentak oleh siapapun dan dimanapun ia tak kuasa menahan tangis di depan orang asing yang tak di kenal nya, padahal tasya sudah berjanji pada diri nya sendiri apapun keadaan nya bahwa ia akan menangis hanya di depan papa nya saja).
"Kalau orang lagi ngomong liat orang nya bukan malah melihat ke bawah" kesal rangga pada tasya.
Tasya pun spontan mengangkat kepalanya dan berusahan menahan tangis.
"Jangan membuat wajah seperti itu, saya tidaka akan kasihan" tutur rangga lagi. Tasya hanya bisa menerima omelan dosen nya itu.
"Maaf pak" cuma itu yang bisa tasya ucapkan takut jika nanti ia menjelaskan air matanya bisa bisa menetes secara tiba-tiba.
"Sekarang saya mau kamu membelikan makanan untuk kita bertiga" tutur rangga dan tersenyum miring tanpa terlihat oleh siapapun. Tasya pun membulatkan matanya mendengar perintah rangga.
"Loh pak nggak cukup apa perintah bapak tadi yang menyuruh saya membersihkan perpustakaan yang kotor penuh debu itu" jelas tasya kesal pada rangga.
"Kamu kan udah janji tadi, kamu akan melakukan apupun yang saya perintahkan, dan kamu tidak mengatakan kalo saya hanya bisa memerintah hanya 1 kali, so saya bebas dong memberi perintah pada kamu" tutur rangga menjelas kan pada tasya kini tasya semakin kesal pada dosen itu.
"Kok bapak curang banget si, tadi nggak gitu ya perjanjian nya" tutur tasya membela diri.
"Saya nggak mau lagi menjalani perintah konyol dari bapak" tegas tasya pada rangga yang kini akan segera melangkah keluar dari ruangan itu.
"Yaudah kalau kamu gak mau, saya akan mengadu tentang sikap tidak sopan kamu itu pada dosen pembimbing kamu, dan saya tidak akan membantu atau membela kamu di depan dosen pembimbing kamu dan kamu pasti akan diii..." sengaja rangga menghentikan perkataan nya agar tasya itu berfikir yang tidak tidak.
"Pak jangan gitu dong pak" tasya mendekat pada rangga dan memohon agar masalah ia dan asisten dosen ini tidak di perpanjang.
"Terserah saya dong" tutur rangga kini duduk di kursi nya.
Lalu tasya memejam kan matanya dan menggigit geram giginya itu dan kini ia akan menjalani perintah dosen itu lagi.
"Oke fine fine, saya akan beli makan siang untuk bapak bapak ini" tutur tasya pasrah.
__ADS_1
"Yaudah sana cepat, saya dan teman teman saya lagi kepingin makan bubur ayam yang di dekat daerah C" perintah rangga pada tasya dan tasya pun kembali kaget atas permintaan dosen nya itu.
"Haa? Mana ada bubur ayam jam segini pak, jangan aneh aneh deh" tutur tasya yang sedikit berteriak pada rangga.
"Iya ngga lu aneh aneh aja, jangan gitu lah kasian tau" bisik rio di telinga rangga. Tapi rangga tak menghiraukan perkataan rio.
"Itu urusan kamu, ada atau enggak kamu cari sampai ketemu" tutur rangga sembari membuka laptop dan menyalakan laptopnya.
"Huff" tasya menghela napas dengan berat terpaksa ia harus menuruti perintah dosen itu.
"Yaudah sini biar saya beli" tasya meperlihatkan telapak tangan nya pada rangga artinya ingin meminta uang.
"Kenapa? Uang?" Tanya rangga pada tasya.
"Ya iya lah uang, kan bapak nyuruh saya beli bubur ayam, yaudah sini mana uang nya" kesal tasya
"Kan betul kata gua,cewe kayak gini mah matreee.." tutur rangga pada rendi dan rio menyindir tasya.
"Pak ini tuh bukan matre, kan saya minta uang ke bapak untuk kepentingan bapak bukan untuk kepentingan saya, gimana si jadi dosen gini amat" Tasya begitu kesal pada rangga yang mengatai dia cewek matre.
"Pakai uang kamu lah, emang gak punya uang 30 ribu buat beli bubur ayam 3 doang?" Kini tasya benar benar kesal pada rangga ia hanya bisa mengupat di dalam hatinya dan hanya ia dan tuhan lah yang tau apa yang ia katan tentang dosen itu.
Rendi dan rio yang kasihan melihat tasya kini merekapun mengeluarkan uang mereka dan meberinya pada tasya. Rendi dan rio mengeluarkan uang merah mereka masing masing sebanyak 10 lembar dan memberinya pada tasya. (Biasa orang kaya)
Tasya terkejur melihat kedua dosen itu mengulurkan uang sebnyak itu yang hanya untuk membeli bubur ayam. Dan sedikit tasya merasa tersinggung akan uang itu, ia sekarang benar benar merasa di anggap cewe matre.
"Maaf pak saya hanya butuh 100 ribu dan nanti kembalian nya akan saya kembalikan, saya tidak sematre itu apa yang bapak pikirkan tentang saya" jelas tasya yang merasa tersinggung atas sikap rio dan rendi. Ia hanya mengambil uang 1 lembar yang berwarna merah itu.
Jangan lupa vote ya🥰😉🙏🙏 like komen dan beri kritik saran nya. Terimkasih sudah membaca hasil karya saya🥰✨
__ADS_1