
"Kapan saya bentak kamu?"!tanya rangga.
"Tuh kan, karna itu udah jadi kebiasaan bang rangga, makanya gak ingat kapan, karna setiap menit setiap detik ngebentak orang aja trus..." omel tasya.
"Jadi kamu marah sama sya cuma karna itu?"
"Cuma? Gak enak tau di bentak.." tasyapun menundukkan kepalanya menyembunyikan matanya yang sudah berkaca kaca.
"Okey.. kamu mau apa sebagai permintaan maaf saya" tasyapun refek menaikkan kepalanya kembali dan menatap rangga.
"Kenapa sih harus mintak maaf kayak gitu.. gengsi banget mintak maaf langsung"
"Kata maaf hanya untuk orang tertentu di kehidpan saya.." jelas rangga.
"Yaudah deh terserah" kesal tasya yang malas berdepat dengan rangga yang tidak pernah mau mengalah.
"Intinya saya lagi gak mood makan makan" tutur tasya.
"Kalau begitu temani saya membeli kebutuhan alya"
Rangga berusaha agar tasya mau ikut keluar dengan nya, entah apa yang di pikirkan rangga, sepertinya ia sangat candu jika berdekatan dengan tasya. Membeli kebutuhan alya itu hanya lah modus.
"Tumben bangett.."
"Alya yang memintanya" ranggapun asal mengarang.
"Beneran? Tapi kenapa harus saya?"
"Ya karna kamu yang tau kan? Saya mana paham soal kebutuhan wanita"
"Kan ada.. siapa itu nama nya.. oh iya mbak enjel, kan ada mbak enjel yang bisa nemenin belanja"
"Ohh kamu masih cemburu? " goda rangga yang mebuat wajah tasya benar benar langsung memerah.
"Enggak.. yaudah saya mau ganti baju dulu" tasyapun langsung berdiri dan meinggalkan rangga.
*
Pov.dikamar tasya.
"Mati guaa,.. bisa bisanya muka gua merah kayak gini.. dia liat gak ya?" Gumam tasya mengerutuki kebodohannya.
Kini tasya mulai memilih pakaian yang akan ia kenakan.
Penampilan tasya.
Kini tasya keluar dari kamar dan menghampiri rangga.
"Sudah?" Tanya rangga sembari mematika ponselnya saat tau tasya sudah duduk di samping nya.
"Emm.." jawab tasya.
Ranggapun menoleh ke arah tasya, dan ia benar benar pangling melihat kecantikan gadis yang ada di depan matanya.
"Ekhem.. bang.." tasya pun menyadarkan lamunan rangga yang menatapnya.
"Emm iya ayok.." ranggapun berdiri.
"Eh tunggu tunggu, saya mau tlfon ekey dulu"
Tasyapun menelfon ekey untuk memberi tahu jika ia akan pergi sebentar dengan rangga.
*
"Emm udah yukk.." ajak tasya kembali.
"Hmmm" jawab rangga cuek.
"Kita pakai tangga saja.." ranggapun berjalan lebih dulu dan diikuti oleh tasya.
"Kenapa?"
"Ikuti saja"
Tasyapun hanya bisa mengikuti apa yang diperintahkan rangga.
Kini mereka memutuskan untuk menuruni tangga saat menuju lobby, karna itu keinginan rangga.
"Kapan kamu pulang ke kota Jk" tanya rangga yang kini mereka berjalan dengan santai menuruni tangga.
"Emm akhir minggu ini mungkin" jawab tasya yang matanya tetap mengarah ke depan.
" kalau abang?" Tanya tasya dengan sangat canggung.
"Nanti sore"
"Ooohh.." "oh iya, btw mall blum bukak tau jam segini" tasya melhat jam di ponselnya.
"Kita berkeliling dulu"
"Baik lah.. " tasyapun tersenyum.
Pada saat menuruni tangga selanjutnya tasyapun sebenarnya sangat lelah menuruni banyak anak tangga, namun ia menyimpan lelahnya itu dan tetap tampak biasa biasa saja di hadapan rangga.
Ketika ingin melangkah, kaki tasyapun tak kuat lagi menumpu karena kakinya benar benar sakit dan akhirnya tasyapu terjatuh.
Dan dengan cepat rangga pun menahan tasya, dengan memeluk tasya.
"Aww...shhhtt.. sakit" rintih tasya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa apa? Sini duduk dulu saya liat kaki nya" ranggapun menuntun tubuh tasya untuk duduk di anak tangga.
"Yang mana yang sakit?" Tanya rangga panik dan menatap tasya.
