Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO

Perjalanan Cinta Dokter Dan CEO
6. Sama sama terbakar emosi


__ADS_3

"Awwhh.. hati hati dong!" Kesal tasya pada orang yang menabrak nya dan mendorong orang itu seketika ia terkejut siapa yang ia dorong ternyata asisten dosen di kampus nya.


Matanya membelalak melihat sosok pria tinggi putih berbadan kekar. "Bapak".


"Kamu bisa sopan tidak? Main dorong dorong orang segala" kesal rangga sembari memasukkan kedua tangan nya di dalam saku celana. "Maaf pak sa-saya tidak sengaja dan saya..." lagi lagi omongan tasya di bantah oleh rangga, entah kenapa rangga tidak suka jika ada orang yang memberi alasan dan banyak omong seperti tasya. "Kamu itu ya, kebiasaan cerewet di depan orang yang gak kamu kenal sama sekali, sunggu Tidak sopan" tutur rangga yang memperjelas kata tidak sopan pada tasya. "Jika salah, cukup kata maaf saja jangan banyak omong seperti tadi" bentak rangga pada tasya karena rangga sepertinya masih kesal pada tasya dikarenakan masalah tadi pagi.


Emosi tasya tidak dapat di kontrol lagi ketika rangga mengatakannya tidak bisa sopan. " pak, bapak bisa tidak jangan sering menghina orang seperti itu, tidak sopan lah tidak cocok jadi pemimpin lah ini lah itu lahhh!!" Kesal tasya lagi pada rangga sambil menunjuk ke arah rangga. "Dan lagian masalah sopan santun bapak jangan mebahas itu, karena orang tua saya sudah mendidik saya dengan sempurna, tapi didikan orang tua saya bukan untuk di terapkan ke bapak" marah tasya pada rangga dan kini di belakangnya di tenangkan oleh para sahabatnya itu.


"Wah wah bagus sekali ya didikan orang tua kamu sampai sampai kamu kurang ajar begini pada dosen kamu sendiri" rangga menepuk tangan dan kemudian melipat tangan nya di depan dada.


"Hahah.. dosen?" Tanya tasya sinis dan kemudian ia ikut melipat tangannya di depan dada dan sekilas ia melihat jam yang ada di tangan nya. "Hmm lagian ni ya pak, ini sudah bukan lagi jam kuliah dan bapak juga gak lagi ada di kampus sekarang, dan saya juga tidak lagi ada di kampus sekarang, so kita sama sama menjadi orang biasa sekarang tidak ada lagi yang nama nya dosen lah mahasiswi lah apupun itu" tutur tasya dengan sombong.


"Lalu apa mau kamu sekarang? orang biasa" Tanya rangga dengan menekankan kata orang biasa pada tasya. "Mau saya? Bapak tanya mau saya?" Tasya seketika ingat sesuatu. "Ehh kok bapak si, kan kita lagi gak di kampus" "oh ya gays bagusnya aku panggil apa ya?" Tanya tasya pada sahabat nya itu, sedangkan kedua sahabatnya itu sedang gemetar ketakutan karena tatapan ketiga dosen itu. "Atau aku panggil om aja? Atau abang? Atau sayang? Ataauu.." omongan tasya lagi lagi di potong oleh rangga. "Ehh cukup ya kamu, kamu ngeledekin saya udah tua? Pake manggil om om segala" rangga kemudian berkacak pinggang di depan gadis cerewet itu.


Tiba tiba perdebatan mereka terhenti saat putri ikut angkat bicara. " oke stop stop stop, apa apaan si kalian?" "Ini lagi bapak, kenapa kasar banget si?" Tanya putri lagi kesal. "Eh cocok banget klian berteman, sama sama kurang ajar" tutur rangga. Dan kini emosi nayfa juga ikut naik. "Wah wahh jangan gitu dong pak, jelas jelas situ yang duluan marah marah sama tasya, kenapa jadi kita yang ikut di katain kurang ajar sii?"

