Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO

Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO
27. Semua orang panik


__ADS_3

Kini tasya sedang di operasi di dalam ruangan operasi, dan avnil kini sedang menangis tak kuasa melihat adik nya yang tertembak di hadapan matanya. Ia bingung harus memberi tahu orang tua nya atau tidak, namun ia memutuskan untuk menelfon rangga terlebih dahulu.


//telfon//


"Hallo assalamualaikum ngga" tutur avnil lemas.


"Waalaikum salam bang, lo knapa? Lo gak apa apakan, tadi gua habis dapt info katanya kalian bisa lepasin tasya dari kevin". Tutur rangga to the point.


"Hmm, tapi adek guaa.." avnil menghentikan perkataannya karena tak kuasa mengatakan hal ini.


"Kenapa bang? Tasya gimana?" Kini rangga juga ikut panik, iapun dari tadi memiliki feeling yang tidak enak terhadap tasya.


"Adek gua tertembak ngga, dia skarang sedang di operasi, gua sendiri di sini karena yang lain masih menyelesaikan anak buah kevin, dan gua bingung harus ngapain ngga, gua gak bisa berbuat apa apa sama adek gua" tutur avnil yang kini menjambak rambutnya sendiri.


"Apa? Tertembak? Kenapa dani gak britau gua soal tasya, siall" kini rangga mulai tambah panik dan tak tau harus berbuat apa, kini rasa bersalahnya muncul, andai saja dia tidak ikut campur masalah tasya dan kevin, pasti kevin tak akn menculiknya speerti ini.


"Iya ngga,lo bisa tolong kabarin ke bokap gua gak? Tolong lo kasih kabar ini baik baik, gua rasanya gak pantas jadi anak mereka karena gua gak bisa ngelindungi adik gua sendiri" tutur avnil sembari mengusapkan air matanya yang tak henti hentinya berjatuhan.


"Iya bang gua kabarin ke om bryan dan tante riana, tapi izinin gua terlebih dahulu nyamapin ke bokap dan nyokap gua" izin rangga pada avnil lalu avnil meng iya kan.


Telfon kini terputus.


Dan kini orang di mansion utama keluarga edian pratama sudah tau tentang tasya di tembak. Dan papi riko memaksa rangga untuk kembali ke kota JK untuk menjelaskan semua, dan meminta maaf kepada keluarga bryan.


Jam sudah menunjukkan jam 1 malam, papi riko terpaksa harus menelfon ke mansion utama keluarga bryan.


/telfon/


"Halo bryan" tutur riko dengan nada seperti orang merasa bersalah.


"Iya halo riko, kenapa?" Jawab bryan dengan suara yang lemas, di mansion utama bryan semua orang tidak tidur karena menanti kabar dari kedua anak nya itu, namun mereka blum juga mendapatkan kabar itu.


"Bryan saya minta maaf, karena sudah menelfon malam malam seperti ini, namun saya pun berhak untuk menyampaikan berita ini dan kamu juga berhak tau" tutur riko.


"Berita apa riko, cepat jelaskan jangan membuat saya cemas" tutur bryan kini mulai panik.


"Bryan, rangga mendapatkan info dari avnil bahwa anak perempuan kamu tertembak, ia sedang di operasi di negara itu tapi kamu jangan panik dulu kamu jangan panik kemungkinan besar dia akan selamat, tasya tidak akan apa apa, pasti dia akan di tangani oleh dokter profesional di sana"


"Apaa???!!" Kini bryan sudah tidak tau harus bagaimana lagi meng ekspresikan wajah nya setelah mendengar berita ini.

__ADS_1


"Tidak apa apa Kamu bilang tidak apa apa kalo orang tertembak, riko..! itu anak perempuan saya satu satu nya dan diaa" tiba tiba bryan merasa sesak di sadanya dan perlahan ia terduduk dan kini pingsan.


"Halo haloo bryann haloo"


Sambungan telfon terputus.


"Mi kita harus ke mansion utama keluarga bryan skarang juga"


"Kenapa pi ada apa sama pak bryan" tanya mami rani.


"Nanti papi jelasin mi, skarang mami ikut saja ke mansion itu dan sepertinya kita harus menginap di sana" tutur riko dan kini mereka menuju ke mansion utama.


Di mansion utama keluarga bryan.


"Pa papa... dokterr tolong suami saya" teriak mama riana pda dokter teriakan nya masih terdengar lemas, ia sudah sadar semenjak beberapa jam yang lalu, namun ia pun juga tak ikut tidur karena saking panik nya.