"Enggak apa apa kok, tadi cuma kepleset doang"
"Mau saya gendong saja?"
"Aahh? Enggak usah gak usah" dengan cepat tasyapun berdiri.
"Yaudah ayo tinggal 1 lantai lagi" ujar tasya.
Kini rangga hanya mengikuti tasya, dan memperhatikan tasya dari belakang.
*
*
Skip..
kini mereka sudah berada di dalam mobil dan dikendarai oleh rangga sendiri, di karenakan rangga tidak ingin dani menyelip di antara mereka berdua.
"Alya mau beli apa bang?" Tanya tasya.
"Kita lihat saja nanti"
*
Kini mobil melaju menyelusuri kota itu.
Lama mereka terdiam, dan tasya tiba tiba teringat tentang kevin.
"Emm oh iya bang, kevin itu kan dari keluarga alexander, memangnya kenapa keluarga alexander di musuhi banyak pebisnis?"
"Kenapa tiba tiba membahas dia?" Tanya rangga kesal.
"Ya gapapa si bang pengen tau aja, soalnya gak nyangka aja, kevin itu dulu sebenarnya gak kasar kasar banget, malah kesemua orang dia baik banget" jelas tasya.
"Setelah dia menculik kamu, dan kamu masih tetap memujinya?" Ketus rangga.
"Ya bukan gitu, maksudnya kevin itu enggak kasar kayak sekarang" jelas tasya kembali.
"Itu makanya kamu suka sama dia?" Gumam rangga sedikit terdengar marah.
"Loh kok jadi kemana mana ya obrolan kita, lagian bapak kok nanya nya kayak marah gitu?" Tasya menatap rangga untuk memastikan jika rangga benar marah.
"Jangan geer, saya cuma tidak suka jika membicarakan tentang musuh saya".
"Hhmm terserah bapak deh..."
"Kamu mau saya cium?" Ketus rangga.
"Iyaa sorry.." jawab tasya ketus.
*
Dan tiba tiba rangga memberhentikan mobilnya.
"Kok berenti?" Tanya tasya bingung dan melihat sekeliling di luar sana.
"Turun.." ranggapun turun, sedangkan tasya masih bingung kenapa rangga tiba tiba mengajaknya turun.
Rangga yang melihat tasya belum juga turun, iapun berteriak dari luar.
"Turuunn" bentak rangga.
"Iya iya.." tasyapun turun.
"Kamu mau beli di sini kan kemarin? Beli semua apa yang kamu mau" ujar rangga.
Tasya yang melihat rangga seperti tidak biasanya, iapun menatap rangga dan iapun tersenyum.
"Abang serius?"
"Hmm"
"Tapii saya udah kenyang.." tutur tasya dengan gaya cemberut.
"Beli saja salah satunya, kita sudah jauh datang kesini" omel rangga.
"Hahaha... jadi bang rangga ngajakin aku ke sini cuma untuk menuhin keinginan aku yang kmarin?"
"Tidakk.. saya hanya.."
"Udah gapapa, yaudah yuk kita jajan" tasyapun tak ingin mendengarkan alasan apapun dari rangga, yang jelas ia hanya ingin menghargai apa yang telah di lakukan rangga.
Walaupun rangga menjawab tidak, namun tasya sekarang sudah tau jika rangga benar benar memiliki gengsi yang sangat tinggi sehingga ia selalu menjawab pertanyaan yang bertolak belakang dengan apa yang ia fikirkan dan rasakan.
"Bang rangga mau ini gak?" Tasaypun menunjuk gulali yang di jual oleh orang di sana.
"Tidak, kamu saja, saya tidak suka jajanan luar"
"Yakin? Kalau yang ini? Atau yang itu?" Tanya tasya menawarkan rangga segala macam makanan yang di jual di sana.
"Kamu gak dengar kalau Saya bilang tidak suka jajanan luar!!" bentak rangga yang berhasil membuat raut wajah tasya yang gembira menjadi murung dan menunduk.
Rangga yang menyadari perubahan tasya seperti itu, dan tau apa kesalahn yang telah ia buat, ranggapun menangkup dan mengarahkan kepala tasya agar melihat ke arahnya.
"Hufftt..." ranggapun menghembuskan nafas berat nya.
"Maaf.. Saya tidak terbiasa di paksa seperti itu..."
__ADS_1
Akhirnya kata maafpun keluar dari mulut rangga, tasya yang mendengar itu langsung tersenyum.
"Hmm gapapa, ayok kita ke mall" tasyapun menarik tangan rangga untuk kembali ke mobil.
"Tunggu tapi kita belum membeli apa apa di sini.."