__ADS_1


Medengar percekcokan semakin memanas kedua sahabat rangga Rio dan Rendi pun ikut melerai percekcokan itu. " woi woi ini kenapa si, klian lagi para ciwi ciwi jangan kasar kasar sama cowok, ntar cowok ilfeel lagi sama cewek kurang ajar kaya kalian" kata rio lagi yang di anggukkan oleh rendi.


Rangga kesal dan ia pun malas memperpanjang masalah ini. " udah udahh oke fine, gak guna debat sama kalian dasar cewe labil" rangga mendorong tasya kesamping dengan tangan kekar nya itu sehingga tasya terdorong sedikit di kursi tempat ia duduk tadi dan rangga rio rendi pun berlalu meninggal kan tiga cewe yang sedang terbakar emosi itu.


//Pov. Di tempat para tiga cowok//


"Dasar tu tiga cewek gak sopan banget, liat aja gua bikin susah kalo lagi di kampus" tutur rangga kesal dan mengepal kan kedua tangan nya, dan kedua sahabat nya pun setuju akan rencana rangga, karena mereka pun ikut terbakar emosi ulah tiga ciwi ciwi itu.


//pov.tempat para tiga cewek//


Akhirnya mereka duluan selesai makan dari pada tiga cowok yang bertengkar dengan mereka beberapa menit yang lalu.


"Gua pulang duluan ya gays, capek banget nih" kata tasya sambil memijat tengkuk nya yang terasa sedikit pegal.


"Iya, lu hati hati ya ca" kata naifa dan mereka bertiga pun pamit untuk pulang kerumah masing masing.

__ADS_1


Selang beberapa menit, rangga rio dan rendi pun sudah selesai makan siang di cafe tersebut, dan mereka bertiga pun ikut pulang ke rumah rangga karena ada hal penting yang akan mereka kerjakan.


//Pov. Dirumah pribadi tasya//


" loh kok ada bodyguard papa" tutur tasya bingung sambil menutup pintu mobil nya dan menekan tombol kunci. "Pak, papa ada di dalam rumah?" Tanya tasya pada salah satu bodyguard papa. "Iya non, bapak dan ibuk sudah menunggu dari 1 jam yang lalu" kata bodyguard dengan sopan. "Ohh yaudah makasih ya pak" tasya menundukkan kepalanya tanda memberi ucapan terimakasih pada bodyguar papa nya.


tasya tidak membeda bedakan siapa saja yang berada di sekitarnya, jika itu orang yang lebih tua dari nya dia akan bersikap sopan jika sebaya dia bersikap menghargai jika itu lebih kacil dari nya pasti akan ia sayangi. Iya seorang gadis yang cantik, putih dan sedikit tinggi tentunya beserta dengan kerendahan hati nya.


Seketika tasya menghentikan langkah nya saat mau menuju ke rumah karena melupakan sesuatu. " oh ya pak jangan berdiri di luar aja, masuk aja kerumah ngga papa kok, kan lagian papa di rumah atas bukan di rumah bawah" tutur tasya pada bodyguard papa nya. " oh iya terimakasih non, kami sudah di gaji untuk mengawal yang ada di sekitar bapak ibuk dan nona" tutur bodyguard sopan pada anak bos nya itu.


" iya saya tau pak, tapi ini perintah dari saya, saya mau bapak bapak duduk di dalam rumah saya, ini bukan mansion utama, bapak-bapak itu adalah tamu saya, jadi saya memerintahkan tamu saya untuk duduk di dalam rumah" tutur tasya sambil tersenyum. Lalu bodyguard itu pun ikut tersenyum ramah pada tasya, iya begitu kagum dengan kebaikan anak bos nya yang sangat rendah hati itu.


Hallo semua nya, sebenar nya ini novel pertama aku. Semoga klian menyukai karya yang aku buat.


Vote ya kakak kakak semua dan jangn lupa kritik dan saran nya. Thankyou🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2