"Buk bapak kenapa?" Tanya dokter pribadi keluarga itu. Kini papa bryan sudah di baringkan di sebelah mami riana dan memakai oksigen karena asmanya kambuh.


" ya tuhan... dekk kenapa adek bisa tertembak, apa abang kamu gak bisa jagain kamu?" Tanya mama riana pada dirinya sendiri dan meneteskan air mata nya.


Ekey, putri dan nayfa yang mendengar teriakan mama riana tadi kini mereka keluar dari kamar.


"Itu key tuan besar pingsan karena mendengar berita kalau nona tasya tertembak dan sedang di operasi di negara sana" jelas kepala pelayan itu pada ekey putri dan nayfa.


"Apa tertembak?" Kompak mereka bertiga ikut terkejut mendengar berita itu.


" iya non" jawab bibi itu


Kini lutut ekey lemas dan ia terduduk di lantai yang di tahan oleh putri dan nayfa.


bagaimana tidak ekey seperti itu, dia sangat sayang pada bos nya itu, karena tasya menganggap nya seperti kakak kandung nya sendiri, ekey sudah tak punya orang tua, dan keluarganya tak mau memberi tumpangan untuk tinggal di rumah paman nya, hanya tasya yang mau menolong nya, tasya memberi gaji yang cukup banyak pada ekey, memberi kamar yang sangat luas, dan bahkan tasya memberi kepercayaan pada ekey untuk mengurus toko toko nya itu, begitu baik gadis cantik itu.


"Ma, kok bisa aca tertembak" tanya nayfa pada mama riana.


"Gak tau sayang, tadi papi nya rangga yang menelfon papa hiks hikss" tutur mama riana sembari menangis. Dan nayfa memeluk mama sahabatnya itu.


"Sayang kalian mau ya menyusul ke negara JR, mama mohon sama kalian bertiga, cuma kalian yang mama percaya, kalian bantu avnil di sana ya, kasian dia, dia pasti bingung di sana, sakarang kalian pulang, besok pagi kalian harus berangkat ke negara JR, mama mohon sama kalian bertiga ya, kalian juga anak anak mama hiks hiks..". Tutur mama riana memerintahkan sahabat dan asisten tasya itu.


"Yaudah ma, kita mau kok, kita pulang dulu ya, besok kita akan ke sini sebentar trus langsung ke bandara ya ma" tutur ekey pada mama riana.

__ADS_1


"Iya, kalian hati hati pulang nya ya" tutur mama riana melepas kepergian mereka bertiga.


"Sekertaris dio, tolong siapkan tiket pesawat untuk mereka besok pagi ya" tutur mama riana memberi perintah pada sekretaris suaminya.


"Baik nyonya" tutur dio dan dia segera bergerak untuk melakukan perintah dari nyonya nya itu.


*


*


Kini keluarga riko edian pratama sudah sampai di mansion utama dan langsung masuk ke kamar teman baik nya itu.


"Permisi assalamualaikum" tutur mami rani yang mengetuk pintu yang tidak tertutup itu, dan ia melihat dokter sedang memeriksa keadaan bryan.


"Jeng pak riko, ayo masuk" tutur mama riana sembari menghapuskan air matanya.


"Gimana jeng udah baikkan?" Tanya mami rani.


"Sudah mendingan, cuma papa nya anak anak tiba tiba sakitnya kambuh setelah mendengarkan kabar dari pak riko" tutur mama riana yang di pegangkan tangan nya oleh mami rani.


"Maaf kan kami jeng, kami tidak bermaksud untuk membuat semuanya seperti ini, tapi.. kalian berhak tau bukan?" Tutur mami rani menenangkan mama riana.


"Iya jeng gak apa apa, kita harus berdoa supaya operasi tasya lancar".


"Riana, besok rangga akan pulang ke kota ini, dan dia akan menjelaskan kembali se detail detail nya" tutur papi riko.


"Jeng boleh kan kita nginap disini, untuk menemani kalian? Supaya kalian gak merasa kesepian" tanya mama rani pada riana.


"Boleh silahkan" tutur mama riana sembari tersenyum lemas.


"Mbak, tolong siapkan kamar tamu yang di ruang atas ini" tutur mama riana.


"Baik nyonya" kepala pelayan itu langsung bergerak untuk memerintahkan anak buah nya.


Jangan lupa di vote kakak semua😉✨✨🥰 semoga kalian suka dengan karya pertama aku🥰 jangan lupa like dan komen.


Tunggu eps selanjutnya.


Saya akan selalu up cerita ini sesuai jadwal dan tidak menunggu banyak like, semoga dengan seperti ini kalain mau dan suka dengan karya yang saya buat ini.🥰🥰🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2