"Mmm gak usah kita ke mall aja"
"Yasudah kamu naik ke mobil dulu, nanti saya menyusul" lalu tasyapun kembali kemobil sendirian sedangkan rangga ia ingin membeli sesuatu yang ingin di beli tasya tadi.
"Emm pak ini satu ya.." ujar rangga dengan canggung, karena sebelumnya ia tidak seperti ini.
"Mas, ceweknya jangan di bentak terus ya? Heheh maaf saya tidak sengaja menguping pembicaraan kalian"
Ujar bapak penjual gulali itu yang kebetulan ia mendengar rangga yang membentak tasya.
"Emm iya tidak apa apa pak" jawab rangga.
"Beruntung loh mas dapat wanita seperti dia, cuma dengan kata maaf dia langsung tersenyum seperti itu.." tutur bapak penjual sembari memberi gulali itu pada rangga.
"Ini saya beri 2 gulali"
"Emm tidak saya hanya perlu satu" tolak rangga.
"Peka sedikit mas, pacarnya pengen makan berdua sama masnyaa.. hahaha..." ujar pak penjual sambil tertawa.
"Ya sudah ini uang nya" ranggapun memberi uang begitu banyak kepada bapak itu, sebagai tanda terimakasihnya, namun terimakasih untuk apa ranggapun tidak mengerti, intinya ia hanya ingin bertetimakasih saja.
"Terlalu banyak ini.. sudah simpan sajaa" bapak itupun menolak.
"Tidak ambil saja, anggap saja rasa terimakasih saya" ranggapun langsung pergi tanpa mengambil kembali uang itu.
"Makasih mas" ranggapun tidak menjawab nya, iapun dengan cepat memasuki mobilnya.
*
"Ini gulali nya" ranggapun memberinya pada tasya.
Tasyapun menatap rangga dengan lekat.
"Bingung banget, kadang kadang dia marah, trus ngebaikin gua, trus ngebentak gua, beberapa menit sudah ngebentak langsung di lembutin lagi..." bantin tasya yang semakin bingung dengan sikap rangga, sangat sulit rasanya menebak rangga.
"Ini ambil, kamu mau ini tadi kan?" Dengan cepat tasyapun mengambilnya.
"Abang beli dua?"
"Hmm" jaab rangga cuek.
"Untuk siapa?"
"Untuk saya lah" ketus rangga.
"Katanya tadi gak mau.."
"Makan saja jangan banyak bicara"
*
Mereka pun memakan gulali itu, tasya yang setiap memakan gulali itu ia terus saja tersenyum, rangga yang sepertinya perlahan sangat menikmati saat memakannya.
*
Beberapa menit kemudian merekapun sudah menghabiskan gulali nya. Kini jam sudah menunjukkan jam 10.30 dikarenan perjalanan dari hotel ke sini cukup jauh jadi mereka banyak memakan waktu.
Rangga kembali melajukan mobolnya dan berputar arah.
"Kita kehotel kamu saja" ujar rangga.
"Hah? Untuk apa? Kita gak jadi ke mall?" Tanya tasya yang kaget mendengar penuturan rangga.
"Tidak jadi, alya sudah membeli keperluannya tadi" ranggapun berbohong.
Memang dari awal tujuan rangga ingin bertemu dengan tasya benar benar tidak jelas, ia hanya ingin bertemu tasya saja, tidak tau tujuan nya apa.
"Okee tapi abang gak ikut masuk ke hotel tempat saya lagi kan?" Tanya tasya memastikan.
"Siapa bilang, saya ingin makan siang di tempat kamu"
"Apa? Kenapa harus.." ranggapun memotong pembicaraan tasya.
"Sudah jangan banyak bicara, saya ingin makan siang di tempatmu, dan memakan masakanmu" jelas rangga.
"Tapi.."
"Kamu mau saya batalkan kontrak nya?" Ancam rangga.
Tanpa pikir panjang tasyapun terpaksa menyetujui apa yang dibilang oleh rangga.
"Iya oke oke... suka banget si ngancam orang" omel tasya dan membuang muka ke arah jendela mobil.
Rangga yang melihat tasya seperti itu, senyumpun terukir di wajah tampan nya.
*
*
Jangan lupa di vote kakak semua😉✨✨🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku🥰 jangan lupa like dan komen.
Tunggu eps selanjutnya.
Saya akan selalu up cerita ini sesuai jadwal dan tidak menunggu banyak like, semoga dengan seperti ini kalain mau dan suka dengan karya yang saya buat ini.🥰🥰🥰🙏
__ADS_1